Friday, October 19, 2012

VIP Journey: Before and After The Stage-Lights

Seperti yang sudah saya janjikan dalam post berlabel VIP Journey sebelum ini ;p Sebenarnya, banyak sekali hal yang terjadi dan banyak sekali rasa yang kayaknya jika diceritakan tidak akan bisa benar-benar menggambarkan... dan saya kira bercerita terlalu panjang lebar dan kronologik mungkin agak un-necessary. Kemungkinan besar akan ada lebih banyak orang yang bisa menuliskan pengalaman mendetilnya menonton BIGBANG Alive Tour 2012 di Indonesia kemarin dengan lebih menarik dan baik dari saya (: just happy googling if that’s what you look for, like I did when I am lackingly tried to “surveyed” how’s a concert in MEIS feels like and I’ve read a couple of SuperShow4 Indonesia fan-account posts out there. Konser kemarin... luar biasa, dalam segala perasaan undescribable yang terasa saat lampu panggung masih mati dan dimatikan lagi.
...like, "I don't know what to say no more...?"
Sebelum semuanya dimulai, dan kedatangan saya bersama kak-adik dan Ibu (ya! Ibu saya menemani kami bertiga menonton boyband asing yang sama sekali tidak dikenalnya :’) yang sedikit terburu karena keterlambatan jadwal pesawat dan kondisi lalu lintas yang agak kurang mendukung akhirnya menyuguhkan kami pada our best seat in that night.


Saya melihat sekeliling stadium yang pelan-pelan mulai terisi dengan orang-orang dan atribut penggembira serba-kuning, yang sebenarnya tidak terkecuali saya, sih...

Tahu perasaan aneh ketika kamu merasa sedang tidak berada dalam dunia nyata karena... di sekitarmu, apa yang terlihat, terasa, dan dialami terasa lebih akrab di angan-angan? Waktu itu dengan suatu dazzled feeling, rasanya perlahan-lahan sekali saya mencerna kenyataan bahwa saya BENAR-BENAR AKAN MENONTON BIGBANG. Bukan sebuah layar yang mengirimkan pantulan visual ke retina mata saya!

Saya melihat atribut di sekitar saya (crown-headband yang saya pakai dua buah di kepala serta kaos penggemar resmi dari BigBang Indonesia, plus empat buah handbanner), mendadak terbayang hari-hari di mana semua atribut itu terasa agak “janggal” dibanding ke-regular-an semua benda di rumah =))...dan sebentar lagi saya akan menggunakan semua atribut itu SEPERTI ORANG YANG BENAR-BENAR MENONTON KONSER.

Layar besar di sebelah kanan menampilkan rentetan musik video dan tayangan iklan sponsor, dan meski saya pertamakalinya agak nggak “ngeh”, saya akhirnya ikutan overwhelmed dalam perasaan dan ekspresi verbal pada apa yang sebenarnya sudah biasa dilihat (musik video-musik video itu) karena sadar bahwa YANG ASLI SEBENTAR LAGI AKAN BISA DILIHAT.

**

Lalu dimulai, dan saya ada di antara cahaya lightstick dan lampu panggung yang menyilaukan, menjadi bagian dari hal yang sempat saya angan-angankan dalam hati.


Posisi VIP memang rupanya tidak membuat saya dalam posisi yang bisa sedekat mungkin, namun biar saya beri tahu ya, mengutip sedikit dari perkataan Ibu saya; posisi ini seakan memberikan sedikit distant-view yang bisa kamu nikmati untuk dirimu sendiri.

Posisi VIP ini tidak akan mengharuskan kamu untuk terlihat terus excited, tapi dari posisi itu, meski tentu saja kamu tidak akan bisa menghindar untuk tidak terpengaruh “euforia” crowd”, dijamin kamu akan punya lebih banyak kesempatan untuk... benar-benar hanya meresapi momen di dalam dan luar dirimu, mengambil jeda untuk sejenak melihat keseluruhan dari “hal besar” yang menjadikan kamu sebagai satu bagiannya.

Tentu saja, ekspresi verbal yang lantang-nyaris-tak-terkendali terlepas pula dari saya ketika rasa senang dan tidak percaya melingkupi saya saat lagu seperti “Stupid Liar”, “Love Song”, dan “Haru-Haru” dibawakan LANGSUNG. Begitu pula ketika saya mengekspresikan bagaimana menawan dan atraktifnya kelima member BIGBANG di atas panggung.

Mengayunkan lightstick, seperti semua yang menontonnya, saya seperti berusaha menekankan keberadaan saya dalam segala kemeriahan itu agar mereka yang sedang tampil di atas panggung bisa ikut merasakan “keberadaan” saya yang menikmati dan mensyukuri kesempatan saya melihat mereka malam itu.

Mereka semua tampil profesional, atraktif, dan luar biasa. Itu semua seakan membuat kami semua yang berada dalam stadium sepakat untuk membuat mereka semua merasakan segala apresiasi tulus yang bisa kami berikan. Rasanya senang sekali karena mereka bisa “merasakannya”, dan mereka berterima kasih, berusaha berkomunikasi dalam bahasa Inggris meski kadang bercampur bahasa ibu mereka menunjukkan acknowledgement dan appreciation.

