Showing posts with label Fictions. Show all posts
Showing posts with label Fictions. Show all posts

Tuesday, December 31, 2013

Cahaya Lilin dan Kembang Api

Cahaya Lilin dan Kembang Api
Sebuah Cerpen Tahun Baru
Khairisa Ramadhani Primawestri




Salah satu dari sekian hal yang paling kusyukuri ketika bersamanya adalah hal yang seperti ini. Ketika aku bisa diam-diam memerhatikan sosoknya dengan jangkauan lebih luas dari sekadar sudut mata karena kami tengah bersisian dan dia sedang disibukkan dengan hal lain yang sedang dilihatnya. Kembang api di langit tahun baru, meski kalau bagiku itu hanya sebagai penghias dari kebersamaanku dengannya. Meski demikian, aku masih memutuskan apakah bersit senyum dan sinar mata yang tercipta di parasnya menanggapi keindahan kembang api itu pun hanyalah hiasan seperti halnya kembang api itu sendiri.

“Kenapa kamu bengong?” tanyanya setengah-geli, sebuah kernyit ingin tahu yang manis dan tak menghakimi merekah di wajahnya. Rupanya dia menyadari sikapku yang hanya menatapnya diam alih-alih menatap kembang api yang sedari tadi beratraksi di langit malam.

“Aku tidak bengong.” kilahku sederhana, serta-merta dan benar adanya meski tak mampu juga kesembunyikan perasaan salah tingkah di bawah pengaruh senyumannya. Bukan karena alasan klise seperti menyelamatkan harga diri laki-laki, namun karena memang demikianlah adanya. Bukan hal baru kalau diamku sering diartikan tak sedalam yang sebenarnya. Sejak orang-orang lama mengenalku, aku memang selalu menjadi tipikal laki-laki yang kata-katanya seakan terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang sebenarnya dirasakan. Apalagi jika kita menyinggung kembali momen ini, dengan dia dan aku yang berdiri bersisian, dihiasi letusan kembang api di langit tahun baru.

Karena sedari tadi aku memang tidak bengong, rasanya sedari tadi aku hanya berusaha mencerna besarnya nilai momen ini bagiku. Aku masih memutuskan apakah bersit senyum dan sinar mata yang tercipta di parasnya menanggapi keindahan kembang api itu pun hanyalah hiasan seperti halnya kembang api itu sendiri.

Ataukah...

Letusan kembang api berikutnya terdengar, serta-merta membuat kedua binar matanya melebar dalam keterkejutan dan kegembiraan yang apa adanya dan kekanakan. Dialihkannya kembali perhatiannya untuk mendongak menatap langit malam yang sedang menyajikan hidangan terbaik di permukaannya yang halus. Selama sepersekian lama, kibasan rambutnya yang halus panjang menerpaku, membuatku menghirup wangi bersih samponya yang masih tersisa, juga aromanya sendiri yang sudah begitu kukenal sehingga sudah seperti kuanggap menjadi bagian dariku.

Aku masih berusaha memutuskan jawabannya, sampai ketika terlihat kembali olehku cahaya senyum dan tatap matanya. Kukira jawabannya tidak sepenting keharusanku mensyukuri setiap detil momen ini. Dirinya.

***

Hal lain yang terjadi ketika kami bersisian seperti ini adalah kadang-kadang aku juga berusaha menemukan interpretasinya mengenai momen yang sedang kami alami bersama, entah melalui simpul senyumnya atau berkas-berkas binar matanya. Aku mendapatinya terasa sama-sama esensialnya dengan menyelami interpretasiku sendiri tentang setiap momen kebersamaan kami yang sederhana. Memastikan kebahagiaannya adalah sama pentingnya dengan memastikan kebahagiaanku sendiri. Aku tak ingin melewatkan sedikitpun petunjuk di matanya, senyumannya, gestur tubuhnya.

Seperti saat ini, terlepas dari kebahagiaan yang jelas terasakan olehnya karena kembang api itu serta rasa aman dan nyaman yang ditunjukkannya karena bersamaku, aku mengira ada sesuatu yang terungkap lebih di pandangan matanya. Binar cokelat kembar yang kukenal itu memang tengah menengadah menatap keriaan langit malam itu dengan kagum dan gembira, namun ada sesuatu dari tatapannya itu yang terasa seakan berkata ada sebagian pikirannya yang tidak berfokus pada atraksi langit itu.

“Tidakkah kamu pikir, pasti akan hebat menjadi seperti kembang api?”

Rupanya aku tidak perlu memertanyakannya lebih jauh karena dia kemudian berucap ketika cahaya kembang api di langit nampak bertempias di wajahnya sementara ia tetap mendongakkan kepala mengaguminya, “...menyebarkan warna dan keindahan yang akan meninggalkan rasa kagum di sekitarnya.” ia berujar, agaknya lebih kepada dirinya sendiri. Kadang perilakunya ini mungkin tak dimaksudkannya, namun aku sudah terlalu terbiasa untuk tidak pernah membiarkan telingaku lengah dari perkataannya.

Aku mendesah, “Kembang api tidak lebih dari percikan api yang dibuat lebih artifisial, atau entahlah itu. Lagipula itu pun tak berlangsung lama, sesaat meledak kemudian hilang dalam kegelapan.” kilahku sederhana dengan jenis gaya pengucapan yang tidak dimaksudkan untuk menyerang pendapatnya, namun semata-mata hanya mengungkapkan apa yang menjadi pendapatku. Meski demikian, sorot mata dan ekspresinya tetap menunjukkan perubahan tertentu yang akhirnya membuatku melanjutkan ucapanku setelah memaksa diri menyusun kata-kata, “Tahu tidak…” aku memulai, “bagiku, dengan caramu sendiri, kamu lebih dari sekadar hal seperti itu. Aku lebih suka melihat kamu seperti cahaya sebatang lilin...”

Binar kembar itu, senyum itu, keberadaannya di sisiku…

“…kamu mampu memberi hangat dengan cara yang paling sederhana.”

***

Kata-kataku itu pun kemudian memang membungkamnya diam. Perlahan, dalam hening jeda waktu yang terasa agak malu-malu ia pun meraih lembut jemariku. Kalau sudah begini, jemariku adalah yang kedinginan dan miliknya selalu menjadi yang mempunyai kehangatan yang kubutuhkan. Seperti sebuah refleks, aku balas merengkuh hangat jemarinya dengan keeratan yang seolah sudah kami sepakati karena tak membuatnya mengernyit tapi cukup memberikan hangat yang kuperlukan. Kusadari kepalanya yang kemudian sedikit tertunduk ketika aku berpaling menatapnya beberapa saat setelahnya.

Di suatu sisi, aku tahu kata-kataku itu mungkin berhasil memberikan sebuah makna yang cukup mendalam untuk membuat perhatiannya sejenak teralihkan dari atraksi langit di atas kepala kami. Namun entah kenapa, di sisi yang lainnya, aku menyadari bahwa bahkan dengan semua itupun ia tetap tertuju pada kembang api itu meski kepalanya telah ditundukkannya seperti sekarang. Ya, itu karena aku sudah merasa begitu mengenalnya dan andaikan saja perkiraanku itu hanyalah rekaan.

“Meski demikian, kembang api akan membuat banyak orang terpukau, kan.” katanya lirih, membuat sebersit nelangsa diam-diam pun terbit dalam hatiku ketika mendengarnya. Kata-kata itu membuktikan perkiraanku meski itu tak kuharapkan. Angin malam yang sedari tadi tidak kupedulikan pun mendadak terasa begitu keji menghembus beku mengalahkan lapisan jaketku, diikuti rasa serupa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan angin malam itu, hanya saja sama dinginnya. Andai dapat kutepis atmosfer ini dari dalam hatiku sebagaimana perasaan ini terasa tidak sesuai dengan betapa membahagiakannya sebenarnya kebersamaan ini bagiku, dengan jemarinya tergenggam di tanganku.

***

Memangnya mengapa tidak dengan sesuatu yang lebih sederhana seperti cahaya api pada sebatang lilin? Mengapa perlu menjadi percikan memukau jika sinar lemah pun sudah mampu menghangatkan?

Sejak dulu aku memang bukan sosok yang suka menipu diri sendiri, bahkan tidak oleh keindahan kembang api di atas sana yang bagiku hanya dramatisasi sebuah bunga api untuk memanjakan mata dan memeriahkan suasana. Sekali lagi, keindahan kembang api itu hanyalah hiasan yang bisa dengan mudah kuabaikan jika dibandingkan dengan dirinya dan juga kebersamaan ini. Hanya saja, perasaan yang mendadak terpercik di dalam hatiku ini bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan, ini hal yang nyata… dan ini hal yang meresahkanku.
Karena malam ini tiba-tiba terasa begitu dingin bahkan setelah aku telah menggenggam tangannya yang mungil. Tidak ada yang bisa kuharapkan dari kembang api di atas sana untuk bisa meredakan dingin yang kurasakan. Di saat seperti ini, dengan gemebyar kembang api yang sedari tadi beratraksi di atas kepala kami, aku justru membayangkan seberkas cahaya lilin yang akan mampu menghangatkan kedua tanganku.

Aku bertanya-tanya apakah dia pernah mencoba melihat sebatang lilin yang menyala dengan cara yang sama seperti ketika ia melihat kembang api itu. Sesungguhnya itu adalah pertanyaan yang sudah begitu lemah untuk dipertanyakan jika aku membuka segenap kesadaranku bahwa aku sudah begitu mengenalnya untuk bisa mengerti apa jawaban sesungguhnya. Begitu lama aku telah terbiasa menatap matanya, mendengar suaranya, memeluk tubuhnya, menggenggam tangannya. Betapa kata-kata yang terucap kadang sudah terasa tak perlu karena aku seakan telah bisa memahami apa yang ingin disampaikannya dalam diam kebersamaan kami. Semua ini, pada dasarnya adalah sesuatu yang selintas terlalu manis, namun ketahuilah betapa banyak yang terpaksa kutahan untuk tidak terucap ketika menghadapi setiap pemahamanku akan bahasa tak terucapkannya padaku.

Seperti saat ini, ketika dengan tangannya di dalam genggamanku, aku tahu betapa keterpesonaannya pada kembang api takkan semudah itu goyah, bahkan oleh ketulusan dan pengyakinan kata-kataku. Betapa ia selalu menjadi wanita yang sedemikian kukenal, tidak ingin menyulut sepercikpun api yang menurutnya tidak perlu pada kebersamaan kami yang ia tahu selalu berarti untukku. Betapa ia pun tetap tahu bahwa aku tidak menilai kembang api sebagai sebuah ideal seperti dirinya. Namun ia selalu hanya demikian, hanya jemarinya yang bergerak kepadaku, mengizinkanku menggenggamnya dan ia hanya terdiam menundukkan kepalanya dari kembang api di atas kepala kami.

Ia tahu bagaimana aku adalah laki-laki yang tidak ingin dibuai oleh kesemuan artifisial. Bagaimana aku lebih menghargai hal-hal yang apa adanya dan nyata nilainya, sehingga bagiku kembang api hanyalah bunga api yang dilebih-lebihkan sebagai hiasan. Betapa aku mencintainya untuk segala upayanya agar membuatku tidak perlu memermasalahkan hal-hal yang terlalu tak berharga dan hanya akan menjadi penyulut api yang akan memisahkan di antara kami. Aku mencintainya, meski dengan cara ini ia telah menjadi begitu keras kepala untuk tidak pernah benar-benar merunut perbedaan pandang kami yang sebenarnya sederhana.

