Thursday, December 13, 2012

Can a resume brings me to Korea?

Saya sedang mengikuti Lomba Menulis Resume Buku yang dalam proses penentuan pemenangnya memiliki presentase 50% dari Penilaian Juri, dan 50% dari Like/Voting pembaca (orang lain), untuk semua yang kebetulan membaca posting ini saya hanya berbagi dan berikhtiar semata. Jika ternyata lewat sini bisa menghasilkan hasil, semoga kebaikan siappaun itu mendapat balasan dariNya. Juga, betapa saya tak bisa lebih berterima kasih :')

Silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya baik lewat Twitter ataupun Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'
***

Di wishlist saya yang ada di blog ini, jika Anda membacanya, Anda akan tahu kalau keinginan saya nomor tiga yang kedua adalah: Go to Korea.

Oh, all that glitz of my imaginary prince(s), since my real one has not discovered, yet.

***

Namanya saja juga sebuah wish, sebuah dream yang saya labeli dengan kata beyond yang menyatakan kesadaran saya akan jalan panjang yang harus saya tempuh untuk mencapainya. Namun saya pastikan bahwa saya akan sedikit demi sedikit mengambil langkah, berharap suatu saat saya akan sampai di sana.

Lalu datanglah kesempatan bagi saya untuk mencoba memenuhi wish itu dengan menggunakan minat saya pada buku dan menulis lewat Lomba Menulis Resume Buku yang diadakan oleh QBaca dan English-Bean. Berkaca dari pengalaman betapa saya cukup menyesal tidak mengirimkan tulisan untuk lomba blog KPK lalu yang bertopik "Andai Aku Menjadi Ketua KPK" yang ternyata tidak melulu harus tentang politik seperti yang saya takutkan kalau melihat tulisan-tulisan pemenangnya :'

Jadi, apapun itu, jika saya tahu saya bisa mengusahakannya, saya tidak akan menyia-nyiakannya.

Lomba Resume Buku ini, meski demikian, menuntut syarat yang lumayan "menuntut", hehe. Peserta diharuskan hanya meresume buku yang judulnya tersedia di aplikasi buku digital QBaca, dan juga harus terdaftar dalam English Bean dengan biaya Rp13500. Ya, tak apalah saya relakan mengikuti persyaratan itu, dan saya relakan konsentrasi saya terhadap kuliah sebagai yang utama harus dipecah.

Apapun, daripada saya menyesal nggak mencoba untuk berusaha mewujudan keinginan ke Korea. ^^

Bahkan saat saya belum menulis resumenya, beberapa kendala harus dialami. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan moda yang cukup terbatas, antara ATM atau Internet Banking ke PT Telkom, dan saya harus kembali pada rutinitas (?) kegiatan mengontak Customer Service dari baik QBaca maupun English Bean karena permasalahan erornya pembayaran lewat ATM (yang ternyata memang masih diperbaiki), hingga tidak "tercatat"nya pembayaran lewat Internet Banking yang sudah saya lakukan setelah usaha yang saya lakukan untuk membuat Internet Banking (termasuk bolak-balik ke ATM dan mengantri cukup lama di CS cabang Mandiri untuk mendapat Token Internet Banking). Syukur alhamdulillah, pada akhirnya semua lancar dan saya sudah memenuhi semua syarat untuk akhirnya bisa mengirimkan resume saya.

Maka tolong ya, silakan baca resume saya lewat link berikut, dan kalau Anda berkenan mendaftar menjadi member English Bean untuk mengevote dan atau membantu memromosikan link resume saya lewat Twitter atau Facebook; ketahuilah bila saya akan sangat berterima kasih dan menghargainya. Semoga Tuhan Allah SWT. membalas kebaikan Anda :'

Ini hanya sebentuk usaha memang, mengingat dasar penilaian adalah bebrobot lima puluh persen masing-masing untuk penilaian juri dan voting (Like) :'

***

Saya sangat bersyukur akhirnya bisa mengirimkan resume saya meski agak mepet dari jadwal tenggat (14 Desember), meski ada sedikit hal yang memang di luar perencanaan atau pengharapan saya. Yaitu tentang buku apa yang akan saya resume.

Mulanya saya ingin meresume buku "Negeri Van Oranje", namun karena halangan-halangan untuk membayar seperti yang saya sebutkan tadi, saya jadi tak jua sempat membeli buku itu yang memang tidak tersedia gratis. Bisa dibilang untuk bisa meresume buku itu akan susah karena bukunya sendiri tebal, meski saya mengutamakan untuk sebisa mungkin tidak mengirimkan resume dari buku yang sudah banyak diresume.

Akhirnya saya pun menjatuhkan pilihan pada buku digital yang bisa diunduh gratis dan bisa cukup menarik perhatian saya, sebuah buku yang sepertinya mirip buku pelajaran tapi judulnya cukup mengundang yaitu "Aku Bangga Berbahasa Indonesia". Buku inipun sebenarnya bukan pilihan pertama, saya sebenarnya sudah sempat mengunduh buku "Boleh Dogn Salah" yang juga gratis ketika saya masih belum fix dengan Internet Banking, tapi ternyata sudah ada yang meresumenya, dan saya menganggap konten buku yang terunduh juga tak utuh sehingga saya urung. Masih belum selesai, karena alternatif saya selanjutnya setelah saya akhirnya fix dengan Internet Banking pun masih ada buku "UK Trip", tapi ternyata sebelum saya mulai membaca, bahkan sebelum mulai mengunduhnya setelah membayar (karena QBaca menyarankan agar lebih cepat mengunduh lewat WiFi dan saya hanya bisa mengandalkan WiFi dekanat kampus tidak setiap hari), buku "UK Trip" juga sudah ada yang meresume. Akhirnya kembalilah saya pada buku kedua yang saya unduh pertamakali, yakni "Aku Bangga Berbahasa Indonesia" :')

Sungguh tidak pernah saya sangka kalau di keadaan terpepet tanggal batas pengiriman dan padatnya kegiatan, juga halangan-halangan ketidaklancaran yang harus saya lalui untuk mengikuti lomba ini, akhirnya buku yang nyaris tak sempat saya "lirik kembali" setelah mengunduhnya pertama kali inilah yang menjadi bahan resume saya :') Meski demikian, saya sangat bersyukur, Allah SWT. masih mengijinkan saya mengirimkan sebuah resume untuk berusaha mewujudkan mimpi saya ke Korea, sedikit demi sedikit :')

Apapun hasilnya, yang jelas dengan ini saya sudah cukup tenang karena saya tahu saya sudah mencoba dan berusaha :'

Sekarang juga saya masih mengupayakan untuk mengikuti lomba blog Super Speedy , semoga Allah SWT. juga kembali berkenan memberikan kemudahan dan hasil yang terbaik bagi saya untuk pelan-pelan mendekati keinginan, mimpi-mimpi saya :')

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.  .



Tuesday, December 11, 2012

"...all those lights may have blind me."

Perhatian sebelumnya: Barangkali beberapa hal yang dinyatakan dalam posting ini akan bersifat menyinggung dan subjektif, namun mohon pengertiannya bahwa semua ini hanya pemikiran-pemikiran yang diutarakan dengan apa adanya oleh penulis, tanpa bermaksud menyerang atau mengambil keuntungan dari pihak manapun. Tulisan ini hanyalah bentuk pengekspresian pemikiran semata.