Mereka bilang, kurang-lebihnya, bahwa ini merupakan kali pertama mereka di Indonesia, dan mereka sangat berterima kasih karena “kehangatan” dan “kebaikan” yang mereka rasakan untuk mereka di sini. Silly boys, tentu saja! Rasanya puas melihat bagaimana mereka menyaksikan sendiri betapa di luar dugaannya dukungan yang mereka dapatkan di Indonesia... ini membuat saya harus menuliskan betapa tak-tergambarkan sekali rasa senang yang terasa ketika mereka mengajak kami semua menyanyikan “Haru-Haru” bersama mereka!

**

Saya yang pada awalnya lebih banyak menumpahkan “afeksi” pada sosok G-Dragon pun lantas meratakan kadar “cinta” saya pada semua member yang lain setelah menonton konser ini. Semua member BIGBANG yang menunjukkan kualitas mereka yang pantas untuk mendapat limpahan rasa sayang =))

G-Dragon! Kamu bisa terlihat menjadi seperti apa saja yang kamu mau dan tidak pernah gagal terlihat mengangumkan, dari mulai nampak charming sampai nampak sangat cute >< saya ingat kemarin, kamu sempat duduk di pinggir panggung dan nampak sangat adorable dalam gestur dan mimik yang kamu tampilkan saat melakukannya!

TOP! Ketampanan dan pesonamu mampu mendapat pengakuan dari siapa saja ya, sepertinya! Bahkan Ibu saya hanya mengakui ketampananmu dibanding anggota yang lain :p

Daesung! Tidak hanya suaramu saja yang menyentuh hati saya, saya juga selalu merasa terhibur dengan setiap hal yang kamu katakan, memang benar kalau kamu akan unggul kalau muncul dalam acara variety!^^ Apalagi berdua dengan Seungri, you guys own the show with joyful laughter! :p ...kamu memang bukan main vocal biasa :’

Seungri! Saya tahu kalau kamu sempat punya skandal, dan jujur dikatakan kalau sebenarnya nggak heran kalau melihat pribadimu yang...yah..."charmingly naughty" itu. Tapi tetap saja! Kemarin kamu masih tetap menunjukkan ke-adorable-an khas maknae (meski kamu bukan maknae biasa, apalagi kalau mengingat penampilan solomu dengan tema militer (?) dengan outfit army dan senapan laser ////)

Taeyang!...dari dulu, persahabatanmu dengan G-Dragon selalu menyentuh saya dan membuat saya kagum, karena kalian adalah sahabat penuh bakat yang luar biasa > <  sangat senang bisa mengetahui betapa yang satu ini bisa berkomunikasi cukup lancar dalam bahasa Inggris > <...saya nggak nyangka kalau ternyata di atas semuanya, di malam itu, member satu ini menjadi...

...yang paling berkesan signifikan bagi saya?

Bagaimana seorang Dong Youngbae a.k.a Taeyang nampak sangat senang dan berterimakasih, berulang kali melakukan beatbox “aku cinta padamu” dan berkomunikasi pada kami, lalu seakan merasa masih perlu “meninggalkan” ekspresi kebahagiaan dan berterima kasih ia memberikan dance move atraktif-enerjik sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan panggung menyusul member lain setelah dua kali encore.

Belum lagi ketika dia seakan mengajak kami yang menonton di sisi atas untuk “melompat bersamanya”, memberi saya angan-angan untuk bisa seakan merasa benar-benar menatapnya tidak hanya satu arah! Abang, ko tahu saje.... =))

Youngbae-oppa, jujur saja saya tidak pernah menyangka akan menjadi sangat “tersentuh” itu padamu =)) ....but! ANYWAYS CONGRATULATIONS, GUYS, YOU’VE NAILED THE SHOW FOR SURE...saya ternyata berharap bahwa ini bukan konser dari mereka yang pertama dan terakhir, semoga saja di masa mendatang, Allah SWT bisa meridhoi saya beserta kakak-adik untuk mengalami ke-luar biasa-an ini lagi :’)

Hoping that this won't be the end of my 'VIP' Journey ;p

Wednesday, October 03, 2012

VIP Class Journey

About D-9 to the first held-in-Jakarta's concert I've ever attend.

disclaimer: I do not own this image

Seharusnya saya excited banget dan gak sabar kan untuk segera melihat langsung penampilan grup yang sudah cukup banyak menyita perhatian saya ini? O,O Bukannya saya sama sekali nggak merasa seperti itu, sih... Did you know those unnamed feelings when you just found yourself in the middle, no highs or lows? Pertama kalinya tahu soal konser ini,saya ingat betapa rasanya untuk bisa menontonnya adalah suatu hal yang "penting" sekali dan akan sulit untuk mengikhlaskannya seperti saya mengikhlaskan konser lain, jenis konser dimana kamu tahu itu adalah musisi favoritmu tapi kamu sadar kamu tidak bisa begitu saja menontonnya... hanya saja dengan Alive Tour ini, beda.

Nggak, saya nggak dibayar siapapun untuk ngomong seperti ini; this is just a honest feeling.

Mulailah akhirnya lika-liku saya sebagai seorang yang belum pernah lihat konser dalam skala ini, pertama kali, jelas, adalah minta izin.

Ternyata bukan perkara gampang, terutama jika orangtuamu belum pernah mendengar tentang musisi yang ingin kamu lihat konsernya... apalagi musisi Korea yang bahasanya aja hanya bisa dimengerti dengan batin (?). Belum kalau sudah ditanya soal harga, nah, pengertian mengenai keinginan si anak agak sulit diberikan setelah tahu harga tiketnya yang sangat "reasonable". Apa yang saya katakan ke Ibu saya waktu itu (saya ingat kejadiannya sewaktu kami sedang makan di Soto Pak Keri), adalah saya bersedia menggunakan uang di tabungan untuk bisa membayar tiketnya.