Aku pun sungguh-sungguh berusaha mencintainya, karena dengan pandanganku yang seperti itu pun tak kubiarkan diriku buta akan fakta bahwa dirinya adalah wanita yang begitu menghargai keindahan angan-angan dan impian. Itu adalah dirinya dan aku mencintai dirinya sehingga ketika momen seperti saat ini datang mengingatkan perbedaan itu, aku mencoba untuk menunjukkan padanya betapa aku mencintainya dengan memertahankan eratnya genggamanku pada jemarinya.

Kuharap itu bisa membuatnya mengerti bahwa aku berusaha memahaminya dan aku tidak akan menginjak-injak hal-hal yang menurutnya berharga dalam penilaiannya. Kuharap, ini juga akan cukup membuatnya sejenak melihat bagaimana aku mengartikan kembang api dan dirinya dalam sudut pandangku dan mungkin ia akan mendapatinya sebagai hal yang menyenangkan hatinya. Mungkin malah sebagai hal yang lebih baik baginya.

Namun dalam diam itu kami mungkin telah berharap dan memahami hal yang jauh berbeda. Perjalanan sekembalinya kami dari gempita tahun baru di Simpang Lima dihiasi diam yang mungkin menjadi hasil dari ke mana pikiran masing-masing kami telah menyimpang jalan yang berbeda.

“Terima kasih untuk malam ini,” kataku akhirnya ketika menurunkannya di depan rumahnya, memang bukan pemecah-hening yang resolutif setelah pertentangan subtil dalam pendirian kami, entah kami mengakuinya ataupun tidak, “semoga adikmu nggak marah karena kamu pulang malam di hari seperti ini.”

Dia hanya membalasnya dengan senyum yang juga tentu saja sangat kuhafal sehingga aku tidak perlu mengira-ngira ketulusan yang terkandung di dalamnya, “Kamu kenal keluargaku, kita nggak merayakan tahun baru seperti hari besar...” ujarnya sembari mengangkat bahu, menelengkan kepalanya ke satu sisi sebelum menambahkan dengan sedikit tersipu, “aku juga terima kasih, ya. Lagipula kau mengantarku pulang tepat waktunya ketika adikku selesai menonton perayaan-perayaan tahun baru bersama teman-temannya.”

Kau tahu, meskipun aku selalu tak alpa untuk membanggakan bagaimana aku sudah mengenalnya begitu lekat dalam kebersamaanku dengannya selama ini, itu bukan berarti bahwa aku telah kebal dari sensasi hangat dan menggelitik di suatu tempat di dadaku pada banyak jenis senyuman, tatapan, dan suaranya.

Kubiarkan diriku beringsut mendekat untuk memberinya kecup manis di antara kedua alisnya, membiarkan bibirku mencecap halus kulitnya dan mungkin selapis tabur bedak yang masih tersisa di sana, tak mengapa. Kecupan itu memang merupakan perilaku yang sedikit memuat ego seorang lelaki yang telah mengatasnamakan seorang wanita sebagai “miliknya”, meski bagiku pun ungkapan sedemikian serasa sebagai suatu anggapan yang kolot dan terlalu posesif. Aku tahu bahwa wanita akan menjengit menjauh ketika sayapnya dikekang, bak burung merpati yang tetap mengharapkan dirinya dapat terbang untuk menemukan perjalanannya. Tapi baiklah, setiap kalinya juga aku berharap bahwa akulah tempatnya mendarat pulang. Bagaimanapun, aku tetaplah laki-laki juga.

Ada selapis sendu di bola mataku yang kini memandang dirinya yang memejamkan mata pada kecup singkatku, terasa nyata kembali bagiku bahwa aku mencintainya dan bahwa aku adalah untuknya. Semakin meyakinkan bagiku bahwa aku dan dia adalah sempurna yang semestinya meski tidak ada satu pun dari kami yang sempurna, namun di antara kami terjadi reaksi kimia yang setimbang dalam ragam komposisi masing-masing. Bahwa yang kumiliki untuknya, adalah apa yang memang diperlukan untuk mencintainya. Bahwa caraku untuk mencintainya akan menyempurnakannya sebagaimana aku selalu merasa sanggup menaklukkan dunia jika senyumnya terbit untukku. Aku tidak ingin menggantinya dengan yang lain, aku tidak ingin kehilangan dia.

“Tadi… kembang apinya bagus kan?” tanyanya lirih, “kalau waktunya tiba, kamu pasti akan paham.”

“Berpengaruhkah kalau aku bilang bahwa bagaimanapun aku tetap cinta kamu?” sahutku, berhasil memicu kerling geli di mata dan sudut bibirnya meski bagiku senyumku sendiri terasa hambar. Betapa dia juga telah begitu mengenalku untuk tahu bahwa aku bukan jenis laki-laki yang berkata-kata dalam penggombalan kosong.

“Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti akan paham.”

Di matanya aku melihat selapis harap, di atas binar matanya yang biasanya akan kureguk dengan tak puas-puasnya. Alih-alih menjawabnya, aku menggerakkan diriku untuk menyentuhkan bibirku ke kedua kelopak matanya, setengah berharap bahwa entah bagaimana aku akan dapat membersit selapis harap itu dari binar matanya dengan kecup itu.

“Aku mencintaimu.”

Mungkin aku sendiri juga keras kepala, tapi bukankah bukan itu yang penting? Aku mencintainya, itu yang terpenting. Bagiku dia adalah cahaya lilin yang kutangkupkan dengan kedua tanganku, aman di sana, menghangatkanku dalam sinarnya yang sempurna bersahaja, karena aku dapat melihat keindahan terkecil dalam dirinya. Bukankah seseorang tak dapat mengenali keindahan dirinya sendiri sehingga butuh seseorang lain untuk meyakinkannya? Akulah seseorang tersebut baginya. Aku berbeda dari semua pengagum butanya yang lain. Aku mencintainya, aku mencintainya. Untuk malam ini, aku akan pulang dengan memastikan diriku telah mengatakannya padanya, mengingatkannya, meyakinkannya. Sudah tentu jauh lebih baik daripada sekadar “selamat malam”.

***

Perjalanan pulangku menuju rumah kontrakanku mengharuskan mobil yang kukendarai untuk melewati jalan raya yang memanjati bukit Gombel. Di sanalah tempat yang di kala malam merupakan titik andalan untuk menyaksikan titik-titik lampu-lampu kota Semarang yang secara keseluruhan nampak seperti langit malam yang terbalik. Setidaknya itulah yang pernah dikatakannya padaku suatu kali saat aku berkendara dengannya menuju sebuah restoran yang menjadi tempatku mengajaknya makan malam.

“Kalau di bawah sana itu umpamanya langit, aku akan menjadi kembang api yang menghiasinya.” katanya waktu itu, menengok kepadaku dengan senyuman yang memancar hangat, penuh harap.

“Kamu nggak perlu memaksakan diri, tahu. Orangtuamu mengharapkan kamu bersinar sempurna, mereka menitipkan kamu padaku agar aku menjagamu.”

Aku menjawabnya dengan mengacu pada kenangan akan kedua orangtuanya yang telah lama tiada, meninggalkan amanah bagiku sebagai laki-laki yang mengenalnya dari sejak sebagai teman sepermainan hingga nanti menjadi teman hidupnya. Memang, aku tidak serta merta mengiyakan pengharapan idealismenya yang sedang muncul itu. Aku tidak ingin berbohong sekaligus mengambil resiko membuatnya salah paham bahwa aku tidak yakin terhadapnya seperti yang ia harapkan.

Kurasa aku pun juga tidak salah memerlakukannya ketika sebelah tanganku kubebaskan sesaat dari roda kemudi untuk menepuk halus pipinya.

“Aku beruntung punya kamu, kamu tahu. Kamu membuat aku lebih kuat berjuang untuk membuat adikku lebih kuat dariku, dan kamu menjadi contoh bagi adikku setelah Bapak dan Ibu pergi…” ujarnya lirih, mengulurkan tangannya untuk menyentuh sisi wajahku yang secara otomatis juga memicu sesuatu bak sengatan listrik yang seakan mewakili bagian lain diriku yang iri akan sentuhan itu, mengharapkan lebih.

“Bersama kamu, rasanya aku percaya kalau aku bisa lebih dari diriku sendiri.” ia melanjutkan, suaranya terdengar sedikit bergetar. Selanjutnya seakan-akan ada sesuatu yang begitu rapuh tengah mengambang di udara di sekitar kami karena berat kata-katanya. Hangat dari bekas sentuhan jemarinya terasa semakin nyata dan merasuk, karena perkataannya menajamkan kenyataan bagiku sebagaimana baginya pula ketika tercermin dalam kesungguhan yang dia tunjukkan ketika mengatakannya.

Saat itulah pertama kali nyata dalam kesadaranku bahwa dia sudah seperti nyala lilin yang selama ini telah kujaga sinarnya dengan kedua telapak tanganku, dan aku tidak ingin dia padam. Telah kubiarkan tanganku mengenali hangat yang dipancarkannya sehingga aku seakan-akan tahu angin sekuat apa dan yang mengarah dari mana yang akan mengancamnya, sedangkan dirinya sendiri tidak mengetahuinya karena tanganku telah menghalau ancaman itu terlebih dahulu untuk dikenalinya. Membiarkannya mengejar bayangan kembang api yang menjadi idealnya berarti seperti melepaskan nyala api lilin dari sumbu yang menopangnya, dan dari hangat telapak tanganku yang selama ini menjaga dan mengenalnya. Ia pun akan menjadi tak lebih dari nyala api yang tak tahu arah, tak lagi menghangatkan dan akan kehilangan dirinya sendiri kala ia bermaksud melukisi langit malam yang tidak menyediakannya sumbu untuk berpijak.

Namun di saat yang bersamaan pun aku tahu bahwa aku memang mencintainya, cinta yang tidak sesederhana dan selugas yang ditemukan dalam sebagian besar fiksi. Aku mencintainya, dengan serangkaian cara dan pandangan yang kususun dari pengalamanku bersamanya. Lalu di malam waktu itupun, aku kembali menutupnya dengan mengatakan bahwa aku mencintainya. Seperti waktu malam itupun, malam ini aku juga berharap agar itu cukup, itu akan meyakinkannya, akan menyadarkannya.

***

Orang lain akan melihatnya sebagai kesempurnaan, dalam pandangan mereka yang justru sedang tidak benar-benar melihatnya, tidak seperti diriku. Orang lain yang melihatnya akan berkata padaku dengan decak dan tatap mendamba bahwa dia selaksa bidadari jatuh, yang sedang menyusun kembali jalannya ke langit. Bahwa tinggal menunggu waktu saja sampai langit akan memanggilnya untuk menjadi bidadari yang menghiasinya, menambah jajaran bidadari yang lebih dulu tinggal di sana.

Mereka juga akan bilang bahwa aku adalah manusia yang sangat beruntung, dan baiklah aku akui bahwa di satu hal itu dan hanya satu hal itulah mereka benar. Sungguh benar bahwa aku beruntung dapat bersamanya, dapat mengenalnya, dapat menjaganya. Kehadirannya adalah cahaya yang menyingkirkan ketakutanku akan gelap di jalan yang kulalui, dengan senyumnya, tawanya, kecupannya, sentuhannya. Bersama dengannya aku pun sekaligus menyusun diriku sendiri menjadi laki-laki yang paling dimaksudkan untuk mencintainya, memacu yang terbaik dari diriku agar bisa kuberikan padanya, pada masa kini dan masa depannya.

