Sunday, December 03, 2017

Menginap Selalu Nyaman, Perjalanan Keluarga Selalu Berkesan: #JadiBisa Dengan Traveloka

Setiap perjalanan memiliki kisah masing-masing. Orang-orang bepergian dari dan ke berbagai tempat, dengan berbagai cara dan tujuan. Bahkan meski berangkat dari tempat yang sama dan dengan tempat tujuan yang sama pula; perjalanan saya, misalnya, tidak mungkin sama dengan yang dialami orang lain. Ada banyak faktor yang menjadi alasan keunikan setiap perjalanan. Siapa yang melakukan perjalanan? Berapa lama perjalanannya? Apa tujuan perjalanannya? Berapa banyak dana yang disiapkan untuk perjalanan? Pertanyaan-pertanyaan itu tentu jawabannya berbeda-beda, begitupula perjalanan yang dideskripsikan dari jawaban-jawaban pertanyaan itu.

Hampir semua perjalanan saya dilakukan bersama keluarga. Kedua orangtua saya pada dasarnya memang sama gemarnya bersilaturahmi seperti halnya gemar bepergian. Sejak kecil, tidak jarang momen akhir minggu disempatkan menjadi waktu berkualitas keluarga karena orangtua menginisiasi perjalanan ke luar kota. Selain untuk pergantian suasana, agendanya juga sekalian untuk mengunjungi kerabat-kerabat kami di kota tersebut. Kota-kota yang menjadi tujuan kami biasanya adalah Solo, Jogjakarta, Purwokerto, Kebumen, dan Jakarta. Di Solo ada sepupu ayah saya, di Jogja ada kakak ibu saya, di Purwokerto ada tante dari pihak ibu, di Kebumen ada saudara dari pihak ayah, dan di Jakarta juga kerabat dari pihak ayah maupun ibu.

Pola bepergian keluarga saya lebih sering diawali dengan keputusan berangkat yang bisa dibilang “mendadak”. Biasanya baru pada pagi hari keberangkatan lah tercetus ajakan untuk bepergian bersama. Untungnya, kota tujuan yang terhitung tidak terlalu jauh dan masih wajar jika ditempuh dengan mobil menjadikan pola rencana bepergian keluarga kami menjadi tidak terlalu perlu untuk dipermasalahkan. Satu rombongan keluarga kami biasanya terdiri enam orang yaitu ayah, ibu, saya dan kedua saudara kandung, beserta satu kerabat yang membantu merawat saya dan kedua saudara saya sejak kecil. Bisa dibayangkan ya ramai dan penuhnya mobil kami.

Sampai sekarang, saya masih salut mengingat betapa besar semangat dan kekuatan yang ditunjukkan kedua orangtua saya lewat kesediaan beliau berdua untuk cukup sering menyisihkan waktu, tenaga, dan uang demi agenda bepergian akhir minggu kami. Padahal, kedua orangtua saya sudah mulai memasuki usia yang biasanya membuat orang-orang sepantaran beliau berdua berkurang keinginannya untuk berlelah-lelah bepergian. Saya bersyukur karena berarti Tuhan tidak hanya mencukupkan kemampuan finansial dan fisik kedua orangtua saya, tapi juga kemampuan jiwa dan hati untuk bepergian. Di mana tujuan bepergiannya pun tidak hanya untuk bersenang-senang, namun juga untuk menjaga tali silaturahmi. Pengorbanan waktu, uang, dan tenaga beliau berdua menjadi terbalaskan berkali-lipat dengan dampak menjaga silaturahmi yang bisa menjaga kebaikan lahir batin orang yang melakukannya.

Momen bepergian akhir minggu keluarga kami biasanya selalu identik dengan pergantian suasana melalui bagaimana kami bisa menginap di hotel; yang biasanya memberikan beragam fasilitas dan layanan. Kenyamanan merupakan aspek yang diutamakan kalau keluarga kami memutuskan untuk menginap di hotel, terutama bagi orangtua saya. Saya bersyukur, karena orangtua sebagai sumber dana perjalanan keluarga selalu mempunyai budget yang mencukupi dan memungkinkan untuk memilih tempat menginap di hotel. Kamar yang luas, adanya pendingin ruangan, kamar mandi air panas dalam kamar, layanan TV kabel, sarapan buffet, dan kolam renang sudah menjadi rangkaian fasilitas yang diekspektasikan pada tempat menginap keluarga kami.

Saya masih ingat bagaimana dulu sebenarnya proses memesan hotel tidak semudah sekarang. Dulu tak jarang kami baru memesan kamar di malam hari sewaktu memutuskan untuk menginap dan mendatangi hotel-hotel satu per satu menanyakan apakah ada kamar yang kosong. Sayangnya dulu saya masih kecil dan tidak bisa berdaya banyak untuk membantu orangtua saya. Syukurlah, semakin saya dan saudara kandung saya tumbuh dewasa dan melek teknologi, akhirnya kami bisa belajar membantu mempermudah perjalanan keluarga melalui penggunaan layanan online booking.

Adanya layanan online booking memang mengubah pengalaman merencanakan perjalanan dan melakukan perjalanan keluarga saya. Memesan tempat penginapan jadi jauh lebih mudah karena tinggal klik-klik di situs atau aplikasinya, lebih hemat karena ada potongan harga; apalagi kalau pesan dari jauh-jauh hari, dan lebih aman serta terjamin karena bisa langsung dibayar dan dibookingkan ke hotel bersangkutan.

Belakangan, Traveloka menjadi penyedia layanan online booking yang paling sering saya gunakan. Di handphone saya, aplikasi Traveloka menjadi semacam teman terpercaya untuk bisa menjauhkan kedua orangtua saya dari pengalaman tidak enak seperti kehabisan kamar atau kedapatan kamar dengan harga kemahalan setiap kali kami melakukan perjalanan keluarga. Traveloka sebagai layanan online booking jelas memungkinkan proses memesan hotel menjadi lebih mudah, hemat, aman, dan terjamin; tapi tidak hanya itu, kelebihan-kelebihan lain (iya, lebih dari satu lho; alias banyaak!) dari Traveloka membuat saya betah menggunakannya sebagai andalan sampai sekarang.

Kalau dirunut dari langkah-langkah memesan hotel lewat Traveloka, dari proses pilih-pilih hotel pun Traveloka sudah memberikan kenyamanan. Kita bisa punya banyak banget pilihan hotel dengan harga final melalui Traveloka. Kalau kamu pakai Traveloka, kamu nggak akan menemui harga kamar yang kelihatannya diskon banget tapi ternyata nantinya setelah ditotal akan ada ekstra-ekstra tambahan biaya tersembunyi seperti pajak. Harga yang ditampilkan di Traveloka memang benar harga diskon final dan jujur. Kamu bisa cek sendiri kalau harga yang tercantum di daftar pilihan hotel dan harga setelah ditotal akan sama, seperti yang ditunjukkan di gambar (yang paling jelas tentunya kalau kamu mentotal pesanan satu kamar untuk satu malam ya). 



Fitur harga final ini sangat membantu saat saya memesankan hotel untuk menginap bersama keluarga. Tidak jarang saya melakukan reservasi via Traveloka saat sedang bermobil di perjalanan menuju kota tujuan. Orangtua saya hanya perlu menyimak saya menyebutkan nama-nama hotel dan harganya. Beliau berdua pun tinggal memberi pendapat dan pertimbangan mereka untuk mengambil keputusan hotel yang dipilih. Adanya uraian info lengkap seputar hotel yang tersedia di aplikasi Traveloka sehingga kita bisa melihat foto-foto hotel sampai bisa tahu kamar-kamarnya seperti apa juga sangat membantu orangtua saya saat mempertimbangkan di mana kami akan menginap. Orangtua jadi tidak merasa hanya membayari tanpa memiliki kendali dan saya juga bisa mengomunikasikan pemakaian kartu kredit untuk pembayaran sejumlah berapa dan untuk hotel yang seperti apa secara jelas dan tentunya sepersetujuan beliau berdua.

Melalui Traveloka, membayar pesanan hotel untuk keluarga menginap juga jadi sangat mudah. Ada masanya ketika dulu saya harus meminta orangtua mengeluarkan kartu kredit mereka secara fisik agar saya bisa mencatat detail-detail kartu tiap kali sedang memesan hotel secara online. Kepintaran Traveloka untuk bisa menyimpan detail-detail kartu kredit membuat saya sekarang hanya perlu pilih kartu yang mau dipakai untuk membayar dengan sekali klik. Semisal mau menyicil pun juga bisa dilihat skema cicilannya. Kemudahan lain untuk membayar pesanan hotel di Traveloka juga ditunjukkan adanya pilihan pembayaran yang beragam dan tidak hanya terbatas dengan kartu kredit. Bahkan kita juga bisa membayar ke ATM dan gerai Indomaret/Alfamart untuk membooking pesanan kamar kita; seperti yang ditunjukkan gambar.


Memastikan kenyamanan untuk kedua orangtua saat akan menginap di luar kota merupakan prioritas tertinggi, karena sekarang tentunya orangtua sudah tidak se”muda” dulu meski masih memiliki semangat yang sama. Saat memesan hotel fokusnya bukan mencari harga yang termurah, tapi mencari hotel dengan nilai harga yang berbanding dengan jaminan kenyamanan menginap di sana.

Banyak perjalanan keluarga saya yang sudah menjadi jauh lebih nyaman dan berkesan dengan menggunakan Traveloka. Orangtua saya selalu nyaman beristirahat karena kami selalu bisa terjamin mendapat kamar hotel yang sesuai ekspektasi melalui Traveloka. Saat kami bepergian ke Kota Kebumen beberapa minggu lalu karena ada pernikahan kerabat, kami memesan kamar di Meotel by Daffam. Akad nikah yang diadakan di pagi hari bisa kami hadiri dengan lebih santai karena bisa menginap dari semalamnya, dan kami juga bisa beristirahat di jeda waktu acara akad dan resepsi yang diadakan siang harinya. Harga yang kami dapat untuk dua kamar Family menjadi lebih hemat dengan adanya potongan harga dari Traveloka.