Memang saya nggak tanggung-tanggung, saya dan kakak (yang kebetulan, segala puji bagi Tuhan, juga suka Bigbang hehe) berniat membeli tiket VIP yang harganya paling mahal. Eits... bukan berarti kita nggak sadar sama sekali kalau penebusan atas tiket kelas itu adalah uang yang sama sekali NGGAK sedikit, namun kami saat itu merasa sekali kalau itu adalah konser yang pantas menjadi semacam satu kesempatan yang kemungkinan untuk terjadi kembali sangat kecil.

Memang entah kenapa konser ini bedaa banget; saya jadi ingat kalau bahkan waktu first official announcement atas konser ini dilakukan beberapa bulan yang lalu, serasa hati mendesir dengan keinginan untuk nonton konser ini... saya ingat kalau pengumuman resminya sudah ada sejak saya masih dalam kisaran kegiatan memersiapkan diri untuk SNMPTN Tertulis. Waktu itu sih saya nggak berani terlalu memikirkan konser ini dan berusaha menyadarkan diri kalau yang penting waktu itu adalah persiapan SNMPTN, bukan yang lain, kalau saya bertekad masih waras dalam segala "obsesi" saya... ha.

Kemudian singkat kata, akhirnya tahapan untuk akhirnya bisa berjuang mendapatkan tiket bisa dilakukan.

Ternyata memang nggak gampang, dan dalam waktu singkat yang sepertinya nggak perlu dijabarkan, kekurangan pengalaman dalam online-competition (?) membuat saya dan kakak nggak bisa mendapatkan tiket di hari penjualan online nya. Meminta tolong saudara yang tinggal di Jakarta pun entah kenapa rasanya rikuh, karena bagi kami perkara membeli tiket ini sebaiknya nggak perlu merepotkan orang lain secara berlebihan.

Kami sempat sampai dalam tahap dimana akhirnya (waktu itu) kami berpikir bahwa mungkin bukan rejeki kami untuk menonton konser itu, dan I would say that is not that easy; yah, tapi berlarut-larut juga diri sendiri yang rugi 'kan?

Waktu itu kami masih belum mendengar tentang prospek penambahan hari konser, dan meski sudah mulai bermunculan permintaan publik atas penambahan second show, saya dan kakak nggak berani terlalu berharap; meski kami mengira kalau memang sudah seharusnya musisi sehebat Bigbang mendapat tambahan hari konser di Indonesia yang penggemarnya bisa dibilang banyak.

Hari demi berlalu dan seperti biasa hidup terus berjalan (?), kami juga sudah nggak terlalu membicarakan permasalahan Bigbang ini karena sudah mulai dengan kegiatan kuliah (ehem). Meski demikian, sebagai kepo-er dan stalker profesional, saya masih rajin mengecek pembaruan terkini mengenai Alive Tour ini, dan benar saja, syukur alhamdulillah memang ada second show~

Balik lagi ke "perjuangan" beli tiketnya, tapi ternyata memang Allah Maha Tahu akan suara umatNya yang berharap adanya sedikit kelonggaran dari urusan perang koneksi (?)... ternyata keharusan untuk perang koneksi (?) dalam membeli tiket untuk second show ini bisa diminimalisasi dengan adanya kebijakan penjualan presale yang diadakan atas kerjasama fanbase dan ticketing company nya.

Dalam kesempatan ini biarkan saya mengekspresikan penghargaan saya atas pengertian luar biasa yang ditunjukkan fanbase Bigbang Indonesia bersama MyTicket-BigDaddy... betapa mereka tahu kalau second show nggak akan ada tanpa permintaan besar dari penggemar musisi yang bersangkutan! Yup, salah satu penentuan akan adanya second show ini memang datangnya juga dari proses voting (yang tentu saja saya ikuti, namanya juga berusaha hehe)~ dan saya serta kakak sangat mengapresiasi adanya presale yang bisa memberikan kesempatan bagi fans untuk mendapatkan tiket, dan bukan untuk calo :p

Singkat kata, dari mengikuti pembelian presale akhirnya saya dan kakak yang sudah nggak mau dan nggak lagi-lagi mengambil resiko dan tantangan untuk perang koneksi (?) akhirnya mendapatkan tiket kami~ alhamdulillah, meski tiket yang akhirnya kami dapat bukan tiket dalam kelas VIP-C seperti yang kami utamakan, namun kami sangat senang~~karena proses pembeliannya terasa bereda sekali dengan online sales yang biasa hehe.

Empat tiket kelas VIP akhirnya terbeli, segala puji bagi Tuhan :' ....yah, ini baru tiket konsernya, dan belum ditambah tiket transportasi, akomodasi, dan pernik cheering yang meski nggak wajib tapi "terasa perlu"...

Nggak kerasa ternyata menuliskan lagi pengalaman itu ternyata akhirnya mendebarkan hati saya yang sempat saya pikir nggak berasa berarti seperti yang saya katakan di awal. Bukankah sudah seharusnya, dengan segala lika-likunya, tentunya saya harus "menunggu" hari-H nya dengan perasaan yang lebih pantas~
Indeed, ini memang perjalanan VIP kami dengan harga yang memang sangat VIP~ mungkin di kesempatan selanjutnya saya akan cerita lagi lebih lanjut... yang jelas saya akan pastikan kalau VIP Journey ini akan diabadikan dalam jurnal ini, terutama tentang bagaimana pengalaman saya menonton konser seperti ini; sebagai a humble and lowly person I'd like to share and keep those moments and journey here. Jadi tunggu saja ya~  semoga semuanya bisa berjalan lancar. Amin. 