Dengan demikian kurasa setelah kepergian orangtuanya, hanya aku yang tahu bahwa ia serapuh cahaya lilin kalau memang benar bahwa ia telah terjatuh dari langit. Ia akan membutuhkan sepasang tangan yang akan menjaga dan melindunginya dalam kemurnian yang dimilikinya, menjaganya tetap hangat. Sekali lagi, aku juga merupakan orang yang beruntung karena tahu hal ini dibandingkan mereka yang lain, pengagumnya yang menyedihkan.

Selama ini telah kuremehkan mereka yang terpesonakan oleh cahayanya, membuatku naif pada posisi dirinya terhadap perkataan dan keterpesonaan para pengagum dan orang-orang lain yang tidak mengenalnya sebaik aku. Di suatu sore yang sejatinya bercuaca menyenangkan untuk bercengkrama di atmosfer nyaman kafe Oasis, rupanya paduan dari furnitur kayu yang tertata apik dan cita rasa masakan yang memanjakan lidah menjadi bukan apa-apa lagi ketika aku mendengar prospek rencana di luar akal sehatnya yang ia utarakan padaku.

“Kamu ingat apa kataku dulu, bukan? Ini kesempatanku untuk bisa menemukan jalanku ke langit dan menjadi kembang api yang memesona semuanya!”

Bobot kata-kata yang diucapkannya kembali terasa seperti malam itu ketika kami berkendara melewati jalan raya bukit Gombel, namun kenyataan yang terasa begitu tajam telah menusukku dalam keterkejutan yang membuatku ingin menyangkalnya habis-habisan. Aku hanya menatapnya tanpa berkata-kata, meresapi pandangan matanya yang penuh harapan itu sekaligus sadar sepenuhnya bahwa aku ingat dan tidak dapat menyangkal.

Aku ingat perkataannya waktu itu, pada titik-titik cahaya kota Semarang di malam hari bagaikan sajian langit malam yang terbalik dan aku tidak menyangkalnya. Di saat yang bersamaan, aku pun mengingat bahwa aku tidak bisa kehilangan sosoknya yang bagai api lilin yang telah kujaga di antara kedua telapak tanganku. Aku ingat bahwa karenanya lah aku tahu bahwa aku memang mencintainya dan aku tidak akan membiarkannya melejit tanpa sumbu lilinnya ke langit malam yang tidak memiliki sepasang tangan untuk menjaganya.

“Aku sudah mengenal kamu lebih dari yang kamu tahu dan harapkan…” aku memulai, “dan aku mencintai kamu selama ini, lebih dari yang kamu tahu dan harapkan. Karena itulah aku harus bilang padamu kalau rencana itu tidak semestinya buat kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu…”

Kuulurkan tanganku untuk me-reka ulang momen itu di perjalanan kami melewati jalan raya bukit Gombel, dan tanpa sempat kuhela aku membiarkan sebersit pemikiran bahwa mungkin saja aku telah terlambat menjadi cukup melesak dari ruang pikiranku dan memberikan tumbukan ngilu di rongga dadaku. Namun seperti biasanya ia hanya tersenyum dan memejamkan matanya menanggapi sentuhanku, membuatku tersadar akan hal lain yang selama ini telah luput dariku. Kenyataan bahwa ia mendengarkan perkataan mereka dan bermaksud menjadikan kandungan perkataan-perkataan para pengagumnya sebagai sumbunya untuk melebarkan cahayanya berubah menjadi kembang api yang warna-warni, karena ia ingin memesona semua orang, membuat semua orang dan lebih banyak orang tertempiaskan pesonanya.

“Kamu tidak mengerti, aku tahu dan sangat menghargai betapa kamu selalu begitu baik. Sungguh, cuma kamu yang tidak mengharapkan hal-hal yang muluk padaku. Namun aku tidak bisa membohongimu. Kamu tahu ‘kan bahwa aku selalu bermimpi menjadi kembang api yang memukau bagi semua orang… tidakkah seharusnya juga cuma kamu yang akan memaklumi mimpiku itu?”

Tidakkah?

“Apakah kamu sadar, kalau kamu melepaskan diri jadi kembang api di sana, aku tidak lagi bisa menjagamu? Lalu mereka… mereka yang kau bilang akan terpesona, mereka akan terus menerus membuat kamu harus lepas terbakar di langit, membakar dirimu sendiri, sekejap hilang setelahnya ditelan gelap. Aku sudah berjanji untuk melindungi kamu, aku mengenal kamu…” kubalas perkatannya bagaikan kedua tangan yang bergetar dalam upayanya yang mulai terasa sia-sia untuk memertahankan sebentuk cahaya lilin di sana, dan sedemikianlah terdengarnya suaraku, bergetar.

Di saat yang bersamaan pula, aku panik, panik bila telapak tanganku telah menyenggol cahaya lilin itu terlalu kuat dan justru mengancamnya… “mengapa kamu terus berkeras hati mengharapkan hal seperti itu? Tidakkah kamu mengerti bagaimana caranya seberkas api lilin bisa menjelma menjadi semburan bunga api di langit kalau tidak padam lebih dulu oleh kuatnya angin?”

“…bisa-bisanya kamu tega bicara seperti itu terhadap apa yang kamu tahu selalu jadi mimpiku?!”

“Aku hanya ingin menjaga kamu, karena aku mencintaimu! Apakah kamu kira aku akan membiarkan kamu hilang sendirian di tengah gelap hanya dengan gebyar artifisial sesaat sebagai bayarannya?”

Aku panik, tapi aku juga mencintainya dan aku tidak ingin kehilangan dia. Kalut. Jika dia memang mengetahui dan menghargai bagaimana arti dirinya untukku, mengapa dia menolak menjadi aman dan terjaga seperti api lilin yang menghangatkan kedua tanganku? Kalau memang benar aku mencintainya, apakah itu pun diiringi dengan kenyataan bahwa ia mencintaiku?

“Tidak, kamu salah… Tidak, jika demikian katamu, maka kamu tidak mencintaiku…”

“Bukan kamu yang memutuskan perasaanku, kamu tidak bisa…”

“Sudah cukup…”

Telapak tanganku yang menjaganya selama ini ternyata tidak hanya gemetar, namun kini malah secara tak terkendali teremas dan terkepal, teremas dan terkepal. Telah kupadamkan api lilinku yang kulindungi selama ini, dengan kedua tanganku sendiri. Api lilin yang telah kucintai dengan caraku, namun hendak menjelma menjadi fragmen cahaya kembang api yang bahkan tidak dapat kutangkupkan kedua tanganku melingkarinya. Barangkali aku telah terlalu dalam mencintai cahaya lilinku dan dibuat buta seperti orang lainnya di bawah gemebyar atraksi kembang api di tahun baru.





31 Desember 2013
9:04 PM
Semarang

Wednesday, December 26, 2012

Superspeedy Dalam Jaringan

"Superspeedy Dalam Jaringan: Pahlawan Yang Selalu Terhubung Pada Akhirnya"
Sebuah cerita fiksi oleh
Khairisa R. Primawestri (khairisaprimawestri.blogspot.com)
ditulis untuk mengikuti



Ide dalam cerita ini adalah milik pribadi penulis dan harap tidak dikait-kaitkan dengan selain yang disuratkan dalam cerita ini sesuai ketentuan lomba.
Adanya kesamaan dengan apapun di luar sana bukanlah kesengajaan.


Bagian Pertama: Selamat Datang!

Biasanya cerita-cerita yang menarik dimulai dengan untaian kalimat seperti “pada suatu masa…” atau “pada suatu…” yang lainnya. Namun yang satu ini akan menyambut dengan kalimat “Selamat datang” yang rendah hati dari penutur dan tokohnya yang sama rendah hatinya, yaitu (siapa lagi kalau bukan) aku, Superspeedy, pahlawan TelkomCity yang paling wahid, karena memang tidak ada pahlawan lainnya di urutan nomor dua dan karena satu yang sudah terbukti andal dan lokal akan lebih baik.

Tidak, aku mengatakannya dengan sangat rendah hati saja sebelum ceritanya benar-benar dimulai. Ini tetaplah akan menjadi sebuah kisah berkesan yang tak terencana... namun tetap heroik, semoga! Aku sangat sadar bahwa status pahlawan juga mau tak mau menuntut kesan yang seperti itu, kau tahu.

Galaksi itu luas, kawan, dan alangkah merugi jika tidak saling melihat. Semua dimulai ketika aku dipercaya Pak Walikota untuk memandu kunjungan beberapa perwakilan dari planet terdekat yang ingin melihat TelkomCity. Itu menyesuaikan dengan salah satu tugasku untuk menjadi semacam “duta” bagi TelkomCity, memberikan pemahaman atas kekayaan potensi kota ini tidak hanya pada para tamu seperti ini namun juga tentu pada penduduk TelkomCity. Terdengar sibuk, ya? Hoho, menjadi seperti aku ini tidak hanya sekadar nampang dan jadi pusat perhatian lho, ketika beraksi.

Nah, bagaimana, sudah bisa dimulai ceritanya? Mari kalau begitu. Aku masih ingat betapa bersemangat dan mendetilnya penjelasan-penjelasanku terhadap tamu-tamu itu, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi secara tak terduga nantinya…

Selamat datang di TelkomCity! Selamat datang di kotaku yang maju karena menjunjung nilai-nilai luhur di masa lalu dan sukses memadukannya dengan teknologi modern yang rasanya memungkinkan hampir apa saja. Mengapa demikian? Karena di kotaku yang terdiri dari lima distrik dengan spesialisasi pengembangan teknologi dan produk khasnya ini seakan tidak mengenal jarak berkat teknologi jaringan telekomunikasi kami yang sudah sangat maju.

Menceritakan sejarahnya lebih lanjut akan sangat panjang... dan mungkin agak membosankan!... namun yang bisa kuceritakan pada kalian di sini adalah bahwa kehebatan teknologi telekomunikasi kami ini dilatarbelakangi penemuan suatu fakta bahwa lokasi TelkomCity bertepatan dengan suatu medan energi di tingkat atmosfer yang memungkinkan lalu-lintas gelombang, jaringan, dan sinyal menjadi lebih cepat dari manapun di semesta ini. Ya, kotaku tercinta ini kaya akan sumber energi yang tak ada duanya, bisa dibilang begitu.

Nah, penemuan tentang medan energi yang ditempati TelkomCity ini jugalah yang membangkitkan kekuatan superhero-ku. Tahukah kalian kalau aku bisa dibilang adalah superhero yang memeroleh kekuatannya dari garis keturunan yang dipicu dengan kekuatan kuno-tapi-membawa-modernitas dari medan energi itu? Nah, sekarang kalian tahu! Benar kalau kalian menebak bahwa sebenarnya juga aku seorang penduduk di TelkomCity ini sebelum kekuatanku dibangkitkan oleh roh dari medan energi itu yang bernama lengkap Telkom Indonesia.

Selain sebagai “master” dari kekuatanku, Telkom Indonesia jugalah yang memungkinkan inovasi produk dan teknologi jaringan telekomunikasi yang dimiliki TelkomCity sampai sekarang. Jadi, bisa dibilang Telkom Indonesia itu seperti “nenek moyang teknologi” di kota ini. Kira-kira demikianlah sekilas tentang TelkomCity, dan juga sedikit tentang diriku. Detil lebih lanjut tentangku sebaiknya disimpan saja ya demi melindungi imej, oke?

