Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts

Sunday, December 03, 2017

Menginap Selalu Nyaman, Perjalanan Keluarga Selalu Berkesan: #JadiBisa Dengan Traveloka

Setiap perjalanan memiliki kisah masing-masing. Orang-orang bepergian dari dan ke berbagai tempat, dengan berbagai cara dan tujuan. Bahkan meski berangkat dari tempat yang sama dan dengan tempat tujuan yang sama pula; perjalanan saya, misalnya, tidak mungkin sama dengan yang dialami orang lain. Ada banyak faktor yang menjadi alasan keunikan setiap perjalanan. Siapa yang melakukan perjalanan? Berapa lama perjalanannya? Apa tujuan perjalanannya? Berapa banyak dana yang disiapkan untuk perjalanan? Pertanyaan-pertanyaan itu tentu jawabannya berbeda-beda, begitupula perjalanan yang dideskripsikan dari jawaban-jawaban pertanyaan itu.

Hampir semua perjalanan saya dilakukan bersama keluarga. Kedua orangtua saya pada dasarnya memang sama gemarnya bersilaturahmi seperti halnya gemar bepergian. Sejak kecil, tidak jarang momen akhir minggu disempatkan menjadi waktu berkualitas keluarga karena orangtua menginisiasi perjalanan ke luar kota. Selain untuk pergantian suasana, agendanya juga sekalian untuk mengunjungi kerabat-kerabat kami di kota tersebut. Kota-kota yang menjadi tujuan kami biasanya adalah Solo, Jogjakarta, Purwokerto, Kebumen, dan Jakarta. Di Solo ada sepupu ayah saya, di Jogja ada kakak ibu saya, di Purwokerto ada tante dari pihak ibu, di Kebumen ada saudara dari pihak ayah, dan di Jakarta juga kerabat dari pihak ayah maupun ibu.

Pola bepergian keluarga saya lebih sering diawali dengan keputusan berangkat yang bisa dibilang “mendadak”. Biasanya baru pada pagi hari keberangkatan lah tercetus ajakan untuk bepergian bersama. Untungnya, kota tujuan yang terhitung tidak terlalu jauh dan masih wajar jika ditempuh dengan mobil menjadikan pola rencana bepergian keluarga kami menjadi tidak terlalu perlu untuk dipermasalahkan. Satu rombongan keluarga kami biasanya terdiri enam orang yaitu ayah, ibu, saya dan kedua saudara kandung, beserta satu kerabat yang membantu merawat saya dan kedua saudara saya sejak kecil. Bisa dibayangkan ya ramai dan penuhnya mobil kami.

Sampai sekarang, saya masih salut mengingat betapa besar semangat dan kekuatan yang ditunjukkan kedua orangtua saya lewat kesediaan beliau berdua untuk cukup sering menyisihkan waktu, tenaga, dan uang demi agenda bepergian akhir minggu kami. Padahal, kedua orangtua saya sudah mulai memasuki usia yang biasanya membuat orang-orang sepantaran beliau berdua berkurang keinginannya untuk berlelah-lelah bepergian. Saya bersyukur karena berarti Tuhan tidak hanya mencukupkan kemampuan finansial dan fisik kedua orangtua saya, tapi juga kemampuan jiwa dan hati untuk bepergian. Di mana tujuan bepergiannya pun tidak hanya untuk bersenang-senang, namun juga untuk menjaga tali silaturahmi. Pengorbanan waktu, uang, dan tenaga beliau berdua menjadi terbalaskan berkali-lipat dengan dampak menjaga silaturahmi yang bisa menjaga kebaikan lahir batin orang yang melakukannya.

Momen bepergian akhir minggu keluarga kami biasanya selalu identik dengan pergantian suasana melalui bagaimana kami bisa menginap di hotel; yang biasanya memberikan beragam fasilitas dan layanan. Kenyamanan merupakan aspek yang diutamakan kalau keluarga kami memutuskan untuk menginap di hotel, terutama bagi orangtua saya. Saya bersyukur, karena orangtua sebagai sumber dana perjalanan keluarga selalu mempunyai budget yang mencukupi dan memungkinkan untuk memilih tempat menginap di hotel. Kamar yang luas, adanya pendingin ruangan, kamar mandi air panas dalam kamar, layanan TV kabel, sarapan buffet, dan kolam renang sudah menjadi rangkaian fasilitas yang diekspektasikan pada tempat menginap keluarga kami.

Saya masih ingat bagaimana dulu sebenarnya proses memesan hotel tidak semudah sekarang. Dulu tak jarang kami baru memesan kamar di malam hari sewaktu memutuskan untuk menginap dan mendatangi hotel-hotel satu per satu menanyakan apakah ada kamar yang kosong. Sayangnya dulu saya masih kecil dan tidak bisa berdaya banyak untuk membantu orangtua saya. Syukurlah, semakin saya dan saudara kandung saya tumbuh dewasa dan melek teknologi, akhirnya kami bisa belajar membantu mempermudah perjalanan keluarga melalui penggunaan layanan online booking.

Adanya layanan online booking memang mengubah pengalaman merencanakan perjalanan dan melakukan perjalanan keluarga saya. Memesan tempat penginapan jadi jauh lebih mudah karena tinggal klik-klik di situs atau aplikasinya, lebih hemat karena ada potongan harga; apalagi kalau pesan dari jauh-jauh hari, dan lebih aman serta terjamin karena bisa langsung dibayar dan dibookingkan ke hotel bersangkutan.

Belakangan, Traveloka menjadi penyedia layanan online booking yang paling sering saya gunakan. Di handphone saya, aplikasi Traveloka menjadi semacam teman terpercaya untuk bisa menjauhkan kedua orangtua saya dari pengalaman tidak enak seperti kehabisan kamar atau kedapatan kamar dengan harga kemahalan setiap kali kami melakukan perjalanan keluarga. Traveloka sebagai layanan online booking jelas memungkinkan proses memesan hotel menjadi lebih mudah, hemat, aman, dan terjamin; tapi tidak hanya itu, kelebihan-kelebihan lain (iya, lebih dari satu lho; alias banyaak!) dari Traveloka membuat saya betah menggunakannya sebagai andalan sampai sekarang.

Kalau dirunut dari langkah-langkah memesan hotel lewat Traveloka, dari proses pilih-pilih hotel pun Traveloka sudah memberikan kenyamanan. Kita bisa punya banyak banget pilihan hotel dengan harga final melalui Traveloka. Kalau kamu pakai Traveloka, kamu nggak akan menemui harga kamar yang kelihatannya diskon banget tapi ternyata nantinya setelah ditotal akan ada ekstra-ekstra tambahan biaya tersembunyi seperti pajak. Harga yang ditampilkan di Traveloka memang benar harga diskon final dan jujur. Kamu bisa cek sendiri kalau harga yang tercantum di daftar pilihan hotel dan harga setelah ditotal akan sama, seperti yang ditunjukkan di gambar (yang paling jelas tentunya kalau kamu mentotal pesanan satu kamar untuk satu malam ya). 



Fitur harga final ini sangat membantu saat saya memesankan hotel untuk menginap bersama keluarga. Tidak jarang saya melakukan reservasi via Traveloka saat sedang bermobil di perjalanan menuju kota tujuan. Orangtua saya hanya perlu menyimak saya menyebutkan nama-nama hotel dan harganya. Beliau berdua pun tinggal memberi pendapat dan pertimbangan mereka untuk mengambil keputusan hotel yang dipilih. Adanya uraian info lengkap seputar hotel yang tersedia di aplikasi Traveloka sehingga kita bisa melihat foto-foto hotel sampai bisa tahu kamar-kamarnya seperti apa juga sangat membantu orangtua saya saat mempertimbangkan di mana kami akan menginap. Orangtua jadi tidak merasa hanya membayari tanpa memiliki kendali dan saya juga bisa mengomunikasikan pemakaian kartu kredit untuk pembayaran sejumlah berapa dan untuk hotel yang seperti apa secara jelas dan tentunya sepersetujuan beliau berdua.

Melalui Traveloka, membayar pesanan hotel untuk keluarga menginap juga jadi sangat mudah. Ada masanya ketika dulu saya harus meminta orangtua mengeluarkan kartu kredit mereka secara fisik agar saya bisa mencatat detail-detail kartu tiap kali sedang memesan hotel secara online. Kepintaran Traveloka untuk bisa menyimpan detail-detail kartu kredit membuat saya sekarang hanya perlu pilih kartu yang mau dipakai untuk membayar dengan sekali klik. Semisal mau menyicil pun juga bisa dilihat skema cicilannya. Kemudahan lain untuk membayar pesanan hotel di Traveloka juga ditunjukkan adanya pilihan pembayaran yang beragam dan tidak hanya terbatas dengan kartu kredit. Bahkan kita juga bisa membayar ke ATM dan gerai Indomaret/Alfamart untuk membooking pesanan kamar kita; seperti yang ditunjukkan gambar.


Memastikan kenyamanan untuk kedua orangtua saat akan menginap di luar kota merupakan prioritas tertinggi, karena sekarang tentunya orangtua sudah tidak se”muda” dulu meski masih memiliki semangat yang sama. Saat memesan hotel fokusnya bukan mencari harga yang termurah, tapi mencari hotel dengan nilai harga yang berbanding dengan jaminan kenyamanan menginap di sana.

Banyak perjalanan keluarga saya yang sudah menjadi jauh lebih nyaman dan berkesan dengan menggunakan Traveloka. Orangtua saya selalu nyaman beristirahat karena kami selalu bisa terjamin mendapat kamar hotel yang sesuai ekspektasi melalui Traveloka. Saat kami bepergian ke Kota Kebumen beberapa minggu lalu karena ada pernikahan kerabat, kami memesan kamar di Meotel by Daffam. Akad nikah yang diadakan di pagi hari bisa kami hadiri dengan lebih santai karena bisa menginap dari semalamnya, dan kami juga bisa beristirahat di jeda waktu acara akad dan resepsi yang diadakan siang harinya. Harga yang kami dapat untuk dua kamar Family menjadi lebih hemat dengan adanya potongan harga dari Traveloka.

Perjalanan keluarga berkesan lainnya adalah pada bulan April lalu ketika kami menginap semalam di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta saat kebetulan ada long weekend. Kami menginap dari tanggal 14 hingga 15 April 2017 dan sudah melakukan pemesanan sejak tanggal 1 April 2017 via Traveloka sehingga kami tidak perlu khawatir kehabisan kamar. Pengalaman menginap kami pun sangat berkesan karena hotel tersebut dilengkapi dengan fasilitas lapangan golf sehingga kedua orangtua saya bisa bermain golf setelah sekian lama belum sempat bermain golf bersama. Kami juga bisa berenang dan berjalan-jalan di kawasan resor yang mengingatkan pada masa kecil kami karena dulu sering diajak menginap di sana. Foto saat saya dan adik laki-laki saya ikut jalan-jalan di lapangan golf menemani orangtua merupakan sedikit dari banyak kenang-kenangan momen berkualitas keluarga kami waktu itu.