Tuesday, September 18, 2012

a first win


disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

Kemenangan pertama akan sangat berarti, dan tidak seperti seseorang yang meskipun sama bersyukurnya tapi sudah pernah merasakannya sebelum itu, barangkali nilainya akan sangat berbeda.

Kemenangan pertama bisa saja datang setelah semua kerja keras yang telah dilakukan mungkin sudah sampai pada titik di mana tak lagi terpikirkan yang lain selain berusaha selalu memberikan yang terbaik, untuk semua yang telah mendukung dan mencintai.

Untuk semua yang mendukung dan mencintai mereka.

Tuhan Maha Tahu usaha seseorang dan saya hanya percaya bahwa segala sesuatu yang baik akan menghasilkan buah yang manis. Dan mereka semua bukannya benar-benar berbeda dengan yang lain atau apa, namun mereka telah berjuang sebaik mungkin untuk semua yang telah mendukung mereka.

Hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu persis tentang berapa banyak hal yang sudah mereka ikhlaskan dan korbankan hingga mencapai sekarang ini, mencapai kemenangan pertama yang sempat mereka angan-angankan dengan lugu karena bagi mereka, mereka hanya baru saja memulai semuanya.

Dan air mata mungkin akan menetes karena hal-hal yang terlalu besar untuk dijelaskan, tapi biarkan itu memberi nilainya sendiri bagi mereka.

disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
Congratulations EXO for your first winning on The 5th Mingniu Billboard Music Award (:
EXO-M for Best Newcomer and EXO for Best Costume, that's big deal right?
So keep going, boys!

Thursday, September 06, 2012

Like a Postcard...yang alamatnya ngaco.

Lucu juga ya gimana kekangenan saya pada lingkungan lama ketika sedang memulai adaptasi di lingkungan yang masih asing bisa bikin pikiran jadi kemana-mana.

Or maybe I’m just... I don’t know.

Yang jelas suatu sore selepas rangkaian acara hari terakhir PMB selesai, dengan pakaian hitam-putih yang masih dibekasi sisa-sisa lemparan balon air dari kakak-kakak tadi siang... yah, well, saya menunggu jemputan.

(Kasih tahu saya kalau Anda punya frasa yang lebih bagus dari itu)

Agak janggal sih, sendirian di lingkungan yang belum dikenal benar, dalam posisi dimana saya seperti dasar dari rantai makanan (kalau diumpamakan)... dasar anak baru ya begitulah. Biasanya dulu kalau di sekolah nungguin sendirian sih asik-asik aja, tapi kemarin jadinya nggak mau keliatan sendirian.

(Tau kok kalau sebenernya nggak ada yang merhatiin entah saya sendirian atau koprol di koridor yang udah sepi itu, misalnya)

Gerombolan pendatang-yang-sepertinya-sedang-menunggu-juga sudah habis sih kebetulan, dan di saat itu tiba-tiba saja saya berpikir kalau pasti bakal nyenengin banget kalau ditemenin... kalau saja waktu itu ada sobat-sobat semasa SMA kelas 12 yang secara ajaib bisa mewujud terlepas dari lokasi yang sudah memencar-mencar.

Heran, biasanya saya juga seneng-seneng aja sendirian... nggak juga sih.

Angin sore pelan-pelan bertiup dan seakan membantu saya menikmati suasana, bersama juga dengan pohon-pohon yang sudah lebih dulu merindangi sekitar, sebenarnya nggak buruk-buruk banget sih.

Saya jadi inget lirik lagunya Owl City (lagi) yang berjudul Metropolis.
I feel like a postcard, I wish you were here.
Betapa banyak yang ingin dikatakan dan sedang dialami dan dirasakan dalam hati, namun tanpa kamu atau mereka untuk bisa benar-benar ada bersama saya rasanya hanya satu kalimat yang bisa dituangkan dalam kartu pos itu.

Betapa saya bakal akan sangat bersyukur dan menghargai keberadaan siapa saja yang bisa menemani kesendirian seperti iti dengan... obrolan, apa saja yang bisa membuat saya tidak merasa bahwa pepohonan yang saya lihat dan angin sejuk yang saya rasakan bukanlah lingkungan yang (masih) asing.

Saya nggak ingin dan sudah terlanjur capek menjadi terlalu muluk, berhubung sudah mahasiswa (...) saya ingin bisa kelihatan lebih realistis.
Hanya ingin tahu apakah ada kamu atau mereka itu untuk saya nanti... atau kapan.

Dari yang tidak ingin dijadikan alasan untuk terburu-buru dan ternyata suka mendapati dirinya menunggu.

Tuesday, August 28, 2012

"...but they don't recognize me, I didn't look the same."

Menjadi mahasiswa... akhirnya?

Untuk jujur saja dikatakan, memang tidak banyak yang bisa saya katakan, namun saya tidak bisa cukup berterima kasih pada keridhaanNya karena saya bisa mendapatkan universitas dan jurusan lanjutan seusai SMA dengan cukup mulus, dan seperti halnya orang-orang yang memulai sesuatu... ya, saya juga berharap saya bisa melakukan kuliah ini, jadi mahasiswa... dengan baik.

Amiin.