Perjalanan keluarga berkesan lainnya adalah pada bulan April lalu ketika kami menginap semalam di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta saat kebetulan ada long weekend. Kami menginap dari tanggal 14 hingga 15 April 2017 dan sudah melakukan pemesanan sejak tanggal 1 April 2017 via Traveloka sehingga kami tidak perlu khawatir kehabisan kamar. Pengalaman menginap kami pun sangat berkesan karena hotel tersebut dilengkapi dengan fasilitas lapangan golf sehingga kedua orangtua saya bisa bermain golf setelah sekian lama belum sempat bermain golf bersama. Kami juga bisa berenang dan berjalan-jalan di kawasan resor yang mengingatkan pada masa kecil kami karena dulu sering diajak menginap di sana. Foto saat saya dan adik laki-laki saya ikut jalan-jalan di lapangan golf menemani orangtua merupakan sedikit dari banyak kenang-kenangan momen berkualitas keluarga kami waktu itu.


Setiap perjalanan akan meninggalkan kisah yang berbeda untuk dikenang, karena setiap perjalanan dilakukan oleh orang yang berbeda, pun dengan kepentingan dan prioritas yang berbeda pula. Saya sebagai orang yang paling sering berperjalanan dengan keluarga memprioritaskan tempat menginap ternyaman, terutama untuk kedua orangtua saya. Hotel dengan fasilitas yang lengkap dan sesuai ekspektasi akan membuat kepentingan perjalanan keluarga berjalan lancar karena kami bisa beristirahat dengan nyaman dan optimal. Kami juga bisa merasakan pergantian suasana baru sambil tetap menghabiskan waktu berkualitas dan menyimpan kenangan baru bersama.

Traveloka telah menjadi bagian besar dari setiap perjalanan keluarga saya. Memanfaatkan fitur-fitur reservasi hotel di Traveloka membuat kami selalu mendapat pilihan hotel terbaik sesuai dengan budget dan ekspektasi. Memesan hotel jadi lebih mudah, cepat, terjamin, dan dengan harga diskon yang final karena pesan lewat Traveloka dulu.

Monday, July 07, 2014

Doa adalah

doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah usaha adalah doa adalah

Thursday, May 22, 2014

London, England is Where My Wonderwalk Starts

"England".
"Inggris".

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata di atas? Selamat kalau Anda bisa dengan mudah menemukan kata-kata untuk mewakili "Inggris" dengan cepat dan spontan. Selamat kalau kata "Inggris" dapat seolah menjadi suatu penunjuk yang dapat dengan mudah Anda kenali di keramaian dan menandai suatu hal spesifik yang menjadi tujuan Anda, sehingga bisa segera Anda hampiri dengan bersemangat tanpa rasa ragu, mungkin "Inggris" menjadi penunjuk Anda pada hal-hal seperti nama klub sepakbola, anggota kerajaan, The Beatles, atau apapun.

Saya? Saya justru mendapati diri saya seperti berdiri terpaku dalam jalanan yang sangat "hidup", penuh dengan objek dan suasana yang seolah "merengkuh" saya dalam pelukannya, membuat saya terpana karena saya memiliki keputusan rumit untuk memilih ke mana tujuan saya sebenarnya, di mana setiap hal yang terlihat di jalanan itu menarik dan mengundang untuk dituju.

Dari mana saya harus mulai kalau sudah tentang "Inggris"?

Bahkan jika harus mulai dari awalnya, saya kesulitan menandai bagian dari ingatan saya yang manakah yang menjadi kenangan kunci dengan kesan pertama yang kuat pada "Inggris" itu, karena memikirkan tentang "Inggris" seperti mengingat hal-hal yang sama-sama indah dalam angan-angan secara sekaligus. Mungkin kata "Inggris" bagi saya bisa diibaratkan memiliki efek yang mirip seperti memikirkan nama seseorang yang diam-diam disukai, karena ada hal-hal baik dan indah yang langsung terpicu untuk dipikirkan. Mereka seakan datang berdampingan dan membombardir diri saya dengan perasaan-perasaan bermakna yang rasanya "penuh" sekali jika ingin dikatakan. Sulit untuk sekadar memilih satu hal yang membuat seseorang bisa jadi bermakna spesial, begitu pula tidak mudah untuk memilah dan menyusun semua hal yang muncul dalam pikiran tentang "Inggris" itu untuk bisa mengungkapkan jawaban pada pertanyaan "apa yang membuat 'Inggris' punya arti tersendiri buatmu?" secara lugas.

Hal-hal itu seperti foto-foto dan adegan-adegan yang tertangkap dan terekam lalu menetap dalam hati dan ingatan. Foto dan adegan yang tidak secara langsung terkait, namun harus bisa disusun untuk menjadi sebuah film yang memiliki benang merah tentang "Inggris dan mengapa negara itu berarti sesuatu bagi saya". Di mana setiap foto atau pun adegan tidak selalu menggambarkan suatu objek, tapi juga suatu kesan yang khas... 

Aduh, maafkan saya, pikiran saya jadi melanglang kemana-mana!

Mari kembali ke pengandaian bahwa "Inggris" menempatkan saya pada jalanan yang hidup dan mengundang dengan berbagai pilihan tempat dan hal untuk didatangi dan dilihat, seakan berebut untuk menjadi satu yang saya tuju, hanya saja Anda agaknya paham bahwa itu akan sulit bagi saya, bukan? Jadi pilihan apa yang saya bisa ambil dari sana agar saya tidak melewatkan tempat atau hal-hal apapun, selain mulai menyusuri "jalan" itu?

So be my guest, mari kita mulai berjalan menyusuri sebuah "Inggris" yang terekam penuh kekaguman di pikiran saya, bahkan sebelum kaki sungguh-sungguh berpijak di sana.    

Ibukotanya, London, adalah kota yang menjadi panggung dari sihir, keajaiban hingga misteri dalam kisah Harry Potter, serial Sherlock, juga The Bartimaeus Trilogy - kisah-kisah luar biasa yang berhasil menetap dalam pikiran saya karena kesan mendalam tentang London yang mendampingi kesan terhadap kisah-kisah itu sendiri. Oh, kalau Anda belum pernah membaca kisah-kisah itu, saya sarankan untuk segera membacanya agar Anda bisa menciptakan potret dan bayangan Anda sendiri tentang London.


London bukan seperti kota lain yang selalu memaksakan warna-warni, tapi aura kelabu dan palet-palet tegas dan seolah kelam yang sering tertangkap di foto dan adegannya tidak menyembunyikannya. Tetap saja, keajaiban dan misteri seolah-olah tidak pernah salah tempat untuk berjalinan dan menggelora di sana melalui tangan-tangan para penulis kisah-kisah hebat itu.

Aura kuno berkat sejarah berusia ribuan tahun seakan dapat mendukung kesan itu dan membuat kota ini menjadi kota yang anggun, seolah memang ada sebentuk sihir yang membuat hujan dan kelabu bagi London adalah penghias yang membuai; untuk menyusuri jalan-jalannya, mengamati cahaya lampu jalan dan siluet-siluetnya saat berpadu dengan bangunan-bangunan yang bergaris kuno. Saya hanya membayangkan London dalam deskripsi-deskripsi sang pengarang, dan London terlukis sebagai panggung yang sempurna. Bukan hal sulit untuk membayangkan gambaran para penyihir berjubah, pasangan detektif dan sahabat setianya, atau sosok Bartimaeus sang jin legendaris dengan samaran kamuflasenya tiba-tiba terlihat berpapasan jalan dengan kita.

Kisah-kisah berlatarkan London yang telah saya baca secara perlahan tapi pasti telah membangun tidak hanya imajinasi untuk berada di sana tapi juga keinginan untuk betul-betul mengunjunginya di suatu kesempatan. Gambaran tentang menara jam Big Ben, kilauan Sungai Thames yang merembet hingga sepanjang tepiannya membuat saya membayangkan bisa menegadah dari bawah naungan menara jam itu, juga berjalan di sepanjang masyur tersebut, misalnya di area Queens Walk di mana terdapat deret-deret bangku taman cantik yang menghadap pemandangan lanskap bangunan-bangunan historis London, Queens Walk juga akan membawa saya menyusuri Jembatan Westminster yang megah, di mana secara harfiah jembatan tersebut sering menjadi latar pengambilan gambar dari banyak film.

Queens Walk sepanjang Sungai Thames :')
Dengan jalan-jalan yang memiliki suasana ber-aura kuno dan tertata cantik untuk disusuri, saya bayangkan diri saya akan betah berlama-lama menyusurinya, tidak perlu langkah-langkah yang terburu-buru atau wajah yang menggerutu.

London adalah tempat yang harus saya singgahi suatu saat nanti, untuk mensejajari kisah-kisah penuh misteri dan keajaiban yang pernah saya baca dengan kisah saya sendiri selama di sana yang telah menunggu untuk disusuri. Jika saya bisa menginjakkan kaki di London, saya tidak ingin terlalu terburu-buru. Sambil berjalan menyusuri kota, saya ingin bisa membayangkan tokoh-tokoh fiksi dalam kisah-kisah yang saya baca berjalan menyusuri jalanan London dengan mantel atau jubah mereka, misalnya tokoh Nathaniel dalam The Bartimaeus Trilogy yang berjalan berangkat dan pulang bekerja di Westminster, lalu Sherlock Holmes yang sewaktu-waktu menyetop sebuah cabbie (taksi) dari tepi jalan Baker Street; saya membayangkan bisa berpura-pura melihat mereka sebagai laki-laki yang sama-sama bisa dibayangkan untuk sering menaikkan kerah coat panjang mereka seraya berjalan terburu-buru.

