Showing posts with label Cerita-Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita-Cerita. Show all posts

Sunday, December 03, 2017

Menginap Selalu Nyaman, Perjalanan Keluarga Selalu Berkesan: #JadiBisa Dengan Traveloka

Setiap perjalanan memiliki kisah masing-masing. Orang-orang bepergian dari dan ke berbagai tempat, dengan berbagai cara dan tujuan. Bahkan meski berangkat dari tempat yang sama dan dengan tempat tujuan yang sama pula; perjalanan saya, misalnya, tidak mungkin sama dengan yang dialami orang lain. Ada banyak faktor yang menjadi alasan keunikan setiap perjalanan. Siapa yang melakukan perjalanan? Berapa lama perjalanannya? Apa tujuan perjalanannya? Berapa banyak dana yang disiapkan untuk perjalanan? Pertanyaan-pertanyaan itu tentu jawabannya berbeda-beda, begitupula perjalanan yang dideskripsikan dari jawaban-jawaban pertanyaan itu.

Hampir semua perjalanan saya dilakukan bersama keluarga. Kedua orangtua saya pada dasarnya memang sama gemarnya bersilaturahmi seperti halnya gemar bepergian. Sejak kecil, tidak jarang momen akhir minggu disempatkan menjadi waktu berkualitas keluarga karena orangtua menginisiasi perjalanan ke luar kota. Selain untuk pergantian suasana, agendanya juga sekalian untuk mengunjungi kerabat-kerabat kami di kota tersebut. Kota-kota yang menjadi tujuan kami biasanya adalah Solo, Jogjakarta, Purwokerto, Kebumen, dan Jakarta. Di Solo ada sepupu ayah saya, di Jogja ada kakak ibu saya, di Purwokerto ada tante dari pihak ibu, di Kebumen ada saudara dari pihak ayah, dan di Jakarta juga kerabat dari pihak ayah maupun ibu.

Pola bepergian keluarga saya lebih sering diawali dengan keputusan berangkat yang bisa dibilang “mendadak”. Biasanya baru pada pagi hari keberangkatan lah tercetus ajakan untuk bepergian bersama. Untungnya, kota tujuan yang terhitung tidak terlalu jauh dan masih wajar jika ditempuh dengan mobil menjadikan pola rencana bepergian keluarga kami menjadi tidak terlalu perlu untuk dipermasalahkan. Satu rombongan keluarga kami biasanya terdiri enam orang yaitu ayah, ibu, saya dan kedua saudara kandung, beserta satu kerabat yang membantu merawat saya dan kedua saudara saya sejak kecil. Bisa dibayangkan ya ramai dan penuhnya mobil kami.

Sampai sekarang, saya masih salut mengingat betapa besar semangat dan kekuatan yang ditunjukkan kedua orangtua saya lewat kesediaan beliau berdua untuk cukup sering menyisihkan waktu, tenaga, dan uang demi agenda bepergian akhir minggu kami. Padahal, kedua orangtua saya sudah mulai memasuki usia yang biasanya membuat orang-orang sepantaran beliau berdua berkurang keinginannya untuk berlelah-lelah bepergian. Saya bersyukur karena berarti Tuhan tidak hanya mencukupkan kemampuan finansial dan fisik kedua orangtua saya, tapi juga kemampuan jiwa dan hati untuk bepergian. Di mana tujuan bepergiannya pun tidak hanya untuk bersenang-senang, namun juga untuk menjaga tali silaturahmi. Pengorbanan waktu, uang, dan tenaga beliau berdua menjadi terbalaskan berkali-lipat dengan dampak menjaga silaturahmi yang bisa menjaga kebaikan lahir batin orang yang melakukannya.

Momen bepergian akhir minggu keluarga kami biasanya selalu identik dengan pergantian suasana melalui bagaimana kami bisa menginap di hotel; yang biasanya memberikan beragam fasilitas dan layanan. Kenyamanan merupakan aspek yang diutamakan kalau keluarga kami memutuskan untuk menginap di hotel, terutama bagi orangtua saya. Saya bersyukur, karena orangtua sebagai sumber dana perjalanan keluarga selalu mempunyai budget yang mencukupi dan memungkinkan untuk memilih tempat menginap di hotel. Kamar yang luas, adanya pendingin ruangan, kamar mandi air panas dalam kamar, layanan TV kabel, sarapan buffet, dan kolam renang sudah menjadi rangkaian fasilitas yang diekspektasikan pada tempat menginap keluarga kami.

Saya masih ingat bagaimana dulu sebenarnya proses memesan hotel tidak semudah sekarang. Dulu tak jarang kami baru memesan kamar di malam hari sewaktu memutuskan untuk menginap dan mendatangi hotel-hotel satu per satu menanyakan apakah ada kamar yang kosong. Sayangnya dulu saya masih kecil dan tidak bisa berdaya banyak untuk membantu orangtua saya. Syukurlah, semakin saya dan saudara kandung saya tumbuh dewasa dan melek teknologi, akhirnya kami bisa belajar membantu mempermudah perjalanan keluarga melalui penggunaan layanan online booking.

Adanya layanan online booking memang mengubah pengalaman merencanakan perjalanan dan melakukan perjalanan keluarga saya. Memesan tempat penginapan jadi jauh lebih mudah karena tinggal klik-klik di situs atau aplikasinya, lebih hemat karena ada potongan harga; apalagi kalau pesan dari jauh-jauh hari, dan lebih aman serta terjamin karena bisa langsung dibayar dan dibookingkan ke hotel bersangkutan.

Belakangan, Traveloka menjadi penyedia layanan online booking yang paling sering saya gunakan. Di handphone saya, aplikasi Traveloka menjadi semacam teman terpercaya untuk bisa menjauhkan kedua orangtua saya dari pengalaman tidak enak seperti kehabisan kamar atau kedapatan kamar dengan harga kemahalan setiap kali kami melakukan perjalanan keluarga. Traveloka sebagai layanan online booking jelas memungkinkan proses memesan hotel menjadi lebih mudah, hemat, aman, dan terjamin; tapi tidak hanya itu, kelebihan-kelebihan lain (iya, lebih dari satu lho; alias banyaak!) dari Traveloka membuat saya betah menggunakannya sebagai andalan sampai sekarang.

Kalau dirunut dari langkah-langkah memesan hotel lewat Traveloka, dari proses pilih-pilih hotel pun Traveloka sudah memberikan kenyamanan. Kita bisa punya banyak banget pilihan hotel dengan harga final melalui Traveloka. Kalau kamu pakai Traveloka, kamu nggak akan menemui harga kamar yang kelihatannya diskon banget tapi ternyata nantinya setelah ditotal akan ada ekstra-ekstra tambahan biaya tersembunyi seperti pajak. Harga yang ditampilkan di Traveloka memang benar harga diskon final dan jujur. Kamu bisa cek sendiri kalau harga yang tercantum di daftar pilihan hotel dan harga setelah ditotal akan sama, seperti yang ditunjukkan di gambar (yang paling jelas tentunya kalau kamu mentotal pesanan satu kamar untuk satu malam ya). 



Fitur harga final ini sangat membantu saat saya memesankan hotel untuk menginap bersama keluarga. Tidak jarang saya melakukan reservasi via Traveloka saat sedang bermobil di perjalanan menuju kota tujuan. Orangtua saya hanya perlu menyimak saya menyebutkan nama-nama hotel dan harganya. Beliau berdua pun tinggal memberi pendapat dan pertimbangan mereka untuk mengambil keputusan hotel yang dipilih. Adanya uraian info lengkap seputar hotel yang tersedia di aplikasi Traveloka sehingga kita bisa melihat foto-foto hotel sampai bisa tahu kamar-kamarnya seperti apa juga sangat membantu orangtua saya saat mempertimbangkan di mana kami akan menginap. Orangtua jadi tidak merasa hanya membayari tanpa memiliki kendali dan saya juga bisa mengomunikasikan pemakaian kartu kredit untuk pembayaran sejumlah berapa dan untuk hotel yang seperti apa secara jelas dan tentunya sepersetujuan beliau berdua.

Melalui Traveloka, membayar pesanan hotel untuk keluarga menginap juga jadi sangat mudah. Ada masanya ketika dulu saya harus meminta orangtua mengeluarkan kartu kredit mereka secara fisik agar saya bisa mencatat detail-detail kartu tiap kali sedang memesan hotel secara online. Kepintaran Traveloka untuk bisa menyimpan detail-detail kartu kredit membuat saya sekarang hanya perlu pilih kartu yang mau dipakai untuk membayar dengan sekali klik. Semisal mau menyicil pun juga bisa dilihat skema cicilannya. Kemudahan lain untuk membayar pesanan hotel di Traveloka juga ditunjukkan adanya pilihan pembayaran yang beragam dan tidak hanya terbatas dengan kartu kredit. Bahkan kita juga bisa membayar ke ATM dan gerai Indomaret/Alfamart untuk membooking pesanan kamar kita; seperti yang ditunjukkan gambar.


Memastikan kenyamanan untuk kedua orangtua saat akan menginap di luar kota merupakan prioritas tertinggi, karena sekarang tentunya orangtua sudah tidak se”muda” dulu meski masih memiliki semangat yang sama. Saat memesan hotel fokusnya bukan mencari harga yang termurah, tapi mencari hotel dengan nilai harga yang berbanding dengan jaminan kenyamanan menginap di sana.

Banyak perjalanan keluarga saya yang sudah menjadi jauh lebih nyaman dan berkesan dengan menggunakan Traveloka. Orangtua saya selalu nyaman beristirahat karena kami selalu bisa terjamin mendapat kamar hotel yang sesuai ekspektasi melalui Traveloka. Saat kami bepergian ke Kota Kebumen beberapa minggu lalu karena ada pernikahan kerabat, kami memesan kamar di Meotel by Daffam. Akad nikah yang diadakan di pagi hari bisa kami hadiri dengan lebih santai karena bisa menginap dari semalamnya, dan kami juga bisa beristirahat di jeda waktu acara akad dan resepsi yang diadakan siang harinya. Harga yang kami dapat untuk dua kamar Family menjadi lebih hemat dengan adanya potongan harga dari Traveloka.

Perjalanan keluarga berkesan lainnya adalah pada bulan April lalu ketika kami menginap semalam di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta saat kebetulan ada long weekend. Kami menginap dari tanggal 14 hingga 15 April 2017 dan sudah melakukan pemesanan sejak tanggal 1 April 2017 via Traveloka sehingga kami tidak perlu khawatir kehabisan kamar. Pengalaman menginap kami pun sangat berkesan karena hotel tersebut dilengkapi dengan fasilitas lapangan golf sehingga kedua orangtua saya bisa bermain golf setelah sekian lama belum sempat bermain golf bersama. Kami juga bisa berenang dan berjalan-jalan di kawasan resor yang mengingatkan pada masa kecil kami karena dulu sering diajak menginap di sana. Foto saat saya dan adik laki-laki saya ikut jalan-jalan di lapangan golf menemani orangtua merupakan sedikit dari banyak kenang-kenangan momen berkualitas keluarga kami waktu itu.