Setiap perjalanan akan meninggalkan kisah yang berbeda untuk dikenang, karena setiap perjalanan dilakukan oleh orang yang berbeda, pun dengan kepentingan dan prioritas yang berbeda pula. Saya sebagai orang yang paling sering berperjalanan dengan keluarga memprioritaskan tempat menginap ternyaman, terutama untuk kedua orangtua saya. Hotel dengan fasilitas yang lengkap dan sesuai ekspektasi akan membuat kepentingan perjalanan keluarga berjalan lancar karena kami bisa beristirahat dengan nyaman dan optimal. Kami juga bisa merasakan pergantian suasana baru sambil tetap menghabiskan waktu berkualitas dan menyimpan kenangan baru bersama.

Traveloka telah menjadi bagian besar dari setiap perjalanan keluarga saya. Memanfaatkan fitur-fitur reservasi hotel di Traveloka membuat kami selalu mendapat pilihan hotel terbaik sesuai dengan budget dan ekspektasi. Memesan hotel jadi lebih mudah, cepat, terjamin, dan dengan harga diskon yang final karena pesan lewat Traveloka dulu.

Monday, July 07, 2014

Doa adalah

doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah

Thursday, May 22, 2014

London, England is Where My Wonderwalk Starts

"England".
"Inggris".

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata di atas? Selamat kalau Anda bisa dengan mudah menemukan kata-kata untuk mewakili "Inggris" dengan cepat dan spontan. Selamat kalau kata "Inggris" dapat seolah menjadi suatu penunjuk yang dapat dengan mudah Anda kenali di keramaian dan menandai suatu hal spesifik yang menjadi tujuan Anda, sehingga bisa segera Anda hampiri dengan bersemangat tanpa rasa ragu, mungkin "Inggris" menjadi penunjuk Anda pada hal-hal seperti nama klub sepakbola, anggota kerajaan, The Beatles, atau apapun.

Saya? Saya justru mendapati diri saya seperti berdiri terpaku dalam jalanan yang sangat "hidup", penuh dengan objek dan suasana yang seolah "merengkuh" saya dalam pelukannya, membuat saya terpana karena saya memiliki keputusan rumit untuk memilih ke mana tujuan saya sebenarnya, di mana setiap hal yang terlihat di jalanan itu menarik dan mengundang untuk dituju.

Dari mana saya harus mulai kalau sudah tentang "Inggris"?

Bahkan jika harus mulai dari awalnya, saya kesulitan menandai bagian dari ingatan saya yang manakah yang menjadi kenangan kunci dengan kesan pertama yang kuat pada "Inggris" itu, karena memikirkan tentang "Inggris" seperti mengingat hal-hal yang sama-sama indah dalam angan-angan secara sekaligus. Mungkin kata "Inggris" bagi saya bisa diibaratkan memiliki efek yang mirip seperti memikirkan nama seseorang yang diam-diam disukai, karena ada hal-hal baik dan indah yang langsung terpicu untuk dipikirkan. Mereka seakan datang berdampingan dan membombardir diri saya dengan perasaan-perasaan bermakna yang rasanya "penuh" sekali jika ingin dikatakan. Sulit untuk sekadar memilih satu hal yang membuat seseorang bisa jadi bermakna spesial, begitu pula tidak mudah untuk memilah dan menyusun semua hal yang muncul dalam pikiran tentang "Inggris" itu untuk bisa mengungkapkan jawaban pada pertanyaan "apa yang membuat 'Inggris' punya arti tersendiri buatmu?" secara lugas.

Hal-hal itu seperti foto-foto dan adegan-adegan yang tertangkap dan terekam lalu menetap dalam hati dan ingatan. Foto dan adegan yang tidak secara langsung terkait, namun harus bisa disusun untuk menjadi sebuah film yang memiliki benang merah tentang "Inggris dan mengapa negara itu berarti sesuatu bagi saya". Di mana setiap foto atau pun adegan tidak selalu menggambarkan suatu objek, tapi juga suatu kesan yang khas... 

Aduh, maafkan saya, pikiran saya jadi melanglang kemana-mana!

Mari kembali ke pengandaian bahwa "Inggris" menempatkan saya pada jalanan yang hidup dan mengundang dengan berbagai pilihan tempat dan hal untuk didatangi dan dilihat, seakan berebut untuk menjadi satu yang saya tuju, hanya saja Anda agaknya paham bahwa itu akan sulit bagi saya, bukan? Jadi pilihan apa yang saya bisa ambil dari sana agar saya tidak melewatkan tempat atau hal-hal apapun, selain mulai menyusuri "jalan" itu?

So be my guest, mari kita mulai berjalan menyusuri sebuah "Inggris" yang terekam penuh kekaguman di pikiran saya, bahkan sebelum kaki sungguh-sungguh berpijak di sana.    

Ibukotanya, London, adalah kota yang menjadi panggung dari sihir, keajaiban hingga misteri dalam kisah Harry Potter, serial Sherlock, juga The Bartimaeus Trilogy - kisah-kisah luar biasa yang berhasil menetap dalam pikiran saya karena kesan mendalam tentang London yang mendampingi kesan terhadap kisah-kisah itu sendiri. Oh, kalau Anda belum pernah membaca kisah-kisah itu, saya sarankan untuk segera membacanya agar Anda bisa menciptakan potret dan bayangan Anda sendiri tentang London.


London bukan seperti kota lain yang selalu memaksakan warna-warni, tapi aura kelabu dan palet-palet tegas dan seolah kelam yang sering tertangkap di foto dan adegannya tidak menyembunyikannya. Tetap saja, keajaiban dan misteri seolah-olah tidak pernah salah tempat untuk berjalinan dan menggelora di sana melalui tangan-tangan para penulis kisah-kisah hebat itu.

Aura kuno berkat sejarah berusia ribuan tahun seakan dapat mendukung kesan itu dan membuat kota ini menjadi kota yang anggun, seolah memang ada sebentuk sihir yang membuat hujan dan kelabu bagi London adalah penghias yang membuai; untuk menyusuri jalan-jalannya, mengamati cahaya lampu jalan dan siluet-siluetnya saat berpadu dengan bangunan-bangunan yang bergaris kuno. Saya hanya membayangkan London dalam deskripsi-deskripsi sang pengarang, dan London terlukis sebagai panggung yang sempurna. Bukan hal sulit untuk membayangkan gambaran para penyihir berjubah, pasangan detektif dan sahabat setianya, atau sosok Bartimaeus sang jin legendaris dengan samaran kamuflasenya tiba-tiba terlihat berpapasan jalan dengan kita.

Kisah-kisah berlatarkan London yang telah saya baca secara perlahan tapi pasti telah membangun tidak hanya imajinasi untuk berada di sana tapi juga keinginan untuk betul-betul mengunjunginya di suatu kesempatan. Gambaran tentang menara jam Big Ben, kilauan Sungai Thames yang merembet hingga sepanjang tepiannya membuat saya membayangkan bisa menegadah dari bawah naungan menara jam itu, juga berjalan di sepanjang masyur tersebut, misalnya di area Queens Walk di mana terdapat deret-deret bangku taman cantik yang menghadap pemandangan lanskap bangunan-bangunan historis London, Queens Walk juga akan membawa saya menyusuri Jembatan Westminster yang megah, di mana secara harfiah jembatan tersebut sering menjadi latar pengambilan gambar dari banyak film.

Queens Walk sepanjang Sungai Thames :')
Dengan jalan-jalan yang memiliki suasana ber-aura kuno dan tertata cantik untuk disusuri, saya bayangkan diri saya akan betah berlama-lama menyusurinya, tidak perlu langkah-langkah yang terburu-buru atau wajah yang menggerutu.

London adalah tempat yang harus saya singgahi suatu saat nanti, untuk mensejajari kisah-kisah penuh misteri dan keajaiban yang pernah saya baca dengan kisah saya sendiri selama di sana yang telah menunggu untuk disusuri. Jika saya bisa menginjakkan kaki di London, saya tidak ingin terlalu terburu-buru. Sambil berjalan menyusuri kota, saya ingin bisa membayangkan tokoh-tokoh fiksi dalam kisah-kisah yang saya baca berjalan menyusuri jalanan London dengan mantel atau jubah mereka, misalnya tokoh Nathaniel dalam The Bartimaeus Trilogy yang berjalan berangkat dan pulang bekerja di Westminster, lalu Sherlock Holmes yang sewaktu-waktu menyetop sebuah cabbie (taksi) dari tepi jalan Baker Street; saya membayangkan bisa berpura-pura melihat mereka sebagai laki-laki yang sama-sama bisa dibayangkan untuk sering menaikkan kerah coat panjang mereka seraya berjalan terburu-buru.

Westminster
Ya, Nathaniel dan Sherlock mungkin punya kasus mereka masing-masing, entah dengan demon tertentu atau dengan kriminal bebuyutannya, namun katakanlah, saya akan cukup puas dengan mencari tahu seberapa jauh jarak Baker Street dari area tepi Sungai Thames jika berjalan kaki? Lalu, saat berjalan-jalan nanti, bisa saja tampak para penyihir muda Hogwarts yang mengarahkan tujuan ke stasiun King's Cross untuk kembali melanjutkan kegiatan belajar mereka.

Yah, meskipun saya memang tidak menerima surat dari Hogwarts sehingga saya tidak bisa ikut untuk menembus dinding di antara peron 9 dan 10 ke peron 9-3/4, namun tak apalah sekadar melihat pemberhentian itu dari luar... toh bisa gawat kalau saya betulan sampai ikut ke Hogwarts, bukan? 




***

Melihat dan menjadi bagian dari suasana kota London saja sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi saya. Gagasan untuk menyusuri langkah dalam coat saya sendiri yang mungkin akan lebih banyak dirapatkan akibat cuaca cenderung-dingin malah justru menghangatkan hati saya. London selalu saya bayangkan sebagai kota yang akrab dengan basuhan rintik hujan dan tiupan udara dingin; gambaran cuaca yang jelas berbeda dengan di Indonesia. Hal itu tidak membuat saya merasa keberatan; begitu juga soal membawa payung, apalagi jika payung yang saya bawa tersebut adalah payung kain berkesan klasik itu, yang membuat saya membayangkan kebiasaan Mycroft Holmes di serial teve BBC "Sherlock" yang gemar membawa payung ^^.