Westminster
Ya, Nathaniel dan Sherlock mungkin punya kasus mereka masing-masing, entah dengan demon tertentu atau dengan kriminal bebuyutannya, namun katakanlah, saya akan cukup puas dengan mencari tahu seberapa jauh jarak Baker Street dari area tepi Sungai Thames jika berjalan kaki? Lalu, saat berjalan-jalan nanti, bisa saja tampak para penyihir muda Hogwarts yang mengarahkan tujuan ke stasiun King's Cross untuk kembali melanjutkan kegiatan belajar mereka.

Yah, meskipun saya memang tidak menerima surat dari Hogwarts sehingga saya tidak bisa ikut untuk menembus dinding di antara peron 9 dan 10 ke peron 9-3/4, namun tak apalah sekadar melihat pemberhentian itu dari luar... toh bisa gawat kalau saya betulan sampai ikut ke Hogwarts, bukan? 




***

Melihat dan menjadi bagian dari suasana kota London saja sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi saya. Gagasan untuk menyusuri langkah dalam coat saya sendiri yang mungkin akan lebih banyak dirapatkan akibat cuaca cenderung-dingin malah justru menghangatkan hati saya. London selalu saya bayangkan sebagai kota yang akrab dengan basuhan rintik hujan dan tiupan udara dingin; gambaran cuaca yang jelas berbeda dengan di Indonesia. Hal itu tidak membuat saya merasa keberatan; begitu juga soal membawa payung, apalagi jika payung yang saya bawa tersebut adalah payung kain berkesan klasik itu, yang membuat saya membayangkan kebiasaan Mycroft Holmes di serial teve BBC "Sherlock" yang gemar membawa payung ^^.

Baiklah, mungkin akan cukup menurunkan suasana-hati kalau kita ingin bersikeras berjalan kaki saat hari hujan, kalau sudah begitu kita bisa mengarahkan tujuan kita menjadi lebih singkat menembus hujan dengan mencari stasiun kereta bawah tanah terdekat, yang tergabung dalam nama jaringan Underground.

Lihat, kita sudah sampai di pintu masuk Underground, in its ambigued meanings!

Kereta bawah tanah di Inggris juga memiliki "kesan" tersendiri bagi saya, karena Underground membuat saya teringat juga pada serial Sherlock dan grup band Coldplay (keduanya berasal dari Inggris, isn't it lovely?) yang sangat saya sukai. Sebegitu dianggap ikoniknya Underground, latar kereta dan stasiun bawah tanah ini muncul di serial Sherlock, bahkan walaupun dalam porsi sedikit pun Coldplay pernah menampilkan latar stasiun Underground dalam video musik lagu mereka yang berjudul "Paradise" (a favorite, also!). Ah, itu sebuah video musik yang sangat menarik karena adegan yang menampilkan stasiun Underground ini melibatkan "aksi" sang vokalis, uncle Chris Martin yang memakai kostum badut berbentuk gajah betina dan diceritakan sedang mencari jalan untuk menuju "surga"nya menyusuri kota setelah lepas dari kurungan kandangnya. Pasti saat pengambilan gambarnya, keberadaan "gajah betina" itu cukup mengundang tanda tanya, saya bertanya-tanya apakah para pengunjung stasiun saat itu menyadari bahwa orang yang ada dalam kostum gajah betina itu adalah vokalis Coldplay! Coba saya bisa berada di sana saat itu ya... Ah, tapi kita sudah sampai di perhentian kereta dan nampaknya hujan telah berhenti, bukan waktunya untuk mempermasalahkan waktu itu kalau kita telah di London!

Dari bawah tanah, selanjutnya alangkah baik untuk beranjak menuju lokasi yang memungkinkan kita bisa berada di atas tanah, lebih tepatnya melihat kota dari ketinggian dengan ada di dalam kapsul ferris wheel London Eye! Bagi saya, sensasi untuk melihat lanskap luas keseluruhan kota dari ketinggian merupakan suatu pengalaman yang haram untuk dilewatkan, apalagi jika kota tersebut seperti kota London dan sekitarnya yang didominasi bangunan-bangunan khas ber-arsitektur penuh sejarah namun tetap dapat satu nuansa dengan bangunan-bangunan yang lebih modern.
The London Eye, taken from en.paperblog,com

Tentunya melihat keseluruhan bentang kota London dari ketinggian memiliki kesan spesial tersendiri selain berjalan menyusuri kotanya secara langsung. Coba lihat dokumentasi 360 derajat lanskap pemandangan 24 jam London dari ketinggian London Eye di tautan ini... sungguh Allah Maha Besar, untuk saat ini saya hanya bisa sekadar membayangkan bagaimana pemandangan bird-eye view of London dari mata saya sendiri, biar Dia pula yang menyimpan bagi saya proyeksi lanskap itu dalam kenyataan yang paling jelas bagi saya suatu saat nanti. Amin.

Jika diberikan cukup waktu longgar, saya akan sangat mempertimbangkan untuk menyisihkan waktu menaiki London Eye baik di waktu siang ataupun malam hari, tidak perlu dalam hari yang sama tentunya. Why I should be in rush when I can finally be there in England, in London? Everything to see, to do, and to experience should worth the wait and wishful hope I spent all along before it; everything from the littlest and mere thing, like what to drink and what to eat... to the possible extend beyond them.

***

Inggris juga menarik hati bagi saya untuk berkunjung ke sana, khususnya ke London, karena hal-hal khas yang bisa saya "rasakan" tidak hanya di mata, tapi juga turun sampai ke perut dan hati. Antara lain adalah kebiasaan para British untuk tidak jauh-jauh dari minum teh dengan afternoon tea yang telah terpelihara sejak lama dan tentunya lebih dari sekedar melibatkan kegiatan meminum teh dengan cangkir-cangkir cantik dan didampingi kue-kue yang manis.

Kebiasaan British ini tergambarkan begitu klasik dan penuh kesan, sehingga membuat saya sering membayangkan diri sedang melakukan afternoon tea ketika menyeduh sekantung teh manis di siang atau sore hari. Selain itu juga ada kontribusi dari kisah anime/manga "Black Butler" yang bernuansakan Inggris di era Victorian, di mana kebiasaan tokoh utama untuk menyesap teh di sela-sela waktu sehari-harinya begitu meninggalkan kesan dan membuat saya tergerak membeli earl-grey tea yang harganya bisa dijangkau.

Untuk urusan perut, saat di mana saya bisa menginjakkan kaki di Inggris akan menjadi kesempatan bagi saya untuk mencoba mencari tempat yang menjual fish and chips yang enak. Entah sejak kapan saya menyukai panganan ini karena bahannya yang dari ikan dan tepung yang digoreng lalu disajikan dengan kentang yang menjadi nilai bonusnya, dan saya menjadi semakin menyukainya ketika tahu bahwa makanan ini juga berasal dari Britania Raya.

Makanan ini katanya populer untuk pesan-bawa, jadi saya akan senang dan tidak perlu terlalu khawatir akan lemaknya karena saya bisa menikmatinya sambil melanjutkan jalan-jalan saya. Lagipula toh memang saya tidak langsung berniat untuk mengakhiri jalan-jalan saya setelah mengisi perut (kita ada di Inggris, demi Yang Maha Kuasa!), ada hal menyenangkan hati lain yang menunggu saya di kota dan justru tepat sekali jika kalori makanan yang masuk bisa dibantu untuk dibakar dalam tubuh dengan melakukan kegiatan jalan-jalan, apalagi jika dengan hati yang bersemangat dan berbahagia karena kegiatan jalan-jalannya dilakukan di London, di Inggris.

Lebih tepatnya, bersemangat dan berbahagia dalam bayangan saya saat ini tentang London, tentang Inggris. Bayangan dan pengandaian saya yang telah sedari tadi dan dengan susah payah diuraikan dalam rangkaian-rangkaian kalimat dan foto yang menceritakan kesan spesial saya terhadap Inggris, terhadap London sementara saya sendiri secara fisik memupuknya dan mengabadikan sebentuk mimpi tersebut di hadapan sebuah laptop, duduk dan secara praktis tidak berjalan-jalan sejauh pikiran dan angan saya sendiri. Padahal di sisi lain ada nasihat Ibu saya tercinta bahwa seseorang yang masih muda dengan mimpi yang ingin dicapai seperti saya seharusnya lebih banyak bergerak untuk mewujudkannya.

Dari semua uraian "perjalanan" dalam angan saya tentang London, Inggris itu, nampaknya yang paling dekat untuk dijangkau dalam gerak saya saat ini adalah dalam soal makanan dan minuman; menyeduh teh, dan kalau dikatakan bahwa tidak selalu terdapat fish atau ikan untuk digoreng tepung untuk mendampingi chips... baru ada Mr. Potato yang sudah berhasil memberikan rasa khas chips untuk menjadi pelipur terhadap mimpi "kecil" saya tentang fish and chips yang asli di Inggris, dan kalau tidak keberatan saya ingin titip sebuah pesan singkat :')


A little note. Photo by me.

Suatu hari, cepat atau lambat saya harus ke Inggris, mempertemukan chips dengan fish untuk menjadi fish and chips, mempertemukan teh yang saya seduh di sore hari dengan perangkat dan pernik afternoon tea yang sebenarnya. Inggris akan menunggu saya menyusuri keajaiban dan misterinya, dalam potret-potret dari kisah-kisah berkesan yang pernah saya baca. Inggris juga akan menunggu saya menyusuri jalan-jalan dan lekuknya dengan membiarkan kekaguman saya pada hal-hal apapun yang meninggalkan kesan khusus padanya menuntun langkah saya, membuat saya menjadi bagian dari suasana Inggris yang penuh sejarah namun menjadi suatu klasik.

What you seek is seeking you - Jalaludin Rumi.

 ***

Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam even Lomba Blog InggrisGratis yang diadakan @MisterPotato_ID.
The image(s) and photo(s) about England or London used in this blog post which isn't stated as mine are taken from across the web (mainly from Pinterest) and only belonged to its rightful owner.