Diterima di Fakultas Psikologi Undip, dan saya memulai hari pertama PMB (Penerimaan/Pengelolaan Mahasiswa Baru) dengan perasaan campur aduk antara saya juga penasaran, deg-degan, dan diam-diam semacam dazzled dalam hati karena resmi sudah ya, saya memulai semacam lembar baru di kehidupan sosial baru dengan banyak pembelajaran baru lagi... sementara bayangan teman-teman dekat yang sangat berkesan di hati yang rasanya “baru saja” saya temukan satu tahun lalu. How life goes on and I better walk along.

Jujur saja tadi adalah hari pertama PMB yang oke oke saja, nggak banyak keluhan/saran yang terpikirkan di pikiran saya yang biasanya memang selalu sewajarnya saja (haha)... semacam perkenalan-perkenalan kehidupan perkuliahan diberikan hari ini; beberapa materi dibawakan oleh Pembantu Dekan (PD) dan/atau dosen yang ternyata menyenangkan isinya dan pembawaannya; membuat saya jadi penasaran juga untuk tahu nantinya kuliah dengan beliau-beliau ini nantinya bakal se-menarik apa.. semoga saja deh.

Menarik banget rasanya menyaksikan sendiri pembawaan Bapak/Ibu yang lucu-lucu celetukannya itu, padahal diam-diam mereka semua ini pakar di bidang masing-masing^^ lega banget rasanya menyaksikan citra dosen yang kadang suka digambarin galak dan kaku bisa nggak terasa tadi (:

Tapi seperti biasa aja sih, untuk soal menjalin kehidupan sosial dengan sekitar itu mungkin emang saya nggak akan menemui hasil instan... entah karena pembawaan atau saya memang belum cakap. Mungkin saja faktor kalau saya jarang ikutan kumpul-kumpulnya mereka juga berpengaruh?...bukannya gimana, secaranya juga saya nggak masuk dalam lingkungan kos dan mobilitas transportasi saya untuk bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain juga terikat oleh pihak-pihak yang mengantar saya u,u

Senyum, basa-basi, biasalah ya... Saya tahu sih saya nggak perlu terlalu memikirkan ini dengan berat atau apa, yah namanya juga soal waktu, dan jujur aja saya pribadi juga nggak muluk berharap untuk lantas harus bisa nemu temen yang “klik” atas-bawah-luar-dalem atau apa^^a

Meski emang saya jujur aja agak khawatir soal gimana menjalani pembelajaran/kehidupan perkuliahan yang bakal menuntut saya untuk “aktif” dengan skill dan achievement sosial saya yang biasanya selalu biasa-biasa aja itu, mungkin emang harus ada saatnya untuk saya agar bisa belajar atau banyak memasang topeng-topeng yang diperlukan untuk akhirnya bisa menemukan kenyamanan untuk diri sendiri dengan perubahan yang positif...
Yah, semoga saja. Masih ada banyak waktu buat lebih banyak belajar, dan saya harus yakin kalau semua pasti bakal baik karena Allah SWT. nggak akan ninggalin saya untuk tersesat sendirian kalau saya selalu berpegang padaNya dalam setiap apa yang saya jalani dan alami :’)

Masalah temen baru yang PASTI deh awalnya canggung dan blabla, baiknya saya nggak usah terlalu ambil hati. Orang itu beda-beda, orang datang dan pergi, tak kenal maka tak sayang dan lain sebagainya.
Masalah interaksi dan ketertarikan (?) untuk itu di antara satu-sama-lain juga merupakan satu hal yang emang nggak bisa dipaksakan meski tentu saja saya berusaha untuk menganggap semua itikad itu baik.

Kalau saya “membatin” soal gimana rasanya di-“begitu”kan sama orang lain; yaa saya sendiri juga bukan orang yang sempurna ya...
masih kebayang sih dan saya sadar banget kalau kemarin nggak sengaja dan nggak benar-benar maksud itu saya pernah nyalamin temen satu jurusan pakai tangan kiri gara-gara tangan kanannya megang tas tenteng waktu upacara...
terus tadi juga saya ngeluarin bekal (yang meski nggak seberapa untuk bisa dibagi-bagi buat banyak orang gitu) dengan agak terburu-buru dan makan untuk diri sendiri padahal di sebelah ada temen satu kelompok PMB yang harusnya bisa saya tawarin atau apa biar lebih cepet akrab...

iya meski agak sedih sih kalau mengahdapi situasi di mana kayaknya kok adaaa ajaaa orang yang kayaknya nggak terlalu welcome padahal ya udah disenyumin, dibasa-basi... terus ada jugaa yang mungkin emang bawaan daerah asal, waktu kakak tingkat ngingetin biar mastiin tempat PMB bebas sampah terus saya nemu pisang utuh jatuh di bawahnya terus saya tanyain “waah jatuh ini punya siapa yaa” aja terus berasanya kayak saya yang nuduh kalau dia yang buang pisangnya itu, ya ampun apa saya itu emang dari dulu sensinya kayak gini. Dikit, kok, dikiiit bangeet.

Kalau nginget-nginget tadi sih cuma bisa “memutar” lantunan tembang (aduh bahasanya plis deh) Garden Party milik Owl City ketika saya menerawang dalam hati kalau udah ketemu situasi out of place di mana saya harus make a move aja deh daripada lumutan atau harus denger lagi orang bilang ke saya kalau saya juga harus “nyoba usaha dong biar biasa akrab” dan sejenisnya.