Ah, dari wajah-wajah kalian sepertinya kalian kagum sekali ya dengan kotaku ini. Memang kotaku ini sangat mengagumkan tidak hanya dari fakta menganai perkembangan teknologinya, tapi juga dari bagaimana kotaku ini terlihat secara fisik. Perhatikan bagaimana arsitektur modern dan klasik berpadu serasi, dan bagaimana infrastruktur kota yang maju juga bersisian dengan penghijauan yang tertata! Suatu kebanggan tersendiri bagiku untuk bisa mengemban amanah sebagai pahlwan kota ini, omong-omong.

Nah, pasti sudah tidak sabar ya untuk berkeliling lebih jauh di TelkomCity dan melihat sendiri kehebatan teknologi citarasa lokal kami di tiap distrik. Iya, lima distrik di TelkomCity ini sama-sama maju dan berkembang di lapangan spesialisasi masing-masing, dan secara bersama-sama, produk dan teknologi yang tiap distrik kembangkan itulah yang juga menopang kelangsungan kehidupan di TelkomCity ini.

Sebelumnya, aku akan menjelaskan dulu bahwa meskipun terdapat lima distrik di TelkomCity, sebenarnya kategorinya hanya ada tiga. Jadi dari ketiga kategori itu, ada dua kategori yang terbagi lagi menjadi dua. Kategorinya mencakup Kategori Jaringan Seluler dengan anggotanya adalah Distrik GSM dan Distrik CDMA, Kategori Edutainment dengan anggotanya adalah Distrik Edukasi dan Distrik Hiburan, dan Kategori Jaringan Koneksi dengan anggotanya adalah Distrik WiFi.

Jangan khawatir kalau kalian nanti akan kelelahan karena berkeliling kota! Beruntung sekali kalian bersamaku karena kecepatanku bisa disamakan dengan kecepatan akses internet yang bisa mencapai 10 MB/s. Ini karena perpaduan antara diriku dengan Telkom Speedy-- jaringan telefoni berteknologi ADSL tercepat yang merupakan salah satu produk jaringan yang dikembangkan di seluruh kota dan bahkan sebenarnya bisa menjangkau seluruh galaksi (mohon rahasiakan dulu yang satu ini!). Perlu kalian tahu bahwa salah satu kekuatanku adalah Kekuatan Digitalisasi yang memungkinkan aku mengubah materi diri dan objek lain yang kukehendaki untuk secara fleksibel menjadi bagian dari jaringan sehingga bisa termanifestasi lewat karakteristik fisik, dan aku juga akan membantu kalian mendigitalisasi kecepatan kalian agar bisa berkeliling dengan super speed bersamaku. Asyik, bukan?

Singkat cerita, hari itu kupikir segalanya akan berjalan lancar dan tentram seperti biasanya di TelkomCity yang selalu “dekat” antara distrik sampai penduduknya, aku sudah akan memimpin tur keliling TelkomCity yang pastinya takkan terlupakan ketika mendadak pesawat-pesawat berbentuk seperti piring itu muncul tanpa peringatan apa-apa di langit TelkomCity.

Aku sadar bahwa ada yang tidak beres dari cara kedatangan pesawat itu, dan bentuk pesawat-pesawat itu menyalakan kesadaranku akan bahaya yang mengancam kota dengan begitu cepatnya karena aku tahu bahwa pesawat dengan bentuk seperti itu hanya dimiliki oleh Planet Gagarin.

***

Dengan terburu-buru aku langsung menyetir situasi tur bahwa dengan menyesal tur keliling kota harus ditunda karena ada situasi darurat. Ekspresi bingung dan terkejut para tamu-tamu itu membuatku merasa amat bersalah, namun aku harus cepat bertindak!

Planet Gagarin memang tidak akan pernah menjadi teman kami, sudah merupakan suatu permusuhan kuno antara TelkomCity dengan Planet Gagarin yang miskin sumber energi, bahwa alien-alien penghuni planet itu telah lama mengincar kekuatan medan energi TelkomCity. Huh, alien-alien parasit pucat yang menjijikkan dan berbahaya karena sentuhan mereka memakan energi dan mereka juga menembakkan gelombang yang bersifat sama.

Tidak kusangka bahwa ternyata di hariku memandu kunjungan tamu-tamu kami, ternyata Planet Gagarin juga menjadi tamu kota kami dengan caranya sendiri. Selamat datang juga untuk mereka kalau begitu, tapi mereka akan segera dipulangkan dengan sangat sopan oleh pahlawan kota yang akan menyambutnya!


Bagian Kedua: Selamat Berjuang!

Diskusi (darurat dan mendadak)ku dengan Bapak Walikota TelkomCity singkat saja setelah aku mengamankan tamu-tamu resmi kota di keamanan Gedung Balai Kota. Beberapa hal penting yang dibahas adalah penyusunan strategi perlawanan yang akan dilakukan terhadap kedatangan alien Planet Gagarin, yang rupanya masih menahan serangannya karena mereka barangkali tak ingin menjadi ceroboh.

Terdapat lima pesawat yang datang, dan itu sudah cukup memberitahu bahwa mereka bermaksud menyerang masing-masing distrik secara khusus dengan masing-masing pesawat itu. Tidak mengejutkan dan sudah bisa ditebak bahwa sasaran mereka pastilah adalah sumber energi jaringan telekomunikasi yang dimiliki masing-masing distrik sebagai pengembangan dari kekuatan jaringan yang berakar dari roh Telkom Indonesia. Aku harus melumpuhkan tiap pesawat yang menyerang tiap distrik dengan "senjata" yang tidak sama satu lain, karena karakteristik tiap pesawat penyerang ditargetkan pada keberagaman kekuatan tiap energi jaringan di setiap distrik.

“Produk masing-masing distrik akan membantumu, kau tahu itu, bukan?” tanya Pak Walikota yang kubalas dengan anggukan. Dari jendela kantor Pak Walikota, bisa kulihat pemandangan bagaimana penduduk kota bergegas berlindung dalam rumah masing-masing setelah tanda siaga satu disebarkan cepat. Masing-masing keluarga mematikan transmisi jaringan yang terpancar dari tempat tinggal dan lingkungan mereka agar tidak tertangkap oleh jangkauan gelombang parasit alien-alien Planet Gagarin. Hanya tersisa transmisi jaringan pusat yang memang terus aktif menopang di masing-masing distrik dan tentunya kan menjadi sasaran empuk para alien. Semuanya berseru yang intinya kurang-lebih,”Superspeedy, berjuanglah! Kami percaya padamu!”

Aku hanya bisa merasakan hatiku berdesir pada ketulusan hati para penduduk, dan itu langsung sekaligus mengembalikanku pada situasi”Saya harus bergegas, Pak. Bapak lebih baik juga berlindung dan terus waspada. Saya akan tetap memastikan kemanan setiap keluarga di kota dengan Speedy Home Monitoring yang telah termodifikasi melalui DigiNet Wrist-Watch saya.” kataku sembari menunjukkan piranti pembantuku yang berbentuk mirip jam tangan digital dengan kemampuan akses penerimaan dan tampilan koneksi jaringan apa saja yang kuperintahkan.

Nama kecil dari alat pintar serbabisa ini cukup dengan DigiNet saja supaya lebih sederhana, sedangkan Speedy Home Monitoring adalah produk lain dari TelkomCity yang akan memungkinkanku menggunakan jaringan Telkom Speedy untuk memantau keadaan tiap rumah di TelkomCity yang terekam dalam IP Camera juga seluruh kota tapi dengan kamera satelit setelah aku memodifikasi alur jaringannya.

Pak Walikota mengangguk serius sembari menghela nafas panjang,”Memang hanya kamu yang bisa memanipulasi bagaimana jaringan dan segalanya dalam produk kami bekerja menjadi lebih hebat dari kehebatan yang biasa kami rasakan, gunakanlah kekuatan itu sebaik-baiknya, Nak. Kuharap tingkat keterhubunganmu dengan semua kekuatan jaringan di kota ini akan selalu tinggi, karena kami semua mendukungmu.”

Pak Walikota menyinggung satu lagi kekuatanku yang hanya kumiliki sebagai garis keturunan yang sama “kuno”nya dengan medan energi di bawah TelkomCity, yang membuatku hanya bisa memberikan gerakan memberi hormat padanya,”Kekuatan saya tak lain hanya menyatakan betapa saya membutuhkan keterhubungan dengan semuanya yang ada di TelkomCity, Pak. Dari sejak saya memelajari kekuatan saya dengan bantuan dan ajaran roh Telkom Indonesia, tangan saya telah menyentuh setiap gelombang, setiap jaringan yang ada,” ujarku khidmat, “semoga semua itu akan membantu saya pada akhirnya.”


Bagian Ketiga: Perlawanan Yang Gesit

Ketika alien Planet Gagarin itu sudah mulai tak sabar dengan keadaan TelkomCity yang seakan melakukan “gencatan senjata” atas “serangan terbuka” mereka dengan mematikan energi jaringannya, aku sudah siap melawan mereka. Kugunakan jaringan luar-biasa cepat yang dimiliki Telkom Speedy untuk mengejar dengan cepat pesawat yang berada di atas Distrik GSM yang produk andalannya adalah jaringan seluler berakses broadband: Telkomsel.

Alien yang ada di balik kemudi pesawat piring itu menatapku rakus, lalu menembakkan gelombang parasit yang dengan cepat kuhindari dengan kecepatan Telkom Speedy yang telah bergabung dengan diriku melalui Kekuatan Digitalisasi,”Tentu saja tidak kena!” seruku puas. Namun aku tahu aku tak bisa berlama-lama bermain-main begini, jadi kugunakan kartu SIM Telkom Flexi yang merupakan produk andalan Distrik CDMA ke dalam DigiNet di tanganku, yang begitu membaca kartu SIM yang terpasang padanya (perlu diketahui bahwa untuk setiap produk jaringan, kartu SIM akan berfungsi sebagai semacam penghubung yang akan memberikan jalan bagi arus energi jaringan) langsung kuperintahkan memancarkan gelombang CDMA ke arah pesawat.

Aku berharap bahwa perbedaan sistem dari GSM dan CDMA akan memberikan dampak yang mengacaukan pada pesawat yang dirancang khusus untuk menyerap energi jaringan GSM itu, setidaknya bisa melumpuhkan pesawat berbahaya itu. Dengan demikian, akan lebih mudah untuk menjerat pesawat yang sudah lumpuh beserta alien yang sudah terlucuti di dalamnya dengan jerat maya yang kukreasikan dari modifikasiku akan jaringan yang melumpuhkan. Baru setelah kelima penyerang kota dilumpuhkan, aku bisa mencoba untuk mengusir mereka sekaligus.

Perkiraanku pun ternyata benar karena sesaat kemudian, pesawat itu langsung bergetar dan berkedip-kedip tak karuan mengalami kerusakan parah akibat pancaran energi teknologi CDMA Telkom Flexi yang kukendalikan agar hanya “melilit” pesawat itu. Kelumpuhan itulah yang kemudian terjadi pada pesawat penyerang GSM itu, membuat alien di dalamnya tak berdaya dan aku pun bergegas menuju Distrik CDMA yang ada di dekat Distrik GSM untuk menghentikan pesawat kedua.

Penduduk di Distrik GSM lantas bersorak lega melihat berhasilnya perlawanan itu, dan sorakan-sorakan mereka itu ternyata masih bergaung hingga aku memasuki Distrik CDMA.