Bisa kesambet apa saya tertarik untuk mendaftar Paduan Suara Mahasiswa di kampus.

Yah tapi itu sudah terjadi dan sudah cukup lama berlalu, sudah selesai menjadi salah satu fragmen kejadian kecil yang membuat saya sedikit belajar.

Kembali lagi ke pernyataan yang mengawali postingan ini. Ya, mungkin saya sedikit silau akan prestasi dan “nama besar” paduan suara universitas saya yang sudah terkenal sampai luar negeri. Bahkan terakhir kali paduan suara universitas saya itu memenangkan medali dari China, dan kebetulan China saat ini saya kaitkan dengan boy group produksi Korea dan citarasa Mandarin yang sedang saya cukup gemari yaitu EXO-M.


...ganteng-ganteng, ya. 
*nobodyaskyou.com* tapi saya lagi gak maksud ngomongin mereka, sih. capek juga kagum melulu. this image are also not mine, I got it from somewhere in the internet. you mad?

Singkat cerita, silaunya kesempatan untuk keluar negeri dan kemungkinan bisa mengunjungi negeri pangeran-pangeran yang hanya dalam angan saya itu lah yang kira-kira menjadi alasan, dengan jujur saja saya katakan itu. Saya yang notabene nggak pernah masuk dalam dunia ke-paduan suara-an.

Anak muda sekarang menggambarkan keadaan semacam ini dengan satu kata: “Pfft.”

Iya, “Pfft...”

***

Meskipun demikian, nggak sedangkal itu juga sih alasan saya. Kalau ditanya apakah saya suka musik, suka nyanyi, dan suka bareng-bareng seperti yang dinyatakan dalam promosi rekrutmen terbuka paduan suara universitas itu, sih, memang saya suka. Sudah lama musik itu adalah salah satu hal yang membuat hidup saya terasa lebih ada artinya, dan saya juga menemukan kesenangan dari ikut menyanyikan lagu yang sesuai dengan selera dan isi hati, dan sebagai manusia tentunya saya juga bukan makhluk soliter yang suka apa-apa sendiri.

Berbekal alasan-alasan itulah, serta logika untuk tidak melepaskan kesempatan ini karena toh ada proses seleksi yang justru membuat kemungkinan untuk “udah-coba-saja” semakin besar. Saya pun mendaftar dan begitu juga dengan kakak saya yang sudah lama memendam keinginan untuk bisa bergabung dengan tim paduan suara universitas itu.

The light just seem too bright and maybe I was hoped to be shone underneath it.

***

Sampai ketika ada semacam acara One Day Training diadakan dan tentunya saya ikuti itu dengan kesadaran besar sebagai orang yang sama sekali awam dengan ke-paduan suara-an. Mengikuti acara itu ternyata membuat saya sadar betapa saya sama sekali nggak nyangka kalau urusan ke-paduan suara-an ini bener-bener bukan main-main. Meskipun saya juga maksudnya juga bukan main-main, tolong mengerti sajalah maksud saya, ya.

Paduan suara universitas saya ini berprestasi besar juga dengan kompensasi yang nggak ringan, latihan hampir setiap hari dan lebih-lebih kalau ada job dan kompetisi, pendanaan juga sifatnya terkesan mandiri, bahkan bisa sampai ngamen, ngawul (jualan baju bekas) dlsb. Saya jadi geleng-geleng kepala dan mulas dalam bayangan ketika membayangkan gimana jadinya dengan kuliah yang juga sama-sama padat, dengan segala dinamika sistem KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi) yang sedang saya jalani ini.

Belum lagi juga uraian yang disampaikan mengenai teknik bernyanyi, saya juga nggak sebegitu menyangka betapa ekspektasi tentang kematangan teknik juga sangat dituntut dari pak pelatihnya. Cukup “mengguncang” saja rasanya, bagi saya yang lebih memihak pada perasaan daripada kekakuan hal-hal praktikal ketika mendengar sendiri ucapan beliau kalau misalnya anggapan bahwa menyanyi dengan mengandalkan perasaan itu salah.

Bisa saja sih saya salah tangkap, cuma saya jadi berpikir apakah saat itu saya menemukan pandangan nggak sama yang cukup “fatal” untuk dilakukan.

Sepulangnya dari One Day Training itu, saya hanya lebih banyak membawa pulang rasa ragu.

***

Hari seleksi datang dan saya serta kakak datang cukup awal untuk bisa juga diseleksi lebih awal. Tesnya secara keseluruhan terdiri dari tes wawancara, tes nada, tes koreografi (sederhana), dan tentunya tes menyanyi disaksikan pak pelatihnya.

Keraguan itu semakin menggedor hati saya ketika saya diwawancara (halah). Terlebih ketika pertanyaan soal kemungkinan saya “mendua” dengan minat lain serta organisasi lain ditanyakan, soal mana yang lebih saya utamakan, bagaimana membagi prioritas, bagaimana dan bagaimana lainnya. Sampai-sampai ketika saya menyebutkan keinginan saya untuk juga mengikuti UPK (Unit Pelaksana Kegiatan) jurnalistik di kampus, ditanyakan lagi kalau begitu apa saya lebih ingin menulis atau menyanyi? Terus apakah saya benar-benar ingin masuk PSM?

Saya kira apapun dan bagaimanapun saya menjawab semua itu hanya terasa sebagai suatu hal yang mengambang saja sekarang.

Tes nada dan tes koreografi... well, I am not that musical nor I could danced that well. Begitulah.

Terus di sinilah di tes tahap terakhir waktu disuruh nyanyi di depan pak pelatih yang bisa dibilang benar-benar klimaks dari segala perasaan mengambang dan ragu itu (halah kedua). Suara saya yang entah kenapa dimasukin ke kelompok suara sopran (....) diminta untuk terus meninggi dan meninggi menyanyikan reff lagu “Sendiri Lagi” yang saya pilih. Oh mengapa oh mengapa. Bapak pelatih pun meninggalkan testimoni bahwa saya bukan apa-apa kalau belum bisa mencapai ketinggian nada tuts kibor yang makin lama makin bening itu karena sopran benerannya di sana seharusnya bisa mencapai nada yang kanan banget dari kibor menurut sudut pandang pak pelatih. Oh oke lah pak kalau begitu.

Terus ketauan kalau saya dari SMA yang paduan suaranya bagus, dan ternyata lulusan SMA saya juga ada yang juga gabung di paduan suara mahasiswa itu. Oh, gitu ya pak. Iya pak saya memang nggak ikut waktu SMA. Terus waktu giliran kakak saya juga... waktu kakak saya dipanggil saya udah harus keluar ruangan seleksi sih jadi entah deh gimana persisnya pak pelatih bilangnya.

Kakak saya cerita kalau dia lebih suka melupakan apa yang pak pelatihnya itu katakan sama dia. Oh gitu ya yang kesekian.

Iya dan sepulangnya dari seleksi pun saya hanya meragu. Gayanya ya, seakan-akan saya berpotensi besar banget untuk diterima.