”But it’s alright now, I learn my lesson well.
You see, you can’t please everyone, so you gotta please yourself.”

Tuesday, August 14, 2012

...ngabuburit.

Saya menyempatkan diri, dalam beberapa menit yang seharusnya saya habiskan dengan mulai bersiap-siap untuk berangkat untuk pergi buka puas bersama teman-teman sekelas (dan dekat) dulu di kelas supuluh.

To be honest, sekarang kedekatan kami buat saya nggak terlalu seperti itu, tapi bagaimana sekarang pun mereka masih mengajak saya dan lain sebagainya, entahlah saya merasa nggak bisa membiarkan diri untuk absen dari ajakan buka bersama yang satu ini.

Setelah lebaran ini dan di mana mungkin saya akan sangat sulit untuk ketemu langsung dengan teman-teman yang keberadaannya sangat saya hargai, saya merasa... "kapan lagi sih?"

Because, indeed, saya hanya ingin mengumpulkan dan menjaga kenangan-kenangan berharga sebisa saya. Tidak masalah mengenai sekaya apa substansi segala kenangan itu, tapi dengan mereka ini, well, saya ingin sebisa mungkin mengumpulkan dan merangkumnya dengan mereka.

Afterall, bagaimanapun kelihatannya sekarang dan bagaimana nanti suasananya, mungkin dengan banyak topik obrolan yang tak terlalu saya pahami, saya tahu kalau mereka semua juga bagian berharga dari semua kenangan saya di masa SMA yang (katanya) indah.

Thursday, August 02, 2012

This quotes from Tablo

People believe those fairytales about falling in love at first sight at the bus, subway, or at the streets. But it doesn’t make sense how they’d laugh at the ones who fell in love at first sight through TV screens. Loving a celebrity IS a type of love. Love is fair to everyone.
source: tumblr
Rasanya... benar banget :__: atau mungkin hanya saya saja yang mencari-cari benarnya.

Cinta tetap saja cinta dan perasaan sendiri bukan dimaksudkan untuk disangkal. Entah benar atau salah, terimalah dan relakan apa yang kamu tahu kamu rasakan, lebih baik lagi sambil menyerahkan dirimu sepenuhnya sama pencipta dirimu, mungkin setelahnya kamu akan bisa lebih baik, dan lebih ikhlas untuk tidak merasa perlu mengharap apapun sebagai balasannya.

...karena ada yang bilang kalau cinta yang sejati adalah cinta yang nggak mengharapkan balasan; seperti halnya pencipta kita nggak pernah mengharap balasan dari kita atas semua yang dia ciptakan untuk kita, yang dia ciptakan ada pada kita; tapi meski demikian, cinta itu akan kekal dan akan menerangi siapa saja yang bisa melihatnya.

Thursday, July 26, 2012

Fangirling: A (Bitter)sweet Self-Look in Living Life

Orang bijak bilang kalau waktu adalah pedang, yang akan menebas diri sendiri kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik. Serius memang, dan mungkin bisa timbul pertanyaan “terus bagaimana kalau saya tidak bisa main pedang?”…hanya saja maksudnya nggak se-harfiah itu, oke, namanya orang bijak biasanya suka pakai perumpamaan ya, jadi dimaklumi saja dulu.

Kenyataannya, kalau disederhanakan untuk diartikan orang-orang yang mencoba dan ingin menjadi bijak seperti saya; selalu saja intinya adalah yang namanya waktu harus dihabiskan dengan hal-hal yang membawa manfaat, karena waktu yang kita habiskan sudah tidak bisa lagi kita miliki, jadi jangan sampai menyesal di akhirnya.

Mungkin begitu maksudnya tentang menggunakan waktu dengan baik kalau nggak ingin menebas diri sendiri. The art of a Time Sword which doesn’t require a swordsman, sok asik bener inggrisnya ya ♥

Obrolan soal waktu bisa sangatlah thoughtful apalagi kalau dikaitkan dengan satu hal yang namanya masa muda. Tantangan besar buat anak muda (…termasuk saya ya berarti) untuk bisa memastikan kalau waktu yang dimiliki sebisa mungkin digunakan untuk hal-hal yang berguna dan nggak akan disesali di masa tua nanti karena masa muda nggak akan kembali.

Orang bilang kalau masa muda itu masa yang berharga dan jangan sampai disia-siakan, bahkan kalau perlu, buatlah kesalahan sebanyak mungkin di masa muda supaya katanya nggak akan dilakukan dan disesali di masa tua. Bukan berarti Anda harus seenaknya di masa muda, oke, sekali lagi nggak se-harfiah itu. Mungkin kali ini yang ngomong tidaklah terlalu bijak, tapi dimaklumi saja dulu.

Bercanda, bercanda… Maksudnya biar tulisan ini jadi nggak terlalu berat gitu lho (...). ♥  Yuk sederhanakan lagi saja kalau mungkin intinya adalah gunakan masa muda untuk suatu trial and error yang akan jadi tabungan buat masa yang akan datang; coba apa saja, lalu gagal, tidak masalah; karena masa muda memungkinkan Anda untuk mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, gagal lagi, tapi akhirnya Anda akan banyak belajar dari semua kegagalan itu. Perlu diingat kalau buat saya, orang yang belajar nggak akan pernah rugi dalam hidupnya. Habiskan masa muda tanpa takut dan ragu, karena semua akan jadi terlambat kalau kedua hal itu dipelihara; jangan sampai yang tersisa dan terbawa sampai tua hanya penyesalan.