***

Distrik CDMA memang sekilas lebih bersahaja dibandingkan Distrik GSM dan tidak seluas Distrik GSM, namun sialnya di keadaan ini kalau saja aku terlambat sedikit lagi saja, pasti pesawat itu akhirnya akan bisa menembakkan gelombang parasitnya dalam sekali sapuan. Untungnya aku sudah tiba di saat yang pas sekali, dan kini ganti kugunakan kartu SIM Telkomsel untuk mengirimkan pancaran gelombang GSM ke arah pesawat penyerang CDMA itu. Sukses lagi! Pesawat kedua itu pun juga lumpuh seperti pesawat pertama.

Aku sadar bahwa kelumpuhan setiap pesawat tidak akan berlangsung selama itu, jadi aku harus cepat bergerak melumpuhkan pesawat-pesawat yang lain. Selanjutnya, kulakukan Digitalisasi Sebagian untuk memeriksa arus jaringan mana yang paling gawat, dan ternyata jaringan WiFi kurasakan mulai melemah! Tidak, sifat terbuka dari jaringan WiFi yang berpusat di Distrik WiFi pasti bagai penuh lubang yang mulai dimasuki gelombang pesawat Planet Gagarin yang sedang berputar cepat di atas Distrik WiFi ketika aku datang.

Berbeda dengan dua produk sebelumnya, produk di distrik kategori koneksi tidak secara langsung membutuhkan alat seperti kartu SIM layaknya produk di distrik kategori jaringan seluler. Di TelkomCity, setiap alat komunikasi yang ingin menggunakan produk koneksi hanya perlu mencari titik aktivasi dengan alat komunikasi masing-masing dan barulah energi jaringan akan langsung mengalir melaluinya.

Distrik WiFi dengan produk andalannya yaitu Indonesia WiFi (dengan penuh hormat meletakkan nama “nenek moyang” jaringan kami di produk pengembangannya, aku cukup salut), titik aktivasinya tersebar sangat banyak dan dalam situasi normal akan memungkinkan kebebasan memilih untuk punya titik aktivasi sendiri-sendiri sehingga bisa lebih cepat, namun kali ini stuasinya darurat. Aku harus membagi digitalisasiku antara dengan jaringan telefoni milik Telkom Speedy untuk menghindari tembakan gelombang parasit yang mengejarku, dan dengan jaringan WiFi dimana aku harus secepat mungkin menemukan titik yang masih belum tersentuh gelombang parasit saat memasuki jaringan itu dalam digitalisasiku.

Kedengarannya saja rumit, apalagi jika sudah benar-benar melakukannya. Kalau aku tidak berkonsentrasi penuh, aku bisa tumbang kelelahan karena pemforsiran digitalisasi dan modifikasinya yang terus berganti-ganti menyesuaikan lawan-lawanku. Meski demikian, percayalah, nama Superspeedy bukan diberikan padaku tanpa alasan.

Akhirnya kutemukan titik aktivasi yang masih selamat, dan aku menahan keberadaan digitalisasi diriku di dalamnya dan mencegat datangnya gelombang parasit untuk sampai ke sana… dan kusambut gelombang itu dengan balasan “tinju” koneksi data paket yang memiliki “sifat” berlawanan dengan WiFi karena jalur koneksinya berpusat pada satu titik aktivasi jaringan di pusatnya, dan di sinilah DigiNet-ku menunjukkan kepintarannya memancarkan gelombang data paket yang kubuat dengan mengubah sifat gelombang WiFi di titik aktivasi yang sedang “kutempati” ini. Ya, kembali pelumpuhan dengan jaringan “lawan” berhasil dilakukan!

Bisa kurasakan bahwa Kekuatan Digitalisasi menguras cukup banyak tenagaku terutama setelah strategi ini, mengubah sifat jaringan memang memakan tenaga. Namun masih ada dua pesawat yang masih belum kulumpuhkan dalam belenggu jaringan. Lagipula aku tidak boleh menyerah sekarang, setelah kuperintahkan DigiNet mengakses Speedy Home Monitoring yang kumodifikasi untuk mengecek keadaan di setiap rumah dan kota secara keseluruhan, tampak penduduk distrik yang pesawat penyerangnya sudah kulumpuhkan nampak amat lega dan mereka nampak sadar bahwa aku sedang mengawasi mereka dan tersenyum dan kembali menyemangatiku.

Aku serasa mendapat kekuatan baru dengan melihat kepercayaan mereka. Kembali kudigitalisasi diri dengan jaringan telefoni yang dimiliki Telkom Speedy untuk menggerakkan diriku dalam kecepatan super menuju dua distrik tersisa, Distrik Edukasi dan Distrik Hiburan.

***

Distrik Edukasi terkenal dengan pengembangan luar biasa yang mereka lakukan untuk memermudah pembelajaran. Dengan produk andalan mereka, Qbaca, seakan-akan gerbang pengetahuan bisa terbuka untuk siapa saja yang membutuhkannya karena produk ini mendigitalisasi banyak buku-buku pengetahuan, membuatnya dalam bentuk yang bisa terdistribusi dan diakses dengan mudah oleh yang membutuhkan pengetahuan. Bisa dibilang, distrik ini jugalah yang memegang peran besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan di TelkomCity!

Sasaran para alien Gagarin pada kedua distrik yang tersisa adalah energi besar pada server di masing-masing distrik, dan begitu juga dengan yang dimiliki Distrik Edukasi. Merupakan suatu kemalangan besar jika energi server Distrik Edukasi yang memuat semua sumber pengetahuan TelkomCity diambil alih! Bagaimana generasi penerus TelkomCity akan bisa mengakses data-data pengetahuan yang ada di dalamnya jika demikan? Itu tak boleh terjadi.

Gunakan lawannya lagi! Dengan cepat aku pun menghadang pesawat piring yang mendekati server Qbaca milik Distrik Edukasi. Aku berusaha keras untuk tidak “tersedot” dalam besarnya kekuatan jaringan server yang ada di dalamnya sementara aku sendiri tentu juga masih mendigitalisasi secara parsial, antara dengan Telkom Speedy dan dengan jaringan di dalam DigiNet. Alat pembantuku ini juga menyimpan banyak sekali data, kau tahu, dan aku pun bergegas “meraih” satu tipe data yang akan kugunakan untuk menjadi kontra server-data yang hendak diambil oleh alien itu, akan kembali kukacaukan proses parasit alien Gagarin ini.

Produk kontra yang kugunakan kali ini adalah data yang kuambil dari produk milik Distrik Hiburan, yaitu Melon Indonesia yang berjasa memberikan akses pada musik-musik kesukaan, berupa sebuah data tipe .mp3, yang sama sekali berbeda dengan data tipe .epub yang ada di server Qbaca.

Tidak boleh lambat, segera kumodifikasi bentuk .mp3 yang sudah kuraih ini untuk dipancarkan agar mengacaukan penyedotan energi server yang dilakukan para alien Gagarin. Kembali lagi pesawat piring itu lumpu, dengan alien di dalamnya terlucuti dari senjatanya untuk mem-parasit-i energi, dan jerat maya data .mp3 menahan mereka pada di tempatnya.

Sejauh ini terus berhasil, meski secara tak kasat mata aku terengah-engah setelah melakukan semua perlawanan ini.


Bagian Keempat: Yang Terakhir?

Biasanya aku akan selalu senang untuk datang ke Distrik Hiburan, di sinilah tempatnya aku bisa memanjakan kebutuhan audio-visualku. Inilah rumah bagi produk hiburan terbaik, musik dan tayangan, Melon Indonesia dan Telkom Vision. Distrik inilah yang paling berwarna-warni dari distrik yang lainnya, dan semua yang ditawarkan distrik ini selalu memberikanku kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari beratnya tanggung jawabku sebagai pahlawan setiap kalinya.

Sangat disayangkan karena kali ini aku terlalu merasa terkuraskan saat sampai ke distrik ini, karena meski digitalisasi yang kulakukan tidak mengurangi kecepatanku dan keakuratan modifikasiku nantinya, aku kira jauh di dalam, meski enggan kuakui, fisik dan mentalku sudah kelelahan.

Tidak, tapi aku tidak akan membiarkan para alien parasit ini melihat dan memanfaatkan kondisiku ini. Kupaksakan diriku dan kumantapkan determinasiku untuk menyelesaikan tugasku seperti seharusnya ketika kecepatan Telkom Speedy menjelma menjadi kecepatan di tungkai dan lenganku, membuatku amat ringan dan cepat di dalam jaringannya, membuatku terbang.

Warna-warni dan sayup-sayup nada dalam Distrik Hiburan berlalu di sekitarku ketika aku melewati semuanya untuk menuju pesawat piring yang masih aktif dan tersisakan. Jujur saja, bukan hal mudah untuk tidak mengabaikan semua “keriaan” yang dimiliki distrik ini dan berfokus pada satu pesawat piring yang membosankan itu.

Ternyata alien Gagarin di dalam pesawat piring itu pun juga nampak terpengaruh pada “keriaan” Distrik Hiburan yang menyambut mereka, pesawat piring itu nampak berputar-putar di antara server Melon Indonesia dan pemancar Telkom Vision. Agaknya bingung memutuskan mana yang lebih “lezat”. Tidak heran itu terjadi, sih, dan bagusnya situasi itu tentunya adalah itu menguntungkanku.

“Sayang sekali kalian tidak bisa memilih yang manapun dari energi jaringan kami!” seruku saat aku mengarahkan pancaran data bertipe .epub yang sudah termodifikasi ke pesawat piring itu. Ha, rasakan saja kacaunya karena semua data hiburan itu diganggu dengan data asing informasi pengetahuan ini!

Akhirnya seperti yang sudah-sudah terjadi pada pesawat piring lainnya, pesawat piring terakhir ini pun lumpuh dan “terjerat”. Semuanya berjalan dengan lancar, berbanding lurus dengan betapa terkurasnya diriku sekarang.

***

Seperti yang sudah-sudah pula, para penduduk Distrik Hiburan langsung dengan meriah menyorakiku, betapa berterimakasihnya mereka karena aku sudah mencegah para alien itu memakan energi yang dimiliki server mereka yang berharga. Jika dalam situasi normal, tentu aku akan sangat senang melihat betapa meriahnya sorakan Distrik Hiburan bergabung dengan sorakan berterima kasih yang tulus dari distrik-distrik sebelumnya. Aku sangat menghargai perasaan lega dan bersyukur mereka karena segala yang sudah kulakukan untuk melindungi “sumber daya” berharga masing-masing di saat mereka tidak bisa berbuat banyak selain melindungi diri.

“Kau hebat, Superspeedy...! Luar biasa!”
“Benar-benar tepat sasaran!”
“Kau bisa melumpuhkan semua pesawat itu!”
“Kau sudah menyelamatkan seluruh kota!”
“Terima kasih, Superspeedy!”
“Banyak terima kasih...”

Dari tempatku berada sekarang, tinggi di atas menara kantor walikota setelah melaporkan “pekerjaanku”, aku sulit menemukan kata-kata. Melihat paduan dari “hasil kerjaku”—kelima pesawat piring yang terjerat dan hanya sanggup mengeluarkan pendar lemah--- serta penghargaan atas “hasil kerja” itu yang berupa (rasanya) semua penduduk dari distrik mana saja yang berkumpul, melompat-lompat dan bersorak-sorai, serta tepukan di belakang bahu yang kebapakan dari Pak Walikota... selama sejenak yang bagai siraman air sejuk, aku melupakan segala keletihanku.