***

Meskipun kemungkinan untuk diterima itu hampir kayak kemungkinan terjadinya mukjizat, tapi selama menunggu pengumuman saya juga nggak bisa memungkiri kalau rasa meragu itu masih menggantung terus di hati (halah yang ketiga). Saya jadi takut akan bagaimana jadinya kalau SEMISALNYA saya diterima, apakah saya nanti akan bisa tetep keep in pace sama kuliah, apa nanti saya bisa bener-bener membagi antara kegiatan di jurnalistik sama padatnya latihan di PSM, juga dengan keadaan mobilitas saya yang nggak bisa kemana-mana "sefleksibel itu" karena saya masih bergantung dalam urusan transportasi. Gimana kalau saya mesti latihan sampai malam, harus gimana dan gimana nanti. Gimana juga dengan “perbedaan pandangan” itu?

...dan semua itu pernah sampai dalam tahap dimana saya diam-diam berpikir kalau mungkin lebih baik kalau saya nggak diterima. Bahkan sampai kebawa mimpi dimana waktu dalam mimpi itu saya seolah pertamanya dibilang diterima, tapi ternyata itu cuma “pancingan” buat penentu diterima atau nggak tambahan yang berupa G-Dragon dan Taeyang BIGBANG (ini serius saya mimpikan) yang bilang lebih suka suara temen SD saya yang di mimpi seolah-olah menjadi kompetitor terakhir saya di seleksi padahal notabene dia pengen banget masuk, dan di mimpi itu saya ragu-ragunya sama.

Lalu akhir mimpi itu adalah ketika ternyata saya nggak diterima, lalu saya berlari keluar gedung seleksi yang serupa mansion (...), lari dengan rasa lega yang ganjil dilatarbelakangi intro instrumental lagu Lovers In Japan nya Coldplay, lalu saya bilang sama temen SD saya (yang udah siap-siap pulang sambil nangis sedih) kalau dia yang diterima. Di situ pun saya berpesan agar dia bilang ke G-Dragon dan Taeyang kalau saya itu penggemar mereka dan saya minta maaf kalau saya kayak dijadikan pancingan agar seleksi itu (yang ceritanya di mimpi itu seperti reality show)keliatan “panas”, dan bikin mereka “gelo” karena mereka “nggak suka” suara saya. Saya nitip agar temen SD saya itu bilang kalau saya akan tetep mendukung mereka. Oh VIP yang ngenes banget ya keliatannya.

Iya dan kenyataan waktu pengumuman yang sebenernya keluar pun hasilnya juga sama. Saya nggak diterima (sayangnya, begitu juga dengan kakak saya padahal saya berharap setidaknya kakak saya bisa diterima...), tapi saya entah kenapa lega. Saya bebas dari keraguan itu.

***

Mungkin memang ini yang terbaik, dan meskipun kakak saya lebih termotivasi untuk diterima daripada saya, saya juga berharap ini memang yang terbaik. Saya tahu kalau saya merasa belum bisa menerima pandangan pak pelatih yang mengesankan kalau PSM itu butuh yang tahu teknik, lebih dari apapun. Ternyata itu juga yang terimpresikan kepada kakak saya waktu dia diseleksi menyanyi, seperti yang kakak saya bilang, kalau begitu mengapa sekalian saja dicantumkan kalau PSM hanya mencari orang yang sudah pernah les vokal atau apa, mengacu pada ucapan pak pelatih yang bilang kalau kemampuan kami bersaudara (halah yang keempat) masih kurang dan kami harus latihan teknik.

Kakak saya bilang gimana bagi dia saat itu terkesan sekali dari apa yang dikatakan kalau kok berani-beraninya kami daftar PSM dengan teknik yang kurang kayak begitu. Oh gitu ya ternyata yang kedua, kalau nggak salah.

Mungkin memang benar, kalau menyanyi itu pasti butuh teknik. Lalu waktu kita sudah menguasai tekniknya, baru kita kasih “perasaan”. Mungkin maksud bapak pelatihnya gitu. Gak tahu lah ya. Saya harap kakak saya bisa segera overcome kekecewaan itu, seperti saya nggak kecewa segitunya.

Seperti di mimpi juga temen SD saya itu diterima, dan saya pikir that is what she deserve kok. Ya sudahlah, saya berkesimpulan kalau saya akan berusaha untuk menemukan cara lain agar bisa keluar negeri. Cara lain agar bisa ke Korea. Baiklah, saya akan menekuni menulis dan mengikuti macam-macam kompetisinya dan siapa tahu kesempatan itu akan datang.

Siapa tahu suatu saat rejeki akan malu karena tidak mendatangi saya yang akan mengusahakan kesempatan-kesempatan untuk menulis dengan kemungkinan untuk menghasilkan.

Mungkin semua ini menunjukkan bahwa saya ternyata bisa lebih menerima konsekuensi menekuni menulis daripada konsekuensi menekuni menyanyi di PSM, mungkin itu yang Allah SWT. coba tunjukkan pada saya. Siapa yang tahu.

Barangkali juga semua ini menunjukkan pada saya soal “mencintai suatu hal dengan seutuhnya”, bahwa kadang cahaya yang menyilaukan itu hanya terasa membutakan, dan nggak membuat kita melihat yang sebenarnya. Bahwa yang sebenarnya itu mungkin belum tentu apa yang teraik buat kita, betapapun menyilaukannya itu terlihat di luar. Bahwa “mencintai suatu hal dengan seutuhnya” itu berarti juga menerima apa yang ada di balik kegelapan bayang-bayang cahaya menyilaukan itu.

Just don’t let those lights left you blind.

Tuesday, November 20, 2012

The Three Words.

Jadi, bukan, bukan I. Love. You.

Siang tadi, saya baru diwawancarai untuk perekrutan anggota Psikologi Jurnalistik Undip, dan kira-kira hampir di penghujung wawancara yang telah saya ikuti dengan jawaban yang makin lama makin inkoheren, tipikal, dan lain sebagainya, mendadak sang kakak pewawancara (yang entah kenapa membuat saya merasa nggak enak karena kayaknya jawaban saya nggak membuat ekspresinya cukup tertarik?) menanyakan satu pertanyaan yang tidak terlalu saya antisipasi sebelumnya.

Meski sebenarnya, saya nggak mengantisipasi pertanyaan apapun.
Coba sebutkan tiga kata yang bisa menggambarkan dirimu.
Setelah mendengar pertanyaan itu, berbagai macam pikiran muncul di dalam kepala saya; tapi yang juga terjadi adalah saya harus cepat menjawab ini.

Meski saya berpikir untuk menyebutkan "bakmi" dan atau "kentang", saya nggak menyebutkannya karena itu terlalu mengesankan orientasi abnormal pada makanan tertentu, dan seharusnya saya membuat si kakak mau menerima saya sebagai anggota tim jurnalistik kampus yang bisa diandalkan bukannya gila bakmi dan kentang.

Di situ saya kembali harus berpikir cepat, men, dan akhirnya yang saya katakan adalah

Tulisan,

...mengacu pada kesadaran saya akan bagaimana saya selalu merasa nyaman untuk menjadi diri saya dan mengutarakan apa yang ingin saya katakan lewat tulisan; menggantikan kata "pemalu" yang sebenarnya sempat terpikirkan, tapi entah kenapa saya tolak. Meskipun mungkin memang saya pemalu, saya sedang dalam masa ingin berubah menjadi... sesuatu... apa?
*diucapkan sangat pelan karena nggak terlalu yakin*...buku*dan akhirnya nggak jadi dan saya akhirnya mengeraskan suara*

...menghargai,

...berdasar pada bagaimana saya memandang sesuatu selama beberapa lama ini, entahlah, rasanya seperti susah sekali bagi saya untuk mengabaikan pikiran bagaimana saya tidak ingin memerlakukan sesuatu dalam cara yang saya sendiri tak akan suka menerimanya.