Setiap perjalanan akan meninggalkan kisah yang berbeda untuk dikenang, karena setiap perjalanan dilakukan oleh orang yang berbeda, pun dengan kepentingan dan prioritas yang berbeda pula. Saya sebagai orang yang paling sering berperjalanan dengan keluarga memprioritaskan tempat menginap ternyaman, terutama untuk kedua orangtua saya. Hotel dengan fasilitas yang lengkap dan sesuai ekspektasi akan membuat kepentingan perjalanan keluarga berjalan lancar karena kami bisa beristirahat dengan nyaman dan optimal. Kami juga bisa merasakan pergantian suasana baru sambil tetap menghabiskan waktu berkualitas dan menyimpan kenangan baru bersama.

Traveloka telah menjadi bagian besar dari setiap perjalanan keluarga saya. Memanfaatkan fitur-fitur reservasi hotel di Traveloka membuat kami selalu mendapat pilihan hotel terbaik sesuai dengan budget dan ekspektasi. Memesan hotel jadi lebih mudah, cepat, terjamin, dan dengan harga diskon yang final karena pesan lewat Traveloka dulu.

Friday, May 16, 2014

My Thoughts on "The Amazing Spiderman 2"

It's been soo loong. I don't know what better way to describe "this comeback" in a more proper way anymore. Look at this tangle of thorns messy but still lovable web personal space of mine here. Maybe there's barely no people reading it, and the submission writings were not gaining champions or what so called that while I haven't put out the banner etc. I am not whining here, nor winning, lol, there are times for that my friend.

You know I've had this blog for so long that I can never imagine myself wiped all my writings after all this time (since 2010) to have a fresh, new, more "new image", to reboot this because after all the alay-ness, the unsteady-phase or what so called transition phase I had as a teen starting to write her blog in her junior high school I still thought that this blog has in some way maintained to be a documentation of some stage, some portrait of moments in my life. Though I found myself sometimes cringed or just wanted to laugh at myself reading at my past writings with all the wrYthin9 style possible (but I am not too violent with that, you know, I still managed to make my past-entries to be more readable), I think that knowing how sometimes I found myself recalling the moments and re-thinking and re-picturing about moments I've write here before - moments that I realize is not really being remembered until I read the specific post, it feels that it was amazing.

So how could I try to wipe and reboot all of this, dear, lone readers who lost or find your way, I ask you?

Whoops, look at the title, I think I managed to get to the topics rather smoothie-ly. LOL.

This picture aren't miine okay. From here.
About this movie I put as my title, it's rather to the fact that it is a reboot film of Spider-Man movie for me, I guess. Please note that I don't read the original Marvels comics and will not really responding to have a discussion or debates about the movie-because-the-comics or the like. The Amazing Spider-Man has its new Peter Parker and almost "rebuilt" everything of the story of Spider-Man to refresh the viewers after Spider-Man 3. 

See, I've never talk specifically about a movie to review it before this so I think its good to warn that I won't be really systematic or everything but I'm trying my best to arrange what's my points here. I hope this clear enough. Other notes before I really trying to get to my points is because I care to you so much, I hope you can continue reading with enough understanding about how this title (TASM 2)'s storyline and background story included what's it about in the previous TASM movie, since its almost 9 PM here and I kind of sleepy to recap the synopsis. You do know you always iMDB or the like in your hands.

If you still don't know, in case, TAS refers to The Amazing Spider-Man, dear, see I am really trying to be considerate here.

First thing first about the overall movie, I do think that this movie is amaazing, indeed, I repeat, an amazing reboot to built, to have Spider-Man with all the enemies and the story in the other new way after having three Spider-Man movies before. Why can I state this are based on how I appreciate the story's "linearity" about everything in this second installment (oh I love using this phrase, it do seems so magazine-like xD), since everything about the-super-spider and how-the-heaven-it-can-make-Peter-has-superpower, the "absent" of Peter's parent (that we can aware of since TAS first movie), and how it eventually makes way for Peter to Harry Osborn is explained and has the right and logical reason and correlation. It's even pictured better than the previous Spider-Man, which the spiders, the superpowers, even Harry Osborn are now feels so "popped out from somewhere there" compared to how all of that entangled and connected in TASM.

Other appreciation are also the main villain, Electro, that kind of gives me thrills and strummy-sensations yet the cringe-y heartfelt of how he was before he was Electro and after he has become Electro. No wonder and what you can expect from the Academy Awards winning Jamie Foxx can never be less...  About the three enemies showing appearance teased in trailers are just meh, hmmkay thing for the Rhino but so much more hmmooches for The Green Goblin, or specifically Harry Osborn. I must admit here that Dane Deehan are waay more fitting as Harry and he can potray a fearful-powerful-unstable-young-adult-snobby-but-actually-sympathizing heir of Osborn... even his physical appearance are really supporting the image of Harry Osborn more than James Franco, especially that powerful fringe (LOL) that gives Deehan a look of being more youthful and "vulnerable" and unstable as a young gentlemen... though of course there's no doubt that Deehan and Franco are both good looking in the general context; calm down! ...and am I showing my bias in Harry/Mr. Deehan here? Sorry for not sorry xD.

Done praising/appreciating the storyline and has "accidentally" slipped to the cast-talking, then I think we should really take a dive to it xD

Because this will sent me to the Point I've wanted to say and confess first place until I decided on this entry title, that eventough TASM 2 has amazing story and all but apparently not amazing main-cast of the hero. Hereby I confess that I am not satisfied enough in Andrew Garfield's portraying his own Peter Parker.
  
At first place I thought that my explanations would be long but now I think it won't really that long.

Continuing the matter, I'd like to begin with how much the three installments (uhum) of Spider-Man had left me with so much deep impression of how Tobey Maguire can deliver a Peter Parker who is a very humble, gentle, "selfless" being (in terms of how he would always tend to prioritize others before him) no matter how he's kind of having an alter-ego in becoming a Spider-Man. But I also think why would we have to differentiate Peter Parker from Spider-Man if his famous saying had been (one of them) "Who am I? I'm Spider-Man.".

All of that without making Maguire's Peter Parker becoming less adorable.

Yet some viewers had their opinions after TASM 2 that Garfield's Peter Parker are better than Maguire's because of the more-youthful, humorous look and act shown in TASM 2. I am not here to object others opinions, before I stated that of course I also aware and appreciate the "joking" manner that Garfield can show to the viewers of TASM 2 while playing Peter Parker, but the problem is I am having a quite hard time to correlate those "playful manner" with the whole Peter Parker Garfield's trying to deliver or convey in TASM installments.

I evaluate, as whole, that Garfield's Peter Parker are not as strong as Maguire's in terms of how in every act, every saying or everything he do in the context of being Spider-Man, being a man desperately in love with his girl and and being a bestfriend with some problematic issue are not really coming together, aren't worked out in my perspective.

What I see is a Peter Parker of Garfield's that is somehow hides some kind of worrying-issue of being close to Gwen (while having images of her late father warn him to keep Gwen away from danger of him as Spider-Man after the first movie's events) but in other hand shows a very "selfish" possession of not losing his girl in any way, even when his girl stated that she pursue an important scholarship in Oxford, UK. Count their kissing scenes, dear, that feels quite excessive and I can not take away my thoughts that while kissing Emma Stone, Garfield can be more enjoying kissing her as his current-boyfriend-real-life than as Peter Parker so in short he/she/them has their own enjoying on their sneaky make out time sorry its rude. Is this the Peter Parker trying to deliver to me as one of the viewers? Because that doesn't worked out for me, I am not impressed by his "more playful manner" that much to state that he can portray his version of Peter Parker.

I am sorry to say that Garfield's Peter Parker are resulting a very much inconsistent character, he can not deliver a single "line" of Peter Parker on how he behaves and talks throughout the movie, or if he do, that doesn't work for me. I have think that maybe this TASM's Peter Parker are way more different slighly because he's kind of starting as high school student with its teenage issue and all, but in the other hand I still getting impression that somehow the Peter Parker in TASM are still maintaining the qualities of being "noble", and somehow "awkward" like Peter Parker in Spider-Man - yet the outcome is the part when he was supposed to show that he has a noble qualities (say, to not harm Gwen by saying that he sees her late father "images", or not to give Harry his blood so that Harry won't get hurt) aren't going smooth to blend with other qualities of the extent he can be, like being "funny", being so touch-smoochy to Gwen (the public kiss at the graduation party, seriously? What kind of Peter Parker is that who then at night become awkward when Gwen invites him to eat dinner with her family and say that he can not let Gwen be in danger and so on?), and so on. The extent in how Garfield's Peter Parker can show quite a selfish manner to make Gwen not go from his side by having all that ILU in the bridge with his webs are very puzzling to me, to make it together at what is the kind of Peter Parker I have now?

The Peter Parker I know that has its place since Spider-Man 3 won't be too funny or all that, I admit, but other than being still-adorable, he is a very persistent types of guy who has a lot of feelings not excessively shown but has its own intensity that can be felt in his eyes when he see the other people he loved may have misunderstood him, or when he just decide to stay silent, or saying anythings subtle to keep other people's feelings for what complicated thing they don;t know shoot in becoming a Spider-Man.

...well, I am also aware that perhaps I have been too attached to the portraying of Peter Parker from Tobey Maguire after all this time, and I have ponder about it but I decide that actually that's not really relevant to bring up because I consider myself to be quite objective of what I saw in movies, give it prove to the character Harry Osborn, which apparently the "new" cast can worked it out well despite his physical qualities. I wonder why can not it applies to for Peter Parker as well?


Eventually, evrything are not meant to be perfect,  so there's always room for being better, and that also applies to good movies that can always be better in the future^^    

Sunday, March 10, 2013

Notable Ice-Breaking: "Guru-guruan" Game!

Di pertemuan pertama mata kuliah Psikologi Sosial kemarin, kelas saya mengawalinya dengan semacam ice-breaking (semacam istilah untuk sebuah sesi penyegaran suasana dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya bersifat kooperatif, interaktif dan atraktif lol) yang ternyata cukup mengesankan :D

Pertama adalah sesi perkenalan, berhubung kelas di semester dua ini adalah hasil pengacakan dari semester sebelumnya (sounds like the school days? :p) di mana dengan sebuah bola karet yang diberikan acak-bergiliran kami harus menyebutkan nama kami lalu mengenalkan teman di sebelah kiri dengan kriteria nama lengkap, nama panggilan, hobi, dan status ^^

Strategi ter-impromptu tentu saja adalah dengan memosisikan diri untuk bersebelahan dengan teman yang sudah kenal~ dan ada sedikit "isu" tertentu mengenai penyebutan kriteria pengenalan status; di mana ragamnya bervariasi dari antara yang ingin tidak kelihatan (masih? lol *sendirinya, no, me single*) jombeloh, tidak ingin status hubungannya diketahui khalayak, atau sebenarnya masih sendiri namun ingin kelihatan cihui dengan cara pengungkapan status yang unik nan atraktif (...).