Baiklah, mungkin akan cukup menurunkan suasana-hati kalau kita ingin bersikeras berjalan kaki saat hari hujan, kalau sudah begitu kita bisa mengarahkan tujuan kita menjadi lebih singkat menembus hujan dengan mencari stasiun kereta bawah tanah terdekat, yang tergabung dalam nama jaringan Underground.

Lihat, kita sudah sampai di pintu masuk Underground, in its ambigued meanings!

Kereta bawah tanah di Inggris juga memiliki "kesan" tersendiri bagi saya, karena Underground membuat saya teringat juga pada serial Sherlock dan grup band Coldplay (keduanya berasal dari Inggris, isn't it lovely?) yang sangat saya sukai. Sebegitu dianggap ikoniknya Underground, latar kereta dan stasiun bawah tanah ini muncul di serial Sherlock, bahkan walaupun dalam porsi sedikit pun Coldplay pernah menampilkan latar stasiun Underground dalam video musik lagu mereka yang berjudul "Paradise" (a favorite, also!). Ah, itu sebuah video musik yang sangat menarik karena adegan yang menampilkan stasiun Underground ini melibatkan "aksi" sang vokalis, uncle Chris Martin yang memakai kostum badut berbentuk gajah betina dan diceritakan sedang mencari jalan untuk menuju "surga"nya menyusuri kota setelah lepas dari kurungan kandangnya. Pasti saat pengambilan gambarnya, keberadaan "gajah betina" itu cukup mengundang tanda tanya, saya bertanya-tanya apakah para pengunjung stasiun saat itu menyadari bahwa orang yang ada dalam kostum gajah betina itu adalah vokalis Coldplay! Coba saya bisa berada di sana saat itu ya... Ah, tapi kita sudah sampai di perhentian kereta dan nampaknya hujan telah berhenti, bukan waktunya untuk mempermasalahkan waktu itu kalau kita telah di London!

Dari bawah tanah, selanjutnya alangkah baik untuk beranjak menuju lokasi yang memungkinkan kita bisa berada di atas tanah, lebih tepatnya melihat kota dari ketinggian dengan ada di dalam kapsul ferris wheel London Eye! Bagi saya, sensasi untuk melihat lanskap luas keseluruhan kota dari ketinggian merupakan suatu pengalaman yang haram untuk dilewatkan, apalagi jika kota tersebut seperti kota London dan sekitarnya yang didominasi bangunan-bangunan khas ber-arsitektur penuh sejarah namun tetap dapat satu nuansa dengan bangunan-bangunan yang lebih modern.
The London Eye, taken from en.paperblog,com

Tentunya melihat keseluruhan bentang kota London dari ketinggian memiliki kesan spesial tersendiri selain berjalan menyusuri kotanya secara langsung. Coba lihat dokumentasi 360 derajat lanskap pemandangan 24 jam London dari ketinggian London Eye di tautan ini... sungguh Allah Maha Besar, untuk saat ini saya hanya bisa sekadar membayangkan bagaimana pemandangan bird-eye view of London dari mata saya sendiri, biar Dia pula yang menyimpan bagi saya proyeksi lanskap itu dalam kenyataan yang paling jelas bagi saya suatu saat nanti. Amin.

Jika diberikan cukup waktu longgar, saya akan sangat mempertimbangkan untuk menyisihkan waktu menaiki London Eye baik di waktu siang ataupun malam hari, tidak perlu dalam hari yang sama tentunya. Why I should be in rush when I can finally be there in England, in London? Everything to see, to do, and to experience should worth the wait and wishful hope I spent all along before it; everything from the littlest and mere thing, like what to drink and what to eat... to the possible extend beyond them.

***

Inggris juga menarik hati bagi saya untuk berkunjung ke sana, khususnya ke London, karena hal-hal khas yang bisa saya "rasakan" tidak hanya di mata, tapi juga turun sampai ke perut dan hati. Antara lain adalah kebiasaan para British untuk tidak jauh-jauh dari minum teh dengan afternoon tea yang telah terpelihara sejak lama dan tentunya lebih dari sekedar melibatkan kegiatan meminum teh dengan cangkir-cangkir cantik dan didampingi kue-kue yang manis.

Kebiasaan British ini tergambarkan begitu klasik dan penuh kesan, sehingga membuat saya sering membayangkan diri sedang melakukan afternoon tea ketika menyeduh sekantung teh manis di siang atau sore hari. Selain itu juga ada kontribusi dari kisah anime/manga "Black Butler" yang bernuansakan Inggris di era Victorian, di mana kebiasaan tokoh utama untuk menyesap teh di sela-sela waktu sehari-harinya begitu meninggalkan kesan dan membuat saya tergerak membeli earl-grey tea yang harganya bisa dijangkau.

Untuk urusan perut, saat di mana saya bisa menginjakkan kaki di Inggris akan menjadi kesempatan bagi saya untuk mencoba mencari tempat yang menjual fish and chips yang enak. Entah sejak kapan saya menyukai panganan ini karena bahannya yang dari ikan dan tepung yang digoreng lalu disajikan dengan kentang yang menjadi nilai bonusnya, dan saya menjadi semakin menyukainya ketika tahu bahwa makanan ini juga berasal dari Britania Raya.

Makanan ini katanya populer untuk pesan-bawa, jadi saya akan senang dan tidak perlu terlalu khawatir akan lemaknya karena saya bisa menikmatinya sambil melanjutkan jalan-jalan saya. Lagipula toh memang saya tidak langsung berniat untuk mengakhiri jalan-jalan saya setelah mengisi perut (kita ada di Inggris, demi Yang Maha Kuasa!), ada hal menyenangkan hati lain yang menunggu saya di kota dan justru tepat sekali jika kalori makanan yang masuk bisa dibantu untuk dibakar dalam tubuh dengan melakukan kegiatan jalan-jalan, apalagi jika dengan hati yang bersemangat dan berbahagia karena kegiatan jalan-jalannya dilakukan di London, di Inggris.

Lebih tepatnya, bersemangat dan berbahagia dalam bayangan saya saat ini tentang London, tentang Inggris. Bayangan dan pengandaian saya yang telah sedari tadi dan dengan susah payah diuraikan dalam rangkaian-rangkaian kalimat dan foto yang menceritakan kesan spesial saya terhadap Inggris, terhadap London sementara saya sendiri secara fisik memupuknya dan mengabadikan sebentuk mimpi tersebut di hadapan sebuah laptop, duduk dan secara praktis tidak berjalan-jalan sejauh pikiran dan angan saya sendiri. Padahal di sisi lain ada nasihat Ibu saya tercinta bahwa seseorang yang masih muda dengan mimpi yang ingin dicapai seperti saya seharusnya lebih banyak bergerak untuk mewujudkannya.

Dari semua uraian "perjalanan" dalam angan saya tentang London, Inggris itu, nampaknya yang paling dekat untuk dijangkau dalam gerak saya saat ini adalah dalam soal makanan dan minuman; menyeduh teh, dan kalau dikatakan bahwa tidak selalu terdapat fish atau ikan untuk digoreng tepung untuk mendampingi chips... baru ada Mr. Potato yang sudah berhasil memberikan rasa khas chips untuk menjadi pelipur terhadap mimpi "kecil" saya tentang fish and chips yang asli di Inggris, dan kalau tidak keberatan saya ingin titip sebuah pesan singkat :')


A little note. Photo by me.

Suatu hari, cepat atau lambat saya harus ke Inggris, mempertemukan chips dengan fish untuk menjadi fish and chips, mempertemukan teh yang saya seduh di sore hari dengan perangkat dan pernik afternoon tea yang sebenarnya. Inggris akan menunggu saya menyusuri keajaiban dan misterinya, dalam potret-potret dari kisah-kisah berkesan yang pernah saya baca. Inggris juga akan menunggu saya menyusuri jalan-jalan dan lekuknya dengan membiarkan kekaguman saya pada hal-hal apapun yang meninggalkan kesan khusus padanya menuntun langkah saya, membuat saya menjadi bagian dari suasana Inggris yang penuh sejarah namun menjadi suatu klasik.

What you seek is seeking you - Jalaludin Rumi.

 ***

Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam even Lomba Blog InggrisGratis yang diadakan @MisterPotato_ID.
The image(s) and photo(s) about England or London used in this blog post which isn't stated as mine are taken from across the web (mainly from Pinterest) and only belonged to its rightful owner.

Friday, May 16, 2014

My Thoughts on "The Amazing Spiderman 2"

It's been soo loong. I don't know what better way to describe "this comeback" in a more proper way anymore. Look at this tangle of thorns messy but still lovable web personal space of mine here. Maybe there's barely no people reading it, and the submission writings were not gaining champions or what so called that while I haven't put out the banner etc. I am not whining here, nor winning, lol, there are times for that my friend.

You know I've had this blog for so long that I can never imagine myself wiped all my writings after all this time (since 2010) to have a fresh, new, more "new image", to reboot this because after all the alay-ness, the unsteady-phase or what so called transition phase I had as a teen starting to write her blog in her junior high school I still thought that this blog has in some way maintained to be a documentation of some stage, some portrait of moments in my life. Though I found myself sometimes cringed or just wanted to laugh at myself reading at my past writings with all the wrYthin9 style possible (but I am not too violent with that, you know, I still managed to make my past-entries to be more readable), I think that knowing how sometimes I found myself recalling the moments and re-thinking and re-picturing about moments I've write here before - moments that I realize is not really being remembered until I read the specific post, it feels that it was amazing.

So how could I try to wipe and reboot all of this, dear, lone readers who lost or find your way, I ask you?

Whoops, look at the title, I think I managed to get to the topics rather smoothie-ly. LOL.

This picture aren't miine okay. From here.
About this movie I put as my title, it's rather to the fact that it is a reboot film of Spider-Man movie for me, I guess. Please note that I don't read the original Marvels comics and will not really responding to have a discussion or debates about the movie-because-the-comics or the like. The Amazing Spider-Man has its new Peter Parker and almost "rebuilt" everything of the story of Spider-Man to refresh the viewers after Spider-Man 3. 

See, I've never talk specifically about a movie to review it before this so I think its good to warn that I won't be really systematic or everything but I'm trying my best to arrange what's my points here. I hope this clear enough. Other notes before I really trying to get to my points is because I care to you so much, I hope you can continue reading with enough understanding about how this title (TASM 2)'s storyline and background story included what's it about in the previous TASM movie, since its almost 9 PM here and I kind of sleepy to recap the synopsis. You do know you always iMDB or the like in your hands.

If you still don't know, in case, TAS refers to The Amazing Spider-Man, dear, see I am really trying to be considerate here.