Berat, ya? Tapi baiknya juga jangan merasa terbebani, deh, yang lebih penting dan sebenarnya menjadi intinya adalah nikmati masa muda yang dimiliki, itu dia. Kenapa nggak dari tadi saya nggak langsung nulis gitu, ya, ahihi; that’s may be my trial and error on writing this!

Satu lagi perkataan yang mungkin bisa sedikit meringankan, ya, bahwa katanya the time you enjoy wasted, are not wasted!, jadi nggak perlu terlalu ngeri kok dan langsung stres nginget-nginget yang udah lalu, pastikan aja Anda nggak menyesalinya detik ini. Inget lho tentang waktu yang nggak akan kembali? (:

Saya di sini bermaksud berbagi saja tentang salah satu cara saya menghabiskan waktu di masa muda saya ini dengan enjoy, dan hal itu barangkali sangatlah familier dengan perspektif remaja putri jaman sekarang. Satu hal yang namanya fangirling.

fangirling
v the reaction a fangirl has to any mention or sighting of the object of her “affection”.
(via urbandictionary.com)

Buat lebih spesifik, ya, bagi pembaca yang kebetulan suka sama beberapa artis K-Pop pasti udah kira-kira bisa dapet bayangan deh gimana seluk-beluk lika-liku kegiatan (?) satu ini; kebetulan akhir-akhir ini saya lebih banyak menjadikan beberapa idol K-Pop laki-laki (iya karena saya ‘kan perempuan, jadi mohon dimaklumi ya) sebagai objek fangirling saya untuk melarikan diri dari kenyataan yang kadang-kadang tidak seindah impian yang terpupuk saat ber-fangirling.

Silakan ketawa atau ber-‘pffft’ dulu seperti saya yang dalam hati sedang melakukan keduanya dalam hati. Astaga saya ngomong apaan sih ini, tsah lanjut sajalah dulu. Terlanjut basah ya sudah berenang saja biar tetap asik, betul? Pfft. #lho

Tapi serius lho, kalau buat saya, ya, kapan lagi sih selain di masa muda yang namanya meng-ekspresikan kecintaan dengan terbuka dan sedikit tidak-bermartabat karena kehilangan kontrol diri akibat perasaan ingin pingsan bahagia bisa dimaklumi? Mumpung masih muda dan tidak secara resmi terikat hal yang udah rumit (macam pernikahan atau pertunangan gitu ya…) puas-puaskan saja sekali-kali lose your control terhadap sesuatu yang Anda suka; apa dengan menjadi super-excited ketika melihat yang Anda anggap bagus/keren lantas menjadikan Anda abnormal?

Orang suka bilang kalau dalam “cinta” apapun akan terasa lebih indah, dan ekspresi dalam fangirling sepertinya bisa diasosiasikan dengan itu; ketika suatu hal dari sesosok figur yang dikagumi bisa terasa begitu penting dan mengena di hati, menciptakan rasa “bahagia” yang mungkin terasa semu, tapi tetap saja rasanya bahagia dan menyenangkan; bukankah itu yang penting? ...seolah nothing else matters, di atas apapun komentar orang, ataupun betapa kadang hal ini diasosiasikan sebagai sesuatu yang “dangkal”.

Tapi yang namanya perasaan adalah suatu hal yang murni dan patut untuk dihargai, dan buat saya sih, agak nggak etis untuk di-judge begitu saja secara sepihak (:

…asal tahu batasannya aja deh. Itu satu catetannya. Penting banget untuk diperhatikan, sehubungan dengan porsi fangirling dalam hidup saya yang saya anggap sebagai gateway nggak terbatas untuk melepas stres dan tetap menemukan alasan untuk tetap bahagia ceria dan bersemangat dalam dunia yang kadang menunjukkan “kekerasan”nya.

Berikut ini adalah sedikit rupa-rupa “ekspresi fangirling” saya, buat lucu-lucuan aja sih sekaligus untuk menunjukkan side-job saya sebagai ocassion fangirl at her most times #LHO. Hehehe.

...Anda tidak sendirian.

Sesedikit apapun dan bagaimanapun caranya juga Anda akan tetap membutuhkan alasan untuk bisa tetap menikmati hidup, terutama di masa muda yang cuma datang sekali. Ada banyak cara untuk itu, dan salah satu cara saya yaitu lewat fangirling ini, sekali lagi. Kasih “Heart” dulu.  ♥ Galau, stres, kepikiran soal ulangan di sekolah yang rasanya fail sekali, atau diam-diam patah hati aja karena cowok-yang-diam-diam-dikagumi-dari-jauh ternyata sudah ada yang punya… segala macam kenyataan yang rasanya lagi nggak bersahabat, cobalah ambil jeda untuk mengalihkan diri dalam kebahagiaan sementara yang bisa didapat dari melihat senyum ganteng dan kelucuan sang idola lewat fotonya atau video yang menampilkannya.

Buat yang lagi (masih aja) kepikiran tentang gimana nasib tes yang sudah berlalu, mari coba ikuti cara saya menganggap kalau cerahnya senyum oppa (panggilan yang dipakai perempuan untuk menyebut laki-laki yang lebih tua dalam bahasa Korea-red.) sebagai penyemangat kalau masih ada kesempatan untuk belajar dan berusaha lagi dalam tes yang selanjutnya!