Meski pada akhirnya saya "selamat" untuk tidak dikenalkan oleh teman sebelah kanan saya, agaknya saya masuk ke golongan ketiga dan omong-omong, masih belum menentukan kalimat pengungkapan status yang cukup cihui = = ada saran? =))

***

Yang kedua dan jadi alasan dokumentasi dalam posting ini adalah~ permainan guru-guruan! :D 

Jujur saja, meski kata dosen saya ini adalah permainan jaman beliau (atau mungkin jaman kami juga) kecil, saya belum pernah "ngeh" akan permainan tradisional ini sampai beberapa hari yang lalu menyaksikan permainan ini dimainkan^^

Jadi setelah satu kelas dibagi menjadi sepuluh kelompok untuk setiap tugas kelompok di perkuliahan, sepuluh kelompok kelas ini kemudian diminta dibagi lagi menjadi dua "kubu" yang ootmatis terdiri dari masing-masing lima kelompok di tiap "kubu". Nah, kemudian, setiap kubu pun diminta mengirimkan tujuh orang wakil untuk memainkan permainan guru-guruan ini~

Nay, saya kembali terselamatkan (?) untuk menjadi observer karena saya memang sama sekali nggak tahu bagaimana permainannya (meski sudah diterangkan sebelumnya, barangkali semacam loading lambat...) dan agaknya saya nggak memenuhi syarat memiliki "wajah penipu" seperti yang diberitahukan bapak-ibu dosen kami =))

Jadi gimana cara mainnya?

Tujuan utama setiap tim yang diposisikan berjauhan-berlawanan adalah berhasil "mendekat" ke tim lain untuk menyelundupkan koin yang masing-masing dimiliki setiap tim sebanyak sekeping. Ya, karena disebutnya saja "menyelundupkan", proses "pengiriman" koin masing-masing tim yang tentunya hanya bisa dipercayakan pada satu anggota tim setiap kalinya harus dilakukan secara tanpa sepengetahuan tim lain^^

Jadi, begitu permainan dimulai, ketua tim yang menang undian lempar koin memulai dengan menyembunyikan  koin ke salah satu anggota timnya, atau ketua tim itu juga tetap diperkenankan membawa koinnya; semuanya dengan sedemikian rupa agar tim lain tidak bisa menebak kemanakah koin itu "dipercayakan" ke "kurirnya".  Pada tahap ini, semua anggota tim yang bermain dipersilakan melipat kedua tangan di belakang tubuh agar tidak mudah ketahuan, ketua tim juga dipersilakan menggunakan gerak tipu dan berakting sebanyak-banyaknya saat memutuskan siapa "kurir koin" di giliran tersebut.

Setelah yakin, tim lawan dipersilakan untuk menebak siapakah di antara ketujuh orang anggota tim lawan yang sedang memegang koin (sebagai "kurir koin") di giliran itu. Jika tebakan tim lawan salah, maka "kurir pembawa tim" yang berhasil tidak ketahuan dipersilakan melompat mendekat ke tim lawan; dan koin bisa mulai disembunyikan lagi oleh tim yang berhasil tidak tertebak siapa "kurirnya" tadi (boleh oleh anggota tim yang berbeda sebagai "kurir", tentu saja) dalam giliran baru sampai tim lawan berhasil menebak dengan benar.

Tahu nggak hal tak terduga yang terjadi hari itu, tidak disangka kalau tim kubu tempat saya berada ternyata adalah tim yang sangat tangguh =))

***

Seiring dengan berlangsungnya permainan, saya akhirnya paham mengapa kriteria "wajah/bakat penipu" terbilang sangat penting dalam permainan ini! Gak disangka kalau ternyata tim kubu tempat saya berada ternyata langsung mampu menebak siapa anggota tim lawan yang menjadi "kurir koin" dan mampu terus berhasil membuat giliran menyembunyikan koin karena tim lawan salah terus dalam menebak siapa "kurir koin" tim kubu kami sampai akhirnya menang =))

Jujur saja sebagai penonton, saya benar-benar nggak habis pikir bagaimana anggota tim kubu saya ini bisa benar-benar "tokcer" bermuslihat di depan tim lawan; benar-benar hiburan awal kuliah yang seru dan mungkin saja sarat dengan konsep-konsep mata kuliah yang akan kami pelajari. Ternyata bagaimana seorang individu "pembawa koin" mampu "membaur" dalam tim "sosial"nya saat itu sehingga tidak sampai-sampai juga ketahuan memiliki "perbedaan tersendiri" (baca: sebagai "kurir koin") mungkin juga ada hubungannya dengan konsep persepsi dan cara pembawaan diri?

Sebenarnya meski seru sekali menyaksikan permainan ini, sebenarnya posisi pandang saya agak kurang memadai karena tim kubu kami memang bermain dengan posisi tubuh membelakangi sisa anggota kubu yang lain, sehingga saya tidak bisa benar-benar melihat sendiri bagaimana "tampang penipu angguh" tim kubu tampak =))

Afterall, that was a very amusing opening ice-breaking to note (:
Haha, kira-kira itu saja yang saya jurnalkan di sini setelah seminggu pertama di semester dua; tetap semangat!

Saturday, January 12, 2013

Kamu tetap juara, meski tak diumumkan dan tanpa hadiah untuk dibawa pulang.

Ini adalah pantun-pantun dua baris (?) yang saya buat dengan konsentrasi (dan cinta) dari pukul 20.00 s.d 23.00 di akun kuis saya untuk mengikuti kuis #BigDaddyBigBangShirts. Sebagai VIP yang sudah habis-habisan untuk nonton Alive Tour mereka Oktober lalu, saya ingin berusaha untuk bisa mendapatkan prize nya yang cukup menggiurkan, official t-shirt Alive Tour yang akan dibagikan setiap minggu di hari Kamis.

Saya pribadi cukup menyukai banyak dari pantun (?) ini, meski mungkin agak "maksa" karena memang harus menggunakan judul lagu BIGBANG dari album Alive mereka dalam pantunnya.

This image is not mine. Taken from here

Sayangnya belum beruntung memenangkan kuis itu kemarin dan bagaimanapun saya harus menghargai apa yang sudah susah-susah saya buat kalau ternyata tidak ada orang lain yang bisa. Oleh karena itulah saya akan post pantun-pantun (?) tersebut di sini.

Konser usai FEELING ALIVE. Terima kasih BIGDADDY LIVE!

BAD BOY is not always MONSTER. BIGDADDY the best promoter!

Jadi LOVE DUST karna BAD BOY. Tidak pedes kurang asoy!

Tanpa WINGS menjadi MONSTER. Karena AliveTour VIPs jadi follower.

Lagu MONSTER bikin crowd FANTASTIC BABY. Ini konser promoternya BIGDADDY!

Rambut dicat indigo tapi tampan. Sok jaga EGO malah AIN'T NO FUN!

Kalahkan MONSTER berhasil STILL ALIVE. Konser berhasil ya sama BIGDADDY LIVE!

Jatuhkan EGO nikmati konser ini. Dari INTRO pun sudah FANTASTIC BABY!

Sebelum BINGEUL-BINGEUL ada BLUE. Senang betul nonton BIGBANG dengan Ibu~

Berkelit di telpon buatku LOVE DUST. AIN'T NO FUN jika tak menang kaus...

Berkah comeback BLUE buatkan mereka WINGS. Lemah hatiku pada lirik puitis.

Ini getahnya pening mikirin EGO. Just use your FEELING and here we go!

Serbu info AliveTourINA ke BigDaddy. BLUE hair makes you look FANTASTIC BABY!

Having WINGS feels FANTASTIC BABY. My FEELING is ready to rock with BigDaddy~! 

A BAD BOY make you feel BINGEUL-BINGEUL. He's MONSTER inside who you think so beautiful. 

Begitu AIN'T NO FUN rasanya bagi EGO. Susah move on and letting go...

Too much EGO brings you LOVE DUST. Love has no WINGS without trust.

Don't love a BAD BOY without trust. Love is greater FEELING than lust.

You hold much bigger EGO than your FEELING. Jangan cengo jika akhirnya pening!

Daesung telah kembali ALIVE dengan WINGS. Nonton Bigbang live telah jadi memori manis.

AIN'T NO FUN jika tak ikuti kuis. Ingin menang agar FEELING tak teriris.

FEELING BLUE under the showbiz. Daddy thank you for the quiz!

***

Oke harus diakui kalau semakin lama pantunnya (?) semakin kacau dan begitulah... biarkan saja demikian. Semua pantun ini tidak saya edit sama sekali dan biarkan sajalah attempt saya untuk mengambil hati penentu pemenangnya dengan gombal (?) dan pujian (?) yang tulus tapi gagal itu terekspos (........)

Afterall, kalau saya bilang, seharusnya kalau dengan pantun-pantun ini, kalau saja kemarin pemenangnya ada dua, saya akan jadi juara keduanya.

Sekian.  

Thursday, December 13, 2012

Can a resume brings me to Korea?

Saya sedang mengikuti Lomba Menulis Resume Buku yang dalam proses penentuan pemenangnya memiliki presentase 50% dari Penilaian Juri, dan 50% dari Like/Voting pembaca (orang lain), untuk semua yang kebetulan membaca posting ini saya hanya berbagi dan berikhtiar semata. Jika ternyata lewat sini bisa menghasilkan hasil, semoga kebaikan siappaun itu mendapat balasan dariNya. Juga, betapa saya tak bisa lebih berterima kasih :')

Silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya baik lewat Twitter ataupun Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'
***

Di wishlist saya yang ada di blog ini, jika Anda membacanya, Anda akan tahu kalau keinginan saya nomor tiga yang kedua adalah: Go to Korea.

Oh, all that glitz of my imaginary prince(s), since my real one has not discovered, yet.

***

Namanya saja juga sebuah wish, sebuah dream yang saya labeli dengan kata beyond yang menyatakan kesadaran saya akan jalan panjang yang harus saya tempuh untuk mencapainya. Namun saya pastikan bahwa saya akan sedikit demi sedikit mengambil langkah, berharap suatu saat saya akan sampai di sana.

Lalu datanglah kesempatan bagi saya untuk mencoba memenuhi wish itu dengan menggunakan minat saya pada buku dan menulis lewat Lomba Menulis Resume Buku yang diadakan oleh QBaca dan English-Bean. Berkaca dari pengalaman betapa saya cukup menyesal tidak mengirimkan tulisan untuk lomba blog KPK lalu yang bertopik "Andai Aku Menjadi Ketua KPK" yang ternyata tidak melulu harus tentang politik seperti yang saya takutkan kalau melihat tulisan-tulisan pemenangnya :'

Jadi, apapun itu, jika saya tahu saya bisa mengusahakannya, saya tidak akan menyia-nyiakannya.

Lomba Resume Buku ini, meski demikian, menuntut syarat yang lumayan "menuntut", hehe. Peserta diharuskan hanya meresume buku yang judulnya tersedia di aplikasi buku digital QBaca, dan juga harus terdaftar dalam English Bean dengan biaya Rp13500. Ya, tak apalah saya relakan mengikuti persyaratan itu, dan saya relakan konsentrasi saya terhadap kuliah sebagai yang utama harus dipecah.

Apapun, daripada saya menyesal nggak mencoba untuk berusaha mewujudan keinginan ke Korea. ^^

Bahkan saat saya belum menulis resumenya, beberapa kendala harus dialami. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan moda yang cukup terbatas, antara ATM atau Internet Banking ke PT Telkom, dan saya harus kembali pada rutinitas (?) kegiatan mengontak Customer Service dari baik QBaca maupun English Bean karena permasalahan erornya pembayaran lewat ATM (yang ternyata memang masih diperbaiki), hingga tidak "tercatat"nya pembayaran lewat Internet Banking yang sudah saya lakukan setelah usaha yang saya lakukan untuk membuat Internet Banking (termasuk bolak-balik ke ATM dan mengantri cukup lama di CS cabang Mandiri untuk mendapat Token Internet Banking). Syukur alhamdulillah, pada akhirnya semua lancar dan saya sudah memenuhi semua syarat untuk akhirnya bisa mengirimkan resume saya.