“Kalian semua telah saling menyelamatkan distrik di kota ini, aku hanya membantu...” kataku tanpa bermaksud mengabaikan penghargaan mereka. Katakanlah, aku hanya mengatakan faktanya,”setiap pesawat yang datang menyerang dilumpuhkan dengan pengacauan memakai lawan dari sifat setiap produk distrik, seperti yang kalian tahu. Tataplah saudara-saudara kalian di distrik lain, hasil karya kebanggan kalian telah membuat kalian menjadi saling menyelamatkan pada akhrinya...”

Selanjutnya semuanya terasa bercampur baur, entah apa yang kudengar, apa yang kulihat... segalanya mulai mengabur...


Bagian Kelima: Dalam Genggaman

Tiba-tiba saja aku mendapati keterkejutan massal penduduk TelkomCity yang beralih mengeluarkan seruan panik dan khawatir ke arahku. Bingung pada mulanya, namun dengan cepat aku sadar bahwa ternyata aku jatuh terduduk kelelahan di depan mereka semua. Memalukan juga, padahal aku sudah bertekad tidak akan terlihat seperti ini setelah aku melakukan “pekerjaan”ku. Apa kata dunia?

Hanya saja rasanya menyebalkan sekali karena aku sadar betapa bandelnya tubuhku yang tidak tahu malu menunjukkan betapa sudah “terkurasnya” tenaga yang dimiliki. Selanjutnya aku menemukan diriku cukup kesulitan menegakkan tubuhku dan menjernihkan pandanganku, ditambah dengan ucapan,”Aku... tidak apa-apa!” yang terdengar tidak meyakinkan.

“Ini... belum selesai, mereka harus... diusir. Aku harus mengusir mereka.” kataku berusaha tidak mengindahkan reaksi badaniahku yang berkhianat. Katanya pahlawan... Sshh!

“Jangan, Superspeedy! Biarkan kami membantumu!”
“Kami tidak akan membiarkanmu melawan sendirian!”
“Kami akan ikut!”

Para penduduk nampak sangat bersungguh-sungguh mengatakan semua itu, dan aku kembali merasakan sensasi ringan ketika menerima semua seruan dan dukungan mereka yang tulus itu. Untuk berkonsentrasi, kukepalkan tanganku. Sudah lama menjadi kebiasaanku untuk melakukan digitalisasi untuk menemukan lebih banyak “kekuatan” karena sifat jaringan selalu kuat ketika bergabung denganku. Begitu pula di saat itu, saat aku mengepalkan tanganku, namun entah kenapa tiba-tiba ada yang terasa sedikit berbeda.

Entah itu adalah sebuah bimbingan tak kasat mata dari leluhur, atau apapun itu, mendadak saja aku merasa benar-benar “terbangun” dalam bagaimana aku merasakan digitalisasi yang terpusat di genggaman tanganku itu. Semua jaringan di kota, entah kenapa serasa bersatu untuk membangunkanku pada sebuah penyadaran.

“Kita... kita akan mengusir mereka bersama! Bukan Superspeedy yang akan mengusir mereka dan mengakhiri semua ini, namun... TelkomCity lah yang akan melakukannya.” kataku lantang, mantap. Seketika itu pula para penduduk memfokuskan diri padaku, sepenuhnya mendengarkanku, memercayaiku.

“Ini mungkin agak berbahaya, karena aku akan meminta kalian menghubungkan diri kalian dengan jaringan-jaringan produk yang kita miliki di sini untuk melakukannya. Distrik GSM, Distrik CDMA, Distrik WiFi, Distrik Edukasi, dan Distrik Hiburan... gabungkan sinyal alat komunikasi kalian dengan rumah dari setiap produk kebanggan kalian,” aku mulai berkata,”aku meminta kalian untuk keluar dari perlindungan kalian dan mulai melawan mereka bersama-sama.”

Aku tidak akan melebih-lebihkan kejadiannya dengan menggambarkan pada kalian bahwa semua penduduk kemudian lantas setuju atas apa yang kukatakan, aku melihat raut cemas mereka, aku tahu mereka takut mendengar gagasanku. Tentu saja aku tidak menyalahkan mereka untuk itu, namun di situasi yang harus segera dibereskan ini, berbekal dengan penyadaran yang terasa dalam tanganku yang masih tergenggam, aku memilih memercayai apapun “insting” ini.

“Percayalah... percayalah padaku, TelkomCity.”

Tidak bisa digambarkan bagaimana tersentuhnya aku ketika sontak saja semua langsung menjawab, “Ya, kami percaya padamu, Superspeedy!” tanpa keraguan sama sekali.

Alat komunikasi tiap penduduk diaktifkan, transmisi yang semula dimatikan kini dinyalakan, setiap perangkat komunikasi menghubungkan diri dengan jaringan atau server distrik masing-masing. Aku menarik nafas dalam, berusaha tidak goyah memikirkan betapa besarnya aktivasi energi jaringan kota yang dipertaruhkan dengan ini. Meski demikian, gelitik ganjil yang kurasakan dalam tanganku yang masih terkepal membuatku yakin bahwa semua ini benar. Bahwa apa yang kulakukan ini... pantas untuk dicoba.

Kembali kulakukan digitalisasi, menjadikan diriku menjadi satu dengan jaringan TelkomCity. Langsung saja kurasakan banyaknya “anggota” yang ada dalam setiap jaringan, setiap data yang mengalir di dalamnya, aku bisa merasakan penduduk TelkomCity, semuanya. Betapa besar kekuatan yang ada dalam jaringan TelkomCity karena itu.

Selanjutnya untuk menggambarkan apa yang kulakukan, lebih baik kugunakan kalimat-kalimat penggambaran untuk menjelaskannya padamu. Dalam digitalisasiku dengan jaringan TelkomCity, aku seperti membuat setiap penduduk yang ada dalam jaringan dalam TelkomCity (terwakili dalam keterhubungan perangkat komunikasi mereka) untuk “menyatukan tangan” mereka denganku.

Kugabungkan kekuatan yang mereka sumbangkan ketika mereka menghubungkan perangkat mereka ke jaringan atau server distrik masing-masing. Semua itu kulakukan dalam digitalisasi sedemikian rupa yang pada akhirnya kupusatkan pada telapak tanganku yang terkepal sedari tadi, dan aku bisa merasakan besarnya kekuatan yang mengalir di sana. Kekuatan di tanganku begitu besarnya, dan begitu terhubungnya dengan setiap jerat maya yang menahan setiap pesawat piring yang terlumpuhkan. Tidak lain karena kekuatan besar itu terbuat dari komponen jaringan yang menjadi jerat maya itu.

Dengan terpusatnya energi jaringan yang sangat besar itu melalui tanganku, kami seluruh TelkomCity pun akhirnya melempar keluar “tamu-tamu” itu jauh-jauh. Ancaman itu pun akhirnya hilang dari dunia kami, dunia kecil kami, TelkomCity.

Selamatkan dunia, dengan menjadikannya satu di tanganmu.

Friday, May 04, 2012

drabble #1 and this is of Seungri BIGBANG^^

Prompt: Strategi/Strategy
Fandom: BIGBANG
Chara: Seungri (Lee Seunghyun)



Lee Seunghyun tidak akan setengah-setengah jika sudah menyangkut suatu hal yang berkaitan dengan "kemenangan", maksudnya, dalam kasus apapun, kemenangannya. Katakanlah ambisius, namun dengan sederhana biarkan dirinya menyebutnya sebagai suatu kebiasaan.

Ya, kebiasaan untuk selalu menang.

...kenapa tidak?

Namun ketahuilah jika kemenangan bukanlah keberuntungan baginya, karena baginya, kemenangan datang dari persiapan, maka tariklah kesimpulan bahwa dirinya selalu siap, siap untuk menang. Keberadaan dirinya dalam BIGBANG Project ini dimaksudkan untuk menjadi pemenangnya, bukan menjadi pecundang yang tersingkir dan tak bisa membuktikan kesiapan dan kemauan yang dimilikinya.

Boleh saja berkata, namun kenyataannya situasi yang ada pada dirinya sekarang bisa dibilang berada di ujung tanduk, nyatanya dirinyalah yang menjadi dua terbawah, dua yang bisa saja tersingkir dengan mudahnya sesuai keinginan seorang Yang Hyun Suk. Berdiri bersisian dengan Jang Hyunseung, berbagi posisi tak melegakan ini.

Maafkan aku, tapi aku di sini tidak untuk kalah, hyung...

...tidak ingin memandang wajah hyung-hyung yang terpilih sebelum ia merasa dirinya sendiri berhak. Sebelum dirinya sendiri berada sejajar dengan mereka.

Lalu bagaimana? Satu-satunya cara adalah tidak memberikan cela pada apapun penilaian akhir yang menentukan segalanya. Siap saja tidak cukup, karena pemenang akan menjadi satu yang mutlak di atas yang lain, maka itu, seorang pemenang juga butuh strategi, itu disadarinya. Ya, maka, dengan mengerahkan setiap genggam kepercayaan diri dan keyakinan hatinya, Lee Seunghyun berniat untuk membuktikan segala yang dimilikinya pada apapun yang diminta sebagai bahan pertimbangan terakhir.

Itulah strateginya, yang disiapkannya sebagai senjata terakhir untuk mendefinisikan kemenangannya.

Lalu, adalah lima alasan jelas yang ia utarakan pada Yang Hyun Suk untuk meneguhkan kepantasannya sebagai seorang anggota dalam BIGBANG, seorang maknae yang akan memberikan segalanya yang terbaik, satu di antaranya ia biarkan tak jelas terdefinisi dalam kalimat untuk meyakinkan sang penentu keputusan akhir bahwa dirinya tidak akan berhenti untuk melakukan kemenangan-kemenangan besar.

Strateginya, ialah menunjukkan kekuatan dirinya, keyakinan hati dan kemampuan diri yang terintegrasi dalam dirinya, yang kemudian diutarakan dalam kesungguhan akan realisasinya.

...dan itulah, sebuah awal bagi Lee Seunghyun untuk sesuatu bernama kemenangan; bagi mereka yang siap, bagi mereka yang tahu strateginya.


Friday, September 16, 2011

Saat matahari terbenam...

Saya sedang ingin sedikit me-random ria saja. Berkaitan dengan satu hal yang belakangan ini cukup saya minati di waktu senggang, atau waktu yang secara tidak bertanggung jawab disenggangkan yaitu Roleplaying Text-Based xDb Di sini hanya sekedar bikin semacam gambaran tentang chara-chara original saya yang memang terhitung seiprit kalau dibandingkan yang sudah senior-senior... But let me introduce them, shall we? ...you can't stop me either, LOL.


original characters of an absolute relative  
 
* on IndoOlympians
  Chelsea Morning-Young
the eldest one; bukan yang terbaik, tapi banyak hal yang selalu membuat saya tersenyum tentang dia, dengan segala 'kecerahan' sifatnya dan kebebasannya (: just another daughter of The Messenger.
 
- Milano Costa Soledad 
the eldest son I've made; satu-satunya yang, meskipun barangkali tidak terlihat dan berhasil, saya sisipi sebagian perasaan-pandangan saya di sisi yang cenderung melankolis :"> thankfully a son of the Love Goddess; satu-satunya chara yang disebutkan di sini yang sudah di-plot telah mempunyai pasangan nantinya :">
 
* on Ryokubita
- Azayaka Manami 
'anak' kedua-atau-ketiga yang rancu dengan nama di bawahnya^^a karakter yang dibangun dari sesuatu yang bisa dikatakan semacam bayangan saya akan kelembutan, dan barangkali sedikit kerapuhan? Tipikal yang terkesan, yah, tidak unik, meskipun saya juga tidak bilang bahwa chara yang lain bisa dibilang unik^^a but in someways, she had my smiles too. 
 