Friday, May 16, 2014

My Thoughts on "The Amazing Spiderman 2"

It's been soo loong. I don't know what better way to describe "this comeback" in a more proper way anymore. Look at this tangle of thorns messy but still lovable web personal space of mine here. Maybe there's barely no people reading it, and the submission writings were not gaining champions or what so called that while I haven't put out the banner etc. I am not whining here, nor winning, lol, there are times for that my friend.

You know I've had this blog for so long that I can never imagine myself wiped all my writings after all this time (since 2010) to have a fresh, new, more "new image", to reboot this because after all the alay-ness, the unsteady-phase or what so called transition phase I had as a teen starting to write her blog in her junior high school I still thought that this blog has in some way maintained to be a documentation of some stage, some portrait of moments in my life. Though I found myself sometimes cringed or just wanted to laugh at myself reading at my past writings with all the wrYthin9 style possible (but I am not too violent with that, you know, I still managed to make my past-entries to be more readable), I think that knowing how sometimes I found myself recalling the moments and re-thinking and re-picturing about moments I've write here before - moments that I realize is not really being remembered until I read the specific post, it feels that it was amazing.

So how could I try to wipe and reboot all of this, dear, lone readers who lost or find your way, I ask you?

Whoops, look at the title, I think I managed to get to the topics rather smoothie-ly. LOL.

This picture aren't miine okay. From here.
About this movie I put as my title, it's rather to the fact that it is a reboot film of Spider-Man movie for me, I guess. Please note that I don't read the original Marvels comics and will not really responding to have a discussion or debates about the movie-because-the-comics or the like. The Amazing Spider-Man has its new Peter Parker and almost "rebuilt" everything of the story of Spider-Man to refresh the viewers after Spider-Man 3. 

See, I've never talk specifically about a movie to review it before this so I think its good to warn that I won't be really systematic or everything but I'm trying my best to arrange what's my points here. I hope this clear enough. Other notes before I really trying to get to my points is because I care to you so much, I hope you can continue reading with enough understanding about how this title (TASM 2)'s storyline and background story included what's it about in the previous TASM movie, since its almost 9 PM here and I kind of sleepy to recap the synopsis. You do know you always iMDB or the like in your hands.

If you still don't know, in case, TAS refers to The Amazing Spider-Man, dear, see I am really trying to be considerate here.

First thing first about the overall movie, I do think that this movie is amaazing, indeed, I repeat, an amazing reboot to built, to have Spider-Man with all the enemies and the story in the other new way after having three Spider-Man movies before. Why can I state this are based on how I appreciate the story's "linearity" about everything in this second installment (oh I love using this phrase, it do seems so magazine-like xD), since everything about the-super-spider and how-the-heaven-it-can-make-Peter-has-superpower, the "absent" of Peter's parent (that we can aware of since TAS first movie), and how it eventually makes way for Peter to Harry Osborn is explained and has the right and logical reason and correlation. It's even pictured better than the previous Spider-Man, which the spiders, the superpowers, even Harry Osborn are now feels so "popped out from somewhere there" compared to how all of that entangled and connected in TASM.

Other appreciation are also the main villain, Electro, that kind of gives me thrills and strummy-sensations yet the cringe-y heartfelt of how he was before he was Electro and after he has become Electro. No wonder and what you can expect from the Academy Awards winning Jamie Foxx can never be less...  About the three enemies showing appearance teased in trailers are just meh, hmmkay thing for the Rhino but so much more hmmooches for The Green Goblin, or specifically Harry Osborn. I must admit here that Dane Deehan are waay more fitting as Harry and he can potray a fearful-powerful-unstable-young-adult-snobby-but-actually-sympathizing heir of Osborn... even his physical appearance are really supporting the image of Harry Osborn more than James Franco, especially that powerful fringe (LOL) that gives Deehan a look of being more youthful and "vulnerable" and unstable as a young gentlemen... though of course there's no doubt that Deehan and Franco are both good looking in the general context; calm down! ...and am I showing my bias in Harry/Mr. Deehan here? Sorry for not sorry xD.

Done praising/appreciating the storyline and has "accidentally" slipped to the cast-talking, then I think we should really take a dive to it xD

Because this will sent me to the Point I've wanted to say and confess first place until I decided on this entry title, that eventough TASM 2 has amazing story and all but apparently not amazing main-cast of the hero. Hereby I confess that I am not satisfied enough in Andrew Garfield's portraying his own Peter Parker.
  
At first place I thought that my explanations would be long but now I think it won't really that long.

Continuing the matter, I'd like to begin with how much the three installments (uhum) of Spider-Man had left me with so much deep impression of how Tobey Maguire can deliver a Peter Parker who is a very humble, gentle, "selfless" being (in terms of how he would always tend to prioritize others before him) no matter how he's kind of having an alter-ego in becoming a Spider-Man. But I also think why would we have to differentiate Peter Parker from Spider-Man if his famous saying had been (one of them) "Who am I? I'm Spider-Man.".

All of that without making Maguire's Peter Parker becoming less adorable.

Yet some viewers had their opinions after TASM 2 that Garfield's Peter Parker are better than Maguire's because of the more-youthful, humorous look and act shown in TASM 2. I am not here to object others opinions, before I stated that of course I also aware and appreciate the "joking" manner that Garfield can show to the viewers of TASM 2 while playing Peter Parker, but the problem is I am having a quite hard time to correlate those "playful manner" with the whole Peter Parker Garfield's trying to deliver or convey in TASM installments.

I evaluate, as whole, that Garfield's Peter Parker are not as strong as Maguire's in terms of how in every act, every saying or everything he do in the context of being Spider-Man, being a man desperately in love with his girl and and being a bestfriend with some problematic issue are not really coming together, aren't worked out in my perspective.

What I see is a Peter Parker of Garfield's that is somehow hides some kind of worrying-issue of being close to Gwen (while having images of her late father warn him to keep Gwen away from danger of him as Spider-Man after the first movie's events) but in other hand shows a very "selfish" possession of not losing his girl in any way, even when his girl stated that she pursue an important scholarship in Oxford, UK. Count their kissing scenes, dear, that feels quite excessive and I can not take away my thoughts that while kissing Emma Stone, Garfield can be more enjoying kissing her as his current-boyfriend-real-life than as Peter Parker so in short he/she/them has their own enjoying on their sneaky make out time sorry its rude. Is this the Peter Parker trying to deliver to me as one of the viewers? Because that doesn't worked out for me, I am not impressed by his "more playful manner" that much to state that he can portray his version of Peter Parker.

I am sorry to say that Garfield's Peter Parker are resulting a very much inconsistent character, he can not deliver a single "line" of Peter Parker on how he behaves and talks throughout the movie, or if he do, that doesn't work for me. I have think that maybe this TASM's Peter Parker are way more different slighly because he's kind of starting as high school student with its teenage issue and all, but in the other hand I still getting impression that somehow the Peter Parker in TASM are still maintaining the qualities of being "noble", and somehow "awkward" like Peter Parker in Spider-Man - yet the outcome is the part when he was supposed to show that he has a noble qualities (say, to not harm Gwen by saying that he sees her late father "images", or not to give Harry his blood so that Harry won't get hurt) aren't going smooth to blend with other qualities of the extent he can be, like being "funny", being so touch-smoochy to Gwen (the public kiss at the graduation party, seriously? What kind of Peter Parker is that who then at night become awkward when Gwen invites him to eat dinner with her family and say that he can not let Gwen be in danger and so on?), and so on. The extent in how Garfield's Peter Parker can show quite a selfish manner to make Gwen not go from his side by having all that ILU in the bridge with his webs are very puzzling to me, to make it together at what is the kind of Peter Parker I have now?

The Peter Parker I know that has its place since Spider-Man 3 won't be too funny or all that, I admit, but other than being still-adorable, he is a very persistent types of guy who has a lot of feelings not excessively shown but has its own intensity that can be felt in his eyes when he see the other people he loved may have misunderstood him, or when he just decide to stay silent, or saying anythings subtle to keep other people's feelings for what complicated thing they don;t know shoot in becoming a Spider-Man.

...well, I am also aware that perhaps I have been too attached to the portraying of Peter Parker from Tobey Maguire after all this time, and I have ponder about it but I decide that actually that's not really relevant to bring up because I consider myself to be quite objective of what I saw in movies, give it prove to the character Harry Osborn, which apparently the "new" cast can worked it out well despite his physical qualities. I wonder why can not it applies to for Peter Parker as well?


Eventually, evrything are not meant to be perfect,  so there's always room for being better, and that also applies to good movies that can always be better in the future^^    

Friday, January 24, 2014

Rounds of self-consolement :"

What Does My Name Mean? Khairisa, The Meaning of Names (1995-2-21)

What does the name “Khairisa” mean? A name is much more than just a name!
K is for kindness, you always show.
H is for handy, the helpful you.
A is for admirable, you certainly are!
I is for impressive, your list of qualities.
R is for rapport, friends seek you.
I is for intense, your zest of living.
S is for serene, your calm time.
A is for able, for you surely are.
Out of 5,364,811 records in the U.S. Social Security Administration public data, the name “Khairisa” was not present. It is possible the name you are searching has less than five occurrences per year in each state. You might want to use a short version of your first name or perhaps your nickname.
On the other hand, you simply have a name that no one else in America is using. For 132 years only your parents have thought of using your name. Hoorah! You are a unique individual.

Your name in reverse order is “Asiriahk”. A random rearrangement of the letters in your name (anagram) will give ‘Riaihask’. (How do you pronounce that?)

Your past life Khairisa:
I do not know how you feel about it, but you were a female in your last earthly incarnation. You were born somewhere around the territory of Southern Australia approximately on 1250. Your profession was shepherd, horseman, forester.
Your brief psychological profile in that past life:
You are a person with huge energy, good in planning and supervising. If you were just garbage-man, you were chief garbage-man.
Lessons that your last past life brought to present:
Your lesson – to learn humility and faith in spiritual principles. You should believe in High Reason.
Now do you remember?