Maka tolong ya, silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya lewat Twitter atau Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'

Ini hanya sebentuk usaha memang, mengingat dasar penilaian adalah bebrobot lima puluh persen masing-masing untuk penilaian juri dan voting (Like) :'

***

Saya sangat bersyukur akhirnya bisa mengirimkan resume saya meski agak mepet dari jadwal tenggat (14 Desember), meski ada sedikit hal yang memang di luar perencanaan atau pengharapan saya. Yaitu tentang buku apa yang akan saya resume.

Mulanya saya ingin meresume buku "Negeri Van Oranje", namun karena halangan-halangan untuk membayar seperti yang saya sebutkan tadi, saya jadi tak jua sempat membeli buku itu yang memang tidak tersedia gratis. Bisa dibilang untuk bisa meresume buku itu akan susah karena bukunya sendiri tebal, meski saya mengutamakan untuk sebisa mungkin tidak mengirimkan resume dari buku yang sudah banyak diresume.

Akhirnya saya pun menjatuhkan pilihan pada buku digital yang bisa diunduh gratis dan bisa cukup menarik perhatian saya, sebuah buku yang sepertinya mirip buku pelajaran tapi judulnya cukup mengundang yaitu "Aku Bangga Berbahasa Indonesia". Buku inipun sebenarnya bukan pilihan pertama, saya sebenarnya sudah sempat mengunduh buku "Boleh Dogn Salah" yang juga gratis ketika saya masih belum fix dengan Internet Banking, tapi ternyata sudah ada yang meresumenya, dan saya menganggap konten buku yang terunduh juga tak utuh sehingga saya urung. Masih belum selesai, karena alternatif saya selanjutnya setelah saya akhirnya fix dengan Internet Banking pun masih ada buku "UK Trip", tapi ternyata sebelum saya mulai membaca, bahkan sebelum mulai mengunduhnya setelah membayar (karena QBaca menyarankan agar lebih cepat mengunduh lewat WiFi dan saya hanya bisa mengandalkan WiFi dekanat kampus tidak setiap hari), buku "UK Trip" juga sudah ada yang meresume. Akhirnya kembalilah saya pada buku kedua yang saya unduh pertamakali, yakni "Aku Bangga Berbahasa Indonesia" :')

Sungguh tidak pernah saya sangka kalau di keadaan terpepet tanggal batas pengiriman dan padatnya kegiatan, juga halangan-halangan ketidaklancaran yang harus saya lalui untuk mengikuti lomba ini, akhirnya buku yang nyaris tak sempat saya "lirik kembali" setelah mengunduhnya pertama kali inilah yang menjadi bahan resume saya :') Meski demikian, saya sangat bersyukur, Allah SWT. masih mengijinkan saya mengirimkan sebuah resume untuk berusaha mewujudkan mimpi saya ke Korea, sedikit demi sedikit :')

Apapun hasilnya, yang jelas dengan ini saya sudah cukup tenang karena saya tahu saya sudah mencoba dan berusaha :'

Sekarang juga saya masih mengupayakan untuk mengikuti lomba blog Super Speedy , semoga Allah SWT. juga kembali berkenan memberikan kemudahan dan hasil yang terbaik bagi saya untuk pelan-pelan mendekati keinginan, mimpi-mimpi saya :')

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.  .



Tuesday, December 11, 2012

"...all those lights may have blind me."

Perhatian sebelumnya: Barangkali beberapa hal yang dinyatakan dalam posting ini akan bersifat menyinggung dan subjektif, namun mohon pengertiannya bahwa semua ini hanya pemikiran-pemikiran yang diutarakan dengan apa adanya oleh penulis, tanpa bermaksud menyerang atau mengambil keuntungan dari pihak manapun. Tulisan ini hanyalah bentuk pengekspresian pemikiran semata.

Bisa kesambet apa saya tertarik untuk mendaftar Paduan Suara Mahasiswa di kampus.

Yah tapi itu sudah terjadi dan sudah cukup lama berlalu, sudah selesai menjadi salah satu fragmen kejadian kecil yang membuat saya sedikit belajar.

Kembali lagi ke pernyataan yang mengawali postingan ini. Ya, mungkin saya sedikit silau akan prestasi dan “nama besar” paduan suara universitas saya yang sudah terkenal sampai luar negeri. Bahkan terakhir kali paduan suara universitas saya itu memenangkan medali dari China, dan kebetulan China saat ini saya kaitkan dengan boy group produksi Korea dan citarasa Mandarin yang sedang saya cukup gemari yaitu EXO-M.


...ganteng-ganteng, ya. 
*nobodyaskyou.com* tapi saya lagi gak maksud ngomongin mereka, sih. capek juga kagum melulu. this image are also not mine, I got it from somewhere in the internet. you mad?

Singkat cerita, silaunya kesempatan untuk keluar negeri dan kemungkinan bisa mengunjungi negeri pangeran-pangeran yang hanya dalam angan saya itu lah yang kira-kira menjadi alasan, dengan jujur saja saya katakan itu. Saya yang notabene nggak pernah masuk dalam dunia ke-paduan suara-an.

Anak muda sekarang menggambarkan keadaan semacam ini dengan satu kata: “Pfft.”

Iya, “Pfft...”

***

Meskipun demikian, nggak sedangkal itu juga sih alasan saya. Kalau ditanya apakah saya suka musik, suka nyanyi, dan suka bareng-bareng seperti yang dinyatakan dalam promosi rekrutmen terbuka paduan suara universitas itu, sih, memang saya suka. Sudah lama musik itu adalah salah satu hal yang membuat hidup saya terasa lebih ada artinya, dan saya juga menemukan kesenangan dari ikut menyanyikan lagu yang sesuai dengan selera dan isi hati, dan sebagai manusia tentunya saya juga bukan makhluk soliter yang suka apa-apa sendiri.

Berbekal alasan-alasan itulah, serta logika untuk tidak melepaskan kesempatan ini karena toh ada proses seleksi yang justru membuat kemungkinan untuk “udah-coba-saja” semakin besar. Saya pun mendaftar dan begitu juga dengan kakak saya yang sudah lama memendam keinginan untuk bisa bergabung dengan tim paduan suara universitas itu.

The light just seem too bright and maybe I was hoped to be shone underneath it.

***

Sampai ketika ada semacam acara One Day Training diadakan dan tentunya saya ikuti itu dengan kesadaran besar sebagai orang yang sama sekali awam dengan ke-paduan suara-an. Mengikuti acara itu ternyata membuat saya sadar betapa saya sama sekali nggak nyangka kalau urusan ke-paduan suara-an ini bener-bener bukan main-main. Meskipun saya juga maksudnya juga bukan main-main, tolong mengerti sajalah maksud saya, ya.

Paduan suara universitas saya ini berprestasi besar juga dengan kompensasi yang nggak ringan, latihan hampir setiap hari dan lebih-lebih kalau ada job dan kompetisi, pendanaan juga sifatnya terkesan mandiri, bahkan bisa sampai ngamen, ngawul (jualan baju bekas) dlsb. Saya jadi geleng-geleng kepala dan mulas dalam bayangan ketika membayangkan gimana jadinya dengan kuliah yang juga sama-sama padat, dengan segala dinamika sistem KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi) yang sedang saya jalani ini.

Belum lagi juga uraian yang disampaikan mengenai teknik bernyanyi, saya juga nggak sebegitu menyangka betapa ekspektasi tentang kematangan teknik juga sangat dituntut dari pak pelatihnya. Cukup “mengguncang” saja rasanya, bagi saya yang lebih memihak pada perasaan daripada kekakuan hal-hal praktikal ketika mendengar sendiri ucapan beliau kalau misalnya anggapan bahwa menyanyi dengan mengandalkan perasaan itu salah.

Bisa saja sih saya salah tangkap, cuma saya jadi berpikir apakah saat itu saya menemukan pandangan nggak sama yang cukup “fatal” untuk dilakukan.

Sepulangnya dari One Day Training itu, saya hanya lebih banyak membawa pulang rasa ragu.

***

Hari seleksi datang dan saya serta kakak datang cukup awal untuk bisa juga diseleksi lebih awal. Tesnya secara keseluruhan terdiri dari tes wawancara, tes nada, tes koreografi (sederhana), dan tentunya tes menyanyi disaksikan pak pelatihnya.

Keraguan itu semakin menggedor hati saya ketika saya diwawancara (halah). Terlebih ketika pertanyaan soal kemungkinan saya “mendua” dengan minat lain serta organisasi lain ditanyakan, soal mana yang lebih saya utamakan, bagaimana membagi prioritas, bagaimana dan bagaimana lainnya. Sampai-sampai ketika saya menyebutkan keinginan saya untuk juga mengikuti UPK (Unit Pelaksana Kegiatan) jurnalistik di kampus, ditanyakan lagi kalau begitu apa saya lebih ingin menulis atau menyanyi? Terus apakah saya benar-benar ingin masuk PSM?

Saya kira apapun dan bagaimanapun saya menjawab semua itu hanya terasa sebagai suatu hal yang mengambang saja sekarang.

Tes nada dan tes koreografi... well, I am not that musical nor I could danced that well. Begitulah.

Terus di sinilah di tes tahap terakhir waktu disuruh nyanyi di depan pak pelatih yang bisa dibilang benar-benar klimaks dari segala perasaan mengambang dan ragu itu (halah kedua). Suara saya yang entah kenapa dimasukin ke kelompok suara sopran (....) diminta untuk terus meninggi dan meninggi menyanyikan reff lagu “Sendiri Lagi” yang saya pilih. Oh mengapa oh mengapa. Bapak pelatih pun meninggalkan testimoni bahwa saya bukan apa-apa kalau belum bisa mencapai ketinggian nada tuts kibor yang makin lama makin bening itu karena sopran benerannya di sana seharusnya bisa mencapai nada yang kanan banget dari kibor menurut sudut pandang pak pelatih. Oh oke lah pak kalau begitu.

Terus ketauan kalau saya dari SMA yang paduan suaranya bagus, dan ternyata lulusan SMA saya juga ada yang juga gabung di paduan suara mahasiswa itu. Oh, gitu ya pak. Iya pak saya memang nggak ikut waktu SMA. Terus waktu giliran kakak saya juga... waktu kakak saya dipanggil saya udah harus keluar ruangan seleksi sih jadi entah deh gimana persisnya pak pelatih bilangnya.

Kakak saya cerita kalau dia lebih suka melupakan apa yang pak pelatihnya itu katakan sama dia. Oh gitu ya yang kesekian.

Iya dan sepulangnya dari seleksi pun saya hanya meragu. Gayanya ya, seakan-akan saya berpotensi besar banget untuk diterima.

***

Meskipun kemungkinan untuk diterima itu hampir kayak kemungkinan terjadinya mukjizat, tapi selama menunggu pengumuman saya juga nggak bisa memungkiri kalau rasa meragu itu masih menggantung terus di hati (halah yang ketiga). Saya jadi takut akan bagaimana jadinya kalau SEMISALNYA saya diterima, apakah saya nanti akan bisa tetep keep in pace sama kuliah, apa nanti saya bisa bener-bener membagi antara kegiatan di jurnalistik sama padatnya latihan di PSM, juga dengan keadaan mobilitas saya yang nggak bisa kemana-mana "sefleksibel itu" karena saya masih bergantung dalam urusan transportasi. Gimana kalau saya mesti latihan sampai malam, harus gimana dan gimana nanti. Gimana juga dengan “perbedaan pandangan” itu?