First thing first about the overall movie, I do think that this movie is amaazing, indeed, I repeat, an amazing reboot to built, to have Spider-Man with all the enemies and the story in the other new way after having three Spider-Man movies before. Why can I state this are based on how I appreciate the story's "linearity" about everything in this second installment (oh I love using this phrase, it do seems so magazine-like xD), since everything about the-super-spider and how-the-heaven-it-can-make-Peter-has-superpower, the "absent" of Peter's parent (that we can aware of since TAS first movie), and how it eventually makes way for Peter to Harry Osborn is explained and has the right and logical reason and correlation. It's even pictured better than the previous Spider-Man, which the spiders, the superpowers, even Harry Osborn are now feels so "popped out from somewhere there" compared to how all of that entangled and connected in TASM.

Other appreciation are also the main villain, Electro, that kind of gives me thrills and strummy-sensations yet the cringe-y heartfelt of how he was before he was Electro and after he has become Electro. No wonder and what you can expect from the Academy Awards winning Jamie Foxx can never be less...  About the three enemies showing appearance teased in trailers are just meh, hmmkay thing for the Rhino but so much more hmmooches for The Green Goblin, or specifically Harry Osborn. I must admit here that Dane Deehan are waay more fitting as Harry and he can potray a fearful-powerful-unstable-young-adult-snobby-but-actually-sympathizing heir of Osborn... even his physical appearance are really supporting the image of Harry Osborn more than James Franco, especially that powerful fringe (LOL) that gives Deehan a look of being more youthful and "vulnerable" and unstable as a young gentlemen... though of course there's no doubt that Deehan and Franco are both good looking in the general context; calm down! ...and am I showing my bias in Harry/Mr. Deehan here? Sorry for not sorry xD.

Done praising/appreciating the storyline and has "accidentally" slipped to the cast-talking, then I think we should really take a dive to it xD

Because this will sent me to the Point I've wanted to say and confess first place until I decided on this entry title, that eventough TASM 2 has amazing story and all but apparently not amazing main-cast of the hero. Hereby I confess that I am not satisfied enough in Andrew Garfield's portraying his own Peter Parker.
  
At first place I thought that my explanations would be long but now I think it won't really that long.

Continuing the matter, I'd like to begin with how much the three installments (uhum) of Spider-Man had left me with so much deep impression of how Tobey Maguire can deliver a Peter Parker who is a very humble, gentle, "selfless" being (in terms of how he would always tend to prioritize others before him) no matter how he's kind of having an alter-ego in becoming a Spider-Man. But I also think why would we have to differentiate Peter Parker from Spider-Man if his famous saying had been (one of them) "Who am I? I'm Spider-Man.".

All of that without making Maguire's Peter Parker becoming less adorable.

Yet some viewers had their opinions after TASM 2 that Garfield's Peter Parker are better than Maguire's because of the more-youthful, humorous look and act shown in TASM 2. I am not here to object others opinions, before I stated that of course I also aware and appreciate the "joking" manner that Garfield can show to the viewers of TASM 2 while playing Peter Parker, but the problem is I am having a quite hard time to correlate those "playful manner" with the whole Peter Parker Garfield's trying to deliver or convey in TASM installments.

I evaluate, as whole, that Garfield's Peter Parker are not as strong as Maguire's in terms of how in every act, every saying or everything he do in the context of being Spider-Man, being a man desperately in love with his girl and and being a bestfriend with some problematic issue are not really coming together, aren't worked out in my perspective.

What I see is a Peter Parker of Garfield's that is somehow hides some kind of worrying-issue of being close to Gwen (while having images of her late father warn him to keep Gwen away from danger of him as Spider-Man after the first movie's events) but in other hand shows a very "selfish" possession of not losing his girl in any way, even when his girl stated that she pursue an important scholarship in Oxford, UK. Count their kissing scenes, dear, that feels quite excessive and I can not take away my thoughts that while kissing Emma Stone, Garfield can be more enjoying kissing her as his current-boyfriend-real-life than as Peter Parker so in short he/she/them has their own enjoying on their sneaky make out time sorry its rude. Is this the Peter Parker trying to deliver to me as one of the viewers? Because that doesn't worked out for me, I am not impressed by his "more playful manner" that much to state that he can portray his version of Peter Parker.

I am sorry to say that Garfield's Peter Parker are resulting a very much inconsistent character, he can not deliver a single "line" of Peter Parker on how he behaves and talks throughout the movie, or if he do, that doesn't work for me. I have think that maybe this TASM's Peter Parker are way more different slighly because he's kind of starting as high school student with its teenage issue and all, but in the other hand I still getting impression that somehow the Peter Parker in TASM are still maintaining the qualities of being "noble", and somehow "awkward" like Peter Parker in Spider-Man - yet the outcome is the part when he was supposed to show that he has a noble qualities (say, to not harm Gwen by saying that he sees her late father "images", or not to give Harry his blood so that Harry won't get hurt) aren't going smooth to blend with other qualities of the extent he can be, like being "funny", being so touch-smoochy to Gwen (the public kiss at the graduation party, seriously? What kind of Peter Parker is that who then at night become awkward when Gwen invites him to eat dinner with her family and say that he can not let Gwen be in danger and so on?), and so on. The extent in how Garfield's Peter Parker can show quite a selfish manner to make Gwen not go from his side by having all that ILU in the bridge with his webs are very puzzling to me, to make it together at what is the kind of Peter Parker I have now?

The Peter Parker I know that has its place since Spider-Man 3 won't be too funny or all that, I admit, but other than being still-adorable, he is a very persistent types of guy who has a lot of feelings not excessively shown but has its own intensity that can be felt in his eyes when he see the other people he loved may have misunderstood him, or when he just decide to stay silent, or saying anythings subtle to keep other people's feelings for what complicated thing they don;t know shoot in becoming a Spider-Man.

...well, I am also aware that perhaps I have been too attached to the portraying of Peter Parker from Tobey Maguire after all this time, and I have ponder about it but I decide that actually that's not really relevant to bring up because I consider myself to be quite objective of what I saw in movies, give it prove to the character Harry Osborn, which apparently the "new" cast can worked it out well despite his physical qualities. I wonder why can not it applies to for Peter Parker as well?


Eventually, evrything are not meant to be perfect,  so there's always room for being better, and that also applies to good movies that can always be better in the future^^    

Friday, April 19, 2013

...yang namanya teman

Bagi saya, memiliki teman, sahabat, bagaimanapun orang mengistilahkannya - adalah seperti memiliki perhiasan.

Bisa saja kamu memilikinya untuk status dan rasa penghargaan-diri atau bisa saja kamu memilikinya sebagai sebentuk penghias diri yang tak perlu terlalu banyak, terlalu berkilau atau selalu melekat padamu, tapi selalu kamu hargai untuk bisa memilikinya.

Saturday, January 12, 2013

Kamu tetap juara, meski tak diumumkan dan tanpa hadiah untuk dibawa pulang.

Ini adalah pantun-pantun dua baris (?) yang saya buat dengan konsentrasi (dan cinta) dari pukul 20.00 s.d 23.00 di akun kuis saya untuk mengikuti kuis #BigDaddyBigBangShirts. Sebagai VIP yang sudah habis-habisan untuk nonton Alive Tour mereka Oktober lalu, saya ingin berusaha untuk bisa mendapatkan prize nya yang cukup menggiurkan, official t-shirt Alive Tour yang akan dibagikan setiap minggu di hari Kamis.

Saya pribadi cukup menyukai banyak dari pantun (?) ini, meski mungkin agak "maksa" karena memang harus menggunakan judul lagu BIGBANG dari album Alive mereka dalam pantunnya.

This image is not mine. Taken from here

Sayangnya belum beruntung memenangkan kuis itu kemarin dan bagaimanapun saya harus menghargai apa yang sudah susah-susah saya buat kalau ternyata tidak ada orang lain yang bisa. Oleh karena itulah saya akan post pantun-pantun (?) tersebut di sini.

Konser usai FEELING ALIVE. Terima kasih BIGDADDY LIVE!

BAD BOY is not always MONSTER. BIGDADDY the best promoter!

Jadi LOVE DUST karna BAD BOY. Tidak pedes kurang asoy!

Tanpa WINGS menjadi MONSTER. Karena AliveTour VIPs jadi follower.

Lagu MONSTER bikin crowd FANTASTIC BABY. Ini konser promoternya BIGDADDY!

Rambut dicat indigo tapi tampan. Sok jaga EGO malah AIN'T NO FUN!

Kalahkan MONSTER berhasil STILL ALIVE. Konser berhasil ya sama BIGDADDY LIVE!

Jatuhkan EGO nikmati konser ini. Dari INTRO pun sudah FANTASTIC BABY!

Sebelum BINGEUL-BINGEUL ada BLUE. Senang betul nonton BIGBANG dengan Ibu~

Berkelit di telpon buatku LOVE DUST. AIN'T NO FUN jika tak menang kaus...

Berkah comeback BLUE buatkan mereka WINGS. Lemah hatiku pada lirik puitis.

Ini getahnya pening mikirin EGO. Just use your FEELING and here we go!

Serbu info AliveTourINA ke BigDaddy. BLUE hair makes you look FANTASTIC BABY!

Having WINGS feels FANTASTIC BABY. My FEELING is ready to rock with BigDaddy~! 

A BAD BOY make you feel BINGEUL-BINGEUL. He's MONSTER inside who you think so beautiful. 

Begitu AIN'T NO FUN rasanya bagi EGO. Susah move on and letting go...

Too much EGO brings you LOVE DUST. Love has no WINGS without trust.

Don't love a BAD BOY without trust. Love is greater FEELING than lust.

You hold much bigger EGO than your FEELING. Jangan cengo jika akhirnya pening!

Daesung telah kembali ALIVE dengan WINGS. Nonton Bigbang live telah jadi memori manis.

AIN'T NO FUN jika tak ikuti kuis. Ingin menang agar FEELING tak teriris.

FEELING BLUE under the showbiz. Daddy thank you for the quiz!

***

Oke harus diakui kalau semakin lama pantunnya (?) semakin kacau dan begitulah... biarkan saja demikian. Semua pantun ini tidak saya edit sama sekali dan biarkan sajalah attempt saya untuk mengambil hati penentu pemenangnya dengan gombal (?) dan pujian (?) yang tulus tapi gagal itu terekspos (........)

Afterall, kalau saya bilang, seharusnya kalau dengan pantun-pantun ini, kalau saja kemarin pemenangnya ada dua, saya akan jadi juara keduanya.

Sekian.  

Thursday, December 13, 2012

Can a resume brings me to Korea?