What Happened On February 21, 1995

1995 –Steve Fossett lands in Leader, Saskatchewan, Canada becoming the first person to make a solo flight across the Pacific Ocean in a balloon.

Source: The Meaning of Names


Tuesday, December 31, 2013

Cahaya Lilin dan Kembang Api

Cahaya Lilin dan Kembang Api
Sebuah Cerpen Tahun Baru
Khairisa Ramadhani Primawestri




Salah satu dari sekian hal yang paling kusyukuri ketika bersamanya adalah hal yang seperti ini. Ketika aku bisa diam-diam memerhatikan sosoknya dengan jangkauan lebih luas dari sekadar sudut mata karena kami tengah bersisian dan dia sedang disibukkan dengan hal lain yang sedang dilihatnya. Kembang api di langit tahun baru, meski kalau bagiku itu hanya sebagai penghias dari kebersamaanku dengannya. Meski demikian, aku masih memutuskan apakah bersit senyum dan sinar mata yang tercipta di parasnya menanggapi keindahan kembang api itu pun hanyalah hiasan seperti halnya kembang api itu sendiri.

“Kenapa kamu bengong?” tanyanya setengah-geli, sebuah kernyit ingin tahu yang manis dan tak menghakimi merekah di wajahnya. Rupanya dia menyadari sikapku yang hanya menatapnya diam alih-alih menatap kembang api yang sedari tadi beratraksi di langit malam.

“Aku tidak bengong.” kilahku sederhana, serta-merta dan benar adanya meski tak mampu juga kesembunyikan perasaan salah tingkah di bawah pengaruh senyumannya. Bukan karena alasan klise seperti menyelamatkan harga diri laki-laki, namun karena memang demikianlah adanya. Bukan hal baru kalau diamku sering diartikan tak sedalam yang sebenarnya. Sejak orang-orang lama mengenalku, aku memang selalu menjadi tipikal laki-laki yang kata-katanya seakan terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang sebenarnya dirasakan. Apalagi jika kita menyinggung kembali momen ini, dengan dia dan aku yang berdiri bersisian, dihiasi letusan kembang api di langit tahun baru.

Karena sedari tadi aku memang tidak bengong, rasanya sedari tadi aku hanya berusaha mencerna besarnya nilai momen ini bagiku. Aku masih memutuskan apakah bersit senyum dan sinar mata yang tercipta di parasnya menanggapi keindahan kembang api itu pun hanyalah hiasan seperti halnya kembang api itu sendiri.

Ataukah...

Letusan kembang api berikutnya terdengar, serta-merta membuat kedua binar matanya melebar dalam keterkejutan dan kegembiraan yang apa adanya dan kekanakan. Dialihkannya kembali perhatiannya untuk mendongak menatap langit malam yang sedang menyajikan hidangan terbaik di permukaannya yang halus. Selama sepersekian lama, kibasan rambutnya yang halus panjang menerpaku, membuatku menghirup wangi bersih samponya yang masih tersisa, juga aromanya sendiri yang sudah begitu kukenal sehingga sudah seperti kuanggap menjadi bagian dariku.

Aku masih berusaha memutuskan jawabannya, sampai ketika terlihat kembali olehku cahaya senyum dan tatap matanya. Kukira jawabannya tidak sepenting keharusanku mensyukuri setiap detil momen ini. Dirinya.

***

Hal lain yang terjadi ketika kami bersisian seperti ini adalah kadang-kadang aku juga berusaha menemukan interpretasinya mengenai momen yang sedang kami alami bersama, entah melalui simpul senyumnya atau berkas-berkas binar matanya. Aku mendapatinya terasa sama-sama esensialnya dengan menyelami interpretasiku sendiri tentang setiap momen kebersamaan kami yang sederhana. Memastikan kebahagiaannya adalah sama pentingnya dengan memastikan kebahagiaanku sendiri. Aku tak ingin melewatkan sedikitpun petunjuk di matanya, senyumannya, gestur tubuhnya.

Seperti saat ini, terlepas dari kebahagiaan yang jelas terasakan olehnya karena kembang api itu serta rasa aman dan nyaman yang ditunjukkannya karena bersamaku, aku mengira ada sesuatu yang terungkap lebih di pandangan matanya. Binar cokelat kembar yang kukenal itu memang tengah menengadah menatap keriaan langit malam itu dengan kagum dan gembira, namun ada sesuatu dari tatapannya itu yang terasa seakan berkata ada sebagian pikirannya yang tidak berfokus pada atraksi langit itu.

“Tidakkah kamu pikir, pasti akan hebat menjadi seperti kembang api?”

Rupanya aku tidak perlu memertanyakannya lebih jauh karena dia kemudian berucap ketika cahaya kembang api di langit nampak bertempias di wajahnya sementara ia tetap mendongakkan kepala mengaguminya, “...menyebarkan warna dan keindahan yang akan meninggalkan rasa kagum di sekitarnya.” ia berujar, agaknya lebih kepada dirinya sendiri. Kadang perilakunya ini mungkin tak dimaksudkannya, namun aku sudah terlalu terbiasa untuk tidak pernah membiarkan telingaku lengah dari perkataannya.

Aku mendesah, “Kembang api tidak lebih dari percikan api yang dibuat lebih artifisial, atau entahlah itu. Lagipula itu pun tak berlangsung lama, sesaat meledak kemudian hilang dalam kegelapan.” kilahku sederhana dengan jenis gaya pengucapan yang tidak dimaksudkan untuk menyerang pendapatnya, namun semata-mata hanya mengungkapkan apa yang menjadi pendapatku. Meski demikian, sorot mata dan ekspresinya tetap menunjukkan perubahan tertentu yang akhirnya membuatku melanjutkan ucapanku setelah memaksa diri menyusun kata-kata, “Tahu tidak…” aku memulai, “bagiku, dengan caramu sendiri, kamu lebih dari sekadar hal seperti itu. Aku lebih suka melihat kamu seperti cahaya sebatang lilin...”

Binar kembar itu, senyum itu, keberadaannya di sisiku…

“…kamu mampu memberi hangat dengan cara yang paling sederhana.”

***

Kata-kataku itu pun kemudian memang membungkamnya diam. Perlahan, dalam hening jeda waktu yang terasa agak malu-malu ia pun meraih lembut jemariku. Kalau sudah begini, jemariku adalah yang kedinginan dan miliknya selalu menjadi yang mempunyai kehangatan yang kubutuhkan. Seperti sebuah refleks, aku balas merengkuh hangat jemarinya dengan keeratan yang seolah sudah kami sepakati karena tak membuatnya mengernyit tapi cukup memberikan hangat yang kuperlukan. Kusadari kepalanya yang kemudian sedikit tertunduk ketika aku berpaling menatapnya beberapa saat setelahnya.

Di suatu sisi, aku tahu kata-kataku itu mungkin berhasil memberikan sebuah makna yang cukup mendalam untuk membuat perhatiannya sejenak teralihkan dari atraksi langit di atas kepala kami. Namun entah kenapa, di sisi yang lainnya, aku menyadari bahwa bahkan dengan semua itupun ia tetap tertuju pada kembang api itu meski kepalanya telah ditundukkannya seperti sekarang. Ya, itu karena aku sudah merasa begitu mengenalnya dan andaikan saja perkiraanku itu hanyalah rekaan.

“Meski demikian, kembang api akan membuat banyak orang terpukau, kan.” katanya lirih, membuat sebersit nelangsa diam-diam pun terbit dalam hatiku ketika mendengarnya. Kata-kata itu membuktikan perkiraanku meski itu tak kuharapkan. Angin malam yang sedari tadi tidak kupedulikan pun mendadak terasa begitu keji menghembus beku mengalahkan lapisan jaketku, diikuti rasa serupa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan angin malam itu, hanya saja sama dinginnya. Andai dapat kutepis atmosfer ini dari dalam hatiku sebagaimana perasaan ini terasa tidak sesuai dengan betapa membahagiakannya sebenarnya kebersamaan ini bagiku, dengan jemarinya tergenggam di tanganku.

***

Memangnya mengapa tidak dengan sesuatu yang lebih sederhana seperti cahaya api pada sebatang lilin? Mengapa perlu menjadi percikan memukau jika sinar lemah pun sudah mampu menghangatkan?

Sejak dulu aku memang bukan sosok yang suka menipu diri sendiri, bahkan tidak oleh keindahan kembang api di atas sana yang bagiku hanya dramatisasi sebuah bunga api untuk memanjakan mata dan memeriahkan suasana. Sekali lagi, keindahan kembang api itu hanyalah hiasan yang bisa dengan mudah kuabaikan jika dibandingkan dengan dirinya dan juga kebersamaan ini. Hanya saja, perasaan yang mendadak terpercik di dalam hatiku ini bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan, ini hal yang nyata… dan ini hal yang meresahkanku.
Karena malam ini tiba-tiba terasa begitu dingin bahkan setelah aku telah menggenggam tangannya yang mungil. Tidak ada yang bisa kuharapkan dari kembang api di atas sana untuk bisa meredakan dingin yang kurasakan. Di saat seperti ini, dengan gemebyar kembang api yang sedari tadi beratraksi di atas kepala kami, aku justru membayangkan seberkas cahaya lilin yang akan mampu menghangatkan kedua tanganku.

Aku bertanya-tanya apakah dia pernah mencoba melihat sebatang lilin yang menyala dengan cara yang sama seperti ketika ia melihat kembang api itu. Sesungguhnya itu adalah pertanyaan yang sudah begitu lemah untuk dipertanyakan jika aku membuka segenap kesadaranku bahwa aku sudah begitu mengenalnya untuk bisa mengerti apa jawaban sesungguhnya. Begitu lama aku telah terbiasa menatap matanya, mendengar suaranya, memeluk tubuhnya, menggenggam tangannya. Betapa kata-kata yang terucap kadang sudah terasa tak perlu karena aku seakan telah bisa memahami apa yang ingin disampaikannya dalam diam kebersamaan kami. Semua ini, pada dasarnya adalah sesuatu yang selintas terlalu manis, namun ketahuilah betapa banyak yang terpaksa kutahan untuk tidak terucap ketika menghadapi setiap pemahamanku akan bahasa tak terucapkannya padaku.