...dan semua itu pernah sampai dalam tahap dimana saya diam-diam berpikir kalau mungkin lebih baik kalau saya nggak diterima. Bahkan sampai kebawa mimpi dimana waktu dalam mimpi itu saya seolah pertamanya dibilang diterima, tapi ternyata itu cuma “pancingan” buat penentu diterima atau nggak tambahan yang berupa G-Dragon dan Taeyang BIGBANG (ini serius saya mimpikan) yang bilang lebih suka suara temen SD saya yang di mimpi seolah-olah menjadi kompetitor terakhir saya di seleksi padahal notabene dia pengen banget masuk, dan di mimpi itu saya ragu-ragunya sama.

Lalu akhir mimpi itu adalah ketika ternyata saya nggak diterima, lalu saya berlari keluar gedung seleksi yang serupa mansion (...), lari dengan rasa lega yang ganjil dilatarbelakangi intro instrumental lagu Lovers In Japan nya Coldplay, lalu saya bilang sama temen SD saya (yang udah siap-siap pulang sambil nangis sedih) kalau dia yang diterima. Di situ pun saya berpesan agar dia bilang ke G-Dragon dan Taeyang kalau saya itu penggemar mereka dan saya minta maaf kalau saya kayak dijadikan pancingan agar seleksi itu (yang ceritanya di mimpi itu seperti reality show)keliatan “panas”, dan bikin mereka “gelo” karena mereka “nggak suka” suara saya. Saya nitip agar temen SD saya itu bilang kalau saya akan tetep mendukung mereka. Oh VIP yang ngenes banget ya keliatannya.

Iya dan kenyataan waktu pengumuman yang sebenernya keluar pun hasilnya juga sama. Saya nggak diterima (sayangnya, begitu juga dengan kakak saya padahal saya berharap setidaknya kakak saya bisa diterima...), tapi saya entah kenapa lega. Saya bebas dari keraguan itu.

***

Mungkin memang ini yang terbaik, dan meskipun kakak saya lebih termotivasi untuk diterima daripada saya, saya juga berharap ini memang yang terbaik. Saya tahu kalau saya merasa belum bisa menerima pandangan pak pelatih yang mengesankan kalau PSM itu butuh yang tahu teknik, lebih dari apapun. Ternyata itu juga yang terimpresikan kepada kakak saya waktu dia diseleksi menyanyi, seperti yang kakak saya bilang, kalau begitu mengapa sekalian saja dicantumkan kalau PSM hanya mencari orang yang sudah pernah les vokal atau apa, mengacu pada ucapan pak pelatih yang bilang kalau kemampuan kami bersaudara (halah yang keempat) masih kurang dan kami harus latihan teknik.

Kakak saya bilang gimana bagi dia saat itu terkesan sekali dari apa yang dikatakan kalau kok berani-beraninya kami daftar PSM dengan teknik yang kurang kayak begitu. Oh gitu ya ternyata yang kedua, kalau nggak salah.

Mungkin memang benar, kalau menyanyi itu pasti butuh teknik. Lalu waktu kita sudah menguasai tekniknya, baru kita kasih “perasaan”. Mungkin maksud bapak pelatihnya gitu. Gak tahu lah ya. Saya harap kakak saya bisa segera overcome kekecewaan itu, seperti saya nggak kecewa segitunya.

Seperti di mimpi juga temen SD saya itu diterima, dan saya pikir that is what she deserve kok. Ya sudahlah, saya berkesimpulan kalau saya akan berusaha untuk menemukan cara lain agar bisa keluar negeri. Cara lain agar bisa ke Korea. Baiklah, saya akan menekuni menulis dan mengikuti macam-macam kompetisinya dan siapa tahu kesempatan itu akan datang.

Siapa tahu suatu saat rejeki akan malu karena tidak mendatangi saya yang akan mengusahakan kesempatan-kesempatan untuk menulis dengan kemungkinan untuk menghasilkan.

Mungkin semua ini menunjukkan bahwa saya ternyata bisa lebih menerima konsekuensi menekuni menulis daripada konsekuensi menekuni menyanyi di PSM, mungkin itu yang Allah SWT. coba tunjukkan pada saya. Siapa yang tahu.

Barangkali juga semua ini menunjukkan pada saya soal “mencintai suatu hal dengan seutuhnya”, bahwa kadang cahaya yang menyilaukan itu hanya terasa membutakan, dan nggak membuat kita melihat yang sebenarnya. Bahwa yang sebenarnya itu mungkin belum tentu apa yang teraik buat kita, betapapun menyilaukannya itu terlihat di luar. Bahwa “mencintai suatu hal dengan seutuhnya” itu berarti juga menerima apa yang ada di balik kegelapan bayang-bayang cahaya menyilaukan itu.

Just don’t let those lights left you blind.

Tuesday, November 20, 2012

The Three Words.

Jadi, bukan, bukan I. Love. You.

Siang tadi, saya baru diwawancarai untuk perekrutan anggota Psikologi Jurnalistik Undip, dan kira-kira hampir di penghujung wawancara yang telah saya ikuti dengan jawaban yang makin lama makin inkoheren, tipikal, dan lain sebagainya, mendadak sang kakak pewawancara (yang entah kenapa membuat saya merasa nggak enak karena kayaknya jawaban saya nggak membuat ekspresinya cukup tertarik?) menanyakan satu pertanyaan yang tidak terlalu saya antisipasi sebelumnya.

Meski sebenarnya, saya nggak mengantisipasi pertanyaan apapun.
Coba sebutkan tiga kata yang bisa menggambarkan dirimu.
Setelah mendengar pertanyaan itu, berbagai macam pikiran muncul di dalam kepala saya; tapi yang juga terjadi adalah saya harus cepat menjawab ini.

Meski saya berpikir untuk menyebutkan "bakmi" dan atau "kentang", saya nggak menyebutkannya karena itu terlalu mengesankan orientasi abnormal pada makanan tertentu, dan seharusnya saya membuat si kakak mau menerima saya sebagai anggota tim jurnalistik kampus yang bisa diandalkan bukannya gila bakmi dan kentang.

Di situ saya kembali harus berpikir cepat, men, dan akhirnya yang saya katakan adalah

Tulisan,

...mengacu pada kesadaran saya akan bagaimana saya selalu merasa nyaman untuk menjadi diri saya dan mengutarakan apa yang ingin saya katakan lewat tulisan; menggantikan kata "pemalu" yang sebenarnya sempat terpikirkan, tapi entah kenapa saya tolak. Meskipun mungkin memang saya pemalu, saya sedang dalam masa ingin berubah menjadi... sesuatu... apa?
*diucapkan sangat pelan karena nggak terlalu yakin*...buku*dan akhirnya nggak jadi dan saya akhirnya mengeraskan suara*

...menghargai,

...berdasar pada bagaimana saya memandang sesuatu selama beberapa lama ini, entahlah, rasanya seperti susah sekali bagi saya untuk mengabaikan pikiran bagaimana saya tidak ingin memerlakukan sesuatu dalam cara yang saya sendiri tak akan suka menerimanya.

Setia.

...jujur saja saya juga nggak terlalu paham kenapa saya akhirnya menjadikan kata ini sebagai kata ketiga untuk menggambarkan diri saya.

Saat saya menulis ini, saya jadi teringat kalau saya pernah berpikir apakah mungkin saya memang punya semacam sense of belonging yang besar pada sesuatu meski saya nggak pernah benar-benar mengekspresikannya.
Sesuatu apa? Sebenarnya macam-macam, dari mulai benda-benda, dimana saya suka banget kesal sama kakak saya kalau pakai/pinjam barang saya sembarangan, sampai pada orang-orang... dan, untungnya saya masih cukup sadar untuk nggak terlalu mengekspresikan itu. Syukur deh, seringnya saya bisa cukup "sigap" bahwa saya nggak akan selalu berhak merasa bisa "terus memiliki" orang-orang yang saya anggap berarti, bahwa saya nggak bisa memaksakan anggapan apapun terhadap orang lain.

So that's my three words, what about you?

Friday, October 26, 2012

Can I Be Sweet Enough If Want To? :p



Well I made this for one of my best-granny-friend who is currently continues her study in Malaysia u,u

The distance makes me feel some urge so this is what comes out ^^ best wishes!!

Actually, I feel a bit bad because I don't make such these things to my other besties >< even to my own sister, I guess since now I will try to be more romantic to them = =

Friday, October 19, 2012

VIP Journey: Before and After The Stage-Lights

Seperti yang sudah saya janjikan dalam post berlabel VIP Journey sebelum ini ;p Sebenarnya, banyak sekali hal yang terjadi dan banyak sekali rasa yang kayaknya jika diceritakan tidak akan bisa benar-benar menggambarkan... dan saya kira bercerita terlalu panjang lebar dan kronologik mungkin agak un-necessary. Kemungkinan besar akan ada lebih banyak orang yang bisa menuliskan pengalaman mendetilnya menonton BIGBANG Alive Tour 2012 di Indonesia kemarin dengan lebih menarik dan baik dari saya (: just happy googling if that’s what you look for, like I did when I am lackingly tried to “surveyed” how’s a concert in MEIS feels like and I’ve read a couple of SuperShow4 Indonesia fan-account posts out there. Konser kemarin... luar biasa, dalam segala perasaan undescribable yang terasa saat lampu panggung masih mati dan dimatikan lagi.
...like, "I don't know what to say no more...?"
Sebelum semuanya dimulai, dan kedatangan saya bersama kak-adik dan Ibu (ya! Ibu saya menemani kami bertiga menonton boyband asing yang sama sekali tidak dikenalnya :’) yang sedikit terburu karena keterlambatan jadwal pesawat dan kondisi lalu lintas yang agak kurang mendukung akhirnya menyuguhkan kami pada our best seat in that night.


Saya melihat sekeliling stadium yang pelan-pelan mulai terisi dengan orang-orang dan atribut penggembira serba-kuning, yang sebenarnya tidak terkecuali saya, sih...

Tahu perasaan aneh ketika kamu merasa sedang tidak berada dalam dunia nyata karena... di sekitarmu, apa yang terlihat, terasa, dan dialami terasa lebih akrab di angan-angan? Waktu itu dengan suatu dazzled feeling, rasanya perlahan-lahan sekali saya mencerna kenyataan bahwa saya BENAR-BENAR AKAN MENONTON BIGBANG. Bukan sebuah layar yang mengirimkan pantulan visual ke retina mata saya!

Saya melihat atribut di sekitar saya (crown-headband yang saya pakai dua buah di kepala serta kaos penggemar resmi dari BigBang Indonesia, plus empat buah handbanner), mendadak terbayang hari-hari di mana semua atribut itu terasa agak “janggal” dibanding ke-regular-an semua benda di rumah =))...dan sebentar lagi saya akan menggunakan semua atribut itu SEPERTI ORANG YANG BENAR-BENAR MENONTON KONSER.

Layar besar di sebelah kanan menampilkan rentetan musik video dan tayangan iklan sponsor, dan meski saya pertamakalinya agak nggak “ngeh”, saya akhirnya ikutan overwhelmed dalam perasaan dan ekspresi verbal pada apa yang sebenarnya sudah biasa dilihat (musik video-musik video itu) karena sadar bahwa YANG ASLI SEBENTAR LAGI AKAN BISA DILIHAT.