Setia.

...jujur saja saya juga nggak terlalu paham kenapa saya akhirnya menjadikan kata ini sebagai kata ketiga untuk menggambarkan diri saya.

Saat saya menulis ini, saya jadi teringat kalau saya pernah berpikir apakah mungkin saya memang punya semacam sense of belonging yang besar pada sesuatu meski saya nggak pernah benar-benar mengekspresikannya.
Sesuatu apa? Sebenarnya macam-macam, dari mulai benda-benda, dimana saya suka banget kesal sama kakak saya kalau pakai/pinjam barang saya sembarangan, sampai pada orang-orang... dan, untungnya saya masih cukup sadar untuk nggak terlalu mengekspresikan itu. Syukur deh, seringnya saya bisa cukup "sigap" bahwa saya nggak akan selalu berhak merasa bisa "terus memiliki" orang-orang yang saya anggap berarti, bahwa saya nggak bisa memaksakan anggapan apapun terhadap orang lain.

So that's my three words, what about you?

Monday, October 29, 2012

Embracing Life Balance With a Proper Nocturnal Pampering


Everything exists in harmony.  Kadang-kadang, saya pikir salah satu inti dari cara kita hidup adalah berusaha menjaga harmoni itu, mencari sebuah keseimbangan, keadaan di mana kita merasa paling nyaman dan “cukup”.

Irama aktivitas kehidupan kita dalam satu hari juga seakan punya simbol keseimbangannya, yaitu matahari dan bulan, siang dan malam. Aktivitas siang hari identik dengan semangat dan energi, sedangkan aktivitas malam hari lebih pada suatu fase isi-ulang… meski pernyataan ini mungkin tidak sepenuhnya mewakili kenyataan kehidupan setiap orang, karena tidak ditutup kemungkinan tentang seseorang yang aktivitasnya selalu penuh hingga hari berganti lagi.

Irama seperti itu tidak terasa ideal, bukan, meskipun begitu?


Seperti yang saya coba ilustrasikan di atas. biasanya seiring matahari sudah mulai kelihatan “meredup” untuk kembali lagi ke peraduannya, begitu juga diri kita yang biasanya juga sudah merasa butuh untuk kembali mengisi-ulang diri kita setelah rentetan aktivitas yang sudah dilakukan. Kita juga butuh untuk kembali ke “peraduan” nyaman kita setelah menghabiskan hari di luar, memberikan energi dan semangat kita untuk dunia luar.

***
    
Untuk kita para perempuan yang seringkali terasa semacam terikat kodrat “tak tertulis” untuk selalu nampak baik sebagai suatu simbol keindahan dan kecantikan setiap harinya setelah sepanjang hari diterpa tantangan fisik-dan-mental dunia luar, bersaing dengan terangnya matahari sehingga seringkali harus membiarkan tubuh kita diterpa sapuan sinar terik, debu, dan hawa kering yang mengikuti... well, we deserve a nice self-recharging, ‘kan?

Ke salon ataupun spa dan melakukan perawatan di sana memang bisa dibilang salah satu cara yang menyegarkan diri yang menyenangkan, tapi kadang perawatan yang spesial juga membutuhkan bujet yang tidak sedikit.

Lain cerita kalau memang ada suatu tempat yang menyediakan perawatan spesial tanpa memungut biaya seperti Rumah Cantik Citra, mendatanginya bisa dijadikan pilihan yang bagus. Sayangnya di Kota Semarang saat ini masih belum dibuka lagi, dan saya belum sempat mencoba perawatannya yang kata kakak saya enak. Beruntung sekali kalau sudah pernah mencoba ke Rumah Cantik Citra seperti kakak saya itu, ya, sayangnya waktu masih dibuka di Semarang kesadaran saya tentang pentingnya self-pampering semacam itu masih mengalahkan kesukaan saya pada yang gratisan.

Tapi hendaknya pengalaman seperti itu jangan disesali, malah hanya akan membuat kepikiran yang bisa menyebabkan stres dan itu tidak disarankan untuk menjaga kecantikan (yang bisa dibilang) merupakan simbol dari wanita. Hehe! Saatnya mengasah kecantikan berpikir kita dalam mencari cara kita sendiri untuk me-recharge diri.

Kalau untuk saya, salah satu kombinasi yang paling menyenangkan setelah seharian beraktivitas adalah gabungan dari mandi air panas, makan malam yang enak, cokelat panas, dan tak lupa melakukan perawatan  kulit tubuh malam hari saat sebelum tidur (dan jangan lupa gosok gigi!).

Terakhir disebutkan (tapi bukan yang di dalam kurung) bisa dibilang datang diiringi kesadaran diri setelah lama mengalami tumbuh-kembang dan akhirnya menyadari diri sendiri sudah menjadi wanita, nih. Tidak mungkin ‘kan membiarkan diri kelihatan tidak perhatian pada diri sendiri? Kesehatan kondisi kulit yang terjaga menjadi salah satu indikator untuk mengukur bagaimana kita memerhatikan diri selain kesehatan rambut dan gigi. Kehidupan sosial kita menuntut diri kita untuk berhadapan dengan banyak orang, dan sangat penting untuk bisa meninggalkan kesan yang baik untuk mereka, baik dari yang bisa dilihat sampai yang bisa dirasakan.

Untuk itulah, penting juga menemukan waktu tertentu untuk me-maintain penampilan kita yang dilihat dari luar; dengan kulit sebagai salah satu yang utama karena merupakan bagian tubuh paling luar dari kita. Bagi kulit kita, waktu malam hari ternyata yang paling cocok. Bisa dibilang pas sekali bukan, dan membuat irama keseharian kita juga terasa seimbang dengan baik. Pagi-siang bebas beraktivitas dan bekerja, malamnya bebas beristirahat dan berbenah untuk esok yang selalu segar dan semangat!

***

Mengapa malam hari? Selain sebagai suatu waktu di mana tanggungan pekerjaan sudah banyak diselesaikan dan lebih banyak waktu untuk diri sendiri akan tersedia, ada juga penjelasan secara ilmiah seperti berikut jika alasan saya masih belum meyakinkan:
"Kulit mengalami regenerasi optimal dan membutuhkan kelembaban yang tinggi saat malam hari. Maka body lotion juga harus diaplikasikan saat menjelang tidur."
(Dikutip dari: female.kompas.com)
Jangan puas dulu kalau Anda sebenarnya sudah merasa "yakin" dengan "kelangsungan" kulit karena sudah mengaplikasikan krim pagi ataupun sunblock, karena kalau ingin seratus persen yakin, kulit juga butuh "bantuan" dari krim yang dipakai saat malam hari. Mengapa? Ternyata, kulit juga sama-sama "recharging" seperti kita setelah seharian beraktivitas, dengan adanya aktivitas penguapan tinggi yang dilakukan oleh kulit. Seperti kata Pak Dokter Kulit pada kutipan di bawah ini:
Menurut dr Eddy Karta, SpKK, pada malam hari hari sel kulit memperbaiki diri dan air di dalam kulit menguap 20 persen. Kandungan air pada kulit pun menghilang hingga 25 persen.
"Kulit akan terus-teruan mengeluarkan atau menguap air, sehingga kelembaban kulit akan hilang. Pentingnya menggunakan pelembab pada malam hari karena untuk menjaga agar air tidak menguap terlalu banyak pada kulit. Dengan kelembaban susunan sel kulit akan baik," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia itu.
(Dikutip dari: wolipop.detik.com)
Sungguh Maha Besar Sang Pencipta, bahkan Dia membuat kulit kita juga kompak untuk menyegarkan diri di waktu yang sama dengan diri kita. Jadi, yuk jangan disia-siakan!