Seperti saat ini, ketika dengan tangannya di dalam genggamanku, aku tahu betapa keterpesonaannya pada kembang api takkan semudah itu goyah, bahkan oleh ketulusan dan pengyakinan kata-kataku. Betapa ia selalu menjadi wanita yang sedemikian kukenal, tidak ingin menyulut sepercikpun api yang menurutnya tidak perlu pada kebersamaan kami yang ia tahu selalu berarti untukku. Betapa ia pun tetap tahu bahwa aku tidak menilai kembang api sebagai sebuah ideal seperti dirinya. Namun ia selalu hanya demikian, hanya jemarinya yang bergerak kepadaku, mengizinkanku menggenggamnya dan ia hanya terdiam menundukkan kepalanya dari kembang api di atas kepala kami.

Ia tahu bagaimana aku adalah laki-laki yang tidak ingin dibuai oleh kesemuan artifisial. Bagaimana aku lebih menghargai hal-hal yang apa adanya dan nyata nilainya, sehingga bagiku kembang api hanyalah bunga api yang dilebih-lebihkan sebagai hiasan. Betapa aku mencintainya untuk segala upayanya agar membuatku tidak perlu memermasalahkan hal-hal yang terlalu tak berharga dan hanya akan menjadi penyulut api yang akan memisahkan di antara kami. Aku mencintainya, meski dengan cara ini ia telah menjadi begitu keras kepala untuk tidak pernah benar-benar merunut perbedaan pandang kami yang sebenarnya sederhana.

Aku pun sungguh-sungguh berusaha mencintainya, karena dengan pandanganku yang seperti itu pun tak kubiarkan diriku buta akan fakta bahwa dirinya adalah wanita yang begitu menghargai keindahan angan-angan dan impian. Itu adalah dirinya dan aku mencintai dirinya sehingga ketika momen seperti saat ini datang mengingatkan perbedaan itu, aku mencoba untuk menunjukkan padanya betapa aku mencintainya dengan memertahankan eratnya genggamanku pada jemarinya.

Kuharap itu bisa membuatnya mengerti bahwa aku berusaha memahaminya dan aku tidak akan menginjak-injak hal-hal yang menurutnya berharga dalam penilaiannya. Kuharap, ini juga akan cukup membuatnya sejenak melihat bagaimana aku mengartikan kembang api dan dirinya dalam sudut pandangku dan mungkin ia akan mendapatinya sebagai hal yang menyenangkan hatinya. Mungkin malah sebagai hal yang lebih baik baginya.

Namun dalam diam itu kami mungkin telah berharap dan memahami hal yang jauh berbeda. Perjalanan sekembalinya kami dari gempita tahun baru di Simpang Lima dihiasi diam yang mungkin menjadi hasil dari ke mana pikiran masing-masing kami telah menyimpang jalan yang berbeda.

“Terima kasih untuk malam ini,” kataku akhirnya ketika menurunkannya di depan rumahnya, memang bukan pemecah-hening yang resolutif setelah pertentangan subtil dalam pendirian kami, entah kami mengakuinya ataupun tidak, “semoga adikmu nggak marah karena kamu pulang malam di hari seperti ini.”

Dia hanya membalasnya dengan senyum yang juga tentu saja sangat kuhafal sehingga aku tidak perlu mengira-ngira ketulusan yang terkandung di dalamnya, “Kamu kenal keluargaku, kita nggak merayakan tahun baru seperti hari besar...” ujarnya sembari mengangkat bahu, menelengkan kepalanya ke satu sisi sebelum menambahkan dengan sedikit tersipu, “aku juga terima kasih, ya. Lagipula kau mengantarku pulang tepat waktunya ketika adikku selesai menonton perayaan-perayaan tahun baru bersama teman-temannya.”

Kau tahu, meskipun aku selalu tak alpa untuk membanggakan bagaimana aku sudah mengenalnya begitu lekat dalam kebersamaanku dengannya selama ini, itu bukan berarti bahwa aku telah kebal dari sensasi hangat dan menggelitik di suatu tempat di dadaku pada banyak jenis senyuman, tatapan, dan suaranya.

Kubiarkan diriku beringsut mendekat untuk memberinya kecup manis di antara kedua alisnya, membiarkan bibirku mencecap halus kulitnya dan mungkin selapis tabur bedak yang masih tersisa di sana, tak mengapa. Kecupan itu memang merupakan perilaku yang sedikit memuat ego seorang lelaki yang telah mengatasnamakan seorang wanita sebagai “miliknya”, meski bagiku pun ungkapan sedemikian serasa sebagai suatu anggapan yang kolot dan terlalu posesif. Aku tahu bahwa wanita akan menjengit menjauh ketika sayapnya dikekang, bak burung merpati yang tetap mengharapkan dirinya dapat terbang untuk menemukan perjalanannya. Tapi baiklah, setiap kalinya juga aku berharap bahwa akulah tempatnya mendarat pulang. Bagaimanapun, aku tetaplah laki-laki juga.

Ada selapis sendu di bola mataku yang kini memandang dirinya yang memejamkan mata pada kecup singkatku, terasa nyata kembali bagiku bahwa aku mencintainya dan bahwa aku adalah untuknya. Semakin meyakinkan bagiku bahwa aku dan dia adalah sempurna yang semestinya meski tidak ada satu pun dari kami yang sempurna, namun di antara kami terjadi reaksi kimia yang setimbang dalam ragam komposisi masing-masing. Bahwa yang kumiliki untuknya, adalah apa yang memang diperlukan untuk mencintainya. Bahwa caraku untuk mencintainya akan menyempurnakannya sebagaimana aku selalu merasa sanggup menaklukkan dunia jika senyumnya terbit untukku. Aku tidak ingin menggantinya dengan yang lain, aku tidak ingin kehilangan dia.

“Tadi… kembang apinya bagus kan?” tanyanya lirih, “kalau waktunya tiba, kamu pasti akan paham.”

“Berpengaruhkah kalau aku bilang bahwa bagaimanapun aku tetap cinta kamu?” sahutku, berhasil memicu kerling geli di mata dan sudut bibirnya meski bagiku senyumku sendiri terasa hambar. Betapa dia juga telah begitu mengenalku untuk tahu bahwa aku bukan jenis laki-laki yang berkata-kata dalam penggombalan kosong.

“Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti akan paham.”

Di matanya aku melihat selapis harap, di atas binar matanya yang biasanya akan kureguk dengan tak puas-puasnya. Alih-alih menjawabnya, aku menggerakkan diriku untuk menyentuhkan bibirku ke kedua kelopak matanya, setengah berharap bahwa entah bagaimana aku akan dapat membersit selapis harap itu dari binar matanya dengan kecup itu.

“Aku mencintaimu.”

Mungkin aku sendiri juga keras kepala, tapi bukankah bukan itu yang penting? Aku mencintainya, itu yang terpenting. Bagiku dia adalah cahaya lilin yang kutangkupkan dengan kedua tanganku, aman di sana, menghangatkanku dalam sinarnya yang sempurna bersahaja, karena aku dapat melihat keindahan terkecil dalam dirinya. Bukankah seseorang tak dapat mengenali keindahan dirinya sendiri sehingga butuh seseorang lain untuk meyakinkannya? Akulah seseorang tersebut baginya. Aku berbeda dari semua pengagum butanya yang lain. Aku mencintainya, aku mencintainya. Untuk malam ini, aku akan pulang dengan memastikan diriku telah mengatakannya padanya, mengingatkannya, meyakinkannya. Sudah tentu jauh lebih baik daripada sekadar “selamat malam”.

***

Perjalanan pulangku menuju rumah kontrakanku mengharuskan mobil yang kukendarai untuk melewati jalan raya yang memanjati bukit Gombel. Di sanalah tempat yang di kala malam merupakan titik andalan untuk menyaksikan titik-titik lampu-lampu kota Semarang yang secara keseluruhan nampak seperti langit malam yang terbalik. Setidaknya itulah yang pernah dikatakannya padaku suatu kali saat aku berkendara dengannya menuju sebuah restoran yang menjadi tempatku mengajaknya makan malam.

“Kalau di bawah sana itu umpamanya langit, aku akan menjadi kembang api yang menghiasinya.” katanya waktu itu, menengok kepadaku dengan senyuman yang memancar hangat, penuh harap.

“Kamu nggak perlu memaksakan diri, tahu. Orangtuamu mengharapkan kamu bersinar sempurna, mereka menitipkan kamu padaku agar aku menjagamu.”

Aku menjawabnya dengan mengacu pada kenangan akan kedua orangtuanya yang telah lama tiada, meninggalkan amanah bagiku sebagai laki-laki yang mengenalnya dari sejak sebagai teman sepermainan hingga nanti menjadi teman hidupnya. Memang, aku tidak serta merta mengiyakan pengharapan idealismenya yang sedang muncul itu. Aku tidak ingin berbohong sekaligus mengambil resiko membuatnya salah paham bahwa aku tidak yakin terhadapnya seperti yang ia harapkan.

Kurasa aku pun juga tidak salah memerlakukannya ketika sebelah tanganku kubebaskan sesaat dari roda kemudi untuk menepuk halus pipinya.

“Aku beruntung punya kamu, kamu tahu. Kamu membuat aku lebih kuat berjuang untuk membuat adikku lebih kuat dariku, dan kamu menjadi contoh bagi adikku setelah Bapak dan Ibu pergi…” ujarnya lirih, mengulurkan tangannya untuk menyentuh sisi wajahku yang secara otomatis juga memicu sesuatu bak sengatan listrik yang seakan mewakili bagian lain diriku yang iri akan sentuhan itu, mengharapkan lebih.