**

Lalu dimulai, dan saya ada di antara cahaya lightstick dan lampu panggung yang menyilaukan, menjadi bagian dari hal yang sempat saya angan-angankan dalam hati.


Posisi VIP memang rupanya tidak membuat saya dalam posisi yang bisa sedekat mungkin, namun biar saya beri tahu ya, mengutip sedikit dari perkataan Ibu saya; posisi ini seakan memberikan sedikit distant-view yang bisa kamu nikmati untuk dirimu sendiri.

Posisi VIP ini tidak akan mengharuskan kamu untuk terlihat terus excited, tapi dari posisi itu, meski tentu saja kamu tidak akan bisa menghindar untuk tidak terpengaruh “euforia” crowd”, dijamin kamu akan punya lebih banyak kesempatan untuk... benar-benar hanya meresapi momen di dalam dan luar dirimu, mengambil jeda untuk sejenak melihat keseluruhan dari “hal besar” yang menjadikan kamu sebagai satu bagiannya.

Tentu saja, ekspresi verbal yang lantang-nyaris-tak-terkendali terlepas pula dari saya ketika rasa senang dan tidak percaya melingkupi saya saat lagu seperti “Stupid Liar”, “Love Song”, dan “Haru-Haru” dibawakan LANGSUNG. Begitu pula ketika saya mengekspresikan bagaimana menawan dan atraktifnya kelima member BIGBANG di atas panggung.

Mengayunkan lightstick, seperti semua yang menontonnya, saya seperti berusaha menekankan keberadaan saya dalam segala kemeriahan itu agar mereka yang sedang tampil di atas panggung bisa ikut merasakan “keberadaan” saya yang menikmati dan mensyukuri kesempatan saya melihat mereka malam itu.

Mereka semua tampil profesional, atraktif, dan luar biasa. Itu semua seakan membuat kami semua yang berada dalam stadium sepakat untuk membuat mereka semua merasakan segala apresiasi tulus yang bisa kami berikan. Rasanya senang sekali karena mereka bisa “merasakannya”, dan mereka berterima kasih, berusaha berkomunikasi dalam bahasa Inggris meski kadang bercampur bahasa ibu mereka menunjukkan acknowledgement dan appreciation.

Mereka bilang, kurang-lebihnya, bahwa ini merupakan kali pertama mereka di Indonesia, dan mereka sangat berterima kasih karena “kehangatan” dan “kebaikan” yang mereka rasakan untuk mereka di sini. Silly boys, tentu saja! Rasanya puas melihat bagaimana mereka menyaksikan sendiri betapa di luar dugaannya dukungan yang mereka dapatkan di Indonesia... ini membuat saya harus menuliskan betapa tak-tergambarkan sekali rasa senang yang terasa ketika mereka mengajak kami semua menyanyikan “Haru-Haru” bersama mereka!

**

Saya yang pada awalnya lebih banyak menumpahkan “afeksi” pada sosok G-Dragon pun lantas meratakan kadar “cinta” saya pada semua member yang lain setelah menonton konser ini. Semua member BIGBANG yang menunjukkan kualitas mereka yang pantas untuk mendapat limpahan rasa sayang =))

G-Dragon! Kamu bisa terlihat menjadi seperti apa saja yang kamu mau dan tidak pernah gagal terlihat mengangumkan, dari mulai nampak charming sampai nampak sangat cute >< saya ingat kemarin, kamu sempat duduk di pinggir panggung dan nampak sangat adorable dalam gestur dan mimik yang kamu tampilkan saat melakukannya!

TOP! Ketampanan dan pesonamu mampu mendapat pengakuan dari siapa saja ya, sepertinya! Bahkan Ibu saya hanya mengakui ketampananmu dibanding anggota yang lain :p

Daesung! Tidak hanya suaramu saja yang menyentuh hati saya, saya juga selalu merasa terhibur dengan setiap hal yang kamu katakan, memang benar kalau kamu akan unggul kalau muncul dalam acara variety!^^ Apalagi berdua dengan Seungri, you guys own the show with joyful laughter! :p ...kamu memang bukan main vocal biasa :’

Seungri! Saya tahu kalau kamu sempat punya skandal, dan jujur dikatakan kalau sebenarnya nggak heran kalau melihat pribadimu yang...yah..."charmingly naughty" itu. Tapi tetap saja! Kemarin kamu masih tetap menunjukkan ke-adorable-an khas maknae (meski kamu bukan maknae biasa, apalagi kalau mengingat penampilan solomu dengan tema militer (?) dengan outfit army dan senapan laser ////)

Taeyang!...dari dulu, persahabatanmu dengan G-Dragon selalu menyentuh saya dan membuat saya kagum, karena kalian adalah sahabat penuh bakat yang luar biasa > <  sangat senang bisa mengetahui betapa yang satu ini bisa berkomunikasi cukup lancar dalam bahasa Inggris > <...saya nggak nyangka kalau ternyata di atas semuanya, di malam itu, member satu ini menjadi...

...yang paling berkesan signifikan bagi saya?

Bagaimana seorang Dong Youngbae a.k.a Taeyang nampak sangat senang dan berterimakasih, berulang kali melakukan beatbox “aku cinta padamu” dan berkomunikasi pada kami, lalu seakan merasa masih perlu “meninggalkan” ekspresi kebahagiaan dan berterima kasih ia memberikan dance move atraktif-enerjik sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan panggung menyusul member lain setelah dua kali encore.

Belum lagi ketika dia seakan mengajak kami yang menonton di sisi atas untuk “melompat bersamanya”, memberi saya angan-angan untuk bisa seakan merasa benar-benar menatapnya tidak hanya satu arah! Abang, ko tahu saje.... =))

Youngbae-oppa, jujur saja saya tidak pernah menyangka akan menjadi sangat “tersentuh” itu padamu =)) ....but! ANYWAYS CONGRATULATIONS, GUYS, YOU’VE NAILED THE SHOW FOR SURE...saya ternyata berharap bahwa ini bukan konser dari mereka yang pertama dan terakhir, semoga saja di masa mendatang, Allah SWT bisa meridhoi saya beserta kakak-adik untuk mengalami ke-luar biasa-an ini lagi :’)

Hoping that this won't be the end of my 'VIP' Journey ;p

Wednesday, October 03, 2012

VIP Class Journey

About D-9 to the first held-in-Jakarta's concert I've ever attend.

disclaimer: I do not own this image

Seharusnya saya excited banget dan gak sabar kan untuk segera melihat langsung penampilan grup yang sudah cukup banyak menyita perhatian saya ini? O,O Bukannya saya sama sekali nggak merasa seperti itu, sih... Did you know those unnamed feelings when you just found yourself in the middle, no highs or lows? Pertama kalinya tahu soal konser ini,saya ingat betapa rasanya untuk bisa menontonnya adalah suatu hal yang "penting" sekali dan akan sulit untuk mengikhlaskannya seperti saya mengikhlaskan konser lain, jenis konser dimana kamu tahu itu adalah musisi favoritmu tapi kamu sadar kamu tidak bisa begitu saja menontonnya... hanya saja dengan Alive Tour ini, beda.

Nggak, saya nggak dibayar siapapun untuk ngomong seperti ini; this is just a honest feeling.

Mulailah akhirnya lika-liku saya sebagai seorang yang belum pernah lihat konser dalam skala ini, pertama kali, jelas, adalah minta izin.

Ternyata bukan perkara gampang, terutama jika orangtuamu belum pernah mendengar tentang musisi yang ingin kamu lihat konsernya... apalagi musisi Korea yang bahasanya aja hanya bisa dimengerti dengan batin (?). Belum kalau sudah ditanya soal harga, nah, pengertian mengenai keinginan si anak agak sulit diberikan setelah tahu harga tiketnya yang sangat "reasonable". Apa yang saya katakan ke Ibu saya waktu itu (saya ingat kejadiannya sewaktu kami sedang makan di Soto Pak Keri), adalah saya bersedia menggunakan uang di tabungan untuk bisa membayar tiketnya.

Memang saya nggak tanggung-tanggung, saya dan kakak (yang kebetulan, segala puji bagi Tuhan, juga suka Bigbang hehe) berniat membeli tiket VIP yang harganya paling mahal. Eits... bukan berarti kita nggak sadar sama sekali kalau penebusan atas tiket kelas itu adalah uang yang sama sekali NGGAK sedikit, namun kami saat itu merasa sekali kalau itu adalah konser yang pantas menjadi semacam satu kesempatan yang kemungkinan untuk terjadi kembali sangat kecil.

Memang entah kenapa konser ini bedaa banget; saya jadi ingat kalau bahkan waktu first official announcement atas konser ini dilakukan beberapa bulan yang lalu, serasa hati mendesir dengan keinginan untuk nonton konser ini... saya ingat kalau pengumuman resminya sudah ada sejak saya masih dalam kisaran kegiatan memersiapkan diri untuk SNMPTN Tertulis. Waktu itu sih saya nggak berani terlalu memikirkan konser ini dan berusaha menyadarkan diri kalau yang penting waktu itu adalah persiapan SNMPTN, bukan yang lain, kalau saya bertekad masih waras dalam segala "obsesi" saya... ha.

Kemudian singkat kata, akhirnya tahapan untuk akhirnya bisa berjuang mendapatkan tiket bisa dilakukan.

Ternyata memang nggak gampang, dan dalam waktu singkat yang sepertinya nggak perlu dijabarkan, kekurangan pengalaman dalam online-competition (?) membuat saya dan kakak nggak bisa mendapatkan tiket di hari penjualan online nya. Meminta tolong saudara yang tinggal di Jakarta pun entah kenapa rasanya rikuh, karena bagi kami perkara membeli tiket ini sebaiknya nggak perlu merepotkan orang lain secara berlebihan.

Kami sempat sampai dalam tahap dimana akhirnya (waktu itu) kami berpikir bahwa mungkin bukan rejeki kami untuk menonton konser itu, dan I would say that is not that easy; yah, tapi berlarut-larut juga diri sendiri yang rugi 'kan?

Waktu itu kami masih belum mendengar tentang prospek penambahan hari konser, dan meski sudah mulai bermunculan permintaan publik atas penambahan second show, saya dan kakak nggak berani terlalu berharap; meski kami mengira kalau memang sudah seharusnya musisi sehebat Bigbang mendapat tambahan hari konser di Indonesia yang penggemarnya bisa dibilang banyak.

Hari demi berlalu dan seperti biasa hidup terus berjalan (?), kami juga sudah nggak terlalu membicarakan permasalahan Bigbang ini karena sudah mulai dengan kegiatan kuliah (ehem). Meski demikian, sebagai kepo-er dan stalker profesional, saya masih rajin mengecek pembaruan terkini mengenai Alive Tour ini, dan benar saja, syukur alhamdulillah memang ada second show~

Balik lagi ke "perjuangan" beli tiketnya, tapi ternyata memang Allah Maha Tahu akan suara umatNya yang berharap adanya sedikit kelonggaran dari urusan perang koneksi (?)... ternyata keharusan untuk perang koneksi (?) dalam membeli tiket untuk second show ini bisa diminimalisasi dengan adanya kebijakan penjualan presale yang diadakan atas kerjasama fanbase dan ticketing company nya.