***

Kelangsungan perawatan kulit tubuh malam hari ini salah satunya juga ditentukan oleh pembagian waktu yang baik. Atur urutan hal yang kita lakukan sedemikian rupa sehingga tetap bisa ada waktu selama sekitar lima belas menit di malam hari sebelum tidur untuk merawat kulit kita. Masih boleh deh, tetap update networking dengan menengok jejaring sosial kita atau berbagi hal-hal berkesan hari ini di posting blog, tapi jangan keasyikan dan malah melupakan “ritual” sederhana tapi esensial kalian untuk mendukung cantik luar-dalam, ya.

Setelah waktunya pas dan kalian sudah akan bersiap tidur, make yourself comfortable untuk melakukan rangkaian persiapan menuju tidur cantik kalian. Akan bagus jika kamar sudah rapi, pakaian yang mau dipakai serta barang yang mau dibawa besok sudah disiapkan. Tinggal matikan lampu atau menyalakan lampu tidur cantik kesayangan, mungkin bisa juga ditambah menyalakan musik yang menenangkan untuk mengantar tidur? Nah, jika semuanya sudah, maka perawatan kulit tubuh malam hari kalian sudah bisa dilakukan!

Saya ingat waktu saya masih lebih kecil dan terkadang mendapati kakak perempuan saya yang lebih tua tiga tahun mengoleskan body lotion sebelum tidur. Bagi saya itu kegiatan yang semacam menyenangkan dilihat, entah kenapa. Mungkin karena kakak saya menggunakan body lotion yang baunya wangi dan ketika disentuh rasanya halus, ya.

Seringkali melakukan perawatan kulit tubuh malam hari terkadang dilewatkan karena kelewat mengantuk atau malas. Padahal sebenarnya itu merupakan hal yang menyenangkan untuk dilakukan jika sudah ada kesadaran, untuk menyadari pentingnya dan membiasakan diri melakukannya. Begitu juga dengan saya yang sebenarnya juga masih membiasakan diri, tapi ketika melakukannya sendiri memang sebenarnya tidak buruk, kok.

Rasanya seperti ada dalam me time di mana saya bebas merasa diri saya cantik dan menyemangati diri sendiri. Lebih enak lagi jika sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan, bisa memanjakan panca indera kita sekaligus, lho. Bagaimana bisa? Untuk itu kita harus menyiapkan “komponen kecil” yang pas. Selain penyediaan waktu dan pengondisian sekitar yang nyaman, “komponen kecil” seperti pilihan produk perawatan berupa body lotion yang pas juga tidak kalah penting.

Sangat penting untuk bisa memakai produk luar perawatan kulit yang memiliki kandungan yang baik dan cocok untuk kulit kita. Jangan sampai perawatan kulit malam hari yang seharusnya membuat kita semakin segar untuk keesokan hari malah membawa kekhawatiran. Apalagi jika seperti saya yang berkulit sensitif, tidak bisa sembarangan memilih body lotion. Biasanya, paling aman jika memilih body lotion yang tidak kebanyakan bahan kimia dan mengonsentrasikan kandungannya dari bahan-bahan alami.

gambar diambil dari rumahcantikcitra.co.id

Kandungan dalam Citra Night Whitening saya kira bisa memenuhi kriteria dari “komponen kecil” yang pas itu. Kandungan utamanya dari bahan alami buah-buahan, yaitu minyak biji anggur dan ekstrak mulberry, bukan dari bahan kimia pemutih/pencerah yang tidak bisa membuat kita merasa aman. Rupanya kandungan mulberry dan minyak biji anggur saling bekerja sama untuk menjadi campuran cocok dipakai untuk perawatan kulit tubuh malam hari yang pas. Bagaimana kedua kandungan ini bekerja sama secara ilmiah bisa kita lihat dari kutipan berikut:
"Ekstrak mulberry ini dikombinasikan dengan vitamin B3 untuk membuat kulit tampak lebih cerah, dengan menghambat kerja enzim tyrosinase yang bertanggung jawab untuk membentuk melanin (zat warna) di kulit. Sedangkan minyak biji anggur mengandung asam linoleat, lemak penting yang dibutuhkan tubuh untuk meregenerasi kulit. Selain itu minyak biji anggur ini juga mengandung antioksidan yang berfungsi menghambat proses pembentukan radikal bebas. Kandungan minyak biji anggur dan mulberry ini juga menciptakan keharuman yang menyegarkan dan menenangkan." (Dikutip dari female.kompas.com
Wah benar-benar peramunya tahu sekali “keajaiban” bahan-bahan alami untuk membuat yang memakai jadi lebih cantik alami tanpa bahan buatan.

Selain itu, berita bagus nih untuk si hemat, karena harga dari Citra Night Whitening ini juga sangat ramah di kantong:
'Citra Night Whitening' telah bisa didapatkan di supermarket maupun toko-toko kecantikan di Indonesia. Kemasan 60ml dijual seharga Rp 5,700, 120ml Rp 10,200, kemasan 250ml dijuar sehraga Rp 17,900, sedangkan kemasan 400ml seharga Rp 26,700.
(Dikutip dari: wolipop.detik.com)
Cantik dengan produk yang kandungannya dari bahan alami dan harganya juga tidak membuat mengelus dada dan jadi kepikiran ketika tidur setelah memakainya, salah satu bukti kalau cantik tidak harus mahal, bukan?

Lalu bagaimana bisa perawatan kulit tubuh malam hari ini memanjakan panca indera kita setelah “bahan-bahan”nya tersedia? Mudah saja jangan dibuat sulit... Wangi paduan minyak biji anggur dan mulberry akan sangat memanjakan penciuman kita sehingga membantu diri kita merasa lebih tenang, kulit kita yang terasa lembut dan terlihat lembab akan memuaskan penglihatan dan perabaan kita saat mengaplikasikan Citra Night Whitening, dan bagaimana lagu-lagu favorit yang kita dengarkan membuat lidah kita ikut melafalkan liriknya saat sedang asyik dengan body lotion yang wangi, lembut di kulit kita merupakan tanda bagaimana panca indera kita dimanjakan saat melakukan perawatan kulit di malam hari ini.


It does make sense, right? Just admit it anyway…! 

***

Kalau caranya benar seperti yang sudah saya gambarkan tadi, tentunya akan terasa sekali bagaimana kita semakin mendekati keseimbangan yang kita cari setelah perawatan kulit tubuh malam hari untuk menyegarkan diri di hari esok, bukan? Bukan hanya semangat dan optimisme yang harus diisi-ulang ketika kita akan menghadapi hari esok, tapi juga kondisi prima dari jasmani yang salah satunya adalah kesehatan kulit, pelindung luar kita yang akan jadi andalan menghadapi sinar matahari dan kawan-kawan. Senantiasa cantik luar-dalam untuk hari esok dengan perawatan diri yang menyeimbangkan dengan kebutuhan aktivitas di siang hari, let embrace this harmony we deserve to achieve, ladies. J

Setelah ulasan panjang ini, semoga bisa membantu membangun kesadaran kita pada hal-hal sederhana yang bisa kita biasakan untuk kualitas hidup yang lebih baik, ya! Jangan malu untuk menjadi perhatian pada karunia jasmani yang Tuhan berikan untuk kita, jadikan saja sebagai salah satu upaya kita untuk bersyukur. 