Saya sedang mengikuti Lomba Menulis Resume Buku yang dalam proses penentuan pemenangnya memiliki presentase 50% dari Penilaian Juri, dan 50% dari Like/Voting pembaca (orang lain), untuk semua yang kebetulan membaca posting ini saya hanya berbagi dan berikhtiar semata. Jika ternyata lewat sini bisa menghasilkan hasil, semoga kebaikan siappaun itu mendapat balasan dariNya. Juga, betapa saya tak bisa lebih berterima kasih :')

Silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya baik lewat Twitter ataupun Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'
***

Di wishlist saya yang ada di blog ini, jika Anda membacanya, Anda akan tahu kalau keinginan saya nomor tiga yang kedua adalah: Go to Korea.

Oh, all that glitz of my imaginary prince(s), since my real one has not discovered, yet.

***

Namanya saja juga sebuah wish, sebuah dream yang saya labeli dengan kata beyond yang menyatakan kesadaran saya akan jalan panjang yang harus saya tempuh untuk mencapainya. Namun saya pastikan bahwa saya akan sedikit demi sedikit mengambil langkah, berharap suatu saat saya akan sampai di sana.

Lalu datanglah kesempatan bagi saya untuk mencoba memenuhi wish itu dengan menggunakan minat saya pada buku dan menulis lewat Lomba Menulis Resume Buku yang diadakan oleh QBaca dan English-Bean. Berkaca dari pengalaman betapa saya cukup menyesal tidak mengirimkan tulisan untuk lomba blog KPK lalu yang bertopik "Andai Aku Menjadi Ketua KPK" yang ternyata tidak melulu harus tentang politik seperti yang saya takutkan kalau melihat tulisan-tulisan pemenangnya :'

Jadi, apapun itu, jika saya tahu saya bisa mengusahakannya, saya tidak akan menyia-nyiakannya.

Lomba Resume Buku ini, meski demikian, menuntut syarat yang lumayan "menuntut", hehe. Peserta diharuskan hanya meresume buku yang judulnya tersedia di aplikasi buku digital QBaca, dan juga harus terdaftar dalam English Bean dengan biaya Rp13500. Ya, tak apalah saya relakan mengikuti persyaratan itu, dan saya relakan konsentrasi saya terhadap kuliah sebagai yang utama harus dipecah.

Apapun, daripada saya menyesal nggak mencoba untuk berusaha mewujudan keinginan ke Korea. ^^

Bahkan saat saya belum menulis resumenya, beberapa kendala harus dialami. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan moda yang cukup terbatas, antara ATM atau Internet Banking ke PT Telkom, dan saya harus kembali pada rutinitas (?) kegiatan mengontak Customer Service dari baik QBaca maupun English Bean karena permasalahan erornya pembayaran lewat ATM (yang ternyata memang masih diperbaiki), hingga tidak "tercatat"nya pembayaran lewat Internet Banking yang sudah saya lakukan setelah usaha yang saya lakukan untuk membuat Internet Banking (termasuk bolak-balik ke ATM dan mengantri cukup lama di CS cabang Mandiri untuk mendapat Token Internet Banking). Syukur alhamdulillah, pada akhirnya semua lancar dan saya sudah memenuhi semua syarat untuk akhirnya bisa mengirimkan resume saya.

Maka tolong ya, silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya lewat Twitter atau Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'

Ini hanya sebentuk usaha memang, mengingat dasar penilaian adalah bebrobot lima puluh persen masing-masing untuk penilaian juri dan voting (Like) :'

***

Saya sangat bersyukur akhirnya bisa mengirimkan resume saya meski agak mepet dari jadwal tenggat (14 Desember), meski ada sedikit hal yang memang di luar perencanaan atau pengharapan saya. Yaitu tentang buku apa yang akan saya resume.

Mulanya saya ingin meresume buku "Negeri Van Oranje", namun karena halangan-halangan untuk membayar seperti yang saya sebutkan tadi, saya jadi tak jua sempat membeli buku itu yang memang tidak tersedia gratis. Bisa dibilang untuk bisa meresume buku itu akan susah karena bukunya sendiri tebal, meski saya mengutamakan untuk sebisa mungkin tidak mengirimkan resume dari buku yang sudah banyak diresume.

Akhirnya saya pun menjatuhkan pilihan pada buku digital yang bisa diunduh gratis dan bisa cukup menarik perhatian saya, sebuah buku yang sepertinya mirip buku pelajaran tapi judulnya cukup mengundang yaitu "Aku Bangga Berbahasa Indonesia". Buku inipun sebenarnya bukan pilihan pertama, saya sebenarnya sudah sempat mengunduh buku "Boleh Dogn Salah" yang juga gratis ketika saya masih belum fix dengan Internet Banking, tapi ternyata sudah ada yang meresumenya, dan saya menganggap konten buku yang terunduh juga tak utuh sehingga saya urung. Masih belum selesai, karena alternatif saya selanjutnya setelah saya akhirnya fix dengan Internet Banking pun masih ada buku "UK Trip", tapi ternyata sebelum saya mulai membaca, bahkan sebelum mulai mengunduhnya setelah membayar (karena QBaca menyarankan agar lebih cepat mengunduh lewat WiFi dan saya hanya bisa mengandalkan WiFi dekanat kampus tidak setiap hari), buku "UK Trip" juga sudah ada yang meresume. Akhirnya kembalilah saya pada buku kedua yang saya unduh pertamakali, yakni "Aku Bangga Berbahasa Indonesia" :')

Sungguh tidak pernah saya sangka kalau di keadaan terpepet tanggal batas pengiriman dan padatnya kegiatan, juga halangan-halangan ketidaklancaran yang harus saya lalui untuk mengikuti lomba ini, akhirnya buku yang nyaris tak sempat saya "lirik kembali" setelah mengunduhnya pertama kali inilah yang menjadi bahan resume saya :') Meski demikian, saya sangat bersyukur, Allah SWT. masih mengijinkan saya mengirimkan sebuah resume untuk berusaha mewujudkan mimpi saya ke Korea, sedikit demi sedikit :')

Apapun hasilnya, yang jelas dengan ini saya sudah cukup tenang karena saya tahu saya sudah mencoba dan berusaha :'

Sekarang juga saya masih mengupayakan untuk mengikuti lomba blog Super Speedy , semoga Allah SWT. juga kembali berkenan memberikan kemudahan dan hasil yang terbaik bagi saya untuk pelan-pelan mendekati keinginan, mimpi-mimpi saya :')

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.  .



Tuesday, December 11, 2012

"...all those lights may have blind me."

Perhatian sebelumnya: Barangkali beberapa hal yang dinyatakan dalam posting ini akan bersifat menyinggung dan subjektif, namun mohon pengertiannya bahwa semua ini hanya pemikiran-pemikiran yang diutarakan dengan apa adanya oleh penulis, tanpa bermaksud menyerang atau mengambil keuntungan dari pihak manapun. Tulisan ini hanyalah bentuk pengekspresian pemikiran semata.

Bisa kesambet apa saya tertarik untuk mendaftar Paduan Suara Mahasiswa di kampus.

Yah tapi itu sudah terjadi dan sudah cukup lama berlalu, sudah selesai menjadi salah satu fragmen kejadian kecil yang membuat saya sedikit belajar.

Kembali lagi ke pernyataan yang mengawali postingan ini. Ya, mungkin saya sedikit silau akan prestasi dan “nama besar” paduan suara universitas saya yang sudah terkenal sampai luar negeri. Bahkan terakhir kali paduan suara universitas saya itu memenangkan medali dari China, dan kebetulan China saat ini saya kaitkan dengan boy group produksi Korea dan citarasa Mandarin yang sedang saya cukup gemari yaitu EXO-M.


...ganteng-ganteng, ya. 
*nobodyaskyou.com* tapi saya lagi gak maksud ngomongin mereka, sih. capek juga kagum melulu. this image are also not mine, I got it from somewhere in the internet. you mad?

Singkat cerita, silaunya kesempatan untuk keluar negeri dan kemungkinan bisa mengunjungi negeri pangeran-pangeran yang hanya dalam angan saya itu lah yang kira-kira menjadi alasan, dengan jujur saja saya katakan itu. Saya yang notabene nggak pernah masuk dalam dunia ke-paduan suara-an.

Anak muda sekarang menggambarkan keadaan semacam ini dengan satu kata: “Pfft.”

Iya, “Pfft...”

***

Meskipun demikian, nggak sedangkal itu juga sih alasan saya. Kalau ditanya apakah saya suka musik, suka nyanyi, dan suka bareng-bareng seperti yang dinyatakan dalam promosi rekrutmen terbuka paduan suara universitas itu, sih, memang saya suka. Sudah lama musik itu adalah salah satu hal yang membuat hidup saya terasa lebih ada artinya, dan saya juga menemukan kesenangan dari ikut menyanyikan lagu yang sesuai dengan selera dan isi hati, dan sebagai manusia tentunya saya juga bukan makhluk soliter yang suka apa-apa sendiri.

Berbekal alasan-alasan itulah, serta logika untuk tidak melepaskan kesempatan ini karena toh ada proses seleksi yang justru membuat kemungkinan untuk “udah-coba-saja” semakin besar. Saya pun mendaftar dan begitu juga dengan kakak saya yang sudah lama memendam keinginan untuk bisa bergabung dengan tim paduan suara universitas itu.

The light just seem too bright and maybe I was hoped to be shone underneath it.

***

Sampai ketika ada semacam acara One Day Training diadakan dan tentunya saya ikuti itu dengan kesadaran besar sebagai orang yang sama sekali awam dengan ke-paduan suara-an. Mengikuti acara itu ternyata membuat saya sadar betapa saya sama sekali nggak nyangka kalau urusan ke-paduan suara-an ini bener-bener bukan main-main. Meskipun saya juga maksudnya juga bukan main-main, tolong mengerti sajalah maksud saya, ya.

Paduan suara universitas saya ini berprestasi besar juga dengan kompensasi yang nggak ringan, latihan hampir setiap hari dan lebih-lebih kalau ada job dan kompetisi, pendanaan juga sifatnya terkesan mandiri, bahkan bisa sampai ngamen, ngawul (jualan baju bekas) dlsb. Saya jadi geleng-geleng kepala dan mulas dalam bayangan ketika membayangkan gimana jadinya dengan kuliah yang juga sama-sama padat, dengan segala dinamika sistem KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi) yang sedang saya jalani ini.

Belum lagi juga uraian yang disampaikan mengenai teknik bernyanyi, saya juga nggak sebegitu menyangka betapa ekspektasi tentang kematangan teknik juga sangat dituntut dari pak pelatihnya. Cukup “mengguncang” saja rasanya, bagi saya yang lebih memihak pada perasaan daripada kekakuan hal-hal praktikal ketika mendengar sendiri ucapan beliau kalau misalnya anggapan bahwa menyanyi dengan mengandalkan perasaan itu salah.