Dalam kesempatan ini biarkan saya mengekspresikan penghargaan saya atas pengertian luar biasa yang ditunjukkan fanbase Bigbang Indonesia bersama MyTicket-BigDaddy... betapa mereka tahu kalau second show nggak akan ada tanpa permintaan besar dari penggemar musisi yang bersangkutan! Yup, salah satu penentuan akan adanya second show ini memang datangnya juga dari proses voting (yang tentu saja saya ikuti, namanya juga berusaha hehe)~ dan saya serta kakak sangat mengapresiasi adanya presale yang bisa memberikan kesempatan bagi fans untuk mendapatkan tiket, dan bukan untuk calo :p

Singkat kata, dari mengikuti pembelian presale akhirnya saya dan kakak yang sudah nggak mau dan nggak lagi-lagi mengambil resiko dan tantangan untuk perang koneksi (?) akhirnya mendapatkan tiket kami~ alhamdulillah, meski tiket yang akhirnya kami dapat bukan tiket dalam kelas VIP-C seperti yang kami utamakan, namun kami sangat senang~~karena proses pembeliannya terasa bereda sekali dengan online sales yang biasa hehe.

Empat tiket kelas VIP akhirnya terbeli, segala puji bagi Tuhan :' ....yah, ini baru tiket konsernya, dan belum ditambah tiket transportasi, akomodasi, dan pernik cheering yang meski nggak wajib tapi "terasa perlu"...

Nggak kerasa ternyata menuliskan lagi pengalaman itu ternyata akhirnya mendebarkan hati saya yang sempat saya pikir nggak berasa berarti seperti yang saya katakan di awal. Bukankah sudah seharusnya, dengan segala lika-likunya, tentunya saya harus "menunggu" hari-H nya dengan perasaan yang lebih pantas~
Indeed, ini memang perjalanan VIP kami dengan harga yang memang sangat VIP~ mungkin di kesempatan selanjutnya saya akan cerita lagi lebih lanjut... yang jelas saya akan pastikan kalau VIP Journey ini akan diabadikan dalam jurnal ini, terutama tentang bagaimana pengalaman saya menonton konser seperti ini; sebagai a humble and lowly person I'd like to share and keep those moments and journey here. Jadi tunggu saja ya~  semoga semuanya bisa berjalan lancar. Amin. 

Tuesday, August 28, 2012

"...but they don't recognize me, I didn't look the same."

Menjadi mahasiswa... akhirnya?

Untuk jujur saja dikatakan, memang tidak banyak yang bisa saya katakan, namun saya tidak bisa cukup berterima kasih pada keridhaanNya karena saya bisa mendapatkan universitas dan jurusan lanjutan seusai SMA dengan cukup mulus, dan seperti halnya orang-orang yang memulai sesuatu... ya, saya juga berharap saya bisa melakukan kuliah ini, jadi mahasiswa... dengan baik.

Amiin.

Diterima di Fakultas Psikologi Undip, dan saya memulai hari pertama PMB (Penerimaan/Pengelolaan Mahasiswa Baru) dengan perasaan campur aduk antara saya juga penasaran, deg-degan, dan diam-diam semacam dazzled dalam hati karena resmi sudah ya, saya memulai semacam lembar baru di kehidupan sosial baru dengan banyak pembelajaran baru lagi... sementara bayangan teman-teman dekat yang sangat berkesan di hati yang rasanya “baru saja” saya temukan satu tahun lalu. How life goes on and I better walk along.

Jujur saja tadi adalah hari pertama PMB yang oke oke saja, nggak banyak keluhan/saran yang terpikirkan di pikiran saya yang biasanya memang selalu sewajarnya saja (haha)... semacam perkenalan-perkenalan kehidupan perkuliahan diberikan hari ini; beberapa materi dibawakan oleh Pembantu Dekan (PD) dan/atau dosen yang ternyata menyenangkan isinya dan pembawaannya; membuat saya jadi penasaran juga untuk tahu nantinya kuliah dengan beliau-beliau ini nantinya bakal se-menarik apa.. semoga saja deh.

Menarik banget rasanya menyaksikan sendiri pembawaan Bapak/Ibu yang lucu-lucu celetukannya itu, padahal diam-diam mereka semua ini pakar di bidang masing-masing^^ lega banget rasanya menyaksikan citra dosen yang kadang suka digambarin galak dan kaku bisa nggak terasa tadi (:

Tapi seperti biasa aja sih, untuk soal menjalin kehidupan sosial dengan sekitar itu mungkin emang saya nggak akan menemui hasil instan... entah karena pembawaan atau saya memang belum cakap. Mungkin saja faktor kalau saya jarang ikutan kumpul-kumpulnya mereka juga berpengaruh?...bukannya gimana, secaranya juga saya nggak masuk dalam lingkungan kos dan mobilitas transportasi saya untuk bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain juga terikat oleh pihak-pihak yang mengantar saya u,u

Senyum, basa-basi, biasalah ya... Saya tahu sih saya nggak perlu terlalu memikirkan ini dengan berat atau apa, yah namanya juga soal waktu, dan jujur aja saya pribadi juga nggak muluk berharap untuk lantas harus bisa nemu temen yang “klik” atas-bawah-luar-dalem atau apa^^a

Meski emang saya jujur aja agak khawatir soal gimana menjalani pembelajaran/kehidupan perkuliahan yang bakal menuntut saya untuk “aktif” dengan skill dan achievement sosial saya yang biasanya selalu biasa-biasa aja itu, mungkin emang harus ada saatnya untuk saya agar bisa belajar atau banyak memasang topeng-topeng yang diperlukan untuk akhirnya bisa menemukan kenyamanan untuk diri sendiri dengan perubahan yang positif...
Yah, semoga saja. Masih ada banyak waktu buat lebih banyak belajar, dan saya harus yakin kalau semua pasti bakal baik karena Allah SWT. nggak akan ninggalin saya untuk tersesat sendirian kalau saya selalu berpegang padaNya dalam setiap apa yang saya jalani dan alami :’)

Masalah temen baru yang PASTI deh awalnya canggung dan blabla, baiknya saya nggak usah terlalu ambil hati. Orang itu beda-beda, orang datang dan pergi, tak kenal maka tak sayang dan lain sebagainya.
Masalah interaksi dan ketertarikan (?) untuk itu di antara satu-sama-lain juga merupakan satu hal yang emang nggak bisa dipaksakan meski tentu saja saya berusaha untuk menganggap semua itikad itu baik.

Kalau saya “membatin” soal gimana rasanya di-“begitu”kan sama orang lain; yaa saya sendiri juga bukan orang yang sempurna ya...
masih kebayang sih dan saya sadar banget kalau kemarin nggak sengaja dan nggak benar-benar maksud itu saya pernah nyalamin temen satu jurusan pakai tangan kiri gara-gara tangan kanannya megang tas tenteng waktu upacara...
terus tadi juga saya ngeluarin bekal (yang meski nggak seberapa untuk bisa dibagi-bagi buat banyak orang gitu) dengan agak terburu-buru dan makan untuk diri sendiri padahal di sebelah ada temen satu kelompok PMB yang harusnya bisa saya tawarin atau apa biar lebih cepet akrab...

iya meski agak sedih sih kalau mengahdapi situasi di mana kayaknya kok adaaa ajaaa orang yang kayaknya nggak terlalu welcome padahal ya udah disenyumin, dibasa-basi... terus ada jugaa yang mungkin emang bawaan daerah asal, waktu kakak tingkat ngingetin biar mastiin tempat PMB bebas sampah terus saya nemu pisang utuh jatuh di bawahnya terus saya tanyain “waah jatuh ini punya siapa yaa” aja terus berasanya kayak saya yang nuduh kalau dia yang buang pisangnya itu, ya ampun apa saya itu emang dari dulu sensinya kayak gini. Dikit, kok, dikiiit bangeet.

Kalau nginget-nginget tadi sih cuma bisa “memutar” lantunan tembang (aduh bahasanya plis deh) Garden Party milik Owl City ketika saya menerawang dalam hati kalau udah ketemu situasi out of place di mana saya harus make a move aja deh daripada lumutan atau harus denger lagi orang bilang ke saya kalau saya juga harus “nyoba usaha dong biar biasa akrab” dan sejenisnya.

”But it’s alright now, I learn my lesson well.
You see, you can’t please everyone, so you gotta please yourself.”

Tuesday, August 14, 2012

...ngabuburit.

Saya menyempatkan diri, dalam beberapa menit yang seharusnya saya habiskan dengan mulai bersiap-siap untuk berangkat untuk pergi buka puas bersama teman-teman sekelas (dan dekat) dulu di kelas supuluh.

To be honest, sekarang kedekatan kami buat saya nggak terlalu seperti itu, tapi bagaimana sekarang pun mereka masih mengajak saya dan lain sebagainya, entahlah saya merasa nggak bisa membiarkan diri untuk absen dari ajakan buka bersama yang satu ini.

Setelah lebaran ini dan di mana mungkin saya akan sangat sulit untuk ketemu langsung dengan teman-teman yang keberadaannya sangat saya hargai, saya merasa... "kapan lagi sih?"

Because, indeed, saya hanya ingin mengumpulkan dan menjaga kenangan-kenangan berharga sebisa saya. Tidak masalah mengenai sekaya apa substansi segala kenangan itu, tapi dengan mereka ini, well, saya ingin sebisa mungkin mengumpulkan dan merangkumnya dengan mereka.

Afterall, bagaimanapun kelihatannya sekarang dan bagaimana nanti suasananya, mungkin dengan banyak topik obrolan yang tak terlalu saya pahami, saya tahu kalau mereka semua juga bagian berharga dari semua kenangan saya di masa SMA yang (katanya) indah.

Tuesday, June 19, 2012

Graduation

So today's the graduation of my senior high school, and here we are with kebaya and tux. Haha.
Gambar berikut adalah foto teman-teman dalam kebaya <33 and those feelings when we accepted the medal for our graduation are wordless...haha.
Ini masih belum akhir dari rangkaian acara/event perpisahan dan keakraban pasca kelulusan because we still got the so called prom night, but it will be said as the Ganesha Award. ;-)
Buat saya acara-acara seperti ini adalah saat-saat yang harus dihabiskan seefektif mungkin untuk meraup lebih banyak momen bersama teman-teman... Kumpul ngobrol ngalor-ngidul sama dearest friends mulai dari kpop sampai hal-hal absurd lainnya.
Dari kiri ke kanan foto teman-teman adalah 'nenek' Ika, Andini, Ninda, Annisa, dan Callista (:
Well can't think much to say (:


Thursday, April 19, 2012

So, be it!

Beberapa minggu tidak lagi menyentuh blog ini akibat tralalal-trilili ini-itu yang sebagaian besarnya adalah karena UN yang harus dipersiapkan dan sebagainya, aaannd since the National Exam's done, it's great opportunity to comeback here and settle things here and there, what that I've wanted to do for so long but kind of postponed, so that I have that spare time... yeah, well, as you can see.

1. New skin.
No doubt, like, ut's like my useless-habitual activity =)) Saya pilih tampilan seperti ini dengan pertimbangan tidak stabilnya cara saya "mengonsepkan" blog ini selama ini -___- namanya pun juga gak macem-macem yaitu nama saya sendiri, dan sebagai semacam "penanda identitas blog" hanya seuntai kalimat di atas yang saya nilai bisa fleksibel sesuai dengan keadaan. Yeah, saya ini memang kelewat kaku dan praktis.. so, be it!