*on Atlantis
- Katrina Alandra Rowandor 
tidak bisa memutuskan apakah dia termasuk chara yang berhasil sesuai keinginan, hehe. Satu-satunya chara yang saya rancang tidak 'sebaik' yang lain karena dia punya semacam sisi yang kaku, sisi yang lebih sinis, dan saya bisa dibilang memberikan cukup banyak 'sisi diri' saya yang lain kepadanya (: 


dan ketika mereka melihat matahari terbenam...

Wednesday, August 17, 2011

RPF-fiction #1

Seorang Wanita dan Pria Berseragam Loper Koran

a fiction based on Percy Jackson and The Olympians story © Rick Riordan and IndoOlympians RolePlay Forum © the Staffs

Characters belongs to me: Gerbera Morning-Young, Chelsea Morning-Young, Christopher Laughlin, and Ernest

All rights reserved except the ones stated belongs to me.



Gerbera Morning-Young memulai harinya dengan hal yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari ibu lainnya; wanita paruh baya dengan mata teduh dan senyum yang selalu hangat merekah itu akan bangun di saat kota kecil yang ia tinggali itu bahkan belum sepenuhnya terbangun, dan melakukan hal-hal mulia yang biasanya seorang Ibu lakukan. Pertama-tama mungkin dia akan menyalakan lampu dapur (yang sekarang-sekarang ini sakelarnya mulai agak macet...), kemudian menyeduh seteko air panas dan secangkir teh untuk dirinya sendiri―biasanya dia akan menyeduh teh hijau karena itu kesukaannya―tapi juga tak lupa menyiapkan satu cangkir lagi untuk suaminya―kali ini teh hitam yang harum karena dia hafal betul kalau memang itu yang biasanya suaminya minum.

Hari itu dia hanya menyiapkan satu lagi cangkir karena anak perempuannya sedang tidak ada di rumah selama musim panas ini, padahal biasanya dia juga akan menyeduh satu lagi teh hangat untuknya.

Lalu, wanita berhelai pirang panjang itu akan menghabiskan sejenak waktu untuk menikmati teh hijaunya, terkadang sembari bersenandung kecil di antara hirupannya, namun hari itu juga―seperti yang biasa dilakukannya di hari-hari musim panas; dia melakukannya sembari tersenyum memikirkan anak perempuannya yang sedang berada di negara bagian lain, berharap putrinya itu akan baik-baik saja, dan tetap berbahagia melakukan apapun di luar sana. Mengingat hal ini biasanya akan membuatnya sedikit sedih, karena sejujurnya dia selalu merindukan saat bersama putrinya itu karena mereka selalu bangun di saat yang sama di pagi hari; dan ya, mereka berdua akan menyiapkan banyak hal bersama-sama. Tapi untuk hari-hari di musim panas, seperti hari itu, banyak hal akan terasa sedikit berbeda.

Ketika berkas-berkas matahari pagi sudah menjadi semakin hangat dan terlihat mulai mengetuk-ngetuk birai jendela-jendela, dia akan dengan murah hati membuka jendela-jendela itu, membiarkan sentuhan sinar matahari menyapu rumahnya yang tidak terlalu besar, tapi selalu hangat dan nyaman―selain fakta bahwa rumah mungilnya itu juga merangkap sebagai toko bunga yang ia jalankan sejak dulu; dan sinar matahari pagi tentulah akan sangat baik bagi bunga-bunganya... aster, gladiol, bakung, mawar, dan freesia; tanpa bisa ditahan, senyumnya pun tetap merekah sehangat cahaya matahari yang menembus jendela-jendela.

Langkah-langkahnya akan mengarungi seisi rumahnya dengan kasih dan rasa syukur, ketika kadang-kadang ia mungkin memutuskan untuk menyapu dan mengelap beberapa bagian rumahnya; memastikan semuanya bersih dan tertata―sebelum kembali masuk ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan yang akan membuat keluarganya tersenyum dan bersemangat menjalani sisa hari itu.

Oh, tapi biasanya dia akan membuat sarapan setelah ia selesai mandi dan mengganti gaun tidurnya dengan terusan sederhana yang anggun; entah kenapa dia suka menganggap bahwa sarapan adalah hal penting yang harus disiapkan dengan kesiapan yang baik, dan pikiran bahwa sebentar lagi mungkin keluarganya akan bangun dan mulai merayap ke dapur secara naluriah untuk mencari makanan… dia ingin menyapa mereka di pagi ini dengan sebaik mungkin; dalam kapasitas yang paling bisa terpikirkan olehnya.

Menu sarapan paginya akan sederhana saja, seperti omelet isi, panekuk, bacon, sosis, layaknya sarapan orang Amerika biasanya… dengan tambahan setumpuk bitterballen isi keju dan daging yang selalu dimasaknya karena itu adalah makanan favorit putrinya. Dan seperti setiap santapan dari tangan seorang Ibu, aromanya dan segala sesuatu dari hidangannya akan menggugah selera, membangunkan anggota keluarga yang masih terlelap; terkantuk-kantuk mengandalkan wangi hangat masakannya sebagai penunjuk jalan…

…dan Gerbera hanya akan menoleh, seraya menyapa dalam senandung riang, “Selamat pagi! Duduklah, sarapannya sudah hampir jadi!”

Pagi itu sosok terkantuk-kantuk yang beruntung menerima dentang suara riangnya adalah Christopher Laughlin, tak lain dan tak bukan adalah suami Gerbera sekarang. Secara biologis sebenarnya Christopher bukanlah ayah dari anak perempuannya yang sekarang ada di negara bagian lain itu, namun kehadirannya di keluarga Morning-Young sudah terasa seperti sosok seorang Ayah yang menyenangkan; meskipun mungkin ada alasan tersendiri bagi putri semata-wayang Gerbera untuk menganggap pria paruh baya berambut cokelat masai itu menyenangkan, yaitu pada sosok rakun menggemaskan yang baru saja melompat lincah dari bahu Christopher.

“Baunya enak sekali, Gerbera…!” puji Christopher senang meskipun matanya masih belum sepenuhnya terbuka, tangannya mulai mengambil panekuk,”rasanya aku akan bersemangat sekali nanti di kantor, tidak peduli apakah Bos Tua itu protes lagi tentang ilustrasiku yang menurutnya ‘terlalu mengada-ada’ atau apa…”

Christopher adalah seorang illustrator lepas yang cukup sering berpindah-pindah tempat kerja, dan terlihat nyentrik dengan gaya rambut masainya dan rakun peliharaannya (namanya Ernest), namun matanya berwarna hijau menyenangkan, dan senyumnya juga baik hati. Pria yang sebenarnya lebih muda beberapa tahun dari Gerbera itu agaknya memang cukup idealis dalam aliran seninya, dan tak semua orang bisa betul-betul memahaminya meskipun sebenarnya ia cukup berbakat.

Tersenyum, Gerbera menatap suaminya dengan kerlip penuh makna di matanya, “Aku yakin harimu akan hebat, Chris,” katanya yang terdengar seperti senandung. Wanita itu kemudian mengelap tangannya yang basah sehabis bercucui tangan setelah menyelesaikan rangkaian persiapan sarapan paginya, menelengkan kepalanya menatap sosok berbulu Ernest,”Ernest tidak kau beri sarapan?” tanyanya.

Christopher hanya mengedikkan bahu, bergumam,”Dia masih belum juga paham kalau ada saat di mana Chels tidak memberinya makanan spesial gratisan…” ―di sini pria itu mengedip ke arah Gerbera, sama-sama tahu perihal betapa misteriusnya Chelsea―putri Gerbera dan berarti putri Christopher pula; yang senang berbagi dengan Ernest bermacam makanan yang sudah jelas asalnya bukan dari dapur Ibunya,”nanti kuberi kok, tenang saja.”

Terkekeh kecil, Gerbera bergerak di sepanjang konter untuk merapikan ini dan itu,”Ah… jangan coba-coba menebak tentang putri kita itu, Chris; apalagi soal yang seperti itu, kau tahu? Aku juga tidak akan banyak membantumu seperti biasanya kalau kau mulai mengajak bertebak-tebakan seperti tadi!”

Christopher tergelak, meskipun terlihat agak salah tingkah,”Well, aku hanya penasaran, itu saja… Dan bertanya padanya juga dia biasanya dia hanya menjawab sambil terkekeh-kekeh kalau semuanya gratisan dia dapatkan…” Pria berambut cokelat masai itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal,”Ah, tapi toh aku senang karena dia juga sering membaginya untukku! Anak yang lucu sekali… Ernest sayang sekali padanya dan aku juga senang soal itu, karena kau tahu ‘kan, kadang Ernest harus diajak main dan kadang aku punya deadline…”

Gerbera, yang tidak melunturkan senyum hangat itu dari wajahnya, kali ini tidak memberikan banyak tanggapan pada ocehan Christopher yang semakin melebar selain dengan gelengan kepala geli; hanya mulai melangkah menuju bagian depan rumah untuk mengecek antaran koran pagi, mengambil eksemplar-eksemplar yang dilemparkan ke halamannya kalau semisal lopernya tadi sudah lewat.

Di luar langit nampak cerah dan ada angin sejuk bertiup, hujan deras tadi malam nampak meninggalkan bekas-bekas yang membawa kesegaran menyenangkan di halaman rumahnya; rerumputan hijau nampak berkilauan, ada harum tanah sehabis hujan dan rumput basah yang menyegarkan di hirup, dan langit nampah bersih dari awan-awan tebal.

Gerbera Morning-Young mulanya mengintip keluar terlebih dulu, menikmati kesederhanaan itu dan menghirup nafas dalam-dalam; di luar kelihatan masih sepi, tapi…

…ada sebuah sepeda dan seorang pria berseragam loper koran, dan pria itu tersenyum dari depan pagarnya.

Yang pertama kali mampir di benak Gerbera adalah, dia tidak tahu ada loper koran yang akan datang dengan cara begini di depan pintunya. Dan kemudian setelah satu demi satu langkah maju, ketika tanpa sadar kakinya yang telanjang menyeberangi halaman berumputnya didorong oleh rasa penasaran, Gerbera akhirnya bisa melihat pria itu lebih dekat, dan lebih jelas.

Pria itu seolah-olah diselubungi aura keemasan yang berpendar tipis, yang terlihat tak ada hubungannya dengan seragam loper koran yang sedang dipakainya. Tubuhnya atletis, mata dan senyumnya memancarkan siratan ekspresi tak tertebak, jahil meskipun sebenarnya wajahnya bisa dibilang tampan. Gerbera tak berkedip memandang sosok itu selama beberapa lama, karena secara mendadak terkejut melihat ada sebuah kemiripan dalam kerlip mata dan senyuman lelaki itu dengan putrinya yang sangat ia sayangi.

Dan itulah yang membuatnya tak sanggap menahan diri untuk berkata tertahan, “Hermes…? Kaukah ini?” sementara matanya nampak bersinar terkejut dan senang sekaligus bahkan ketika wanita itu sudah mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Pria itu tidak langsung menanggapinya, namun hanya bertahan pada senyuman―atau cengiran, seperti lebih tepatnya begitu―dan tatapan yang entah kenapa terasa semakin mirip dengan sosok putrinya, Chelsea Morning-Young.