Bisa saja sih saya salah tangkap, cuma saya jadi berpikir apakah saat itu saya menemukan pandangan nggak sama yang cukup “fatal” untuk dilakukan.

Sepulangnya dari One Day Training itu, saya hanya lebih banyak membawa pulang rasa ragu.

***

Hari seleksi datang dan saya serta kakak datang cukup awal untuk bisa juga diseleksi lebih awal. Tesnya secara keseluruhan terdiri dari tes wawancara, tes nada, tes koreografi (sederhana), dan tentunya tes menyanyi disaksikan pak pelatihnya.

Keraguan itu semakin menggedor hati saya ketika saya diwawancara (halah). Terlebih ketika pertanyaan soal kemungkinan saya “mendua” dengan minat lain serta organisasi lain ditanyakan, soal mana yang lebih saya utamakan, bagaimana membagi prioritas, bagaimana dan bagaimana lainnya. Sampai-sampai ketika saya menyebutkan keinginan saya untuk juga mengikuti UPK (Unit Pelaksana Kegiatan) jurnalistik di kampus, ditanyakan lagi kalau begitu apa saya lebih ingin menulis atau menyanyi? Terus apakah saya benar-benar ingin masuk PSM?

Saya kira apapun dan bagaimanapun saya menjawab semua itu hanya terasa sebagai suatu hal yang mengambang saja sekarang.

Tes nada dan tes koreografi... well, I am not that musical nor I could danced that well. Begitulah.

Terus di sinilah di tes tahap terakhir waktu disuruh nyanyi di depan pak pelatih yang bisa dibilang benar-benar klimaks dari segala perasaan mengambang dan ragu itu (halah kedua). Suara saya yang entah kenapa dimasukin ke kelompok suara sopran (....) diminta untuk terus meninggi dan meninggi menyanyikan reff lagu “Sendiri Lagi” yang saya pilih. Oh mengapa oh mengapa. Bapak pelatih pun meninggalkan testimoni bahwa saya bukan apa-apa kalau belum bisa mencapai ketinggian nada tuts kibor yang makin lama makin bening itu karena sopran benerannya di sana seharusnya bisa mencapai nada yang kanan banget dari kibor menurut sudut pandang pak pelatih. Oh oke lah pak kalau begitu.

Terus ketauan kalau saya dari SMA yang paduan suaranya bagus, dan ternyata lulusan SMA saya juga ada yang juga gabung di paduan suara mahasiswa itu. Oh, gitu ya pak. Iya pak saya memang nggak ikut waktu SMA. Terus waktu giliran kakak saya juga... waktu kakak saya dipanggil saya udah harus keluar ruangan seleksi sih jadi entah deh gimana persisnya pak pelatih bilangnya.

Kakak saya cerita kalau dia lebih suka melupakan apa yang pak pelatihnya itu katakan sama dia. Oh gitu ya yang kesekian.

Iya dan sepulangnya dari seleksi pun saya hanya meragu. Gayanya ya, seakan-akan saya berpotensi besar banget untuk diterima.

***

Meskipun kemungkinan untuk diterima itu hampir kayak kemungkinan terjadinya mukjizat, tapi selama menunggu pengumuman saya juga nggak bisa memungkiri kalau rasa meragu itu masih menggantung terus di hati (halah yang ketiga). Saya jadi takut akan bagaimana jadinya kalau SEMISALNYA saya diterima, apakah saya nanti akan bisa tetep keep in pace sama kuliah, apa nanti saya bisa bener-bener membagi antara kegiatan di jurnalistik sama padatnya latihan di PSM, juga dengan keadaan mobilitas saya yang nggak bisa kemana-mana "sefleksibel itu" karena saya masih bergantung dalam urusan transportasi. Gimana kalau saya mesti latihan sampai malam, harus gimana dan gimana nanti. Gimana juga dengan “perbedaan pandangan” itu?

...dan semua itu pernah sampai dalam tahap dimana saya diam-diam berpikir kalau mungkin lebih baik kalau saya nggak diterima. Bahkan sampai kebawa mimpi dimana waktu dalam mimpi itu saya seolah pertamanya dibilang diterima, tapi ternyata itu cuma “pancingan” buat penentu diterima atau nggak tambahan yang berupa G-Dragon dan Taeyang BIGBANG (ini serius saya mimpikan) yang bilang lebih suka suara temen SD saya yang di mimpi seolah-olah menjadi kompetitor terakhir saya di seleksi padahal notabene dia pengen banget masuk, dan di mimpi itu saya ragu-ragunya sama.

Lalu akhir mimpi itu adalah ketika ternyata saya nggak diterima, lalu saya berlari keluar gedung seleksi yang serupa mansion (...), lari dengan rasa lega yang ganjil dilatarbelakangi intro instrumental lagu Lovers In Japan nya Coldplay, lalu saya bilang sama temen SD saya (yang udah siap-siap pulang sambil nangis sedih) kalau dia yang diterima. Di situ pun saya berpesan agar dia bilang ke G-Dragon dan Taeyang kalau saya itu penggemar mereka dan saya minta maaf kalau saya kayak dijadikan pancingan agar seleksi itu (yang ceritanya di mimpi itu seperti reality show)keliatan “panas”, dan bikin mereka “gelo” karena mereka “nggak suka” suara saya. Saya nitip agar temen SD saya itu bilang kalau saya akan tetep mendukung mereka. Oh VIP yang ngenes banget ya keliatannya.

Iya dan kenyataan waktu pengumuman yang sebenernya keluar pun hasilnya juga sama. Saya nggak diterima (sayangnya, begitu juga dengan kakak saya padahal saya berharap setidaknya kakak saya bisa diterima...), tapi saya entah kenapa lega. Saya bebas dari keraguan itu.

***

Mungkin memang ini yang terbaik, dan meskipun kakak saya lebih termotivasi untuk diterima daripada saya, saya juga berharap ini memang yang terbaik. Saya tahu kalau saya merasa belum bisa menerima pandangan pak pelatih yang mengesankan kalau PSM itu butuh yang tahu teknik, lebih dari apapun. Ternyata itu juga yang terimpresikan kepada kakak saya waktu dia diseleksi menyanyi, seperti yang kakak saya bilang, kalau begitu mengapa sekalian saja dicantumkan kalau PSM hanya mencari orang yang sudah pernah les vokal atau apa, mengacu pada ucapan pak pelatih yang bilang kalau kemampuan kami bersaudara (halah yang keempat) masih kurang dan kami harus latihan teknik.

Kakak saya bilang gimana bagi dia saat itu terkesan sekali dari apa yang dikatakan kalau kok berani-beraninya kami daftar PSM dengan teknik yang kurang kayak begitu. Oh gitu ya ternyata yang kedua, kalau nggak salah.

Mungkin memang benar, kalau menyanyi itu pasti butuh teknik. Lalu waktu kita sudah menguasai tekniknya, baru kita kasih “perasaan”. Mungkin maksud bapak pelatihnya gitu. Gak tahu lah ya. Saya harap kakak saya bisa segera overcome kekecewaan itu, seperti saya nggak kecewa segitunya.

Seperti di mimpi juga temen SD saya itu diterima, dan saya pikir that is what she deserve kok. Ya sudahlah, saya berkesimpulan kalau saya akan berusaha untuk menemukan cara lain agar bisa keluar negeri. Cara lain agar bisa ke Korea. Baiklah, saya akan menekuni menulis dan mengikuti macam-macam kompetisinya dan siapa tahu kesempatan itu akan datang.

Siapa tahu suatu saat rejeki akan malu karena tidak mendatangi saya yang akan mengusahakan kesempatan-kesempatan untuk menulis dengan kemungkinan untuk menghasilkan.

Mungkin semua ini menunjukkan bahwa saya ternyata bisa lebih menerima konsekuensi menekuni menulis daripada konsekuensi menekuni menyanyi di PSM, mungkin itu yang Allah SWT. coba tunjukkan pada saya. Siapa yang tahu.

Barangkali juga semua ini menunjukkan pada saya soal “mencintai suatu hal dengan seutuhnya”, bahwa kadang cahaya yang menyilaukan itu hanya terasa membutakan, dan nggak membuat kita melihat yang sebenarnya. Bahwa yang sebenarnya itu mungkin belum tentu apa yang teraik buat kita, betapapun menyilaukannya itu terlihat di luar. Bahwa “mencintai suatu hal dengan seutuhnya” itu berarti juga menerima apa yang ada di balik kegelapan bayang-bayang cahaya menyilaukan itu.

Just don’t let those lights left you blind.

Tuesday, November 20, 2012

The Three Words.

Jadi, bukan, bukan I. Love. You.

Siang tadi, saya baru diwawancarai untuk perekrutan anggota Psikologi Jurnalistik Undip, dan kira-kira hampir di penghujung wawancara yang telah saya ikuti dengan jawaban yang makin lama makin inkoheren, tipikal, dan lain sebagainya, mendadak sang kakak pewawancara (yang entah kenapa membuat saya merasa nggak enak karena kayaknya jawaban saya nggak membuat ekspresinya cukup tertarik?) menanyakan satu pertanyaan yang tidak terlalu saya antisipasi sebelumnya.

Meski sebenarnya, saya nggak mengantisipasi pertanyaan apapun.
Coba sebutkan tiga kata yang bisa menggambarkan dirimu.
Setelah mendengar pertanyaan itu, berbagai macam pikiran muncul di dalam kepala saya; tapi yang juga terjadi adalah saya harus cepat menjawab ini.

Meski saya berpikir untuk menyebutkan "bakmi" dan atau "kentang", saya nggak menyebutkannya karena itu terlalu mengesankan orientasi abnormal pada makanan tertentu, dan seharusnya saya membuat si kakak mau menerima saya sebagai anggota tim jurnalistik kampus yang bisa diandalkan bukannya gila bakmi dan kentang.

Di situ saya kembali harus berpikir cepat, men, dan akhirnya yang saya katakan adalah

Tulisan,

...mengacu pada kesadaran saya akan bagaimana saya selalu merasa nyaman untuk menjadi diri saya dan mengutarakan apa yang ingin saya katakan lewat tulisan; menggantikan kata "pemalu" yang sebenarnya sempat terpikirkan, tapi entah kenapa saya tolak. Meskipun mungkin memang saya pemalu, saya sedang dalam masa ingin berubah menjadi... sesuatu... apa?
*diucapkan sangat pelan karena nggak terlalu yakin*...buku*dan akhirnya nggak jadi dan saya akhirnya mengeraskan suara*

...menghargai,

...berdasar pada bagaimana saya memandang sesuatu selama beberapa lama ini, entahlah, rasanya seperti susah sekali bagi saya untuk mengabaikan pikiran bagaimana saya tidak ingin memerlakukan sesuatu dalam cara yang saya sendiri tak akan suka menerimanya.