Friday, October 26, 2012

Can I Be Sweet Enough If Want To? :p



Well I made this for one of my best-granny-friend who is currently continues her study in Malaysia u,u

The distance makes me feel some urge so this is what comes out ^^ best wishes!!

Actually, I feel a bit bad because I don't make such these things to my other besties >< even to my own sister, I guess since now I will try to be more romantic to them = =

Friday, October 19, 2012

VIP Journey: Before and After The Stage-Lights

Seperti yang sudah saya janjikan dalam post berlabel VIP Journey sebelum ini ;p Sebenarnya, banyak sekali hal yang terjadi dan banyak sekali rasa yang kayaknya jika diceritakan tidak akan bisa benar-benar menggambarkan... dan saya kira bercerita terlalu panjang lebar dan kronologik mungkin agak un-necessary. Kemungkinan besar akan ada lebih banyak orang yang bisa menuliskan pengalaman mendetilnya menonton BIGBANG Alive Tour 2012 di Indonesia kemarin dengan lebih menarik dan baik dari saya (: just happy googling if that’s what you look for, like I did when I am lackingly tried to “surveyed” how’s a concert in MEIS feels like and I’ve read a couple of SuperShow4 Indonesia fan-account posts out there. Konser kemarin... luar biasa, dalam segala perasaan undescribable yang terasa saat lampu panggung masih mati dan dimatikan lagi.
...like, "I don't know what to say no more...?"
Sebelum semuanya dimulai, dan kedatangan saya bersama kak-adik dan Ibu (ya! Ibu saya menemani kami bertiga menonton boyband asing yang sama sekali tidak dikenalnya :’) yang sedikit terburu karena keterlambatan jadwal pesawat dan kondisi lalu lintas yang agak kurang mendukung akhirnya menyuguhkan kami pada our best seat in that night.


Saya melihat sekeliling stadium yang pelan-pelan mulai terisi dengan orang-orang dan atribut penggembira serba-kuning, yang sebenarnya tidak terkecuali saya, sih...

Tahu perasaan aneh ketika kamu merasa sedang tidak berada dalam dunia nyata karena... di sekitarmu, apa yang terlihat, terasa, dan dialami terasa lebih akrab di angan-angan? Waktu itu dengan suatu dazzled feeling, rasanya perlahan-lahan sekali saya mencerna kenyataan bahwa saya BENAR-BENAR AKAN MENONTON BIGBANG. Bukan sebuah layar yang mengirimkan pantulan visual ke retina mata saya!

Saya melihat atribut di sekitar saya (crown-headband yang saya pakai dua buah di kepala serta kaos penggemar resmi dari BigBang Indonesia, plus empat buah handbanner), mendadak terbayang hari-hari di mana semua atribut itu terasa agak “janggal” dibanding ke-regular-an semua benda di rumah =))...dan sebentar lagi saya akan menggunakan semua atribut itu SEPERTI ORANG YANG BENAR-BENAR MENONTON KONSER.

Layar besar di sebelah kanan menampilkan rentetan musik video dan tayangan iklan sponsor, dan meski saya pertamakalinya agak nggak “ngeh”, saya akhirnya ikutan overwhelmed dalam perasaan dan ekspresi verbal pada apa yang sebenarnya sudah biasa dilihat (musik video-musik video itu) karena sadar bahwa YANG ASLI SEBENTAR LAGI AKAN BISA DILIHAT.

**

Lalu dimulai, dan saya ada di antara cahaya lightstick dan lampu panggung yang menyilaukan, menjadi bagian dari hal yang sempat saya angan-angankan dalam hati.


Posisi VIP memang rupanya tidak membuat saya dalam posisi yang bisa sedekat mungkin, namun biar saya beri tahu ya, mengutip sedikit dari perkataan Ibu saya; posisi ini seakan memberikan sedikit distant-view yang bisa kamu nikmati untuk dirimu sendiri.

Posisi VIP ini tidak akan mengharuskan kamu untuk terlihat terus excited, tapi dari posisi itu, meski tentu saja kamu tidak akan bisa menghindar untuk tidak terpengaruh “euforia” crowd”, dijamin kamu akan punya lebih banyak kesempatan untuk... benar-benar hanya meresapi momen di dalam dan luar dirimu, mengambil jeda untuk sejenak melihat keseluruhan dari “hal besar” yang menjadikan kamu sebagai satu bagiannya.

Tentu saja, ekspresi verbal yang lantang-nyaris-tak-terkendali terlepas pula dari saya ketika rasa senang dan tidak percaya melingkupi saya saat lagu seperti “Stupid Liar”, “Love Song”, dan “Haru-Haru” dibawakan LANGSUNG. Begitu pula ketika saya mengekspresikan bagaimana menawan dan atraktifnya kelima member BIGBANG di atas panggung.

Mengayunkan lightstick, seperti semua yang menontonnya, saya seperti berusaha menekankan keberadaan saya dalam segala kemeriahan itu agar mereka yang sedang tampil di atas panggung bisa ikut merasakan “keberadaan” saya yang menikmati dan mensyukuri kesempatan saya melihat mereka malam itu.

Mereka semua tampil profesional, atraktif, dan luar biasa. Itu semua seakan membuat kami semua yang berada dalam stadium sepakat untuk membuat mereka semua merasakan segala apresiasi tulus yang bisa kami berikan. Rasanya senang sekali karena mereka bisa “merasakannya”, dan mereka berterima kasih, berusaha berkomunikasi dalam bahasa Inggris meski kadang bercampur bahasa ibu mereka menunjukkan acknowledgement dan appreciation.

Mereka bilang, kurang-lebihnya, bahwa ini merupakan kali pertama mereka di Indonesia, dan mereka sangat berterima kasih karena “kehangatan” dan “kebaikan” yang mereka rasakan untuk mereka di sini. Silly boys, tentu saja! Rasanya puas melihat bagaimana mereka menyaksikan sendiri betapa di luar dugaannya dukungan yang mereka dapatkan di Indonesia... ini membuat saya harus menuliskan betapa tak-tergambarkan sekali rasa senang yang terasa ketika mereka mengajak kami semua menyanyikan “Haru-Haru” bersama mereka!

**

Saya yang pada awalnya lebih banyak menumpahkan “afeksi” pada sosok G-Dragon pun lantas meratakan kadar “cinta” saya pada semua member yang lain setelah menonton konser ini. Semua member BIGBANG yang menunjukkan kualitas mereka yang pantas untuk mendapat limpahan rasa sayang =))

G-Dragon! Kamu bisa terlihat menjadi seperti apa saja yang kamu mau dan tidak pernah gagal terlihat mengangumkan, dari mulai nampak charming sampai nampak sangat cute >< saya ingat kemarin, kamu sempat duduk di pinggir panggung dan nampak sangat adorable dalam gestur dan mimik yang kamu tampilkan saat melakukannya!