2. No shoutbox.
Keputusan yang sebenarnya agak jahat buat semua blogger lain yang udah datang ke sini selama saya mengalami (semacam) "hiatus", namun demi masalah kepraktisan dan berdasarkan preferensi pribadi, akhirnya saya memutuskan kalau shoutbox itu nggak sesuai dengan blog ini begitupun "my way of blogging"; saya nggak mencari high-traffic atau banyak blogroll atau followers, dan saya kira kedatangan blogger-blogger lain lewat shoutbox mayoritasnya selalu sebatas "blogwalking-relink yuk-udah", buat saya malah nggak menjalin network yang sebenarnya merupakan apa yang dicari.

Intinya saya udah menyeleksi blogroll saya dan hanya menyisakan mereka yang secara pribadi cukup saya kenal dan/atau sudah berbaik hati memasang link saya di blog masing-masing; tapi belakangan kok saya jadi bingung kenapa mendadak ada blogger yang sempet kontak dan kasih semacam meme tapi ternyata blognya udah di-set hanya bisa dibaca sama yang diundang. Nah, lho, males kan kalau sudah ada kasus semacam ini? No hard feelings.

Soalnya berdasar pengalaman (nggak keren) selama hampir berapa-tahun-sih, dengan meladeni shoutbox itu malah hanya menimbun blogroll yang semakin banyak dan hampir gak saya kenal dan gak bisa saya terus ingat sebagai teman networking...so, be it!

3. On-going-plans for days of SPARE TIME AFTER NATIONAL EXAMS.
Yep, knowing that the National Exams is over, actually it somewhat giving me some unsteady surreal feelings =)) well, after all the days of tryouts, addition-lessons, and studying guidance (baca: uji coba, pelajaran tambahan, dan bimbingan belajar), rasanya setelah UN selesai itu... like, somewhere in the middle. Lega, senang, dan bersyukur karena alhamdulillah semua bisa dijalani dengan lancar tinggal berpasrah saja akan hasilnya, tapi tetap somewhat... I don't know; seperti merasa harus memersiapkan diri lagi untuk sesuatu yang tidak lain adalah seleksi masuk perguruan tinggi, people.

Yeah it's on another note, but what I wanted to share here is my upcoming plans that (I hope) can be fulfilled.
Nggak pedulilah orang rumah palingan pada ngetawain dan blablabla, emang saya ini terkenal kalong/kebo/name it, tapi ada yang bilang kalau menuliskan tujuan-tujuan dan mimpi Anda itu berdampak besar lho. Dan rencana-rencana itu adalah...
a. Mengurus KTP. (...oke, jangan ada yang komentar, apalagi kalau Anda kebetulan petugas Kelurahan Karangrejo)
b. Belajar nyetir mobil sampai bisa.
c. Rajin olahraga.
d. Kembali aktif nulis (amateur-ly), utamanya bikin fanfic! astaga kangeeen...
e. Pelan-pelan memersiapkan diri buat seleksi masuk perguruan tinggi.
f. etcetera! 
...so, be it! 

Friday, December 16, 2011

It deserve a new beginning...

Pagi ini saya baru saja terima rapor : | b

Alhamdulillah tidak kebakaran, dan Ayah saya agaknya gak merasa kecewa sama nilai-nilai saya di situ, bahkan dengan fakta kalau saya urutan ke-20 dari 34 anak di kelas saya : | b

Sejak dulu saya emang gak terlalu perduli sih soal masalah peringkat/rangking dan kawan-kawan -_____- saya lebih konsen ke hasil seperti apa yang saya dapet dibandingkan dengan urusan setinggi apa yang bisa saya raih dibanding yang lain : | b

Hahaha maaf karena tiga paragraf awal posting ini diakhiri dengan emot serupa =)) yah intinya saya sudah merasa cukup puas dan bersyukur dengan nilai-nilai semester kelima saya di SMA 3 Semarang, bahkan lumayan tercengang (?) karena tumben Fisika nggak mepet-mepet sangat (yang biasanya 75 persis KKmnya atau 76 atau 77 deh) tapi kali ini saya dikasih 79 hehe. Nggak jauh beda ya? Ah, tapi saya seneng kok. Terus juga senang karena Biologi, Matematika, dan Kimia saya tidak semengenaskan yang saya bayangkan setiap kali ada hasil ulangan yang dibagikan =)) Alhamdulillah mapel-mapel identitas jurusan saya bisa cukup baik, dan begitupun dengan pelajaran yang lainnya... bahkan Agama yang waktu UHT dan UAS nilainya mengenaskan =))

Kata Ayah sih saya bisa ambil Jalur Undangan, yah saya juga bersyukur dengan itu, meskipun masih ketar-ketir juga apa yang nanti bakal saya mantapkan buat jurusan kuliah saya kelak >< saya sebenarnya tertarik memelajari Teknik Lingkungan, tapi somewhat kayaknya Ibu mengekspektasikan saya ambil jurusan Hukum O,O meskipun saya sebenarnya juga tertarik melajarin Hukum sih, tapi entah kenapa saya lebih prefer melajari yang Teknik Lingkungan dulu >< aih doakan saya semoga saya bisa memilih dengan baik^^a.


Friday, December 09, 2011

Korea dan Logika... (?) :|

Kita butuh... semacam pembukaan nggak untuk semua ini? Sebenarnya saya nggak ada kepikiran semacam pembukaan yang bagus atau gimana ya, hanya sekedar ingin posting mumpung alhamdulillah UAS sudah kelar dengan mengenaskan dan ya, ya, agaknya suasana sekarang cocoklah untuk melakukan hal-hal ringan (?) seperti ini.

Nggak deh, saya di sini sekarang ini nggak bermaksud mereka ulang (?) UAS saya kemarin, ya, pokoknya sudah selesai dan tinggal pasrah aja...

...sambil ngambil kesempatan pacaran sama PC dengan lebih leluasa =))

WOGH! Nggak disangka ternyata kita sudah tersandung pada topik utama (?) yang sebenarnya mau saya omongin... Well, ya, akhir-akhir ini saya sukses ikutan excited sama K-Pop-thingy dan telah cukup lama tenggelam dalam keindahan fana fangirlingan mengenai subyek tersebut =)) #dilemparEYD

Sepertinya saya pernah mengungkit di sini walau tidak jelas dan sangat gaje, eh sama aja ding bahwa sekarang saya lagi senang sekali sama
boy group asal Korea bernama BOY FRIEND



source from somewhere in tumblr


...sekalian ditulis kapital semua, sekalian dikasih fotonya biar dunia tahu... #plakplak yya, SAYA SENENG BANGET SAMA BOY GROUP INI SAUDARA-SAUDARI SEKALIAN. Ini sebenarnya kenyataan yang cukup mengguncangkan riwayat kekaguman saya selama ini, karena tiba-tiba (?) saya kok demen dengan sesuatu berbau KOREA padahal biasanya, seumur-umur, sejak awal-awal K-Pop mulai booming saya selalu punya kenetralan yang luar biasa terhadap segala K-thingy... bahkan dalam taraf nggak peduli-peduli amat karena bingung sama para pemainnya (?) yang rata-rata semuanya (di mata saya waktu itu... dan kayaknya mungkin emang gitu) menjual tampang, lagu dan dance.

Wednesday, November 23, 2011

...far too many emotions that in my soul.


images from Favim.com

I remember Letto's Ephemera when I'm starting to write this.

It feels like I'm in the middle of something undescribeable, created from my feelings and emotions. Isn't it funny how could we CAN'T understand our OWNs? I oftenly think about that, and can never be sure about that, of course.

These times are neraly silents me down, sometimes I feel that I'm controlled by the situation when I have things to get done, things to get responsibled (?), or things to be prepared.

But what that concerns me the most are the things that I must prepare.

It's kind of scary, how the time slowly drift near to the End of Semester Test, and I'm just worried about my 'condition' in having to face it soon. There are lost of to learn and I'm aware that I'm not really strong to come up the questions, I'm just scared, really.

Because, even the material which I think could count on, when it's being tested are come out with bad score, and it just turns me down so low that sometimes I thought, am I that stupid? Yeah maybe it's not that awful but it really disappointing,

even I'm get disappointed because of myself!

I think it's because I don't really study intensely, but it's really hard to try be intense in study. There are many distractions, and that also scares me. I don't know how much time I have now to fix those things. Because, after almost seven hours of school-studying-hour I need refreshner when I get home, I can't contain it to push myself in studying rapidly, or maybe it just my time management?

I know that it doesn't mean that I have to push it too much, but well it's just confusing, too scary.

Lord, I don't know which way I'm going, which way the river gonna flow
It just seems that upstream, I keep rowing
Still God, it's a long way to go.


The One Allah, help me to face this unesy stream, for I always believe in Your grace. Forgive me for being such a reckless.

...and that light, it's Your eyes.
I know, I swear, I'll find somewhere the streets are paved with gold.


Please give me strength to face what I have to do, please give me ease to learn from all this sadness which basically created from my own mistakes.

...bullets fly, split the sky
but that's allright, sometimes sunrays come streaming through the holes. (U.F.O. - Coldplay)


Rabbana aatina fiddunnya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqinaa azaa bannar... Amin.

Sunday, November 06, 2011

st. marks square




First saw this in bing, it just a very dazzling place to see and I'm kind of inspirated by it now (:

Friday, September 16, 2011

Saat matahari terbenam...

Saya sedang ingin sedikit me-random ria saja. Berkaitan dengan satu hal yang belakangan ini cukup saya minati di waktu senggang, atau waktu yang secara tidak bertanggung jawab disenggangkan yaitu Roleplaying Text-Based xDb Di sini hanya sekedar bikin semacam gambaran tentang chara-chara original saya yang memang terhitung seiprit kalau dibandingkan yang sudah senior-senior... But let me introduce them, shall we? ...you can't stop me either, LOL.


original characters of an absolute relative  
 
* on IndoOlympians
  Chelsea Morning-Young
the eldest one; bukan yang terbaik, tapi banyak hal yang selalu membuat saya tersenyum tentang dia, dengan segala 'kecerahan' sifatnya dan kebebasannya (: just another daughter of The Messenger.
 
- Milano Costa Soledad 
the eldest son I've made; satu-satunya yang, meskipun barangkali tidak terlihat dan berhasil, saya sisipi sebagian perasaan-pandangan saya di sisi yang cenderung melankolis :"> thankfully a son of the Love Goddess; satu-satunya chara yang disebutkan di sini yang sudah di-plot telah mempunyai pasangan nantinya :">
 
* on Ryokubita
- Azayaka Manami 
'anak' kedua-atau-ketiga yang rancu dengan nama di bawahnya^^a karakter yang dibangun dari sesuatu yang bisa dikatakan semacam bayangan saya akan kelembutan, dan barangkali sedikit kerapuhan? Tipikal yang terkesan, yah, tidak unik, meskipun saya juga tidak bilang bahwa chara yang lain bisa dibilang unik^^a but in someways, she had my smiles too. 
 
*on Atlantis
- Katrina Alandra Rowandor 
tidak bisa memutuskan apakah dia termasuk chara yang berhasil sesuai keinginan, hehe. Satu-satunya chara yang saya rancang tidak 'sebaik' yang lain karena dia punya semacam sisi yang kaku, sisi yang lebih sinis, dan saya bisa dibilang memberikan cukup banyak 'sisi diri' saya yang lain kepadanya (: 


dan ketika mereka melihat matahari terbenam...