“Bersama kamu, rasanya aku percaya kalau aku bisa lebih dari diriku sendiri.” ia melanjutkan, suaranya terdengar sedikit bergetar. Selanjutnya seakan-akan ada sesuatu yang begitu rapuh tengah mengambang di udara di sekitar kami karena berat kata-katanya. Hangat dari bekas sentuhan jemarinya terasa semakin nyata dan merasuk, karena perkataannya menajamkan kenyataan bagiku sebagaimana baginya pula ketika tercermin dalam kesungguhan yang dia tunjukkan ketika mengatakannya.

Saat itulah pertama kali nyata dalam kesadaranku bahwa dia sudah seperti nyala lilin yang selama ini telah kujaga sinarnya dengan kedua telapak tanganku, dan aku tidak ingin dia padam. Telah kubiarkan tanganku mengenali hangat yang dipancarkannya sehingga aku seakan-akan tahu angin sekuat apa dan yang mengarah dari mana yang akan mengancamnya, sedangkan dirinya sendiri tidak mengetahuinya karena tanganku telah menghalau ancaman itu terlebih dahulu untuk dikenalinya. Membiarkannya mengejar bayangan kembang api yang menjadi idealnya berarti seperti melepaskan nyala api lilin dari sumbu yang menopangnya, dan dari hangat telapak tanganku yang selama ini menjaga dan mengenalnya. Ia pun akan menjadi tak lebih dari nyala api yang tak tahu arah, tak lagi menghangatkan dan akan kehilangan dirinya sendiri kala ia bermaksud melukisi langit malam yang tidak menyediakannya sumbu untuk berpijak.

Namun di saat yang bersamaan pun aku tahu bahwa aku memang mencintainya, cinta yang tidak sesederhana dan selugas yang ditemukan dalam sebagian besar fiksi. Aku mencintainya, dengan serangkaian cara dan pandangan yang kususun dari pengalamanku bersamanya. Lalu di malam waktu itupun, aku kembali menutupnya dengan mengatakan bahwa aku mencintainya. Seperti waktu malam itupun, malam ini aku juga berharap agar itu cukup, itu akan meyakinkannya, akan menyadarkannya.

***

Orang lain akan melihatnya sebagai kesempurnaan, dalam pandangan mereka yang justru sedang tidak benar-benar melihatnya, tidak seperti diriku. Orang lain yang melihatnya akan berkata padaku dengan decak dan tatap mendamba bahwa dia selaksa bidadari jatuh, yang sedang menyusun kembali jalannya ke langit. Bahwa tinggal menunggu waktu saja sampai langit akan memanggilnya untuk menjadi bidadari yang menghiasinya, menambah jajaran bidadari yang lebih dulu tinggal di sana.

Mereka juga akan bilang bahwa aku adalah manusia yang sangat beruntung, dan baiklah aku akui bahwa di satu hal itu dan hanya satu hal itulah mereka benar. Sungguh benar bahwa aku beruntung dapat bersamanya, dapat mengenalnya, dapat menjaganya. Kehadirannya adalah cahaya yang menyingkirkan ketakutanku akan gelap di jalan yang kulalui, dengan senyumnya, tawanya, kecupannya, sentuhannya. Bersama dengannya aku pun sekaligus menyusun diriku sendiri menjadi laki-laki yang paling dimaksudkan untuk mencintainya, memacu yang terbaik dari diriku agar bisa kuberikan padanya, pada masa kini dan masa depannya.

Dengan demikian kurasa setelah kepergian orangtuanya, hanya aku yang tahu bahwa ia serapuh cahaya lilin kalau memang benar bahwa ia telah terjatuh dari langit. Ia akan membutuhkan sepasang tangan yang akan menjaga dan melindunginya dalam kemurnian yang dimilikinya, menjaganya tetap hangat. Sekali lagi, aku juga merupakan orang yang beruntung karena tahu hal ini dibandingkan mereka yang lain, pengagumnya yang menyedihkan.

Selama ini telah kuremehkan mereka yang terpesonakan oleh cahayanya, membuatku naif pada posisi dirinya terhadap perkataan dan keterpesonaan para pengagum dan orang-orang lain yang tidak mengenalnya sebaik aku. Di suatu sore yang sejatinya bercuaca menyenangkan untuk bercengkrama di atmosfer nyaman kafe Oasis, rupanya paduan dari furnitur kayu yang tertata apik dan cita rasa masakan yang memanjakan lidah menjadi bukan apa-apa lagi ketika aku mendengar prospek rencana di luar akal sehatnya yang ia utarakan padaku.

“Kamu ingat apa kataku dulu, bukan? Ini kesempatanku untuk bisa menemukan jalanku ke langit dan menjadi kembang api yang memesona semuanya!”

Bobot kata-kata yang diucapkannya kembali terasa seperti malam itu ketika kami berkendara melewati jalan raya bukit Gombel, namun kenyataan yang terasa begitu tajam telah menusukku dalam keterkejutan yang membuatku ingin menyangkalnya habis-habisan. Aku hanya menatapnya tanpa berkata-kata, meresapi pandangan matanya yang penuh harapan itu sekaligus sadar sepenuhnya bahwa aku ingat dan tidak dapat menyangkal.

Aku ingat perkataannya waktu itu, pada titik-titik cahaya kota Semarang di malam hari bagaikan sajian langit malam yang terbalik dan aku tidak menyangkalnya. Di saat yang bersamaan, aku pun mengingat bahwa aku tidak bisa kehilangan sosoknya yang bagai api lilin yang telah kujaga di antara kedua telapak tanganku. Aku ingat bahwa karenanya lah aku tahu bahwa aku memang mencintainya dan aku tidak akan membiarkannya melejit tanpa sumbu lilinnya ke langit malam yang tidak memiliki sepasang tangan untuk menjaganya.

“Aku sudah mengenal kamu lebih dari yang kamu tahu dan harapkan…” aku memulai, “dan aku mencintai kamu selama ini, lebih dari yang kamu tahu dan harapkan. Karena itulah aku harus bilang padamu kalau rencana itu tidak semestinya buat kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu…”

Kuulurkan tanganku untuk me-reka ulang momen itu di perjalanan kami melewati jalan raya bukit Gombel, dan tanpa sempat kuhela aku membiarkan sebersit pemikiran bahwa mungkin saja aku telah terlambat menjadi cukup melesak dari ruang pikiranku dan memberikan tumbukan ngilu di rongga dadaku. Namun seperti biasanya ia hanya tersenyum dan memejamkan matanya menanggapi sentuhanku, membuatku tersadar akan hal lain yang selama ini telah luput dariku. Kenyataan bahwa ia mendengarkan perkataan mereka dan bermaksud menjadikan kandungan perkataan-perkataan para pengagumnya sebagai sumbunya untuk melebarkan cahayanya berubah menjadi kembang api yang warna-warni, karena ia ingin memesona semua orang, membuat semua orang dan lebih banyak orang tertempiaskan pesonanya.

“Kamu tidak mengerti, aku tahu dan sangat menghargai betapa kamu selalu begitu baik. Sungguh, cuma kamu yang tidak mengharapkan hal-hal yang muluk padaku. Namun aku tidak bisa membohongimu. Kamu tahu ‘kan bahwa aku selalu bermimpi menjadi kembang api yang memukau bagi semua orang… tidakkah seharusnya juga cuma kamu yang akan memaklumi mimpiku itu?”

Tidakkah?

“Apakah kamu sadar, kalau kamu melepaskan diri jadi kembang api di sana, aku tidak lagi bisa menjagamu? Lalu mereka… mereka yang kau bilang akan terpesona, mereka akan terus menerus membuat kamu harus lepas terbakar di langit, membakar dirimu sendiri, sekejap hilang setelahnya ditelan gelap. Aku sudah berjanji untuk melindungi kamu, aku mengenal kamu…” kubalas perkatannya bagaikan kedua tangan yang bergetar dalam upayanya yang mulai terasa sia-sia untuk memertahankan sebentuk cahaya lilin di sana, dan sedemikianlah terdengarnya suaraku, bergetar.

Di saat yang bersamaan pula, aku panik, panik bila telapak tanganku telah menyenggol cahaya lilin itu terlalu kuat dan justru mengancamnya… “mengapa kamu terus berkeras hati mengharapkan hal seperti itu? Tidakkah kamu mengerti bagaimana caranya seberkas api lilin bisa menjelma menjadi semburan bunga api di langit kalau tidak padam lebih dulu oleh kuatnya angin?”

“…bisa-bisanya kamu tega bicara seperti itu terhadap apa yang kamu tahu selalu jadi mimpiku?!”

“Aku hanya ingin menjaga kamu, karena aku mencintaimu! Apakah kamu kira aku akan membiarkan kamu hilang sendirian di tengah gelap hanya dengan gebyar artifisial sesaat sebagai bayarannya?”

Aku panik, tapi aku juga mencintainya dan aku tidak ingin kehilangan dia. Kalut. Jika dia memang mengetahui dan menghargai bagaimana arti dirinya untukku, mengapa dia menolak menjadi aman dan terjaga seperti api lilin yang menghangatkan kedua tanganku? Kalau memang benar aku mencintainya, apakah itu pun diiringi dengan kenyataan bahwa ia mencintaiku?

“Tidak, kamu salah… Tidak, jika demikian katamu, maka kamu tidak mencintaiku…”

“Bukan kamu yang memutuskan perasaanku, kamu tidak bisa…”

“Sudah cukup…”

Telapak tanganku yang menjaganya selama ini ternyata tidak hanya gemetar, namun kini malah secara tak terkendali teremas dan terkepal, teremas dan terkepal. Telah kupadamkan api lilinku yang kulindungi selama ini, dengan kedua tanganku sendiri. Api lilin yang telah kucintai dengan caraku, namun hendak menjelma menjadi fragmen cahaya kembang api yang bahkan tidak dapat kutangkupkan kedua tanganku melingkarinya. Barangkali aku telah terlalu dalam mencintai cahaya lilinku dan dibuat buta seperti orang lainnya di bawah gemebyar atraksi kembang api di tahun baru.