Setia.

...jujur saja saya juga nggak terlalu paham kenapa saya akhirnya menjadikan kata ini sebagai kata ketiga untuk menggambarkan diri saya.

Saat saya menulis ini, saya jadi teringat kalau saya pernah berpikir apakah mungkin saya memang punya semacam sense of belonging yang besar pada sesuatu meski saya nggak pernah benar-benar mengekspresikannya.
Sesuatu apa? Sebenarnya macam-macam, dari mulai benda-benda, dimana saya suka banget kesal sama kakak saya kalau pakai/pinjam barang saya sembarangan, sampai pada orang-orang... dan, untungnya saya masih cukup sadar untuk nggak terlalu mengekspresikan itu. Syukur deh, seringnya saya bisa cukup "sigap" bahwa saya nggak akan selalu berhak merasa bisa "terus memiliki" orang-orang yang saya anggap berarti, bahwa saya nggak bisa memaksakan anggapan apapun terhadap orang lain.

So that's my three words, what about you?

Friday, October 26, 2012

Can I Be Sweet Enough If Want To? :p



Well I made this for one of my best-granny-friend who is currently continues her study in Malaysia u,u

The distance makes me feel some urge so this is what comes out ^^ best wishes!!

Actually, I feel a bit bad because I don't make such these things to my other besties >< even to my own sister, I guess since now I will try to be more romantic to them = =

Friday, October 19, 2012

VIP Journey: Before and After The Stage-Lights

Seperti yang sudah saya janjikan dalam post berlabel VIP Journey sebelum ini ;p Sebenarnya, banyak sekali hal yang terjadi dan banyak sekali rasa yang kayaknya jika diceritakan tidak akan bisa benar-benar menggambarkan... dan saya kira bercerita terlalu panjang lebar dan kronologik mungkin agak un-necessary. Kemungkinan besar akan ada lebih banyak orang yang bisa menuliskan pengalaman mendetilnya menonton BIGBANG Alive Tour 2012 di Indonesia kemarin dengan lebih menarik dan baik dari saya (: just happy googling if that’s what you look for, like I did when I am lackingly tried to “surveyed” how’s a concert in MEIS feels like and I’ve read a couple of SuperShow4 Indonesia fan-account posts out there. Konser kemarin... luar biasa, dalam segala perasaan undescribable yang terasa saat lampu panggung masih mati dan dimatikan lagi.
...like, "I don't know what to say no more...?"
Sebelum semuanya dimulai, dan kedatangan saya bersama kak-adik dan Ibu (ya! Ibu saya menemani kami bertiga menonton boyband asing yang sama sekali tidak dikenalnya :’) yang sedikit terburu karena keterlambatan jadwal pesawat dan kondisi lalu lintas yang agak kurang mendukung akhirnya menyuguhkan kami pada our best seat in that night.


Saya melihat sekeliling stadium yang pelan-pelan mulai terisi dengan orang-orang dan atribut penggembira serba-kuning, yang sebenarnya tidak terkecuali saya, sih...

Tahu perasaan aneh ketika kamu merasa sedang tidak berada dalam dunia nyata karena... di sekitarmu, apa yang terlihat, terasa, dan dialami terasa lebih akrab di angan-angan? Waktu itu dengan suatu dazzled feeling, rasanya perlahan-lahan sekali saya mencerna kenyataan bahwa saya BENAR-BENAR AKAN MENONTON BIGBANG. Bukan sebuah layar yang mengirimkan pantulan visual ke retina mata saya!

Saya melihat atribut di sekitar saya (crown-headband yang saya pakai dua buah di kepala serta kaos penggemar resmi dari BigBang Indonesia, plus empat buah handbanner), mendadak terbayang hari-hari di mana semua atribut itu terasa agak “janggal” dibanding ke-regular-an semua benda di rumah =))...dan sebentar lagi saya akan menggunakan semua atribut itu SEPERTI ORANG YANG BENAR-BENAR MENONTON KONSER.

Layar besar di sebelah kanan menampilkan rentetan musik video dan tayangan iklan sponsor, dan meski saya pertamakalinya agak nggak “ngeh”, saya akhirnya ikutan overwhelmed dalam perasaan dan ekspresi verbal pada apa yang sebenarnya sudah biasa dilihat (musik video-musik video itu) karena sadar bahwa YANG ASLI SEBENTAR LAGI AKAN BISA DILIHAT.

**

Lalu dimulai, dan saya ada di antara cahaya lightstick dan lampu panggung yang menyilaukan, menjadi bagian dari hal yang sempat saya angan-angankan dalam hati.


Posisi VIP memang rupanya tidak membuat saya dalam posisi yang bisa sedekat mungkin, namun biar saya beri tahu ya, mengutip sedikit dari perkataan Ibu saya; posisi ini seakan memberikan sedikit distant-view yang bisa kamu nikmati untuk dirimu sendiri.

Posisi VIP ini tidak akan mengharuskan kamu untuk terlihat terus excited, tapi dari posisi itu, meski tentu saja kamu tidak akan bisa menghindar untuk tidak terpengaruh “euforia” crowd”, dijamin kamu akan punya lebih banyak kesempatan untuk... benar-benar hanya meresapi momen di dalam dan luar dirimu, mengambil jeda untuk sejenak melihat keseluruhan dari “hal besar” yang menjadikan kamu sebagai satu bagiannya.

Tentu saja, ekspresi verbal yang lantang-nyaris-tak-terkendali terlepas pula dari saya ketika rasa senang dan tidak percaya melingkupi saya saat lagu seperti “Stupid Liar”, “Love Song”, dan “Haru-Haru” dibawakan LANGSUNG. Begitu pula ketika saya mengekspresikan bagaimana menawan dan atraktifnya kelima member BIGBANG di atas panggung.

Mengayunkan lightstick, seperti semua yang menontonnya, saya seperti berusaha menekankan keberadaan saya dalam segala kemeriahan itu agar mereka yang sedang tampil di atas panggung bisa ikut merasakan “keberadaan” saya yang menikmati dan mensyukuri kesempatan saya melihat mereka malam itu.

Mereka semua tampil profesional, atraktif, dan luar biasa. Itu semua seakan membuat kami semua yang berada dalam stadium sepakat untuk membuat mereka semua merasakan segala apresiasi tulus yang bisa kami berikan. Rasanya senang sekali karena mereka bisa “merasakannya”, dan mereka berterima kasih, berusaha berkomunikasi dalam bahasa Inggris meski kadang bercampur bahasa ibu mereka menunjukkan acknowledgement dan appreciation.

Mereka bilang, kurang-lebihnya, bahwa ini merupakan kali pertama mereka di Indonesia, dan mereka sangat berterima kasih karena “kehangatan” dan “kebaikan” yang mereka rasakan untuk mereka di sini. Silly boys, tentu saja! Rasanya puas melihat bagaimana mereka menyaksikan sendiri betapa di luar dugaannya dukungan yang mereka dapatkan di Indonesia... ini membuat saya harus menuliskan betapa tak-tergambarkan sekali rasa senang yang terasa ketika mereka mengajak kami semua menyanyikan “Haru-Haru” bersama mereka!

**

Saya yang pada awalnya lebih banyak menumpahkan “afeksi” pada sosok G-Dragon pun lantas meratakan kadar “cinta” saya pada semua member yang lain setelah menonton konser ini. Semua member BIGBANG yang menunjukkan kualitas mereka yang pantas untuk mendapat limpahan rasa sayang =))

G-Dragon! Kamu bisa terlihat menjadi seperti apa saja yang kamu mau dan tidak pernah gagal terlihat mengangumkan, dari mulai nampak charming sampai nampak sangat cute >< saya ingat kemarin, kamu sempat duduk di pinggir panggung dan nampak sangat adorable dalam gestur dan mimik yang kamu tampilkan saat melakukannya!

TOP! Ketampanan dan pesonamu mampu mendapat pengakuan dari siapa saja ya, sepertinya! Bahkan Ibu saya hanya mengakui ketampananmu dibanding anggota yang lain :p

Daesung! Tidak hanya suaramu saja yang menyentuh hati saya, saya juga selalu merasa terhibur dengan setiap hal yang kamu katakan, memang benar kalau kamu akan unggul kalau muncul dalam acara variety!^^ Apalagi berdua dengan Seungri, you guys own the show with joyful laughter! :p ...kamu memang bukan main vocal biasa :’

Seungri! Saya tahu kalau kamu sempat punya skandal, dan jujur dikatakan kalau sebenarnya nggak heran kalau melihat pribadimu yang...yah..."charmingly naughty" itu. Tapi tetap saja! Kemarin kamu masih tetap menunjukkan ke-adorable-an khas maknae (meski kamu bukan maknae biasa, apalagi kalau mengingat penampilan solomu dengan tema militer (?) dengan outfit army dan senapan laser ////)

Taeyang!...dari dulu, persahabatanmu dengan G-Dragon selalu menyentuh saya dan membuat saya kagum, karena kalian adalah sahabat penuh bakat yang luar biasa > <  sangat senang bisa mengetahui betapa yang satu ini bisa berkomunikasi cukup lancar dalam bahasa Inggris > <...saya nggak nyangka kalau ternyata di atas semuanya, di malam itu, member satu ini menjadi...

...yang paling berkesan signifikan bagi saya?

Bagaimana seorang Dong Youngbae a.k.a Taeyang nampak sangat senang dan berterimakasih, berulang kali melakukan beatbox “aku cinta padamu” dan berkomunikasi pada kami, lalu seakan merasa masih perlu “meninggalkan” ekspresi kebahagiaan dan berterima kasih ia memberikan dance move atraktif-enerjik sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan panggung menyusul member lain setelah dua kali encore.

Belum lagi ketika dia seakan mengajak kami yang menonton di sisi atas untuk “melompat bersamanya”, memberi saya angan-angan untuk bisa seakan merasa benar-benar menatapnya tidak hanya satu arah! Abang, ko tahu saje.... =))

Youngbae-oppa, jujur saja saya tidak pernah menyangka akan menjadi sangat “tersentuh” itu padamu =)) ....but! ANYWAYS CONGRATULATIONS, GUYS, YOU’VE NAILED THE SHOW FOR SURE...saya ternyata berharap bahwa ini bukan konser dari mereka yang pertama dan terakhir, semoga saja di masa mendatang, Allah SWT bisa meridhoi saya beserta kakak-adik untuk mengalami ke-luar biasa-an ini lagi :’)

Hoping that this won't be the end of my 'VIP' Journey ;p

Tuesday, September 18, 2012

a first win


disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

Kemenangan pertama akan sangat berarti, dan tidak seperti seseorang yang meskipun sama bersyukurnya tapi sudah pernah merasakannya sebelum itu, barangkali nilainya akan sangat berbeda.