TOP! Ketampanan dan pesonamu mampu mendapat pengakuan dari siapa saja ya, sepertinya! Bahkan Ibu saya hanya mengakui ketampananmu dibanding anggota yang lain :p

Daesung! Tidak hanya suaramu saja yang menyentuh hati saya, saya juga selalu merasa terhibur dengan setiap hal yang kamu katakan, memang benar kalau kamu akan unggul kalau muncul dalam acara variety!^^ Apalagi berdua dengan Seungri, you guys own the show with joyful laughter! :p ...kamu memang bukan main vocal biasa :’

Seungri! Saya tahu kalau kamu sempat punya skandal, dan jujur dikatakan kalau sebenarnya nggak heran kalau melihat pribadimu yang...yah..."charmingly naughty" itu. Tapi tetap saja! Kemarin kamu masih tetap menunjukkan ke-adorable-an khas maknae (meski kamu bukan maknae biasa, apalagi kalau mengingat penampilan solomu dengan tema militer (?) dengan outfit army dan senapan laser ////)

Taeyang!...dari dulu, persahabatanmu dengan G-Dragon selalu menyentuh saya dan membuat saya kagum, karena kalian adalah sahabat penuh bakat yang luar biasa > <  sangat senang bisa mengetahui betapa yang satu ini bisa berkomunikasi cukup lancar dalam bahasa Inggris > <...saya nggak nyangka kalau ternyata di atas semuanya, di malam itu, member satu ini menjadi...

...yang paling berkesan signifikan bagi saya?

Bagaimana seorang Dong Youngbae a.k.a Taeyang nampak sangat senang dan berterimakasih, berulang kali melakukan beatbox “aku cinta padamu” dan berkomunikasi pada kami, lalu seakan merasa masih perlu “meninggalkan” ekspresi kebahagiaan dan berterima kasih ia memberikan dance move atraktif-enerjik sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan panggung menyusul member lain setelah dua kali encore.

Belum lagi ketika dia seakan mengajak kami yang menonton di sisi atas untuk “melompat bersamanya”, memberi saya angan-angan untuk bisa seakan merasa benar-benar menatapnya tidak hanya satu arah! Abang, ko tahu saje.... =))

Youngbae-oppa, jujur saja saya tidak pernah menyangka akan menjadi sangat “tersentuh” itu padamu =)) ....but! ANYWAYS CONGRATULATIONS, GUYS, YOU’VE NAILED THE SHOW FOR SURE...saya ternyata berharap bahwa ini bukan konser dari mereka yang pertama dan terakhir, semoga saja di masa mendatang, Allah SWT bisa meridhoi saya beserta kakak-adik untuk mengalami ke-luar biasa-an ini lagi :’)

Hoping that this won't be the end of my 'VIP' Journey ;p

Wednesday, October 03, 2012

VIP Class Journey

About D-9 to the first held-in-Jakarta's concert I've ever attend.

disclaimer: I do not own this image

Seharusnya saya excited banget dan gak sabar kan untuk segera melihat langsung penampilan grup yang sudah cukup banyak menyita perhatian saya ini? O,O Bukannya saya sama sekali nggak merasa seperti itu, sih... Did you know those unnamed feelings when you just found yourself in the middle, no highs or lows? Pertama kalinya tahu soal konser ini,saya ingat betapa rasanya untuk bisa menontonnya adalah suatu hal yang "penting" sekali dan akan sulit untuk mengikhlaskannya seperti saya mengikhlaskan konser lain, jenis konser dimana kamu tahu itu adalah musisi favoritmu tapi kamu sadar kamu tidak bisa begitu saja menontonnya... hanya saja dengan Alive Tour ini, beda.

Nggak, saya nggak dibayar siapapun untuk ngomong seperti ini; this is just a honest feeling.

Mulailah akhirnya lika-liku saya sebagai seorang yang belum pernah lihat konser dalam skala ini, pertama kali, jelas, adalah minta izin.

Ternyata bukan perkara gampang, terutama jika orangtuamu belum pernah mendengar tentang musisi yang ingin kamu lihat konsernya... apalagi musisi Korea yang bahasanya aja hanya bisa dimengerti dengan batin (?). Belum kalau sudah ditanya soal harga, nah, pengertian mengenai keinginan si anak agak sulit diberikan setelah tahu harga tiketnya yang sangat "reasonable". Apa yang saya katakan ke Ibu saya waktu itu (saya ingat kejadiannya sewaktu kami sedang makan di Soto Pak Keri), adalah saya bersedia menggunakan uang di tabungan untuk bisa membayar tiketnya.

Memang saya nggak tanggung-tanggung, saya dan kakak (yang kebetulan, segala puji bagi Tuhan, juga suka Bigbang hehe) berniat membeli tiket VIP yang harganya paling mahal. Eits... bukan berarti kita nggak sadar sama sekali kalau penebusan atas tiket kelas itu adalah uang yang sama sekali NGGAK sedikit, namun kami saat itu merasa sekali kalau itu adalah konser yang pantas menjadi semacam satu kesempatan yang kemungkinan untuk terjadi kembali sangat kecil.

Memang entah kenapa konser ini bedaa banget; saya jadi ingat kalau bahkan waktu first official announcement atas konser ini dilakukan beberapa bulan yang lalu, serasa hati mendesir dengan keinginan untuk nonton konser ini... saya ingat kalau pengumuman resminya sudah ada sejak saya masih dalam kisaran kegiatan memersiapkan diri untuk SNMPTN Tertulis. Waktu itu sih saya nggak berani terlalu memikirkan konser ini dan berusaha menyadarkan diri kalau yang penting waktu itu adalah persiapan SNMPTN, bukan yang lain, kalau saya bertekad masih waras dalam segala "obsesi" saya... ha.

Kemudian singkat kata, akhirnya tahapan untuk akhirnya bisa berjuang mendapatkan tiket bisa dilakukan.

Ternyata memang nggak gampang, dan dalam waktu singkat yang sepertinya nggak perlu dijabarkan, kekurangan pengalaman dalam online-competition (?) membuat saya dan kakak nggak bisa mendapatkan tiket di hari penjualan online nya. Meminta tolong saudara yang tinggal di Jakarta pun entah kenapa rasanya rikuh, karena bagi kami perkara membeli tiket ini sebaiknya nggak perlu merepotkan orang lain secara berlebihan.

Kami sempat sampai dalam tahap dimana akhirnya (waktu itu) kami berpikir bahwa mungkin bukan rejeki kami untuk menonton konser itu, dan I would say that is not that easy; yah, tapi berlarut-larut juga diri sendiri yang rugi 'kan?

Waktu itu kami masih belum mendengar tentang prospek penambahan hari konser, dan meski sudah mulai bermunculan permintaan publik atas penambahan second show, saya dan kakak nggak berani terlalu berharap; meski kami mengira kalau memang sudah seharusnya musisi sehebat Bigbang mendapat tambahan hari konser di Indonesia yang penggemarnya bisa dibilang banyak.