31 Desember 2013
9:04 PM
Semarang

Thursday, August 15, 2013

all of this are meant to be a journal, by the way.

Apa faedahnya dulu sekali ketika kira-kira saya masih SMP – untuk membuat blog? Pertamanya bisa dibilang sebagai semacam buku diari (yo apa kabar masa lalu, halah). Lalu sempat “getol”, banyak blogwalk dan linkback dan seterusnya, sampai tiba juga masa-masa terdistraksi untuk mendedikasi terhadap blog ini. Sebabnya macam-macam, antara lain karena pilihan aktivitas di dunia maya (…) yang semakin beragam.

Rasanya sudah pernah saya alami semua dari jaman sayang Friendster, lalu Facebook, lalu Tumblr sampai Twitter dan Roleplay Text-Based (sampai sekarang sih, kalau yang dua terakhir, ha) dan entah apa lagi yang tidak saya ingat ketika menulis ini. Oh ya, sampai masa-masa sekadar gonta-ganti skin blog melulu tapi frekuensi dan kualitas postingannya apa kabar, duh! Yak, menjadi alay itu agaknya sebuah proses perubahan dan belajar, can you feel meh. Nanti lah kapan saya mau bahas itu. Kalau ada yang ngingetin, BAH! Hahahaha.

Blog saya ini dari tahun 2010 itu platformnya tetap sama, isinya yang lama tetap ada meski nama blog dan (tentu saja) skinnya berubah-ubah, begitu juga dengan cara saya mengisinya seiring tumbuh besar (dan syukur-syukur) dewasanya saya lepas dari ke-alay-an hahaha. Sekarang setelah ganti skin yang kesekian (yes, darl, what is immortal is the change itself), lalu bercenung lama di jeda-jeda browsing, melihat bagaimana ragam rupa sebuah blog bisa diisi, saya rasa saya harus juga berani “menamai” atau mengategorikan apa yang saya postingkan di sini. Kenapa harus malu mengakui kalau setelah tiga tahun punya blog akhirnya saya baru bisa ngeh mengenai posibilitas postingan yang bisa saya buat. Dasar malu-maluin, kamu ini.

Saya rasa saya akan coba dengan menjadikan blog ini “JURNAL”. Pikiran-pikiran, momen, daftar-daftar, catatan-catatan. Dibantu dengan prompt yang saya temukan di halaman ini Kali-kali jenis-jenis yang dibuat para petualang/peneliti di film-film, meski saya secara resmi jelas bukan golongan itu kecuali golongan yang insya Allah beriman dan beramal saleh. Halah.

Mungkin ada yang bisa tahu dan jelaskan apakah jurnal yang saya maksud itu sesuai definisi literaturnya atau gimana? I would be really glad to know! :D

Friday, April 19, 2013

...yang namanya teman

Bagi saya, memiliki teman, sahabat, bagaimanapun orang mengistilahkannya - adalah seperti memiliki perhiasan.

Bisa saja kamu memilikinya untuk status dan rasa penghargaan-diri atau bisa saja kamu memilikinya sebagai sebentuk penghias diri yang tak perlu terlalu banyak, terlalu berkilau atau selalu melekat padamu, tapi selalu kamu hargai untuk bisa memilikinya.

Sunday, March 10, 2013

Notable Ice-Breaking: "Guru-guruan" Game!

Di pertemuan pertama mata kuliah Psikologi Sosial kemarin, kelas saya mengawalinya dengan semacam ice-breaking (semacam istilah untuk sebuah sesi penyegaran suasana dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya bersifat kooperatif, interaktif dan atraktif lol) yang ternyata cukup mengesankan :D

Pertama adalah sesi perkenalan, berhubung kelas di semester dua ini adalah hasil pengacakan dari semester sebelumnya (sounds like the school days? :p) di mana dengan sebuah bola karet yang diberikan acak-bergiliran kami harus menyebutkan nama kami lalu mengenalkan teman di sebelah kiri dengan kriteria nama lengkap, nama panggilan, hobi, dan status ^^

Strategi ter-impromptu tentu saja adalah dengan memosisikan diri untuk bersebelahan dengan teman yang sudah kenal~ dan ada sedikit "isu" tertentu mengenai penyebutan kriteria pengenalan status; di mana ragamnya bervariasi dari antara yang ingin tidak kelihatan (masih? lol *sendirinya, no, me single*) jombeloh, tidak ingin status hubungannya diketahui khalayak, atau sebenarnya masih sendiri namun ingin kelihatan cihui dengan cara pengungkapan status yang unik nan atraktif (...).

Meski pada akhirnya saya "selamat" untuk tidak dikenalkan oleh teman sebelah kanan saya, agaknya saya masuk ke golongan ketiga dan omong-omong, masih belum menentukan kalimat pengungkapan status yang cukup cihui = = ada saran? =))

***

Yang kedua dan jadi alasan dokumentasi dalam posting ini adalah~ permainan guru-guruan! :D 

Jujur saja, meski kata dosen saya ini adalah permainan jaman beliau (atau mungkin jaman kami juga) kecil, saya belum pernah "ngeh" akan permainan tradisional ini sampai beberapa hari yang lalu menyaksikan permainan ini dimainkan^^

Jadi setelah satu kelas dibagi menjadi sepuluh kelompok untuk setiap tugas kelompok di perkuliahan, sepuluh kelompok kelas ini kemudian diminta dibagi lagi menjadi dua "kubu" yang ootmatis terdiri dari masing-masing lima kelompok di tiap "kubu". Nah, kemudian, setiap kubu pun diminta mengirimkan tujuh orang wakil untuk memainkan permainan guru-guruan ini~

Nay, saya kembali terselamatkan (?) untuk menjadi observer karena saya memang sama sekali nggak tahu bagaimana permainannya (meski sudah diterangkan sebelumnya, barangkali semacam loading lambat...) dan agaknya saya nggak memenuhi syarat memiliki "wajah penipu" seperti yang diberitahukan bapak-ibu dosen kami =))

Jadi gimana cara mainnya?

Tujuan utama setiap tim yang diposisikan berjauhan-berlawanan adalah berhasil "mendekat" ke tim lain untuk menyelundupkan koin yang masing-masing dimiliki setiap tim sebanyak sekeping. Ya, karena disebutnya saja "menyelundupkan", proses "pengiriman" koin masing-masing tim yang tentunya hanya bisa dipercayakan pada satu anggota tim setiap kalinya harus dilakukan secara tanpa sepengetahuan tim lain^^

Jadi, begitu permainan dimulai, ketua tim yang menang undian lempar koin memulai dengan menyembunyikan  koin ke salah satu anggota timnya, atau ketua tim itu juga tetap diperkenankan membawa koinnya; semuanya dengan sedemikian rupa agar tim lain tidak bisa menebak kemanakah koin itu "dipercayakan" ke "kurirnya".  Pada tahap ini, semua anggota tim yang bermain dipersilakan melipat kedua tangan di belakang tubuh agar tidak mudah ketahuan, ketua tim juga dipersilakan menggunakan gerak tipu dan berakting sebanyak-banyaknya saat memutuskan siapa "kurir koin" di giliran tersebut.

Setelah yakin, tim lawan dipersilakan untuk menebak siapakah di antara ketujuh orang anggota tim lawan yang sedang memegang koin (sebagai "kurir koin") di giliran itu. Jika tebakan tim lawan salah, maka "kurir pembawa tim" yang berhasil tidak ketahuan dipersilakan melompat mendekat ke tim lawan; dan koin bisa mulai disembunyikan lagi oleh tim yang berhasil tidak tertebak siapa "kurirnya" tadi (boleh oleh anggota tim yang berbeda sebagai "kurir", tentu saja) dalam giliran baru sampai tim lawan berhasil menebak dengan benar.

Tahu nggak hal tak terduga yang terjadi hari itu, tidak disangka kalau tim kubu tempat saya berada ternyata adalah tim yang sangat tangguh =))

***

Seiring dengan berlangsungnya permainan, saya akhirnya paham mengapa kriteria "wajah/bakat penipu" terbilang sangat penting dalam permainan ini! Gak disangka kalau ternyata tim kubu tempat saya berada ternyata langsung mampu menebak siapa anggota tim lawan yang menjadi "kurir koin" dan mampu terus berhasil membuat giliran menyembunyikan koin karena tim lawan salah terus dalam menebak siapa "kurir koin" tim kubu kami sampai akhirnya menang =))

Jujur saja sebagai penonton, saya benar-benar nggak habis pikir bagaimana anggota tim kubu saya ini bisa benar-benar "tokcer" bermuslihat di depan tim lawan; benar-benar hiburan awal kuliah yang seru dan mungkin saja sarat dengan konsep-konsep mata kuliah yang akan kami pelajari. Ternyata bagaimana seorang individu "pembawa koin" mampu "membaur" dalam tim "sosial"nya saat itu sehingga tidak sampai-sampai juga ketahuan memiliki "perbedaan tersendiri" (baca: sebagai "kurir koin") mungkin juga ada hubungannya dengan konsep persepsi dan cara pembawaan diri?

Sebenarnya meski seru sekali menyaksikan permainan ini, sebenarnya posisi pandang saya agak kurang memadai karena tim kubu kami memang bermain dengan posisi tubuh membelakangi sisa anggota kubu yang lain, sehingga saya tidak bisa benar-benar melihat sendiri bagaimana "tampang penipu angguh" tim kubu tampak =))

Afterall, that was a very amusing opening ice-breaking to note (:
Haha, kira-kira itu saja yang saya jurnalkan di sini setelah seminggu pertama di semester dua; tetap semangat!