Kemenangan pertama bisa saja datang setelah semua kerja keras yang telah dilakukan mungkin sudah sampai pada titik di mana tak lagi terpikirkan yang lain selain berusaha selalu memberikan yang terbaik, untuk semua yang telah mendukung dan mencintai.

Untuk semua yang mendukung dan mencintai mereka.

Tuhan Maha Tahu usaha seseorang dan saya hanya percaya bahwa segala sesuatu yang baik akan menghasilkan buah yang manis. Dan mereka semua bukannya benar-benar berbeda dengan yang lain atau apa, namun mereka telah berjuang sebaik mungkin untuk semua yang telah mendukung mereka.

Hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu persis tentang berapa banyak hal yang sudah mereka ikhlaskan dan korbankan hingga mencapai sekarang ini, mencapai kemenangan pertama yang sempat mereka angan-angankan dengan lugu karena bagi mereka, mereka hanya baru saja memulai semuanya.

Dan air mata mungkin akan menetes karena hal-hal yang terlalu besar untuk dijelaskan, tapi biarkan itu memberi nilainya sendiri bagi mereka.

disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
Congratulations EXO for your first winning on The 5th Mingniu Billboard Music Award (:
EXO-M for Best Newcomer and EXO for Best Costume, that's big deal right?
So keep going, boys!

Thursday, September 06, 2012

Like a Postcard...yang alamatnya ngaco.

Lucu juga ya gimana kekangenan saya pada lingkungan lama ketika sedang memulai adaptasi di lingkungan yang masih asing bisa bikin pikiran jadi kemana-mana.

Or maybe I’m just... I don’t know.

Yang jelas suatu sore selepas rangkaian acara hari terakhir PMB selesai, dengan pakaian hitam-putih yang masih dibekasi sisa-sisa lemparan balon air dari kakak-kakak tadi siang... yah, well, saya menunggu jemputan.

(Kasih tahu saya kalau Anda punya frasa yang lebih bagus dari itu)

Agak janggal sih, sendirian di lingkungan yang belum dikenal benar, dalam posisi dimana saya seperti dasar dari rantai makanan (kalau diumpamakan)... dasar anak baru ya begitulah. Biasanya dulu kalau di sekolah nungguin sendirian sih asik-asik aja, tapi kemarin jadinya nggak mau keliatan sendirian.

(Tau kok kalau sebenernya nggak ada yang merhatiin entah saya sendirian atau koprol di koridor yang udah sepi itu, misalnya)

Gerombolan pendatang-yang-sepertinya-sedang-menunggu-juga sudah habis sih kebetulan, dan di saat itu tiba-tiba saja saya berpikir kalau pasti bakal nyenengin banget kalau ditemenin... kalau saja waktu itu ada sobat-sobat semasa SMA kelas 12 yang secara ajaib bisa mewujud terlepas dari lokasi yang sudah memencar-mencar.

Heran, biasanya saya juga seneng-seneng aja sendirian... nggak juga sih.

Angin sore pelan-pelan bertiup dan seakan membantu saya menikmati suasana, bersama juga dengan pohon-pohon yang sudah lebih dulu merindangi sekitar, sebenarnya nggak buruk-buruk banget sih.

Saya jadi inget lirik lagunya Owl City (lagi) yang berjudul Metropolis.
I feel like a postcard, I wish you were here.
Betapa banyak yang ingin dikatakan dan sedang dialami dan dirasakan dalam hati, namun tanpa kamu atau mereka untuk bisa benar-benar ada bersama saya rasanya hanya satu kalimat yang bisa dituangkan dalam kartu pos itu.

Betapa saya bakal akan sangat bersyukur dan menghargai keberadaan siapa saja yang bisa menemani kesendirian seperti iti dengan... obrolan, apa saja yang bisa membuat saya tidak merasa bahwa pepohonan yang saya lihat dan angin sejuk yang saya rasakan bukanlah lingkungan yang (masih) asing.

Saya nggak ingin dan sudah terlanjur capek menjadi terlalu muluk, berhubung sudah mahasiswa (...) saya ingin bisa kelihatan lebih realistis.
Hanya ingin tahu apakah ada kamu atau mereka itu untuk saya nanti... atau kapan.

Dari yang tidak ingin dijadikan alasan untuk terburu-buru dan ternyata suka mendapati dirinya menunggu.

Tuesday, August 28, 2012

"...but they don't recognize me, I didn't look the same."

Menjadi mahasiswa... akhirnya?

Untuk jujur saja dikatakan, memang tidak banyak yang bisa saya katakan, namun saya tidak bisa cukup berterima kasih pada keridhaanNya karena saya bisa mendapatkan universitas dan jurusan lanjutan seusai SMA dengan cukup mulus, dan seperti halnya orang-orang yang memulai sesuatu... ya, saya juga berharap saya bisa melakukan kuliah ini, jadi mahasiswa... dengan baik.

Amiin.

Diterima di Fakultas Psikologi Undip, dan saya memulai hari pertama PMB (Penerimaan/Pengelolaan Mahasiswa Baru) dengan perasaan campur aduk antara saya juga penasaran, deg-degan, dan diam-diam semacam dazzled dalam hati karena resmi sudah ya, saya memulai semacam lembar baru di kehidupan sosial baru dengan banyak pembelajaran baru lagi... sementara bayangan teman-teman dekat yang sangat berkesan di hati yang rasanya “baru saja” saya temukan satu tahun lalu. How life goes on and I better walk along.

Jujur saja tadi adalah hari pertama PMB yang oke oke saja, nggak banyak keluhan/saran yang terpikirkan di pikiran saya yang biasanya memang selalu sewajarnya saja (haha)... semacam perkenalan-perkenalan kehidupan perkuliahan diberikan hari ini; beberapa materi dibawakan oleh Pembantu Dekan (PD) dan/atau dosen yang ternyata menyenangkan isinya dan pembawaannya; membuat saya jadi penasaran juga untuk tahu nantinya kuliah dengan beliau-beliau ini nantinya bakal se-menarik apa.. semoga saja deh.

Menarik banget rasanya menyaksikan sendiri pembawaan Bapak/Ibu yang lucu-lucu celetukannya itu, padahal diam-diam mereka semua ini pakar di bidang masing-masing^^ lega banget rasanya menyaksikan citra dosen yang kadang suka digambarin galak dan kaku bisa nggak terasa tadi (:

Tapi seperti biasa aja sih, untuk soal menjalin kehidupan sosial dengan sekitar itu mungkin emang saya nggak akan menemui hasil instan... entah karena pembawaan atau saya memang belum cakap. Mungkin saja faktor kalau saya jarang ikutan kumpul-kumpulnya mereka juga berpengaruh?...bukannya gimana, secaranya juga saya nggak masuk dalam lingkungan kos dan mobilitas transportasi saya untuk bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain juga terikat oleh pihak-pihak yang mengantar saya u,u

Senyum, basa-basi, biasalah ya... Saya tahu sih saya nggak perlu terlalu memikirkan ini dengan berat atau apa, yah namanya juga soal waktu, dan jujur aja saya pribadi juga nggak muluk berharap untuk lantas harus bisa nemu temen yang “klik” atas-bawah-luar-dalem atau apa^^a

Meski emang saya jujur aja agak khawatir soal gimana menjalani pembelajaran/kehidupan perkuliahan yang bakal menuntut saya untuk “aktif” dengan skill dan achievement sosial saya yang biasanya selalu biasa-biasa aja itu, mungkin emang harus ada saatnya untuk saya agar bisa belajar atau banyak memasang topeng-topeng yang diperlukan untuk akhirnya bisa menemukan kenyamanan untuk diri sendiri dengan perubahan yang positif...
Yah, semoga saja. Masih ada banyak waktu buat lebih banyak belajar, dan saya harus yakin kalau semua pasti bakal baik karena Allah SWT. nggak akan ninggalin saya untuk tersesat sendirian kalau saya selalu berpegang padaNya dalam setiap apa yang saya jalani dan alami :’)

Masalah temen baru yang PASTI deh awalnya canggung dan blabla, baiknya saya nggak usah terlalu ambil hati. Orang itu beda-beda, orang datang dan pergi, tak kenal maka tak sayang dan lain sebagainya.
Masalah interaksi dan ketertarikan (?) untuk itu di antara satu-sama-lain juga merupakan satu hal yang emang nggak bisa dipaksakan meski tentu saja saya berusaha untuk menganggap semua itikad itu baik.

Kalau saya “membatin” soal gimana rasanya di-“begitu”kan sama orang lain; yaa saya sendiri juga bukan orang yang sempurna ya...
masih kebayang sih dan saya sadar banget kalau kemarin nggak sengaja dan nggak benar-benar maksud itu saya pernah nyalamin temen satu jurusan pakai tangan kiri gara-gara tangan kanannya megang tas tenteng waktu upacara...
terus tadi juga saya ngeluarin bekal (yang meski nggak seberapa untuk bisa dibagi-bagi buat banyak orang gitu) dengan agak terburu-buru dan makan untuk diri sendiri padahal di sebelah ada temen satu kelompok PMB yang harusnya bisa saya tawarin atau apa biar lebih cepet akrab...

iya meski agak sedih sih kalau mengahdapi situasi di mana kayaknya kok adaaa ajaaa orang yang kayaknya nggak terlalu welcome padahal ya udah disenyumin, dibasa-basi... terus ada jugaa yang mungkin emang bawaan daerah asal, waktu kakak tingkat ngingetin biar mastiin tempat PMB bebas sampah terus saya nemu pisang utuh jatuh di bawahnya terus saya tanyain “waah jatuh ini punya siapa yaa” aja terus berasanya kayak saya yang nuduh kalau dia yang buang pisangnya itu, ya ampun apa saya itu emang dari dulu sensinya kayak gini. Dikit, kok, dikiiit bangeet.

Kalau nginget-nginget tadi sih cuma bisa “memutar” lantunan tembang (aduh bahasanya plis deh) Garden Party milik Owl City ketika saya menerawang dalam hati kalau udah ketemu situasi out of place di mana saya harus make a move aja deh daripada lumutan atau harus denger lagi orang bilang ke saya kalau saya juga harus “nyoba usaha dong biar biasa akrab” dan sejenisnya.

”But it’s alright now, I learn my lesson well.
You see, you can’t please everyone, so you gotta please yourself.”