Hari demi berlalu dan seperti biasa hidup terus berjalan (?), kami juga sudah nggak terlalu membicarakan permasalahan Bigbang ini karena sudah mulai dengan kegiatan kuliah (ehem). Meski demikian, sebagai kepo-er dan stalker profesional, saya masih rajin mengecek pembaruan terkini mengenai Alive Tour ini, dan benar saja, syukur alhamdulillah memang ada second show~

Balik lagi ke "perjuangan" beli tiketnya, tapi ternyata memang Allah Maha Tahu akan suara umatNya yang berharap adanya sedikit kelonggaran dari urusan perang koneksi (?)... ternyata keharusan untuk perang koneksi (?) dalam membeli tiket untuk second show ini bisa diminimalisasi dengan adanya kebijakan penjualan presale yang diadakan atas kerjasama fanbase dan ticketing company nya.

Dalam kesempatan ini biarkan saya mengekspresikan penghargaan saya atas pengertian luar biasa yang ditunjukkan fanbase Bigbang Indonesia bersama MyTicket-BigDaddy... betapa mereka tahu kalau second show nggak akan ada tanpa permintaan besar dari penggemar musisi yang bersangkutan! Yup, salah satu penentuan akan adanya second show ini memang datangnya juga dari proses voting (yang tentu saja saya ikuti, namanya juga berusaha hehe)~ dan saya serta kakak sangat mengapresiasi adanya presale yang bisa memberikan kesempatan bagi fans untuk mendapatkan tiket, dan bukan untuk calo :p

Singkat kata, dari mengikuti pembelian presale akhirnya saya dan kakak yang sudah nggak mau dan nggak lagi-lagi mengambil resiko dan tantangan untuk perang koneksi (?) akhirnya mendapatkan tiket kami~ alhamdulillah, meski tiket yang akhirnya kami dapat bukan tiket dalam kelas VIP-C seperti yang kami utamakan, namun kami sangat senang~~karena proses pembeliannya terasa bereda sekali dengan online sales yang biasa hehe.

Empat tiket kelas VIP akhirnya terbeli, segala puji bagi Tuhan :' ....yah, ini baru tiket konsernya, dan belum ditambah tiket transportasi, akomodasi, dan pernik cheering yang meski nggak wajib tapi "terasa perlu"...

Nggak kerasa ternyata menuliskan lagi pengalaman itu ternyata akhirnya mendebarkan hati saya yang sempat saya pikir nggak berasa berarti seperti yang saya katakan di awal. Bukankah sudah seharusnya, dengan segala lika-likunya, tentunya saya harus "menunggu" hari-H nya dengan perasaan yang lebih pantas~
Indeed, ini memang perjalanan VIP kami dengan harga yang memang sangat VIP~ mungkin di kesempatan selanjutnya saya akan cerita lagi lebih lanjut... yang jelas saya akan pastikan kalau VIP Journey ini akan diabadikan dalam jurnal ini, terutama tentang bagaimana pengalaman saya menonton konser seperti ini; sebagai a humble and lowly person I'd like to share and keep those moments and journey here. Jadi tunggu saja ya~  semoga semuanya bisa berjalan lancar. Amin. 

Tuesday, September 18, 2012

a first win


disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

Kemenangan pertama akan sangat berarti, dan tidak seperti seseorang yang meskipun sama bersyukurnya tapi sudah pernah merasakannya sebelum itu, barangkali nilainya akan sangat berbeda.

Kemenangan pertama bisa saja datang setelah semua kerja keras yang telah dilakukan mungkin sudah sampai pada titik di mana tak lagi terpikirkan yang lain selain berusaha selalu memberikan yang terbaik, untuk semua yang telah mendukung dan mencintai.

Untuk semua yang mendukung dan mencintai mereka.

Tuhan Maha Tahu usaha seseorang dan saya hanya percaya bahwa segala sesuatu yang baik akan menghasilkan buah yang manis. Dan mereka semua bukannya benar-benar berbeda dengan yang lain atau apa, namun mereka telah berjuang sebaik mungkin untuk semua yang telah mendukung mereka.

Hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu persis tentang berapa banyak hal yang sudah mereka ikhlaskan dan korbankan hingga mencapai sekarang ini, mencapai kemenangan pertama yang sempat mereka angan-angankan dengan lugu karena bagi mereka, mereka hanya baru saja memulai semuanya.

Dan air mata mungkin akan menetes karena hal-hal yang terlalu besar untuk dijelaskan, tapi biarkan itu memberi nilainya sendiri bagi mereka.

disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner

 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
 
disclaimer: photos of EXO taken via tumblr belong to its respective owner
Congratulations EXO for your first winning on The 5th Mingniu Billboard Music Award (:
EXO-M for Best Newcomer and EXO for Best Costume, that's big deal right?
So keep going, boys!

Thursday, September 06, 2012

Like a Postcard...yang alamatnya ngaco.

Lucu juga ya gimana kekangenan saya pada lingkungan lama ketika sedang memulai adaptasi di lingkungan yang masih asing bisa bikin pikiran jadi kemana-mana.

Or maybe I’m just... I don’t know.

Yang jelas suatu sore selepas rangkaian acara hari terakhir PMB selesai, dengan pakaian hitam-putih yang masih dibekasi sisa-sisa lemparan balon air dari kakak-kakak tadi siang... yah, well, saya menunggu jemputan.

(Kasih tahu saya kalau Anda punya frasa yang lebih bagus dari itu)

Agak janggal sih, sendirian di lingkungan yang belum dikenal benar, dalam posisi dimana saya seperti dasar dari rantai makanan (kalau diumpamakan)... dasar anak baru ya begitulah. Biasanya dulu kalau di sekolah nungguin sendirian sih asik-asik aja, tapi kemarin jadinya nggak mau keliatan sendirian.

(Tau kok kalau sebenernya nggak ada yang merhatiin entah saya sendirian atau koprol di koridor yang udah sepi itu, misalnya)

Gerombolan pendatang-yang-sepertinya-sedang-menunggu-juga sudah habis sih kebetulan, dan di saat itu tiba-tiba saja saya berpikir kalau pasti bakal nyenengin banget kalau ditemenin... kalau saja waktu itu ada sobat-sobat semasa SMA kelas 12 yang secara ajaib bisa mewujud terlepas dari lokasi yang sudah memencar-mencar.

Heran, biasanya saya juga seneng-seneng aja sendirian... nggak juga sih.

Angin sore pelan-pelan bertiup dan seakan membantu saya menikmati suasana, bersama juga dengan pohon-pohon yang sudah lebih dulu merindangi sekitar, sebenarnya nggak buruk-buruk banget sih.

Saya jadi inget lirik lagunya Owl City (lagi) yang berjudul Metropolis.
I feel like a postcard, I wish you were here.
Betapa banyak yang ingin dikatakan dan sedang dialami dan dirasakan dalam hati, namun tanpa kamu atau mereka untuk bisa benar-benar ada bersama saya rasanya hanya satu kalimat yang bisa dituangkan dalam kartu pos itu.

Betapa saya bakal akan sangat bersyukur dan menghargai keberadaan siapa saja yang bisa menemani kesendirian seperti iti dengan... obrolan, apa saja yang bisa membuat saya tidak merasa bahwa pepohonan yang saya lihat dan angin sejuk yang saya rasakan bukanlah lingkungan yang (masih) asing.

Saya nggak ingin dan sudah terlanjur capek menjadi terlalu muluk, berhubung sudah mahasiswa (...) saya ingin bisa kelihatan lebih realistis.
Hanya ingin tahu apakah ada kamu atau mereka itu untuk saya nanti... atau kapan.

Dari yang tidak ingin dijadikan alasan untuk terburu-buru dan ternyata suka mendapati dirinya menunggu.