Buat yang lagi agak-agak patah hati ya karena mungkin habis diputusin atau cinta bertepuk sebelah tangan (tagar aseeek dulu boleh), mari coba ikuti cara saya untuk menganggap kalau keberadaan oppa ganteng meski dalam file .jpg/.png atau .mp4/.flv yang selalu menghangatkan hati bisa mengingatkan kalau masih ada hari esok yang akan datang dengan matahari yang akan selalu terbit lagi buat kita! Tetap semangat karena kebanyakan bersedih atau berpesimis itu nggak baik kan? (:

Haha ada-ada aja ini tulisannya, tapi sekali lagi penulisnya udah terlanjut berenang dalam kolam keterlanjuran, jadi maklumi saja ya.

Pinter-pinter saja deh untuk mencoba ambil positifnya dari fangirling ini, terutama bagi pembaca perempuan; iya dong namanya juga fan-GIRL-ing, ini kegiatan yang mungkin secara langsung nggak sebanding dengan kegiatan lain yang mungkin lebih produktif, tapi kalau orang-orang seperti saya menikmati menghabiskan sebagian waktu dengan hal ini, mengapa saya harus repot mencari dalih hal lain untuk dilakukan? Kalau Anda juga, ya nggak perlulah menjadi terlalu malu mengakuinya.

Yang memalukan itu sih kalau kadar pengekspresian kekagumannya berlebihan… sebaiknya dihindari deh kalau dilihat banyak orang yang nggak terlalu mengerti atau nggak berbagi minat kesukaan yang sama. Selain juga nggak “pantas” untuk citra perempuan yang harusnya lembut dan anggun (…), perlu diingat ya kalau terlalu berlebihan juga ujung-ujungnya “capek” sendiri karena ini kan pengeskpresian yang ditujukan satu arah, oppa ganteng mana tahu kita ada di sini bertasbih karena anugrah ketampanannya =))

Bukannya nggak boleh kalau rasanya sewaktu lagi fangirling ngeliatin foto-foto/video via browsing kita jadi pengen pingsan/mati-bahagia-lalu-hidup-lagi, atau guling-guling di lantai kamar dilumuri air-mata-pelangi kekaguman kita (berdasar apa yang saya rasakan sendiri kok ini, hehehe); asal harus tetep pada akhirnya ingat kalau itu semua terpisah dari kenyataan yang ada! Tetep, girls, kembali ke kenyataan kalau “kebahagiaan” kita melihat pesona oppa ganteng bisa dibilang semu dan bukan untuk dibawa serius sampai ke dunia nyata, cukupnya jadi sugesti diri dan motivasi kalau in those rough times, sebenarnya nggak semua hal terasa buruk buat kita. Itu kalau buat saya (:

Kehidupan kita emang nggak bisa cukup dimaknai dalam satu-dua kata, kok; lebih-lebih kalau mau “memaknai” masa muda, warna-warni dan selalu pada akhirnya sulit diungkapin dalam kata-kata, nggak usah dijadikan beban mikirinnya, menurut saya^^ Masa muda adalah waktu untuk diperjuangkan dan jangan sampai disesali, tapi semoga saja dengan membaca apa yang saya coba bagi di sini bisa memberi sedikit gambaran tentang elemen penting kehidupan anak muda yang manis dan ceria untuk dikenang nantinya (:

Kesukaan saya untuk suka menghabiskan sebagian waktu senggang dengan melakukan fangirling ternyata sedikit banyak menjelaskan bagaimana kurang-lebih dan sedikit-banyaknya diri saya ini, yang sedang dalam masa muda saya.

Masa muda saya mungkin banyak dihabiskan dengan mencintai atau mengagumi, dan saya bisa tersenyum atau “menangis” sekaligus ketika saya sadar bahwa ada kenyataan yang masih harus dilogika dan diterima dengan hati lapang. Saya pun banyak menertawakan kebodohan-kebodohan yang saya buat tapi sekaligus menikmati hal-hal yang bodoh, saya menikmati saat-saat “lepas kendali” dan tidak rasional… saya menerima saat-saat seperti itu sebagai hal yang bisa sekali-kali dilakukan untuk mengisi masa muda saya dengan kekayaan “rasa”.

Dan saya pun menyambut lebar saat-saat untuk memejamkan mata dan memimpikan dunia seperti yang saya inginkan sekali-kali, untuk kemudian membuka mata lagi dan berkata pada diri saya kalau saya masih bisa memerjuangkan dunia yang saya inginkan; bahwa tak akan ada keajaiban yang terjadi kalau saya terus memejamkan mata dan tidak mencoba melakukan sesuatu.

Seperti itulah kira-kira, ketika layar laptop yang sedari tadi dibuka untuk fangirling memanjakan saya dalam kelembutan merah-jambu yang saya impikan, tapi akhirnya kembali ditutup dengan menyisakan semburat merah ceria dan tegas yang menunjukkan pada saya apa yang telah jelas untuk diterima dan diperjuangkan. Bahwa saya setidaknya masih belum terlambat.


…serta banyak sekali alasan yang ditemukan hati kecil saya untuk tetap melihat cerahnya dunia yang benar-benar saya miliki. Akhirnya tetap saja semua pengelanaan rasa dan imajinasi selalu kembali ke diri saya sendiri untuk memutuskan; because it’s me, for all those feelings and journeys inside my mind, for all the struggles to find my own self, which I am happiest to be.

Dan sudah seharusnya saya memerjuangkan masa muda saya sendiri, meski suka diisi dengan hal-hal seperti fangirling untuk membantu saya “merenung” sekaligus menemukan penghabisan waktu yang tidak saya sesali.  ♥