Gerbera tidak pernah salah mengenali senyum dan kerlip mata itu, sekalipun tidak.
“Tentu saja ini aku, Gerbera,” pria itu menjawab dengan nada yang terdengar ceria,”tidak bolehkah, aku sesekali berkunjung?” lanjutnya sembari terkekeh,”apa kau lupa bahwa aku sangat menyukai kotamu, dan rumahmu ini?”

Masih terkejut, tapi sudah lebih mengendalikan dirinya, Gerbera lambat-lambat mengulurkan tangannya yang ramping menuju bahu pria berseragam loper koran itu, menyentuh lembut bahu bidang di baliknya,”Aku senang sekali, sudah lama sekali, kau tahu?” tanyanya lirih, senyum hangatnya mengembang,”masuklah! Aku baru saja membuat sarapan…”

“Tidak, tidak usah, Gerbera-ku yang manis. Kau tahu aku ini… sibuk, ‘kan? Ini dan itu, harus kemana-mana…”

Hermes melebarkan senyumnya lagi, bersikap seolah-olah baru saja mengatakan sesuatu yang lucu sekali tentang dirinya, meskipun ada sorot meminta maaf yang tergambar dalam ekspresinya,”Maafkan aku, Gerbera… Kalau memang bisa, tentu saja aku―”

“Jangan meminta maaf, aku mengerti apa yang kau alami. Kau punya tugas penting, selalu punya tugas yang penting; banyak sekali yang memercayakan banyak hal kepadamu…” sela Gerbera lembut, baru saja hendak melepaskan tangannya dari bahu Hermes ketika nyaris di saat bersamaan Hermes menahan posisinya dengan satu gerakan tangkas dan mengedip jahil kepadanya.

“…tapi tidak bisa dipungkiri… aku, dan Chelsea… yah, kami merindukanmu,” lanjut Gerbera perlahan, senyum hangatnya sedikit diwarnai sipu malu, yang lantas membuat Hermes semakin melebarkan senyumannya. Bahkan kali ini terdengar kekehan bernada berat yang meluncur dari bibirnya.

“Hei, aku pun begitu. Itu sebabnya aku kemari, kau tahu…?” ujar Hermes, masih menggenggam sebelah tangan Gerbera di bahunya. Sebagai jawabannya, Gerbera hanya kembali membiarkan matanya meneliti sosok pria berseragam loper koran itu.

“Pekerjaanmu…” ujar Gerbera lagi,”kau menikmatinya ‘kan, meskipun barangkali berat… Kukira kau akan menikmatinya, mengingat Chelsea, dia suka sekali jalan-jalan…”

Kerlip mata Hermes nampak semakin cemerlang ketika Gerbera baru saja menyebut nama putri semata wayangnya,”Ah! Chelsea… Dia sudah besar, aku senang sekali bisa melihatnya sekali-sekali, sedang berlatih di Perkemahan. Yah, meskipun memang benar, dia lebih banyak terlihat berkeliaran dibandingkan berlatih, kau tahu…” kekeh Hermes geli,”sepertinya memang sudah turunan. Dan toh, kurasa dia memang sudah cukup lihai dalam banyak hal...”

“Ya, dia sering melakukan hal-hal yang mirip dengan yang kau lakukan; mengantar bermacam-macam paket bunga, dan dia juga pandai sekali ternyata membujuk-bujuk pelanggan untuk selalu datang lagi, memesan lagi, entah bagaimana, sedikit banyak kurasa dia memang mirip denganmu,”jawab Gerbera, tatapannya mulai melambung menuju langit bersih yang menanungi, seolah akan dapat melihat sosok putrinya di sana,”dia juga suka sekali bitterballen buatanku; yang membuatku senang juga, karena sejak kau pergi aku masih tetap bisa terus membuatnya untuk orang yang paling kusayangi.”

Hermes terdiam sejenak, hanya menatap Gerbera dalam pandangan dalam yang penuh arti,”Melegakan sekali, mengetahui sepertinya kalian berdua bahagia; dan bisa kulihat, kau juga nampak senang bersama laki-laki berambut cokelat masai itu, begitupun Chelsea,” ujar pria itu ringan meskipun kerlip geli di matanya sekarang agak diwarnai rona-rona sendu. Gerbera nampak salah tingkah, mengerjapkan matanya lagi dan membuka mulutnya seakan hendak mengatakan sesuatu, namun urung; wanita itu pun hanya membalas senyum pria di hadapannya itu dengan rona kesenduan yang sama.

“Apapun, kau lah Ayah Chelsea, Hermes. Tidak ada alasan bagiku untuk mengurangi besar rasa sayangku terhadapmu. Tidak peduli tentang… misalnya siapa dirimu, atau bagaimana keharusan takdir terhadap… keluarga kita. Kau, aku, dan Chelsea; kita adalah keluarga, bagaimanapun itu…” akhirnya Gerbera berkata, lambat-lambat, sembari memertemukan pandangannya dengan pandangan pria berseragam loper koran yang masih menggenggam tangannya. Tatapannya yang lembut dan teguh dibalas dengan tatapan hangat dari Hermes, yang akhirnya kembali mengembangkan senyuman―atau cengirannya yang dulu sempat akrab sekali di mata Gerbera.

“Kau, aku, dan Chelsea…” ulang Hermes dalam senyuman dan tatapannya,”tentu saja.”

Tanpa disadari, senyum dan tatapan Gerbera menjadi seolah senada dengan milik pria di depannya itu. Diterangi sepuh emas cahaya matahari yang membuat helai-helai pirangnya terlihat berkilauan, pipinya nampak merona.

“Aku yakin… kau juga sudah banyak menemukan kebahagiaan di tempat lain, Hermes. Chelsea banyak bercerita kepadaku… dia senang mengetahui dirinya punya banyak saudara di perkemahan.” Kata wanita berhelai pirang itu, diselingi tatapan lembut dan sedikit percik nada geli dalam suaranya; yang membuat Hermes nampak salah tingkah,”aku juga merasa lega, mengetahui bahwa kau mempunyai banyak sekali sumber kebahagiaan… keluarga-keluarga yang kau sayangi. Entah apakah ada hubungannya dengan pekerjaanmu yang memang membuatmu dekat dengan dunia ini, namun aku senang; kau mempunyai banyak kebahagiaan yang tersimpan di sini, meskipun kefanaan kami jelas berbeda dengan keimortalanmu. Jangan tersinggung…”

“Jelas tidak, Gerbera. Betapa aku sangat menghargai dan merindukan caramu menyayangiku. Itu, adalah hal yang selalu senang kukenang di sela-sela tugasku yang takkan pernah betul-betul surut, kau tahu?”
Kekeh Hermes,”ah, dan siapa yang akan bisa melupakan nikmatnya bitterballen buatanmu? Terkadang ingin sekali aku meminta Chelsea berbagi denganku kalau melihatnya sedang asyik melahapnya. Meskipun setiap kali dia selalu memberikan itu untuk persembahan, rasanya rindu juga pada yang asli, bukan asapnya saja seperti biasa…”

Gerbera tertawa geli, kemudian melemparkan tatapan sekilas ke arah pintu rumah yang sedikit terbuka,”Aku sering sekali memasaknya, terutama di saat Chelsea sedang tidak di rumah… Apa kau mau?”

Mata Hermes nampak berbinar lebih cerah ketika dengan gerakan lembut, Gerbera melepaskan tangannya dari genggaman pria itu (meskipun dilepas dengan sedikit keengganan…) dan mulai bergerak gesit memasuki rumah mungilnya kembali. Dan sesaat kemudian wanita itu datang lagi dengan sebuah wadah kecil yang jelas berisi bitterballen yang masih mengepul.

Diulurkannya wadah itu kepada Hermes, yang menerimanya dengan sumringah dan lantas menyimpannya dalam sakunya,”Terima kasih, aku senang sekali,” katanya riang, menepuk-nepuk wadah itu dari balik lapisan kain yang melindunginya sekarang,”dan tidak akan kubiarkan George dan Martha melahap ini. Awas saja.” Gumamnya lebih pelan, melirik pada sebuah tas yang dicantelkan di setang sepedanya, di mana kemudian terdengar desis kecewa dari sesuatu di dalamnya.

Gerbera, yang memerhatikan semua itu, hanya kembali mendentangkan tawa gelinya, “Tidak apa-apa, aku memberimu cukup banyak. Kalau kau mau, kau bisa kapan saja meminta lagi padaku…” wanita itu berkata lembut sembari kembali mengulurkan tangannya untuk menepuk lembut sisi wajah Hermes; yang tersenyum semakin cemerlang ketika wanita itu melakukannya, kemudian kembali menahan tangan ramping wanita itu dengan tangannya yang besar. Kembali, kerlip geli di mata pria itu mendominasi, senada dengan senyumannya.

“Kalau begitu, lain kali… Aku akan punya alasan untuk datang lagi,” kekeh Hermes, nampak puas seakan-akan baru saja mengetahui sebuah lelucon baru untuk diceritakan pada orang lain… Meskipun tentunya hal-hal yang sedang dibicarakannya ini bukannya sebuah lelucon,”kuharap kau dan Chelsea selalu berbahagia, meskipun aku bukan Ayah yang benar-benar baik. Aku menjaga kalian, kau harus tahu itu; dan yang lebih penting, aku menyayangi kalian. Selalu.”

Perubahan ekspresi Hermes yang terlihat begitu cepat beralih dari geli menuju serius bersungguh-sungguh membuat senyuman Gerbera sedikit diselipi tawa geli lembut. Wanita berhelai pirang itu menatap sosok pria berseragam loper koran yang masih menggenggam lembut tangannya itu dalam dan lama, seakan berharap dapat meninggalkan sesuatu melalui senyum dan tatapannya.

“Kau harus pergi lagi, bukan?” tanyanya lembut, kembali dengan lembut melepaskan tangannya dari genggam kokoh pria di hadapannya meskipun terlihat ada selintas keengganan di sana,”terima kasih atas segalanya. Dan berbahagialah, Hermes… Terhadap apa yang kau kerjakan, dan apa yang kau punya.”

Hermes sudah mulai melangkah mundur, dan setelahnya memosisikan diri di atas sadel sepedanya meskipun tatapan dan senyumannya tetap lekat mengarah pada wanita berhelai pirang yang sangat disayanginya itu,”Kau, aku, dan Chelsea. Juga bitterballen mu yang istimewa,” ucapnya seperti sedang bercanda meskipun matanya nampak bersungguh-sungguh, seolah berusaha menghibur suasana; atau mungkin menghibur dirinya sendiri,”dan bergembiralah, Gerbera. Kau tahu aku pun akan sangat bahagia bisa ikut merasakan kegembiraan yang kau rasakan.”

Dan itulah kata-kata terakhir yang Hermes ucapkan persis ketika sepedanya mulai dikayuh, perlahan bergerak menjauhi pagar rumah mungil Morning-Young.

“Selamat jalan, Hermes…” bisik Gerbera, membiarkan tatapannya mengikuti ke mana sepeda itu mengarah sampai akhirnya tak terlihat di kejauhan, dan menjadi betul-betul menghilang bersamaan dengan merekahnya cahaya menyilaukan di kejauhan.

Di suatu pagi… ada sebuah sepeda dan seorang pria berseragam loper koran, dan pria itu tersenyum dari depan pagarnya.



F.I.N
17/08/11